
"Abang dari mana??"
Tanya Viola begitu melihat Erland yang baru saja kembali ke ruangannya. Pasalnya Erland hanya meminta ijin pada Vioa untuk keluar sebentar. Nyatanya hampir dua jam Erland baru kembali.
"Maaf ya lama, Abang ada urusan sebentar"
Erland melihat putranya sebentar tampa menyentuhnya karena dia belum mencuci tangannya.
"Urusan apa?"
Erland duduk di samping Viola. Tak mungkin dia menyembunyikan hal sebesar itu pada istrinya itu.
"Abang baru saja mengurus barang bukti yang di tinggalkan Sarah di rumah kita"
"Jadi benar-benar pelakunya Bang??" Viola memekik tak percaya.
Erland mengangguk. Dia juga tak menyangka jika dia akan berurusan lagi dengan mantan istrinya lagi.
"Kemungkinan besar memang dia. Abang akan menyerahkan semuanya ke pihak berwajib. Biar mereka yang menyelesaikannya" Jelas Erland.
Mendadak Viola terdiam. Ada perasaan aneh di dalam dadanya.
"Kamu kenapa sayang??" Erland menyadari ada perubahan pada raut wajah Viola.
"Apa Abang tega membuatnya mendekam di penjara??"
Erland tidak menyangka jika pertanyaan itu akan keluar dari bibir Viola. Jelas-jelas Sarah sudah mencelakainya, tapi Viola terlihat mengkhawatirkan Sarah.
"Kenapa kamu tanya kaya gitu sayang??"
"Aku-, aku hanya kasihan saja sama Sarah Bang. Aku yakin dia melakukan itu karena rasa putus asanya saja. Semua rahasianya terbongkar, dia juga di ceraikan sama kamu. Secara langsung aku juga menyebab dia seperti ini" Viola menundukkan wajahnya. Dia takut dengan tatapan Erland yang begitu tajam kepasanya.
"Sayang, asal kamu tau!! Kita hampir saja kehilangan anak kita karena ulah Sarah. Untung saja Allah masih memberikan kita kesempatan lagi meski Abang sudah merasakan kehancuran karena menggendong anak kita yang sudah tidak bernafas"
Erland sudah berusaha memendam semuanya, tentang kejadian di ruang operasi itu. Erland tidak mau kondisi Viola menurun karena memikirkan anak mereka. Tapi Viola sepertinya goyah dengan perasaannya sendiri membuat Erland terpaksa mengatakan semuanya sekarang.
"Ma-maksud Abang??"
"Sayang, saat kamu terbaring di meja operasi. Kita hampir saja tidak bisa merawat anak kita bersama-sama...."
__ADS_1
Mengalirlah semua cerita Erland saat di ruang operasi. Emosi Erland juga masih sama saat di ruangan itu. Kepedihan dan kesedihan masih menggerayangi hatinya sampai saat ini.
Hanya dengan mendengar cerita dari Erland saja sudah membuat Viola menjadi lemas. Dia hanya bisa menyandarkan kepalanya pada dada Erland. Menangis tergugu di dekapan suaminya.
Anak yang hampir sembilan bulan di dalam perutnya. Selalu menemaninya setiap hari, anak yang begitu disayanginya hampir saja pergi selamanya tanpa di beri kesempatan untuk menggendongnya walau sekali saja.
"Apa kamu masih merasa kasihan dengan Sarah setelah tau kenyataan ini??"
Viola masih terdiam dengan tangisan pilunya. Dengan begitu cepat perasaannya berubah kepada Sarah. Dari yang awalnya merasa berempati, karena dirinya pula penyebab Sarah seperti itu. Menjadi kebencian yang mendalam di hati Viola.
"Walau kamu tidak setuju, Abang akan tetap membawa masalah ini ke persidangan. Abang akan menuntut Sarah, Abang tidak terima dia bahagia di luar sana setelah membuat kamu dan anak kita seperti ini"
Viola kali ini hanya bisa diam. Dia tidak bisa membantah Erland lagi. Biar bagaimanapun dia juga tidak rela anaknya tersakiti. Bayi yang masih begitu kecil tak berdosa malah menjadi sasaran kejahatan Sarah.
"Anak kita Bang" Isak Vioal dengan pilu.
"Sudah jangan menangis. Sekarang dia sudah baik-baik saja" Erland melirik bayinya yang menggeliat dengan pelan di dalam boksnya.
"Serahkan semuanya sama Abang. Sarah akan mendapatkan hukuman yang pantas untuk perbuatannya ini. Yang perlu kamu pikirkan saat ini hanya anak kita"
"Abang sampai lupa, kita kan belum kasih nama buat dedeknya"
Saat kehamilan Viola memasuki usia tujuh bulan, Viola memang sempat memikirkan beberapa nama, namun belum sempat membicarakannya dengan Erland.
"Abang mau kasih nama siapa??" Tanya Viola dengan wajahnya yang masih sembab.
"Kalau kamu??" Erland justru balik bertanya.
"Nggak tau Bang, aku bingung. Semakin banyak nama yang aku pikirkan justru semakin membuatku kebingungan untuk memilih salah satunya"
Viola terus menatap bayinya yang terlelap dengan mulutnya yang terbuka itu. Ternyata memilih nama anak memang begitu memusingkan.
"Kalau gitu, biar Abang yang kasih nama. Boleh kan??"
Viola langsung menatap Erland. Mengapa dia harus bertanya seperti itu pada Viola.
"Abang, kamu kan Papanya. Tentu saja boleh dong!! Kenapa Abang harus minta ijin dulu sama aku??"
Erland hanya tersenyum. Sebelumnya ida takut jika Viola melarangnya untuk memberikan nama untuk bayi kecilnya.
__ADS_1
"Abang mau beri nama Ezra Grawira Giesta. Gimana menurut kamu sayang??"
Viola mengangguk dengan antusias. "Bagus aku suka Bang"
Tangan Viola mencoba meriah boks bayi itu agar lebih mendekat padanya. Dengan sigap Erland mendorongnya menpel pada ranjang Viola.
"Hay sayang, mulai sekarang Mama akan panggil kamu Ezra. Nama yang bagus buat kamu dari Papa. Kamu suka kan??"
Erland begitu bahagia melihat interaksi Viola dan anaknya. Sungguh pemandangan gang begitu menyejukkan hati Erland.
"Benar sayang. Semoga kelak kamu bisa menjadi pria yang seperti terkandung dalam arti nama kamu ya nak. Seseorang yang pemberani dalam melindungi banyak orang"
"Aamiin" Ucap Viola.
Erland kembali merengkuh tubuh Viola. Banyak arti dalam pelukan yang di berikan Erland kali ini. Ucapan terimakasih, bersyukur, cinta dan banyak lagi yang tak bisa Erland ucapkan satu persatu. Yang jelas pelukan itu menunjukkan betapa bersyukurnya ia karena bersama Viola saat ini.
*
*
*
Sudah dua hari ini Edgar menyuruh orang untuk terus mengawasi kediaman Rasti. Dua hari pula Edgar tak turun langsung karena masih banyak yang harus ia kerjakan selama Erland belum kembali ke kantor. Namun kali ini, Edgar ikut turun langsung. Berdiam di dalam mobil bersama orang suruhannya.
"Kau yakin kalau dia masih ada di dalam sana??"
Sudah dua jam lebih Edgar di sana, namun tidak ada tanda-tanda Sarah akan keluar.
"Yakin bos, sudah dua hari ini kita di sini. Hanya Ibunya yang pergi, dan dia masih di dalam sana. Tadi siang juga masih memesan makanan pesan antar" Ucap salah satu orang di dalam mobil yang terparkir agak jauh dari rumah Sarah itu.
"Tapi salah satu dari kalian masih mengikuti Rasti kan?? Dimana saat ini??"
"Tenang saja Bos. Kami masih terus memantaunya dari kejauhan.Tadi pagi terakhir kami mendapatkan info kalau dia sudah berada di bandung. Di tempat teman lamanya"
Edgar hanya menganguk-angguk. Dia tidak akan pernah membiarkan Sarah dan Rasti hilang dari jarak pandangnya. Kalau sampai itu terjadi, polisi akan semakin lama memberikan keadilan untuk Viola.
"Baiklah ,terus awasi mereka dan siapapun yang membantu mereka. Aku jamin sebentar lagi pekerjaan kalian akan segera selesai"
"Baik Bos!"
__ADS_1