Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
89. Rencana yang terlaksana


__ADS_3

Seminggu sudah setelah pernikahan Vino dan Endah. Kini tiba giliran Erland dan Viola yang akan mengadakan acaranya sendiri. Acara yang sudah di susun sedemikian rapi oleh jasa EO yang cukup terkenal. Walau Viola menginginkan acara sakral yang sederhana, namun Viola juga tetap ingin acaranya di gelar dengan sangat spesial demi menyambut kedatangan anak mereka.


Viola sudah di rias dengan untaian bunga melati yang menutupi sebagian dada dan juga rambutnya. Tal lupa kemben dari kain jarik yang membungkus tubuh putih mulusnya.


Begitupun Erland yang tampak berbeda dengan baju adat jawa tak lupa blangkon yang dikenakannya. Pakaian seperti itu sama sekali tak mengurangi kadar ketampanannya itu.


"Kamu cantik sekali sayang. Rasanya Abang tidak bisa untuk sekali saja tidak memuji kecantikan istri Abang ini" Erland sampai tak berkedip memandang wajah Viola.


"Udah deh nggak usah merayu kaya gitu. Nggak mempan!!" Sahut Viola tak peduli.


Erland justru tersenyum ingin mencubit pipi Viola namun ia urungkan, takut ia akan merusak male up Viola.


"Mereka memang benar-benar serasi, benar kan Jeng??" Ucap Gendis pada Via.


"Benar jeng, satunya cantik, yang satunya lagi ganteng banget. Nggak kebayang cucu kita nanti kaya gimana, pabriknya saja sudah seperti itu" Sahut Via.


Gendis pun mengangguk setuju. Ketiga orang paruh baya itu begitu terlihat bahagia karena akan menyambut cucu pertama mereka.


"Papi nggak nyangka Mi, akhirnya Viola mau menerima pernikahan ini. Mungkin ini memang sudah jalan Viola untuk bersatu dengan Erland namun dengan cara yang berbeda"


Dito mengingat saat Viola terkapar tak berdaya di jalanan. Dunia Dito seakan runtuh begitu saja, apalagi saat kabar dari Dokter yang menyatakan Viola sudah tidak bisa tertolong. Saat itu rasanya Dito ingin mati saja.


"Semuanya sudah siap Vi, audah waktunya ke depan" Endah muncul bersama Beca.


"Iya Ndah"


Viola berjalan dengan anggun di apit Via dan Gendis. Kemudian Erland berjalan di belakang mereka.


Acara tujuh bulanan itu berjalan dengan lancar dan semestinya. Sangat jelas tergambar kebahagiaan di wajah Viola dan juga Erland. Viola bahkan melupakan masalahnya dengan Erland, dia terlihat sangat menikmati acaranya hingga terlalu sering tersenyum manis.


Tak banyak tamu yang datang ke acara itu hanya keluarga inti dan juga beberapa teman Via dan Gendis.


Erland juga sengaja tidak mengundang satu pun rekan kantornya. Tapi itu semua atas permintaan Viola. Bukan tanpa alasan, tentu saja Viola sadar akan statusnya. Bukannya cari aman karena akan malu jika mereka tau Viola hanyalah istri ke dua. Viola juga memikirkan Erland yang pastinya akan mendapat pandangan miring dari karyawannya sendiri. Apalagi gosip sangat cepat berkembang meski belum tau kebenarannya.


"Mama, kali ini Mama siap kan dengan rencana kita??" Orang yang tidak bahagia di acara itu adalah Sarah dan Rasti.


Atas pertanyaan yang di ajukan Sarah kepada Rasti itu, pastilah Sarah sudah menyiapkan sesuatu untuk menghancurkan kebahagiaan mereka semua.


"Tentu saja sayang. Setelah ini kita akan lihat pertunjukkan yang sangat menyenangkan" Sahut Rasti dengan menatap tajam pada orang-orang yang sedang mengerumuni Viola.


*


*


*

__ADS_1


Acara siang itu berjalan dengan lancar, hingga sore harinya akan dilanjutkan dengan acara pengajian sesuai dengan permintaan Viola.


Anak-anak yatim dari Panti Asuhan yang di undang Viola juga sudah datang. Viola dan Erland pun sudah berganti pakaian dengan warna putih yang senada. Hijab panjang yang terpasang di kepala Viola semakin mempercantik penampilannya.


Pengajian di mulai dengan begitu khidmat. Untaian doa-doa dan juga bacaan ayat suci Al-Quran juga telah terdengar untuk calon anak Viola. Hingga perhatian Erland mulai tertuju pada EO yang membawa nasi tumpeng ke depan mereka semua.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Erland menoleh pada Viola yang tiba-tiba sudah memegang mikrofon di tangannya.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih untuk kehadiran Bapak, Ibu dan juga adik-adik dari Panti Asuhan Muara Kasih Bunda, karena sudah bersedia hadir di acara tujuh bulanan atau lebih tepatnya syukuran atas kehamilan saya yang pertama"


Erland terus menatap Viola karena setau Erland EO mereka tidak memberitahunya jiak ada kata sambutan dari Viola.


"Tapi hari ini juga bertepatan dengan hari lahir suami saya yang ke tiga puluh lima tahun" Viola menatap Erland yang terkejut dengan ucapannya itu.


"Jadi dengan kerendahan hati, saya ingin meminta Bapak, Ibu dan Adik-adik semua untuk mendoakan suami saya. Semoga dengan bertambahnya umur suami saya ini, beliau diberikan kesehatan dan panjang umur, semakin sukses, semakin sayang dengan keluarganya, juga tetap teguh mejalani segala tanggung jawabnya"


"Aamiin" Ucap semua orang yang ada di sana.


Rasa haru karena kebahagiaan yang berlipat-lipat hari ini, membuat Erland langsung memeluk Viola yang ada di sampingnya.


Erland tak menyangka jika Viola akan memberikan kejutan yang begitu istimewa seperti itu. Padahal awalnya Erland sempat kecewa karena Viola tak mengingat hari ulang tahunnya.


"Terimakasih sayang" Bisik Erland di pelukan Viola.


"Jangan nangis dong!! Malu ada banyak anak-anak di sini. Cepat hapus air matanya terus potong tumpengnya!!" Perintah Viola pada Erland dengan berbisik pula.


Pemotongan tumpeng di pimpin oleh pembawa acara. Ucapan selamat juga membanjiri Erland dari seluruh keluarga dan tamu yang ada di sana.


Dalam hati Erland pun sama. Di usianya saat ini, tidak pernah terbayangkan jika ia akan memiliki dua istri. Juga anak yang akan hadir dari istri ke duanya. Sungguh tahun yang sangat penuh warna bagi Erland.


"Kenapa kamu bisa kalah sama perempuan itu Sarah!! Dia dengan mudah bisa mengambil perhatian Erland dengan kejutan yang tak seberapa ini" Kesal Rasti.


"Aku juga tidak tau kalau dia sudah menyiapkan semua ini Ma!!"


"Dasar payah kamu!!" Kesal Rasti.


"Tapi tidak udah khawatir Ma. Karena aku juga akan memberikan hadiah yang sangat membahagiakan untuk Erland"


Rasti dan Sarah sama-sama tersenyum dengan liciknya.


"Ini saatnya Ma, mama sudah siap kan??"


"Tentu saja sayang" Jawab Rasti dengan siasat busuknya.


BRUKK..

__ADS_1


"SARAH!!" Teriak Rasti mengundang perhatian semua orang.


"Erland tolong Sarah!!" Rasti memeluk Sarah yang sudah terkapar tak berdaya di lantai.


Erland dan yang lainnya juga langsung menghampiri Sarah dimana tempat ia tergeletak.


"Sarah kenapa Ma??" Tanya Erland.


"Tidak tau, tapi tadi dia mengeluh pusing"


"Ya udah Er, ayo bawa dia ke dalam dulu" Ucap Dito pada anaknya itu.


Erland dengan sigap menggendong tubuh ringan Sarah. Membawanya masuk ke dalam kamarnya dengan di ikuti oleh Rasti dan juga Gendis.


"Mama telepon Dokter sebentar" Ucap Rasti yang di setujui oleh Erland.


Sementara itu, acara di luar yang harusnya masih cukup lama terpaksa di akhiri dengan cepat. Tentu saka itu kemauan dari Viola, karena ia tak mau egois. Tidak mungkin ia akan bersenang-senang sementara keadaan Sarah belum tau seperti apa.


"Dokter sebentar lagi datang" Ucap Rasti saat masuk lagi ke dalam kamar Sarah.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama Sarah Er??" Tanya Gendis.


"Erland juga tidak tau Bu, sepertinya tadi dia sehat-sehat saja"


Rasti pura-pura tidak mendengar percakapan Ibu dan anak itu. Dia memasang wajah sedihnya dengan terus menggenggam tangan Sarah.


Tak berapa lama kemudian seorang Dokter seusia dengan Rasti telah tiba. Dokter wanita lengkap dengan jas dan stetoskopnya.


"Permisi, boleh yang lainnya keluar dulu. Saya akan memeriksa pasien"


Rasti lebih dulu keluar, di ikuti Gendis dan juga Erland.


"Sarah kenapa??" Tanya Viola yang ternyata sudah berada di depan kamar Sarah. Itu jiga untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di lantai dia rumah Erland.


"Belum tau sayang, Dokter sedang memeriksanya"


Beberapa saat setelah itu, Dokter tadi keluar juga dari kamar Sarah.


"Bagaimana keadaan anak saya Dokter??" Tanya Rasti dengan sangat khawatir.


Tapi Dokter itu justru menunjukkan senyumnya kepada Rasti.


"Ibu tidak perlu khawatir. Anak Ibu tidak kenapa-napa, dia hanya kelelahan saja. Usahakan untuk selanjutnya agar bisa menjaga kesehatannya, karena jika terus kelelahan seperti ini, maka akan berdampak buruk bagi kehamilannya"


JEDERRR...

__ADS_1


"A-apa Dokter?? Ha-amil??" Bagaikan kilat yang menyambar tepat di pucuk kepalanya. Erland bahkan susah untuk mengeluarkan suaranya.


__ADS_2