Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
118. Mencari bukti


__ADS_3

"Aku ingat Bang!!" Ucap Viola dengan tiba-tiba.


"Apa yang kamu ingat sayang??" Tanya Erland begitu penasaran.


"Entah ini benar atau tidak. Aku juga tidak bermaksud menuduh Bang, tapi aku sempat merasakan aneh pada teh yang aku minum. Aku sama sekali tidak begitu memikirkannya karena mungkin lidahku saja yang salah karena aku rutin meminum obat selama kehamilanku. Jadi apapun yang masuk ke dalam mulutku rasanya sering aneh"


"Tapi setelah mendengar semua ini. Sekarang aku yakin jika ada yang aneh dengan teh yang aku minum" Sarah memejamkan matanya, karena mengingat kebodohannya. Dia sampai tidak sadar jika ada obat di dalam minumannya, padahal rasanya saja sudah aneh.


"Iya Abang ingat karena Sarah sempat menegur kamu"


Viola mengangguk-angguk pasrah. Semuanya sudah seperti ini. Yang penting dia dan bayinya bisa selamat.


"Sudah jangan di pikirkan lagi. Kamu harus istirahat. Maaf karena Abang terlalu banyak mengajak kamu bicara sejak tadi" Erland kembali menyelimuti tangan Viola yang sejak tadi di genggamnya.


"Tapi apa Sarah sudah tau kalau akhirnya aku melahirkan anak kita lebih cepat Bang??" Tanya Viola dengan sedih. Bukan karena ia tak bahagia bisa melihat anaknya lebih cepat. Tapi Viola takut jika anaknya tidak bisa selamat karena ulah Sarah.


"Tentu saja, karena memang itu tujuannya. Itu juga alasan dia bersikap baik kepada kita. Dia sengaja mengecoh kita dengan perubahan sikapnya agar kita tidak mencurigainya sama sekali. Tapi kamu tidak usah khawatir. Abang akan mencari Sarah sampai ketemu. Abang tidak akan membiarkan dia hidup tenang setelah mencelakai kamu dan anak kita"


"Sekarang kamu istirahat ya??" Viola mengangguk patuh.


"Tapi Aku ingin sekali melihat anak kita Bang. Aku tidak sabar ingin menggendongnya. Pasti dia sangat lucu" Viola kembali berkaca-kaca teringat bayinya.


"Abang tau kamu sangat ingin menemui anak kita sayang. Tapi keadaan kamu belum memungkinkan. Besok pagi Abang akan meminta suster untuk membawanya kemari" Ucap Erland meski ia tak yakin dia akan di perbolehkan membawa bayinya.


"Abang janji??" Mata Viola seperti anak kecil yang sedang memohon kepada ibunya.


"Iya, Abang janji"


Dengan lembut Erland mengusap kepala Viola hingga mata yang indah itu mulai terpejam dengan berlahan.


"Kamu tenang saja sayang. Abang tidak akan membiarkan Sarah hidup bahagia di luar sana" Ucap Erland saat Viola sudah benar-benar terlelap.


*

__ADS_1


*


*


Lain di rumah sakit lain juga di rumah Erland. Jika Erland senang karena Viola sudah sadar. Lain halnya dengan Yovi dan Beca yang masih sibuk mencari sesuatu di rumah Erland.


Erland sendiri yang mengutusnya untuk datang ke rumah itu. Mencari sesuatu yang bisa memperkuat dugaannya kepada Sarah.


"Sumpah, kita kaya lagi nyari jarum di tumpukan jerami tau nggak??" Keluh Beca karena sejak tadi ia membongkar seluruh kamar Sarah tapi tak menemukan barang yang di minta Yovi itu.


"Sudahlah Beca, jangan mengeluh terus!! Gunakan tanganmu bukan mulutmu untuk mencarinya!!" Kesal Yovi karena sedari tadi Beca terus saja mengeluh.


"Sebenarnya yang kamu cari itu obat apa sih?? Kasih tau dulu biar aku paham apa yang aku cari!! Dari tadi kamu cuma suruh aku cari obat terus tapi aku nggak tau obat kaya apa yang kamu maksud"


Justru Beca yang seharusnya kesal karena Yovi sama sekali tidak memberitahunya dengan jelas. Jika saja bukan karena Erland dan Viola, dia tidak akan mau disuruh-suruh oleh Yovi seperti itu. Apalagi tidak di temukan hal mencurigakan di rekaman cctv rumah Erland.


"Kamu ini udah bolot ya?? Ahhh aku maklum karena kamu memang perawan tua. Tapi harusnya kamu dengar Dokter tadi bilang apa?? Viola seperti itu karena meminum obat abortus. Jadi tanpa aku memberitahu, harusnya kamu tau kan kita cari obat apa??"


Tapi sekejap kemudian, Beca juga sadar jika Yovi baru saja mengatainya bolot dan perawan tua.


"Hehhhh!! Ngaca dong!! Emang situ laku, sampai ngatain perawan tua?? Dasar bujang lapuk!!" Balas Beca lebih nylekit.


"Beca kamu!!" Yovi mengepalkan tangannya dengan kuat. Menahan emosinya agar tidak meledak saat ini juga.


"Apa?? Ada yang salah??" Tantang Beca dengan bercabang pinggang.


Perdebatan mereka berdua itu di saksikan oleh Bi Tum sejak tadi. Wanita paruh baya itu hanya cengar cengir melihat pertengkaran dua anak manusia itu. Seperti tokoh kartun kucing dan tikus yang tak pernah akur.


"Sudahlah lupakan!! Lebih baik kita cari lagi. Cari di sudut manapun, jangan sampai terlewat!!" Perintah Yovi.


"Bi Tum bisa bantu apa Pak??" Bi Tum sejak tadi bingung apa yang harus dia lakukan. Karena rumah majikannya sedang diobrak-abrik oleh dua orang yang tadi tiba-tiba datang karena perintah Erland.


Tadi saat di rumah sakit, Erland secara langsung meminta bantuan Yovi untuk mencari bukti di dalam rumahnya. Siapa tau Sarah meninggalkan bukti walau hanya sebutir pasir.

__ADS_1


Yovi baru ingat jika di rumah itu juga ada asisten rumah tangga yang sejak tadi sore hanya diam saja.


"Oh ya sampai lupa" Yovi menepuk jidatnya.


"Bi apa semua peralatan makan saat sarapan pagi sudah di cuci semua??" Tanya Yovi.


"Ya sudah dong Pak. Ini kan sudah malam, pekerjaan Bibi sudah selesai dari tadi. Apalagi bekas makan tadi pagi, ya pasti semua sudah beres" Jawab Bi Tum dengan polos.


"Kalau sampah?? Apa Bibi sudah membuang semuanya??" Tanya Beca.


Yovi langsung paham. Kini dia mengaku jika dia bodoh. Pasti Sarah telah membuang bukti itu kalau di kamarnya saja tidak di temukan apapun sejak tadi sore.


"Sudah Bu"


"Dimana Bibi membuangnya??" Tanya Beca lagi. Ia tak peduli jika harus membongkar berkantung-kantung sampah, asalkan bisa menemukan setitik harapan di dalamnya.


"Di ujung jalan Bu. Biasanya sampah akan di ambil besok pagi, jadi Bibi yakin kalau sampah dari rumah ini masih ada di sana" Ucap Bi Tum.


"Bagus, ayo tunjukkan tempatnya!!" Beca dan Yovi mengikuti Bi Tum menuju tempat pembuangan sampah di komplek perumahan yang cukup mewah itu.


"Kamu yakin??" Tanya Yovi dengan wajahnya yang terlihat jijik saat tiba di tempat pembuangan sampah sementara. Yovi memang seorang Dokter. Dia sering sekali membedah bagian tubuh pasiennya. Tapi dia tidak pernah membedah kantung sampah seperti itu.


"Yakin!!" Ucap Beca dengan mantap setelah memakai kedua sarung tangannya.


Beca mulai memilah satu persatu sampah yang telah di tunjukkan oleh Bi Tum. Yovi yang merasa malu dengan Beca akhirnya mulai membantu Beca meski berulang-ulang mencoba menahan nafasnya.


Dua kantung sampah telah di bongkar oleh Yovi dan Beca namun tak juga menemukan yang mereka cari.


Hanya tinggal satu lagi harapan mereka, satu kantung lagi yang tersisa. Jika di dalamnya tidak ada apapun, maka sia-sia saja mereka hampir satu jam berada di tempat berbau menyengat itu.


Mereka berdua benar-benar memilah sampah satu demi satu. Tak ingin melewatkan apapun juga.


"Tunggu!!"

__ADS_1


__ADS_2