
"Abang pingin..." Erland menatap Viola dengan tatapan memohon.
"Cepetan!!" Geram Viola.
"Abang pingin makan bakwan, terus makannya di cocol kecap di kasih cabai yank. Buatin ya??" Erland memohon dengan memelas.
"Hah??"
"Abang udah ngiler banget yank" Erland menyembunyikan wajah ya di pundak Viola.
"Aduh Baaangggg!!! Nggak usah nyiksa orang malam-malam gini deh!!" Viola menendangkan kakinya ke udara beberapa kali sebagai ungkapan kekesalannya.
"Kayaknya Abang ngidam deh yank. Ini maunya anak kita" Erland mengusap perut istrinya yang mulai sedikit menonjol itu.
"Masa iya dia yang ngidam?? Tapi ada juga sih yang kaya gitu" Batin Viola.
"Buatin ya, Abang temenin deh" Erland masih membujuk Viola untuk membuatkan bakwan seperti yang di inginkan Erland saat ini.
"Buatin Bi Tum aja ya?" Tawar Viola.
"Nggak mau, Abang maunya kamu" Erland memindah kepalanya yang tadinya bersembunyi di pundak Viola kini mendekati tempat persembunyian calon buah hatinya.
"Sayang, masa Mama nggak mau buatin bakwan buat Papa. Padahal kamu juga mau kan??" Erland berbicara di depan perut Viola.
"Apaan sih, nggak usah fitnah dia deh. Alasan aja, padahal kamu yang pingin kan??" Viola membungkam bibir Erland dengan tangannya.
"Makanya buatin ya sayang?? Asli Abang udah nggak tahan. Ngebayangin bakwan sayur yang garing dan renyah, masih panas, terus di cocol pakai kecap di kasih cabai. Aduh netes air liur Abang yank" Erland kembali berbaring menutup wajahnya dengan bantal.
Mungkin Erland harus mengubur dalam-dalam keinginan terbesarnya itu karena Viola sama sekali tidak mau membuatkan untuknya.
"Ya udah ayok, tapi temenin. Nggak boleh molor!!" Viola menyibakkan selimutnya lalu mencepol rambut panjangnya itu.
Viola tak tega juga melihat Erland yang begitu mendambakan makanan yang merakyat itu. Bahkan Erland sampai bisa menggambarkan enaknya bakwan itu sendiri.
"Beneran yank??" Erland membuang bantal yang tadi digunakan untuk menutupi wajahnya.
Wajah yang tadi kecewa karena gagal membujuk Viola kini juga berubah cerah kembali.
"Hemmm" Erland melompat dari ranjang menyusul Viola yang sudah membuka pintu kamarnya.
Viola mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bakwan pesanan suaminya itu.
Sesekali Viola melirik Erland yang terus memandanginya dari tempatnya duduk saat ini.
__ADS_1
"Hati-hati, bisa copot itu mata kalau ngga buat kedip" Celetuk Viola yang masih fokus pada sayuran di depannya.
"Habisnya istri Abang makin hari makin cantik aja" Memang benar, di mata Erland, Viola makin bersinar setelah kehamilannya itu. Mungkin karena aura keibuannya keluar dan juga tubuhnya yang mulai berubah sedikit demi sedikit yang jelas Viola semakin menarik di mata Erland.
"Cihh..." Viola hampir daja terjungkal mendengar pujian manis dari Erland.
"Abang nggak bohong sayang"
"Kenapa terus memanggilku seperti itu, sementara dengan Sarah tidak??" Hal itu yang ingin Viola tanyakan dari kemarin.
"Tidak tau, Abang ingin saja" Erland sendiri juga tidak tau kenapa dia melakukan itu kepada Viola dan tidak dengan Sarah.
"Sarah tidak marah??"
"Marah, dia protes kenapa Abang tidak pernah memanggilnya sayang"
"Memangnya kenapa??" Erland tersenyum karena Viola yang banyak bertanya kepadanya.
"Ya Abang nggak tau. Nggak terbiasa aja gitu"
"Kalau sama aku?? Harusnya nggak terbiasa juga kan??"
Viola mulai mengaduk semua bahannya menjadi satu. Viola tidak yakin dengan rasanya akan seperti apa. Yang jelas dia pernah membuatnya sekali dan rasnya lumayan di terima di mulut.
"Kalau sama kamu, terdengar manis aja gitu kalau manggil sayang"
Kurang lebih lima belas menit, bakwan pesanan Eland sudah siap didepannya. Berikut kecap yang di beri irisan cabai sesuai ekspektasi Erland.
"Makasih sayang" Erland sudah menatap bakwan keinginannya dengan air liur yang sudah hampir menetes.
Viola duduk di depan Erland, melihat suaminya yang mulai melahap satu demi satu bakwan dalam piringnya.
"Ini enak banget. Kamu nggak mau coba yank??"
"Enggak, liat kamu makan aku udah kenyang" Jawab Viola yang sebenarnya mulai tertarik dengan bakwan buatannya karena Erland yang begitu menikmatinya.
"Aaaaa!!" Erland menyodorkan bakwannya pada Viola.
"Enggak ah!"
"Ayo sekali aja Abang suapi" Berlahan Viola membuka mulutnya. Mengunyah pelan-pelan di dalam sana.
"Enak kan?? Abang nggak nyangka kalau kamu jago masak juga" Puji Erland membuat Viola semakin tersipu.
__ADS_1
"Mau lagi??" Erland menyuapkan lagi potongan bakwan di tangannya.
Viola mengangguk dan itu membuat Erland bahagia. Baginya malam ini termasuk malam yang romantis meski hanya makan di rumah dengan sepiring bakwan buatan tangan istrinya sendiri.
"Kamu bisa masak yank??" Tanya Erland di sela mengunyah bakwannya.
"Kamu pikir bertahun-tahun di negeri orang aku punya uang buat bayar asisten rumah tangga?" Jawaban Viola begitu telak untuk Erland.
"Iya Abang tau, maafkan Abang di masa lalu ya??" Viola hanya mengangguk meski tanpa berkata iya dengan bibirnya.
Tapi setelah itu Erland mendengar suara pintu terbuka. Tak lama setelahnya, Sarah muncul dari ruang tamu, dengan pakaian yang masih sama sejak pagi tadi.
"Baru pulang kamu??" Tanya Erland dengan dingin.
Sarah melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
"Maaf Mas, tadi banyak banget yang harus di urus untuk keperluan grand opening buat lusa" Sarah mendekati suaminya. Melirik sebentar pada Viola dan piring yang sudah kosong di hadapan madunya itu.
"Tapi kenapa ponsel kamu sama sekali nggak bisa di hubungi??" Erland memperhatikan penampilan Sarah dari ujung kepala sampai kaki. Istrinya itu sudah terlihat berantakan.
"Habis baterai Mas. Udah deh, aku capek mau istirahat" Sarah ingin segera pergi dari hadapan Erland.
"Tapi setidaknya kamu kasih kabar Sarah!!"
Sarah ingin sekali menampik omongan Erland itu. Karena bibir Erland berkata mengkhawatirkannya, tapi sejauh Sarah memandang, Erland justru tampak biasa saja. Malah lebih memilih makan berduaan bersama istri mudanya itu.
"Iya aku salah, aku minta maaf. Udah ya, aku ke atas dulu" Sarah mulai menuju kamarnya.
"Tunggu Sarah!!" Erland mencegah kepergian Sarah dengan mencekal tangannya.
"Kenapa Mas??"
"Leher kamu kenapa??" Sarah langsung menutup lehernya dengan tangannya, bahkan dengan sengaja menarik rambutnya untuk menutupi sebagian lehernya.
"Ohhh. Ini digigit nyamuk kok Mas" Jawab Sarah setenang mungkin.
"Tapi ke..."
"Aku ke kamar dulu ya Mas" Terlihat jelas di mata Viola kalau Sarah mencoba menghindari Erland.
"Dia kenapa yank?? Padahal Abang hanya ingin tau kenapa lehernya ada seperti itu" Tanya Erland pada Viola.
"Mana aku tau. Atau mungkin, takut ketahuan kali" Viola membawa piring yang telah kosong tadi ke wastafel.
__ADS_1
"Maksud kamu??"
Viola hanya mengedikan bahunya saja lalu pergi ke kamar meninggalkan Erland yamg di buat kebingungan dengan kedua istrinya.