
Hari ini adalah hari dimana Sarah resmi membuka restorannya. Semua keluarga Erland juga ada di sana termasuk Viola. Meski sebenarnya sangat malas, tapi karena paksaan Erland, Viola akhirnya ikut hadir dalam acara itu.
Restoran yang di buat sarah cukup besar. Karena Sarah membeli sebuah bangunan jadi persiapannya termasuk cepat hingga bisa melakukan opening dalam waktu singkat.
Acara yang di adakan di sana cukup meriah dan mampu menarik banyak konsumen yang mulai penasaran dengan restoran baru itu.
Kini Viola dan Endah hanya menatap Erland dan Sarah yang berdampingan ntuk memotong pita sebagai simbolis peresmian restoran itu.
"Nggak nyangka gue, Bang Erland b*go banget mau ngeluarin uang sebanyak itu buat Sarah" Gumam Endah takut di dengar orang di sebelah.
"Wajar, dia kan wanita yang di cintai Abang lo" Viola menyeruput minuman yang sudah ada di tangannya.
"Iya cinta buta sampai bisa di manfaatin secara nggak sadar sama mereka"
Endah menatap tak suka pada wanita paruh baya di samping Sarah. Siapa lagi kalau bukan Rasti.
"Ngomong-ngomong siapa pria di belakang Sarah itu Ndah?? Lo kenal?? Kayaknya sejak tadi dia nggak jauh-jauh dari sana" Ednah mencari pria yang di maksud Viola.
"Nggak kenal gue, tapi dia emang dari tadi ikut sibuk bantuin si Sarah. Atau mungkin itu teman yang di maksud dia buat bantuin buka resto ini kali"
Viola mengedikan bahunya, tapi tetap memandang aneh pada pria itu.
"Kak Vio nggak cemburu liat Bang Erland kelihatan mesra sama Sarah kaya gitu??" Edgar mendekati kedua wanita itu.
"Ngapain?? Kurang kerjaan aja cemburu sama Sarah" Ucap Viola merasa geli pada pertanyaan Edgar.
"Nggak papa Ed, yang penting kan yang bisa di buntingin Abang itu istri ke duanya" Canda Endah yang kini sudah tak lagi marah dengan Viola gara-gara masalah baju waktu itu.
"Oh iya, berarti yang dapat perhatian lebih kan Kak Vio ya kalau di rumah" Tambah Edgar membuat Viola mengingat perlakuan Erland yang begitu manis beberapa hari yang lalu.
FLASHBACK ON
"Lain kali jangan ceroboh kaya gitu, kalau kamu jatuh gimana?? Bukan hanya anak kita yang ada di dalam perut kamu yang akan celaka. Tapi kamu juga, gimana kalau ada mobil di belakang kamu??" Ucap Erland ketika sudah duduk di dalam mobilnya. Namun kali ini suaranya lebih halus tak seperti saat Viola hampir jatuh tadi.
__ADS_1
"Iya iya. Namanya juga panik, takut Endah ngambek sama aku" Viola menundukkan kepalanya, masih takut dengan Erland meski pria itu sudah tak semarah tadi. Karena biar bagaimanapun memang Viola yang salah.
"Untung aja Abang datang tepat waktu. Kalau tidak, Abang tidak tau apa yang akan terjadi sama kamu tadi yank"
"Maaf"
Erland mengusap kepala Viola dengan lembut, mengerti jika istrinya itu juga tidak sengaja bertindak ceroboh begitu.
"Maafkan Abang juga, kamu pasti takut sama Abang karena tadi marah-marah kan?? Lihat Abang!!"
Viola mulai menoleh pada Erland yang duduk di balik kemudinya.
"Abang hanya nggak mau kamu kenapa-kenapa. Itu juga alasan kenapa Abang mau antar jemput kamu setiap hari, meski di kantor pun Abang tak tenang membiarkan kamu di luar sendirian. Abang selalu kepikiran kamu. Seperti tadi, rasanya pingin cepat-cepat jemput kamu saat kamu bilang mau jalan cari restoran sama Endah. Nyatanya firasat Abang benar juga. Jadi selama nggak ada Abang, kamu hati-hati ya??" Viola hanya mampu mengiyakan Erland dengan gerakan kepalanya saja.
Cup..
Dengan cepat Erland mencuri ciuman kecil di bibir Viola.
"Manis"
Pipi Viola memanas hingga menimbulkan warna merah pada kedua sisinya.
"Pipi kamu merah yank, jadi makin gemes"
"Apaan sih, nggak ada!!" Elak Viola yang semakin tersipu itu.
"Kamu keliatan tambah cantik kalau malu-malu kaya gitu"
"Abang stop ya!! Aku turun aja kalau masi..."
"Masih buat kamu tersipu begitu??" Potong Erland.
"Udah Ah males deh!!"
__ADS_1
Viola ingin membuka pintu mobilnya namun tangannya di tarik sedikit kencang oleh Erland sehingga Viola langsung berbalik menghadap Erland. Namun dengan cepat Erland menyambut bibir Viola.
Tengkuk Viola yang sengaja di tahan oleh Erland membuatnya tak bisa menghindar. Viola hanya bisa mematung karena Erland yang beraksi mendadak seperti itu.
Erland mulai menggerakkan bibirnya dengan lembut. Merasakan betapa manisnya bibir yang selama satu bulan lebih itu ia rindukan.
Viola mulai terbuai dengan gerakan lembut dan basah itu. Bibirnya mulai terbuka memberikan akses untuk Erland agar lebih leluasa.
Mereka saling mema gut dan melu mat selama beberapa saat hingga Viola lebih dulu melepaskan tautannya karena kehabisan pasokan oksigennya.
Erland tersenyum begitu tampan di depan wajah yang memerah itu. Ibu jarinya mengusap sisa slavianya yang tertinggal di bibir Viola.
"Kamu bisa buat Abang candu sayang" Bisik Erland pada wanita yang dulu tak dicintainya itu.
FLASHBACK OFF
Viola tersenyum tipis mengingat manisnya Erland waktu itu.
"Ngapain senyum-senyum?? Mikirin yang jorok-jorok pasti??" Tuduh Endah seakan bisa menebak pikiran Viola.
"En-nggak lah!! Ngarang lo" Elak Viola membuang mukanya.
"Oh ya Vi, gue mau minta maaf waktu ninggalin lo di depan restoran waktu itu. Gue nggak tau kalau lo hampir aja celaka karena ngejar taksi gue" Ucap Endah menyesal.
"Kok lo tau gue hampir jatuh"
"Iya Kak, soalnya setelah itu, Bang Erland marahin Kak Endah habis-habisan karena hampir aja mencelakai Kak Vio walau tanpa sengaja" Jelas Edgar yang tau persis saat Kakak sulungnya itu memarahi Endah lewat telepon.
Ternyata itu alasannya kenapa Endah sudah tidak marah lagi pada Viola. Sejak kedatangan Viola tadi, Endah sudah menyambutnya dengan senyuman. Meski merasa aneh tapi Viola tak ambil pusing yang penting sahabatnya itu sudah tak marah lagi padanya.
"Maaf Ndah, aku nggak tau kalau Bang Erland sampai marahin kamu. Padahal itu juga salah aku yang nggak hati-hati" Viola merasa tak enak pada Endah.
"Nggak papa Vi, gue juga salah kok. Harusnya nggak ninggalin lo gitu aja. Apalagi Abang yang sangat mendambakan anak dari lo ini, pastinya Abang posesif banget kan sama lo. Dia itu nggak mau lo sampai kenapa-kenapa. Kayaknya dia udah kena batunya Vi. Bisa sebucin itu sama lo"
__ADS_1
"Masa laki kaya gitu bisa bucin, nggak yakin gue" Gumam Viola sambil melihat Erland yang ternyata juga sedang memandang ke arahnya.
Dari jauh Viola bisa melihat jika Erland sengaja tersenyum untuknya. Meski senyum tipis namun masih terlihat jelas oleh Viola.