
"Duh kenapa juga gue harus ikut acara lamaran Abang lo sih Vi!!" Gerutu Endah.
Hari ini Viola memaksa Endah untuk ikut dengannya ke sebuah butik. Viola juga menyuruh pegawai butik itu untuk mengukur badan Endah. Karena kata Viola seluruh keluarga Erland juga harus terlibat dalam acara itu, maka mereka juga harus mengenakan baju yang senada.
"Ayolah Ndah, Ibu dan Edgar juga pakai baju yang sama kaya Mami dan Bang Erland. Jadi kamu juga harus sama kaya aku"
Endah benar-benar tak percaya dengan sahabatnya itu. Bukankah dia juga tau perasaannya pada Vino. Kenapa dengan teganya memaksa Endah untuk terlibat dalam acara yang akan menyakiti hatinya itu. Jika acara itu tiba saja, Endah belum tentu hadir di sana. Tentu saja Endah harus meyakinkan hatinya dulu, tapi nyatanya Viola justru menjerumuskannya ke dalam sana.
"Tapi Vi..."
"Gue mohon Ndah. Masa lo nggak kasian sama Bang Erland, gimana tanggapan Mami dan Papi kalau salah satu keluarganya nggak mau pakai baju yang sama kaya kita" Wajah Viola membuat Endah pasrah.
"Ya udah deh, tapi lamaran aja ya?? Nikahan gue nggak mau ikut-ikutan!!" Rencananya saja Endah akan pergi jauh saat pernikahan itu terjadi.
"Oke, gue nggak akan paksa lo lagi saat pernikahan" Viola langsung menyuruh salah satu pegawai untuk mengukur badan Endah.
"Tapi bajunya kaya apa Vi?? Gue belum liat desainnya kaya apa"
"Udah lo tenang aja, kita samain semuanya kok"
Endah merasa aneh pada sahabatnya itu. Yang mau pakai baju siapa tapi Viola justru yang memutuskan semuanya.
"Udah, apalagi??" Kesal Endah setelah seluruh badannya di ukur oleh seorang pria dengan make up tebal itu.
"Enggak ada, sekarang cari makan aja yuk!!"
Mereka mencari restoran yang paling dekat dengan butik yang baru saja mereka datangi itu, karena Viola yang sudah tidak di perbolehkan mengendarai mobil lagi sementara Endah juga tak bisa mengendarai mobil. Jadinya mereka menggunakan kakinya untuk menjelajahi trotoar jalan sore itu.
"Vi, emangnya Bang Vino sama Beca udah kenal berapa lama??"
Endah agak canggung menanyakan hal itu pada Viola. Dia takut jika Viola menganggapnya masih mengharapkan cinta dari pria yang sudah ingin menikah.
"Merdeka kenal saat Bang Vino pertama kali datang ke Korea buat cari gue. Karena waktu itu kan gue sempat hilang kontak sama keluarga gue. Yaa sekitar sepuluh tahun yang lalu" Endah hanya manggut-manggut saja.
"Jadi benar, wanita yang sudah lama Bang Vino cintai itu Beca" Batinnya Endah.
__ADS_1
"Kenapa emangnya Ndah??"
"Nggak papa kok" Endah tersenyum kaku.
"Gue tau lo belum bisa terima semua ini kan?? Gue juga udah pernah ada di posisi lo. Jadi lebih baik lo belajar melupakan perasaan lo aja daripada harus larut dalam kesedihan kaya gue"
Endah langsung menghentikan langkah Viola saat mereka sudah hampir tiba di depan sebuah restoran.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa lo bisa semudah itu melupakan Bang Erland meski Abang gue itu udah nyakitin lo?? Nggak kan Vi?? Gue yakin banget lo masih cinta sama Abang gue waktu itu. Jadi gue rasa lo lebih tau perasaan gue deh sekarang. Nggak mungkin kan gue bisa melupakan perasaan gue semudah itu" Endah tak percaya Viola bisa mengatakan itu pada Viola.
"Sorry Ndah, bukannya gue nggak mentingin perasan lo sebagai sahabat gue. Gue juga nggak bisa bantuin lo untuk dekat dengan bang Vino. Karena ternyata dia udah punya pilihannya sendiri" Sesal Viola di depan Endah yang sedang hancur.
"Bukan itu Vi, gue juga nggak minta bantuan lo buat kasih tau perasaan gue sama Bang Vino. Gue cuma mau lo ngertiin gue Vi. Bahkan rasanya berat banget buat datang ke acara lamaran mereka. Tapi lo dengan mudahnya paksa gue Vi, seakan-akan lo nggak peduli sama perasaan gue. Tapi gue mau ngelakuin ini demi Abang gue, bukan demi lo"
Endah yang sudah sangat kesal dan tak mau lagi berdebat dengan Viola memilih pergi dari sana. Mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam restoran bersama Viola.
"Loh Ndah, lo mau ke mana??" Viola mencoba mengejar Endah ya g berjalan dengan cepat meninggalkan Viola.
"Ndah!!"
"Ndah maafin gue, bukan maksud gue begitu!!" Viola mengetuk pintu taksi yang sudah tertutup itu. Mencoba membujuk Endah yang bahkan tak mau melihat wajah Viola.
Taksi yang di tumpangi Endah itu mulai berjalan, dengan Viola yang masih terus memanggil Endah.
"Ndah berhenti Ndah, kita bicara dulu!!" Kaki Viola yang masih mengenakan hells lima senti itu tergelincir hingga membuat badannya terhuyung ke depan.
"Aakkhhhh" Viola memejamkan matanya, dengan tangannya yang refleks melindungi perutnya.Tapi seseorang sudah lebih dulu menangkap tubuh Viola hingga tak jadi tersungkur di aspal.
"Hati-hati dong Vi!!" Suara itu terdengar menggeram menahan amarah.
"Abang??"
Untung saja Erland datang tepat waktu, menangkap tubuh istrinya yang hampir terjatuh.
Viola melihat pada sepatunya yang patah pada bagian hellsnya.
__ADS_1
"Kenapa harus kejar-kejar taksi segala!! Kalau kenapa-kenapa sama kamu gimana!!" Erland bahkan sampai mendelikkan matanya karena saking kesalnya pada Viola yang berlari-lari sembarangan di pinggir jalan. Tentu saja amarah Erland itu karena rasa kahwatirnya.
"Aku mau kejar Endah Bang, dia marah sama aku" Adu Viola dengan wajah sedihnya, tapi itu juga karena rasa takutnya melihat Erland memarahinya.
"Biarin aja Endah pergi dulu. Kan bisa ke rumah aja buat ketemu sama dia. Ngapain harus di kejar segala. Bahaya tau Vi!!" Erland sudah memanggil Viola dengan namanya lagi, artinya saat ini dia sedang benar-benar serius.
"Maaf" Cicit Viola ketakutan menatap wajah Erland yang memerah itu.
"Ayo pulang!!" Perintah pria itu dengan dingin.
Viola tau jika suaminya itu pasti sangat marah kepadanya. Buktinya Erland sudah lebih dulu berjalan di depannya. Sementara Viola hanya bisa mengikutinya dari belakang dengan menenteng sepatunya yang sudah patah.
Viola bahkan tak berani memanggil Erland yang terus berjalan dengan diam di depannya. Viola tak tau kalau pria itu akan begitu menyeramkan kalau sedang marah.
Tapi Viola juga kesal karena Erland sama sekali tak melihatnya ke belakang meski Istrinya berjalan tanpa alas kaki.
Viola yang sudah merasa tak nyaman dengan kakinya memilih berhenti dan duduk di pinggir jalan. Tak peduli dengan Erland yang sudah jauh di depan meninggalkannya.
"Biarin aja dia marah, kan katanya bisa ketemu di rumah. Gue juga bisa pulang sendiri!!" Viola mengusap air matanya dengan kasar. Dia merasa kesal dan sedih menjadi satu hingga air matanya bisa menetes keluar.
Sedih karena di marahi oleh Erland dan kesal karena ditinggalkan begitu saja tanpa melihat kondisinya yang berjalan tanpa alas kaki.
"Abang yang nggak kasih ijin kamu pulang sendiri" Viola mendongak, menatap pemilik suara itu yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
Erland berjongkok di depan Viola. Tangannya meraih kaki Viola, kemudian tanpa rasa geli membersihkan telapak kaki Viola yang kotor itu dengan telapak tangannya sendiri.
"Makanya, besok jangan pakai sepatu hak tinggi lagi. Nggak bagus buat ibu hamil kan??"
Viola hanya mengangguk, masih belum percaya Erland melakukan hal seperti itu.
"Ayo pulang, Abang gendong" Erland memutar tubuhnya hingga memunggungi Viola. Menyerahkan punggungnya untuk dinaiki Viola.
"Ta-tapi aku bisa jalan sendiri" Bukannya tidak mau, tapi Viola tidak mau membuat Erland kelelahan jika mengangkat tubuhnya sampai ke mobil.
Erland kemabli berbalik, lalu tanpa persetujuan Viola langsung menggendong Viola ala bridal style.
__ADS_1
"Bang!!"