
"Jadi Mama benar-benar mau cuci tangan gitu aja??" Sarah menatap Rasti dengan tatapan menantangnya.
"Cuci tangan kamu bilang?? Ingat Sarah!! Mama tidak ikut campur dalam hal ini. Jadi kamu tidak bisa menyeret Mama dalam tindakan bodoh mu ini!!"
Rasti melanjutkan mengisi koper besarnya dengan semua barang berharga miliknya.
"Nggak bisa!! Mama tetap harus bantu aku. Cari cara biar aku bisa lepas kalau Erland menyadari tentang apa yang aku lakukan"
Sudah dari kemarin Sarah pulang ke rumah Mamanya. Dia tetap berdiam diri di rumah itu sambil menunggu kabar dari orang suruhannya.
"Itu salahmu sendiri!! Bukankah Ben sudah memperingatkan mu untuk diam dan menerima saja keputusan Erland. Tapi sekarang semua sudah terjadi, tinggal menunggu Erland menyeret kamu ke dalam penjara saja!!"
Omel Rasti. Sekarang hidupnya sudah kembali susah. Dia tidak mau menambah maslaah dengan masuk penjara. Makanya dia tidak mau mengusik kehidupan Erland lagi. Tapi siapa sangka, putrinya justru bertindak di luar nalar.
"Ya Mama bantuin cari cara dong Ma. Apa gitu kek. Pikiran aku udah buntu Ma. Pengacara bodoh itu juga tidak bisa di hubungi!!"
Sarah berjalan mondar-mandir sambil terus menghubungi Ben yang sejak tadi pagi tidak mengangkat panggilannya.
"Berhenti menghubungi Ben. Dia sudah tidak mau berurusan dengan kamu. Dia tau kalau dia nggak bakalan menang melawan Erland"
Rasti dan Ben benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan Sarah. Mereka berdua lebih memilih tak ikut campur daripada harus ikut di seret ke dalam bui. Apalagi keluarga Viola yang kaya raya, tentu saka bisa dengan mudah memenjarakannya.
"Belagu, kaya nggak butuh duit aja. Aku membayarnya mahal Ma, apa dia sudah merasa kaya raya?? Sombong sekali!!"
Sarah terus mengumpat karena Ben sama sekali tidak mau membantunya.
"Mama tidak peduli lagi dengan apa yang akan dia lakukan. Mama juga nggak mau ikut campur masalah kamu. Terserah kamu mau bagaimana, yang jelas Mama harus segera pergi dari sini. Mama nggak mau ikut kena getah dari perbuatan kamu. Kamu benar-benar kriminal Sarah!!"
Rasti bergidik sendiri melihat putrinya yang berubah seperti monster yang mengerikan.
"Mama tega sama aku?? Kenapa Mama jadi nyalahin aku?? Seharusnya dia yang salah!! Kenapa dia punya banyak sekali nyawa?? Dulu dia sempat hampir m*ti tapi kembali sadar. Sekarang juga sama. Apa dia bukan manusia??" Sarah mulai meracau tak jelas.
"Kayaknya kamu sudah mulai stres Sarah!!" Ucap Rasti memandang Sarah dengan prihatin.
Rasti telah selesai mengemas barang-barangnya. Tidak semuanya ia bawa, hanya barang yang menurutnya berharga saja yang ia bawa. Toh dia tidak menjual rumah itu, dia hanya pergi sementara sampai Sarah selesai menyelesaikan perbuatan jahatnya.
"Oh, sekarang Mama benar-benar mau ninggalin aku?? Setelah semua ini Mama dapatkan dengan cuma-cuma. Ingat Ma!! Kita nggak akan hidup enak seperti ini kalau bukan karena aku!!"
"Iya Mama ingat. Tapi gara-gara kamu juga, Mama kehilangan semuanya. Kembali miskin lagi"
__ADS_1
"Akkhhhhh!!!" Sarah mengacak rambutnya dengan kesal.
"Mama pergi dulu, kalau maslaah kamu sudah selesai Mama akan pulang. Ingat!! Jangan menambah kesalahan kamu dengan bertindak bodoh lagi!! Mama pergi"
Rasti menyeret koper besarnya keluar dari kamar yang luas itu. Menyisakan Sarah yang masih sangat kebingungan dengan masalah yang ia buat sendiri.
Semua rencananya ternyata hancur berantakan. Seharunya Viola dan bayinya tidak kan bisa di selamatkan. Tapi nyatanya mereka berdua selamat. Nyatanya Viola sekarang masih bisa bertahan bersama bayinya.
"S*al!!" Sarah menjatuhkan dirinya di ranjang milik Rasti.
"Tenang, aku harus cari cara biar bisa pergi jauh dari sini, tapi tidak dengan ikut Mama"
Sarah khawatir kalau Erland lebih cepat mengirim anak buahnya untuk menangkapnya. Menghubungi pengacaranya juga sudah tidak mungkin. Ben sudah benar-benar menyerah menghadapi Sarah.
*
*
*
"Apa yang lo dapat di rumah gue??"
"Ini" Yovi menunjukkan sesuatu yang sudah di bungkus plastik bening.
FLASHBACK ON
"Tunggu!!"
Yovi menghentikan Beca yang ingin membuang botol air mineral dengan ukuran kecil itu.
"Apaan sih??" Kesal Beca karena Yovi yang sedikit meninggikan suaranya.
"Bibi pakai botol ini??"
Bi Tum melihat dengan seksama. Mengingat-ingat sendiri tentang botol itu.
"Tidak Pak. Botol ini bukan Bibi yang buang. Bibi juga tidak merasa melihat botol ini di rumah" Bi Tum masih mencoba mengingat, siapa tau dia melihat botol itu walau sekilas.
"Tapi botol ini dari kantung sampah dapur Bi. Berarti ini dari dalam rumah dong??" Beca juga mulai curiga dengan benda yang masih ada di tangannya.
__ADS_1
"Bawa botol ini Beca. Aku akan mengujinya sendiri, kandungan apa yang ada di dalam botol ini. Kalau di lihat dari sisa airnya yang sedikit keruh, pasti ini bukan hanya air mineral biasa"
Yovi memasukkan botol itu ke dalam kantung plastik yang juga di bawanya dari rumah Erland.
"Benar, agak aneh sih. Apalagi Bibi juga tidak mengenali botol ini. Cara satu-satunya hanya membawa botol ini ke laboratorium, juga memeriksa sidik jari yang tertinggal di botol ini"
"Benar" Sahut Yovi. Kini mereka bersua curiga kalau Sarah telah melarutkan obat ke dalam air mineral itu. Lalu mencampurkannya ke dalam minuman Viola. Sarah cukup cerdik untuk tidak meninggalkan barang bukti apapun. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sarah melakukan kesalahan karena membuang botol itu di tempat sampah dalam rumah.
Mungkin jika Yovi menggeledah rumah Erland besok pagi, dia juga tidak akan menemukan bukti itu meski dia sendiri belum yakin karena belum mengujinya sendiri.
"Kita istirahat dulu sekarang. Besok baru kita ke Rumah sakit untuk memberitahu Erland dan melihat cctvnya lagi"
Beca menyeka keringat di keningnya lalu mengangguk. Dia juga sudah sangat lelah hari ini. Apalagi tadi sore dia sempat di ambil darahnya.
FLASHBACK OFF
"Tapi gimana hasilnya Vi??"
"Hasilnya memang benar. Di dalam sini terdapat kandungan obat peluruh kandungan dengan dosis yang sangat tinggi"
Deg....
Jantung Erland mendadak nyeri seakan ingin berhenti. Dia menatap ketakutan pada botol yang masih menyisakan sedikit air di dalamnya itu. Air itulah yang hampir saja merenggut nyawa istri dan anaknya.
Yang lebih membuat Erland semakin tak percaya adalah, semua itu di lakukan oleh Sarah. Wanita yang dulu sempat dia cintai dan dia percayai.
Perubahan sikap Sarah akhir-akhir ini ternyata hanya topeng belaka. Alibi supaya dia tidak akan tertuduh sebagai pelaku kejahatannya.
Ralat. Sarah memang berubah, tapi bukan lebih baik, Namun berubah semakin mengerikan.
"Tapi gue belum memeriksa sidik jari yang tertinggal di sini. Itu bukan wewenang gue. Lo juga harus periksa cctv rumah lo lagi. Lo harus lihat bagaiman cara Sarah memasukkan cairan ini ke dalam minuman Viola" Ucap Yovi.
"Tidak masalah. Itu biar jadi urusan gue" Ucap Erland menatap botol yang masih di tangan Yovi itu dengan sengit.
"Halo Ed??" Erland langsung menghubungi adiknya.
"Iya Bang??"
"Suruh orang kepercayaan mu untuk lebih memperketat penjagaan terhadap Sarah. Aku tidak mau sampai kehilangan jejaknya. Aku juga sudah mendapatkan bukti kejahatan Sarah. Jadi terus awasi dia sampai aku membuat laporan ke polisi" Suara Erland terdengar rendah namun penuh amarah.
__ADS_1
"Baik Bang"