Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
66. Ada yang aneh


__ADS_3

"Tumben kamu ngajak aku makan siang di restoran kaya gini Sa?? Biasanya kamu nggak mau kalau aku ajak makan di restoran"


Edgar merasa aneh pada kekasihnya itu, yang tiba-tiba mengajak makan siang di restoran, dan restoran itu kebetulan sekali adalah milik Kakak ipar Edgar sendiri. Siapa lagi kalau bukan Sarah.


"Atau karena kamu cuma mau coba restoran baru aja??" Alisa menggeleng menanggapi tebakan Edgar.


"Lalu??"


"Jadi sebenarnya restoran ini milik Kakak aku, kemarin saat opening aku nggak bisa datang karena bentrok sama jadwal aku. Jadi baru sekarang deh datang kesini, sekalian mau kenalin kamu sama Kakak" Jelas Alisa.


"Tunggu!! Resto ini milik Kakak kamu??"


Edgar jelas saja bingung, bagaimana bisa restoran ini milik Kakaknya Alisa. Jelas-jelas yang meresmikan restoran itu adalah Kakak iparnya dan semua sumber dana berasal dari Abangnya sendiri.


"Iya, Kakak membuat restoran ini sama pacarnya. Mereka kerja sama gitu"


Edgar semakin melongo mendengarkan penjelasan dari Alisa.


"Pacarnya?? Siapa pacar Kakaknya?? Sebenarnya restoran ini milik siapa??" Batin Edgar.


"Memangnya pemilik restoran ini siapa sebenarnya Sa??" Edgar masih sangat penasaran dengan kebingungan yang di ciptakan Alisa.


"Punya Kakak aku"


Erland melihat ke sekelilingnya, siapa tau dia yang salah mengenali restoran yang beberapa hari lalu ia datangi bersama keluarganya.


"Sebentar lagi Kakak kesini, dia baik kok jadi kamu nggak usah tegang ya Mas" Alisa mengusap tangan Edgar.


"Iya, santai saja. Galak juga nggak papa kok, Mas nggak takut asal yang Mas perjuangkan itu kamu" Alisa langsung tersipu mendengar ocehan Edgar itu.


"Alisa, kamu sudah lama?" Seorang pria yang pernah Edgar lihat tiba-tiba datang dan mengusap kepala Alisa dengan lembut.


"Kakak, aku baru aja sampai Kok. Malah belum sempat pesan apa-apa" Jawab Alisa dengan ceria. Dia bagaikan anak kecil di depan Kakaknya. Bernada saat bersama Edgar, Alisa akan terlihat anggun dan dewasa.

__ADS_1


"Ini siapa Alisa?? Apa seseorang yang akan kamu kenalkan pada Kakak??" Kakak Alisa menatap Edgar dengan ramah.


"Saya Edgar Kak, teman dekat Alisa. Senang rasanya bisa mengenal Kakak sebagai keluarga Alisa" Edgar berdiri dan mengulurkan tangannya pada pria berotot besar itu.


"Saya Radian, Kakaknya Alisa. Saya juga senang akhirnya adik saya berani membawa teman laki-lakinya ke hadapan saya"


Ucapan Radian itu membuat Alisa malu di hadapan Edgar. Karena hal itu, Edgar jadi tau kalau dialah pria yang benar-benar bisa menarik hati Alisa.


"Ayo silahkan duduk. Alisa temani pacar kamu ini makan, pesan apapun yang dia suka. Semuanya gratis untuk kalian. Kakak ke belakang dulu. Dan untuk Edgar, saya percayakan adik saya sama kamu jangan sakiti dia dan jagalah dia seperti saya menjaganya. Tidak udah sungkan, nikmati saja semuanya yang ada disini. Saya tinggal dulu"


"Tentu saja Kak, saya akan menjaga dan mencintai Alisa sepenuh hati saya" Ucap Edgar dengan lantang di hadapan calon Kakak iparnya.


"Benar, tidak salah lagi. Dia pria yang waktu itu selalu ada di dekat Mbak Sarah. Tapi apa hubungan mereka?? Kalau resto ini miliknya, apa Mbak Sarah berbohong sama Abang??"


"Mas!!" Tegus Alisa.


"I-iya kenapa??"


"Kok ngelamun, mikirin apa sih??"


Alisa melihat ke seluruh penjuru restoran, tapi tak menemukan orang yang dia maksud.


"Nggak ada di sini, mungkin di dalam atau belum datang ke sini kali"


"Namanya siapa??"


Alisa menatap Edgar penuh curiga. "Rahasia, pokoknya orangnya cantik , terus baik banget. Abang beruntung bisa dapetin dia. Pokoknya ntar aja, biar kamu penasaran. Yang penting nggak boleh naksir dia loh!!" Canda Alisa.


"Ya enggak dong, aku kan udah punya kamu" Edgar mengedipkan satu matanya pada Alisa.


"Bisa aja kamu Mas"


"Tapi kenapa Kakak kamu belum menikah?? Katanya dia cantik, baik, bahkan udah bikin usaha barengan kaya gini. Masih nunggu apa lagi??" Sepertinya Edgar benar-benar penasaran dengan siapa pemilik restoran itu sebenarnya.

__ADS_1


"Nggak tau juga sih sebenarnya, aku juga heran. Udah yuk nggak usah bahas mereka, kamu mau makan apa Mas??"


"Kamu pasti tau kesukaan aku"


Edgar tentu saja masih belum puas belum puas dengan jawaban Alisa.


"Apa aku kasih tau Bang Erland aja ya??" Batin Edgar.


"Ah tidak-tidak!! Sebaiknya aku cari tau dulu, siapa tau memang ada yang salah di antara keduanya. Yang bohong bisa saja Kakaknya Alisa, atau bisa juga Mbak Sarah"


*


*


*


Viola masuk ke dalam kamarnya, mendapati Erland masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin pengaruh obat yang dia minum tadi siang, hingga kini sudah mulai sore belum juga terbangun.


Tangannya menyentuh dahi Erland, Viola bisa bernafas lega karena demamnya sudah berangsur turun. Wajahnya juga tak sepucat tadi pagi saat Bi Tum menemukannya terkapar di lantai.


Sebenarnya Viola sudah tidak begitu memikirkan tengang Erland yang kemarin tidak jadi datang ke rumah sakit setelah mendengar penjelasannya.


Justru saat ini Viola kasian pada suaminya itu. Melihat postingan Sarah kemarin, Viola jadi tau betapa meriahnya pesta yang di adakan oleh Mamanya Sarah. Padahal semua kebutuhan mereka Erland yang menanggungnya.


Setau Viola kehidupan keluarga Erland juga tetap sederhana meski hidup mereka sudah berubah. Erland yang tidak tergiur barang-barang mahal meski perusahannya saat ini mulai di perhitungkan sebagai perusahaan yang cukup besar. Endah yang memiliki beberapa toko kue miliknya sendiri, sedangkan Edgar yang menduduki posisi tinggi di perusahaan Erland. Seharusnya mereka bisa saja memiliki gaya hidup mewah, tapi mereka lebih memilih hidup sederhana dan secukupnya saja.


Tapi Erland harus terjebak dengan istri dan mertua seperti Rasti. Menghambur-hamburkan uang, terlebih Sarah yang baru saja meminta uang ratusan juta untuk modal restorannya.


"Kasian banget, sebenarnya kamu itu baik atau bodoh sih!! Bisa-bisanya di peras kaya gitu sama mereka. Udah punya istri dua tapi berasa punya istri tiga. Udah menafkahi anaknya, masih menafkahi ibunya. Sebenarnya sih nggak ada salahnya, tapi kamu terlalu berlebihan memanjakan mereka yang terus memerah uang kamu!!"


Viola bergumam sambil terus menatap Erland yang matanya masih terpejam.


"Iya kamu benar, Abang baru sadar kalau Abang ini terlalu bodoh sampai-sampai tidak sadar sudah di jadikan mesin ATM oleh mereka"

__ADS_1


Viola langsung menutup bibirnya dengan rapat karena ternyata Erland mendengar semua yang dia katakan.


__ADS_2