
Sudah tiga hari ini Erland benar-benar tak mengusik Viola. Dia membuktikan omongannya jika dia tidak ingin membuat Viola merasa terganggu dengan dirinya.
Selama tiga hari itu juga Erland tidak tidur di kamar Sarah. Erland lebih memilih tidur di ruang kerjanya.
"Mas, kamu kok belum tidur??" Sarah yang baru pulang kerja langsung duduk di samping Erland.
Saat ini Erland sedang duduk dengan pekerjaannya di ruang keluarga, tepat di depan kamar Viola. Bukan tak ada alasannya dia mengerjakan pekerjaannya di sana. Erland hanya ingin melihat Viola walau sebentar saja.
"Masih banyak kerjaan" Jawab Erland dengan acuh.
"Kamu masih marah ya sama aku??" Sarah bergelayut manja di lengan Erland.
"Tidak!! Aku hanya heran saja, kenapa kamu akhir-akhir ini sering pulang malam, sering menginap di rumah Mama. Aku rasa kamu mulai tak menganggap aku sebagai suami mu Sarah. Kamu sekarang terlalu bebas" Memang sejak ada Viola, perhatian Erland sedikit bercabang pada wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Tapi bukan berarti Sarah bisa semaunya sendiri.
"Mas, aku kan udah ada tanggung jawab sendiri. Restoran aku sudah mulai berkembang, peminatnya lumayan loh Mas. Jadi aku sudah mulai sibuk mengurus semuanya" Jelas Sarah pada suaminya.
"Sarah, aku ini juga pebisnis. Aku tau pasang surutnya sebuah usaha. Bukannya kau menyombongkan diri atau menyepelekan restoran kamu, tapi jujur dari dulu aku tidak pernah sesibuk kamu sampai tidak bisa pulang"
Sarah semakin bingung harus menjawab Erland dengan alasan apalagi.
Tiba-tiba saja Sarah langsung memeluk Erland dari samping. Menyandarkan kepalanya di dada bidang itu.
"Mas, tujuan aku buat restoran kan memang untuk mengalihkan pikiran aku. Biar aku nggak kepikiran terus sama kehamilan Viola. Ya seharusnya wajar dong kalau aku jarang di rumah, karena aku benar-benar bisa menghilangkan semua beban aku saat aku ada di sana"
Erland hanya diam, meski begitu jawaban Sarah itu tetap tak masuk dalam pikirannya.
"Aku memang memberi kamu kebebasan Sarah, tapi aku rasa kamu sudah terlalu bebas. Mulai besok sesibuk apapun kamu, usahakan untuk pulang ke rumah!!" Tegas Erland.
"Iya, iya Mas aku usahakan"
Ceklek...
Cup..
__ADS_1
Sarah sengaja memberikan kecupan di pipi Erland. Namun sungguh sial bagi Erland karena di saat itu Viola juga keluar dari kamar.
Tatapan datar dari Viola membuat Erland gugup. Wanita yang sejak tadi ia tunggu itu tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia memilih acuh dan berjalan ke dapur.
"Maaas, nanti kamu tidur di kamar aku ya?? Udah beberapa hari ini kamu nggak tidur di kamar aku kan?? Aku kangeennn" Ucap Sarah dengan manja.
Wanita itu sengaja mengeraskan suaranya agar Viola mendengarnya. Niatnya adalah untuk membuat Viola semakin panas, mengingat tadi Sarah berhasil membuat Viola melihat dia mencium Erland. Padahal itu sungguh tak sengaja namun bagaikan keberuntungan bagi Sarah.
Tapi ucapan Sarah itu justru membuat Viola tau kalau suaminya itu tidak tidur di kamar Sarah beberapa hari ini.
"Aku kira dia tidur di kamar Sarah selama tiga hari ini, tapi kalau tidak di sana, dia tidur di mana??" Batin Viola sambil meneguk minumannya.
"Aku nggak bisa, malam ini giliran ku di kamar Viola. Besok baru bersamamu"
Viola juga mendengar jawaban dari Erland itu meski suaranya tak sekeras Sarah.
"Aku kan kangen Mas, sudah beberapa hari ini kita kan nggak tidur bareng" Rengek Sarah dengan Manja.
"Itu salah kamu sendiri. Sana masuk ke kamar, aku harus melanjutkan pekerjaanku!!" Erland secara terang-terangan mengusir Sarah. Meski dia sendiri juga bangkit dari sana menuju ruang kerjanya.
*
*
*
Viola kembali terbangun jam setengah dua pagi. Perutnya terasa sangat lapar, rasanya harus mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya yang perih itu.
"Kamu lapar ya sayang??" Viola berjalan keluar sambil mengusap perutnya.
Selama hamil, Viola memang selalu membeli beberapa makanan yang ia simpan di kulkas. Seperti cake atau pun kue-kue kering. Dia sudah menebak situasi sepeti ini pasti akan terjadi pada ibu hamil. Jadi dia tidak mau sampai kelaparan di malam hari dan tidak menemukan apapun di rumah. Karena laparnya ibu hamil itu benar-benar lapar yang tidak bisa di cegah sama sekali.
Viola mengambil sepotong cheese cake dan satu buah jeruk dari dalam kulkas. Menikmati makanan itu dalam kesendirian. Hingga suara yang begitu ia kenal mulai mengusiknya saat Viola sedang menikmati makanannya.
__ADS_1
"Bi, Bi Tum!!"
Samar-samar Viola mendengar suara Erland yang memanggil Bi tum.
"Bi Tum, buka pintunya sebentar!!" Viola.penasaran apa yang di lakukan Erland di kamar asisten rumah tangganya dini hari seperti ini.
"Iya Pak ada apa??" Viola melihat Bi Tum keluar dengan matanya yang masih setengah tertutup itu.
"Maaf kalau saya ganggu Bi. Saya cuma mau tanya kalau beli lele jam segini di mana ya??" Erland menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Hah?? Bapak mau makan lele jam segini?? Bapak ngidam ya??" Bi Tum langsung membuka matanya dengan lebar.
"Nggak tau Bi, tapi rasanya saya kepingin sekali makan lele goreng sama nasi hangat. Ngebayangin aja air liur saya saja sampai banjir" Ucap Erland sedikit malu pada Bi Tum.
"Itu tandanya Bapak lagi ngidam. Apalagi tengah malam-malam begini" Bi Tum mesam mesem sendiri melihat majikannya itu merasakan ngidam.
"Jadi belinya di mana Bi, ini kan masih malam" Erland sudah tidak bisa menunda lagi rasanya.
"Di pasar Pak. Jam segini ada yang sudah jualan. Apa mau saya belikan??"
"Tidak usah Bi, biar saya sendiri saja" Tolak Erland merasa kasihan pada wanita paruh baya itu.
"Kalau gitu saya temani ya Pak, kasihan kalau Bapak pergi sendirian"
"Nggak usah Bi, biar sama saya saja. Saya minta tolong Bi tum buat masak nasinya dulu ya selama saya ke pasar"
Erland dan Bi Tum di buat kaget dengan kedatangan Viola yang tiba-tiba itu.
"Iya Bu, siap kalau itu. Nanti kalau Bapak sudah pulang dari pasar nasi hangatnya pasti sudah siap" Bi Tum langsung pergi ke dapur untuk melaksanakan perintah Viola tadi.
"Kamu mau temani Abang ke pasar yank??" Erland tampak begitu berbinar karena tampaknya Viola sudah tidak marah lagi kepadanya.
"Heemm, aku mabil jaket dulu" Meski terkesan dingin tapi Erland begitu bahagia.
__ADS_1
"Yes!!" Ucap Erland dengan suaranya yang pelan.