
Pagi harinya, Viola terbangun dengan keadaan yang lebih segar. Meski baru bisa duduk bersandar tapi wajahnya tak sepucat kemarin.
Dia terlalu bersemangat pagi ini karena tak sabar ingin melihat bayinya, sampai dia sengaja bangun pagi untuk segera meminta Erland membantunya membersihkan diri.Kemarin Erland sudah berjanji akan membawa anak mereka ke ruangan Viola.
"Abang lama ya??" Erland baru saja membeli makanan untuk sarapan mereka berdua, karena dari dulu Viola memang tak suka dengan makanan Rumah sakit.
"Enggak kok Bang" Viola dengan sabar menunggu suaminya yang semalaman tidur di sofa demi menjaganya itu.
"Sekarang kita makan dulu, setelah ini Abang punya kejutan buat kamu"
"Apa Bang??" Tanya Viola penasaran.
"Nggak jadi kejutan dong kalau Abang kasih tau kamu"
Viola memasang wajah cemberutnya. Meski begitu dia tetap menuruti Erland untuk memakan sarapannya
"Mau Abang suapi??"
Viola menggeleng " Aku sendiri saja. Abang juga harus makan"
Erland hanya tersenyum. Baginya itu juga termasuk setitik perhatian yang di berikan Viola kepadanya.
Mereka berdua baru saja menyelesaikan sarapannya. Viola sudah kenyang meski tak menghabiskan satu porsi bubur ayam itu. Meski tak begitu berselera, dia tetap butuh makan agar asinya cepat keluar demi bayinya.
"Permisi" Seorang perawat membuka pintu kamar inap Viola.
"Ini dia kejutannya sudah datang" Ucap Erland mendapat tatapan bingung dari Viola.
"Selamat pagi Ibu, Bapak. Dedek bayinya sudah selesai mandi. Sekarang Ibu jiga sudah di perbolehkan untuk belajar menyusuinya" Perawat tadi mendorong box bayi mungil yang terlelap dengan rambut tebalnya yang masih terlihat basah.
Viola tak mendengarkan apa kata perawat tadi. Matanya hanya terfokus pada bayinya saja sejak tadi. Bahkan dia tidak membiarkan matanya berkedip sekalipun saking kagumnya.
"Saya permisi dulu Pak" Ucap perawat itu setelah meletakkan box bayi itu di samping Viola.
"Terimakasih suster" Ucap Erland.
Dia langsung menghampiri bayi mungilnya. Jagoan kecil yang sudah tidak sabar ingin di ajaknya bermain.
"Bang" Lirih Viola berkaca-kaca. Matanya mendadak berair, perasaan bahagia menyeruak dari dalam hatinya. Kebahagiaan yang tak terkira.
"Anak kita sayang" Erland menggendong bayinya untuk di serahkan pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Tangan Viola terulur dengan bergetar. Rasanya gugup sekali untuk membawa bayinya kedalam dekapannya. Viola bahkan sudah tak sanggup berkata-kata. Hanya air matanya saja yang terus lolos mewakilinya.
"Jagoan Papa. Ini Mama, kamu belum bertemu Mama kan dari kemarin. Mama sudah tidak sabar ingin menggendong kamu loh" Ucap Erland semakin membuat Viola terharu.
__ADS_1
Bayi kecil itu menggeliat dengan lucunya. Meski matanya terus terpejam tapi bibirnya terus bergerak mencari sesuatu.
"Sepertinya dia haus yank??" Ucap Erland.
Dengan refleks Viola membuka kancing bajunya. Namun karena sadar jika Erland di hadapannya, Viola berhenti sejenak.
"Kenapa?? Kamu malu karena Abang ada di sini?? Kamu mau Abang keluar dulu??" Erland tau kalau Viola masih canggung kepadanya. Meski dia sudah pernah melihatnya, namun itu sudah berbulan-bulan yang lalu.
"Tidak usah Bang. Tidak papa" Akhirnya Viola masa bodoh dengan keberadaan Erland. Viola kembali membuka kancing bajunya lagi Mengeluarkan salah satu sumber asi dan mengarahkannya pada mulut bayinya yang terus terbuka.
"Biarkan saja, toh dia sudah pernah melihatnya bahkan mencicipinya" Ucap Viola dalam hati meyakinkan dirinya sendiri meski sedikit merasa malu.
Melihat aset milik Viola yang putih, mulus dan terlihat lembut itu membuat Erland menelan ludahnya dengan kasar.
Meski dia sudah pernah merasakan milik dua wanita sekaligus tapi kali ini beda. Rasanya panas menjalar ke seluruh tubuhnya meski hanya melihatnya saja. Apalagi bentuknya yang sudah berubah dari saat pertama kali Erland menyentuhnya. Kali ini terlihat lebih padat dan membesar karena kehamilan Viola.
"****!! Sungguh tak tau diri ikan pesut ku ini" Umpat Erland dalam hati. Erland menggeleng membuang pikiran kotornya. Tak seharusnya dia on dalam keadaan seperti ini.
"Sudah jangan nangis gini dong. Dia pasti sedih kalau Mamanya menyambut kedatangannya dengan tangisan" Erland mengusap.air mata Viola yang masih berjatuhan.
"Aku menangis karena terlalu bahagia Bang"
"Abang juga, kemarin saat mengadzaninya, Abang juga tak kuasa menahan air mata. Abang masih nggak nyangka kalau darah daging Abang bisa jadi bayi yang selucu ini" Erland menyentuh pipi anaknya dengan lembut.
"Kenapa dia sudah pintar menyusu seperti ini yank. Kan dia baru pertama kali" Erland heran melihat putranya yang terus meminum air susunya dengan kuat.
"Oh, kirain ada lesnya di sini" Celetuk Erland membuat Viola keheranan dengan tingkah suaminya itu.
Viola kembali fokus pada bayinya. Menyentuh permukaan kulit wajahnya yang begitu lembut.
"Kamu sungguh menggemaskan sayang. Bibirnya mirip banget sama kamu Bang" Erland setuju dengan Viola. Bayi itu bagaikan pinang di belah dua dengan Erland.
"Iya sayang. Terimakasih ya, sudah mau melahirkannya ke dunia ini. Dia hadiah terindah dalam hidup Abang"
Cup...
Erland mengecup dahi Viola dengan mesra. Tak tau lagi harus bagaimana dia berterimakasih kepada istrinya itu.
Bayi kecil tadi kembali terlelap setelah merasa kenyang menghisap sumber makanannya. Bibirnya yang terbuka saat tertidur membuatnya semakin lucu.
"Abang pindahkan dia lagi ya yank??" Tawar Erland namun Viola segera menolaknya.
"Biarkan seperti ini dulu Bang. Aku belum puas menggendongnya"
"Kamu masih punya kesempatan menggendongnya lagi nanti dan seterusnya sayang. Sekarang biarkan dia tidur di boxnya. Tangan kamu juga pasti lelah kan??"
__ADS_1
Dengan sedikit terpaksa, akhirnya Viola membiarkan Erland memindahkan bayinya.
"Viola!!"Panggil Maminya begitu membuka pintu ruang rawat Viola.
"Sstttt!!" Viola segera mengangkat jari telunjuknya ke depan bibirnya. Suara Via itu bisa saja membangunkan anaknya yang baru saja terlelap.
"Ohh, cucu Mami!!" Via langsung mendekati box bayi cucunya. Dengan sekejap dia bisa melupakan Viola yang sejak tadi dikhawatirkannya.
Wanita paruh baya yang baru saja mendapat gelar Nenek itu begitu terlihat bahagia. Begitu pula dengan Dito.
"Keadaan kamu gimana sayang?? Sudah lebih baik??" Tanya Dito.
"Alhamdulillah Pi" Viola tersenyum tipis pada Dito.
"Syukurlah. Kemarin Papi begitu takut melihat kamu gang tak juga membuka mata. Papi ingat kamu empat tahun yang lalu"
Viola tersenyum tipis, melihat kasih sayang dari Papinya itu.
"Tapi sekarang Viola sudah bangun Pi. Jadi Papi tidak udah khawatir" Dito mengangguk menatap Viola.
Mereka berdua kembali asik dengan cucu pertana keluarga Raharja itu. Viola dan Erland hanya memandangnya dengan tangan mereka yang saling bertautan.
Ceklek..
Suara pintu terbuka itu menarik perhatian Viola dan Erland. Kemudian dua orang masuk ke dalam ruangan Viola itu.
"Kak Yovi?? Kalian barengan??" Tanya Viola karena melihat Beca berada di belakang Yovi.
"Iya Vi" Jawab Beca.
"Lo baik-baik aja kan??" Beca mendekati Viola.
"Iya, Alhamdulillah. Kalian dari mana kik bisa barengan??" Tanya Viola.
"Kita dari rumah lo" Jawab Beca.
"Hah?? Maksudnya??"
Viola menatap Yovi yang sedang berbincang dengan Erland.
"Abang keluar sebentar yank. Ada yang ingin Abang bicarakan sam Yovi"
Ucap Erland langsung bergerak keluar tanpa menunggu Viola yang sudah menyiapkan pertanyaan untuknya.
"Apa yang ingin mereka berdua bicarakan Ca??"
__ADS_1
"Nanti lo juga tau" Jawab Beca lalu ikut bergabung bersama Via dan Dito.