Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
54. Permintaan Sarah


__ADS_3

"Sarah??"


Erland melihat Sarah yang hanya terdiam merenung di balkon kamarnya.


"Mas, kamu sudah pulang??"


"Sedang apa?? Di luar dingin, masuklah!!" Sarah menghampiri suaminya. Membantu melepaskan jas yang sudah melekat di tubuh kekar itu seharian.


"Apa yang sedang kamu pikirkan??" Tanya Erland lagi.


"Tidak ada" Jawab Sarah dengan malas.


Erland memperhatikan wajah Sarah yang tampak malas dan tak bersemangat berhadapan dengannya. Buktinya Sarah langsung duduk di ranjang membelakanginya.


"Sarah, sebenarnya aku mau tanya sama kamu. Apa maksud kamu berkata seperti itu sama Viola?" Sarah sempat menegang tak mau menatap Erland.


"Ma-maksud kamu apa Mas?? Memangnya apa yang Viola katakan sama kamu??" Sarah berusaha menyembunyikan wajahnya yang gugup.


"Kamu pasti tau apa yang aku maksud Sarah" Erland duduk di sebelah Sarah.


Erland jelas ingin tau apa tujuan Sarah mengatakan pada Viola, jika Erland hanya menginginkan anak dalam kandungan Viola saja.


"Aku, aku.." Sarah bingung harus mengeluarkan pembelaannya dari mana dulu.


"Kenapa kamu setega itu sama Viola??"


"Tega kamu bilang??" Sarah langsung menatap Erland dengan nyalang.


"Tega kamu bilang Mas??" Sarah tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.


"Pernahkah kamu berpikir berada di posisiku Mas??"

__ADS_1


Wajah Sarah mulai berubah. Yang tadinya menatap Erland dengan tajam. Kini berangsur surut dan mulai mendung.


"Sakit Mas!! Cobalah menjadi aku sebentar saja dan rasakan sakitnya!!" Isakan kecil mulai keluar dari bibir Sarah.


"Hiks..hiks.."


"Sarah, aku han..."


"Kenapa aku yang selalu salah di mata mu Mas?? Aku yang selalu mengalah, aku harus mengikhlaskan kamu menikahi wanita lain, kemudian berbagi cintaku apalagi rela satu atap dengan maduku sendiri, apa masih kurang?? Berkali-kali emosiku tidak terkontrol itu seharusnya wajar kan Mas?? Siapa wanita yang tahan jika seperti ini??"


Erland hanya diam mendengarkan ungkapan kemarahan Sarah.


"Lalu sekarang Viola dengan mudahnya hamil begitu saja padahal baru sebentar berhubungan denganmu. Sedangkan aku?? Sudah bertahun-tahun aku menantikannya, bahakan berbagai usaha sudah aku lakukan, tapi aku tidak di beri kesempatan sama sekali. Apa menurutmu aku tidak iri Mas?? Aku sungguh iri dengan Viola. Kini dia semakin di sayang olehmu dan keluargamu. Sementara aku??" Air mata yang deras itu pastilah sangat menunjukkan perasaan Sarah yang sangat tersakiti di dalam pernikahan itu.


"Sekarang, silahkan kalau marah kepadaku karena ucapan ku pada Viola. Aku memang tempatnya salah. Jadi aku akan menerimanya"


"Sarah, aku tidak marah padamu. Sebelumnya aku hanya ingin menanyakan apa maksudmu mengatakan itu pada Viola. Tapi sekarang justru aku tau apa yang kamu rasakan selama ini. Maafkan aku, ternyata menjadi adil itu masih sangat jauh dari bayanganku. Aku masih sangat banyak kekurangan hingga begitu menyakiti kamu Sarah. Maafkan aku" Erland menarik Sarah ke dalam dekapannya. Jika di pikir lagi, memanglah benar semua yang Sarah katakan itu.


"Tidak Mas, kamu tidak akan pernah bisa adil karena sekarang Viola sedang mengandung anakmu. Segala perhatianmu pasti juga akan tercurah untuknya. Sementara aku akan menjadi penonton di belakang kalian. Menyaksikan kemesraan kalian. Aku juga merasakan jika cintamu kepadanya itu berbeda dengan cintamu kepadaku Mas"


"Kamu tidak pernah memanggilku dengan panggilan yang manis seperti Viola. Kamu bahkan memanggilnya sayang, dan menyebut dirimu sendiri dengan Abang. Sementara dengan aku, kamu tidak melakukannya kan??"


"Sarah, untuk hal itu kau yang salah. Aku minta maaf" Sarah menggeleng dengan air matanya yang kembali menetes.


"Bisakah kamu memberiku ruang Mas??"


"Ma-maksud kamu??" Erland takut jika Sarah akan meminta perpisahan lagi darinya.


"Aku butuh pelampiasan untuk membuang semua yang aku dapat ketika berada di rumah. Aku butuh sesuatu untuk melupakan semua ini. Tolong bantu aku kalau kamu masih mau melihatku bertahan di sisimu. Karena jujur, seharian penuh berada di rumah ini membuatku semakin merasa sakit"


"Apa itu Sarah?? Apa yang bisa aku lakukan untuk kamu, agar bisa mengurangi rasa sakit yang aku berikan padamu"

__ADS_1


Erland meraih tangan Sarah. Menggenggam keduanya dengan lembut.


"Katakanlah!! Selama aku bisa, pasti akan aku lakukan" Ucap Erland dengan sungguh-sungguh.


"Kamu yakin Mas?? Permintaan ku memang tidak akan berat. Tapi aku pastikan kamu akan berpikir dua kali untuk melakukannya" Erland semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya Sarah inginkan.


"Katakan dulu baru aku bisa memutuskannya"


"Mas, mau kah kamu membuatkan sebuah usaha untukku?? Atau mewujudkan impianku untuk membuat sebuah restoran??"


Sarah bisa melihat mata Erland sedikit melebar karena pasti terkejut dengan permintaan Sarah itu.


"Mungkin dengan begitu, aku bisa sedikit melupakan sakit hatiku dengan kesibukan yang mengurus restoran. Aku tidak akan di rumah seharian yang akan membuatku semakin sulit untuk menahan amarah yang selalu tak terkendali karena rasa cemburu. Apa kamu mau menuruti permintaan ku ini Mas??" Sarah menangkap keraguan di wajah Erland.


"Maaf Mas kalau permintaanku ini terlalu muluk-muluk. Sebaiknya kita lupakan saja, mungkin sudah nasibku untuk di hadapkan dengan rasa sakit setiap hatinya"


Sarah menarik tangannya begitu saja dari tangan Erland. Mengusap air matanya dengan kasar lalu berdiri di depan jendela kamarnya.


"Aku akan berikan kamu modal untuk mendirikan restoran mu sendiri. Berapa jumlah yang kamu inginkan??"


"Apa Mas?? Kamu mau membuatkan aku sebuah restoran??" Sarah kembali berbalik menatap Erland.


"Asalkan kamu bisa bahagia dan bisa menghiburmu karena kesalahanku"


Erland tidak tau keputusan yang dia ambil itu benar atau salah. Mengingat Sarah sama sekali tidak ada pengalaman dalam mengelola sebuah restoran, bahkan Sarah saja tidak bisa memasak.


Tapi jika Erland pikir lagi, semua yang Sarah katakan tadi memang benar. Disini Sarah juga tersakiti akibat ulah Erland di masa lalu. Dipaksa menerima pernikahan Erland saja seharusnya sudah begitu menyakiti Sarah. Tapi kini Sarah masih bertahan di saat istri Erland yang lain tengah mengandung.


"A-aku janji Mas. Aku akan menggunakan uang yang kamu berikan untuk membuat restoran impian ku. Kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak berpengalaman dalam hal ini Mas. Karena aku akan meminta bantuan temanku untuk mengurus semuanya" Sarah meyakinkan Erland.


"Baiklah, aku percaya kepadamu"

__ADS_1


"Terimakasih Mas"


Sarah langsung menghambur ke pelukan Erland. Begitu bahagianya Sarah saat ini, karena impiannya memiliki usaha sendiri akan segera terwujud. Beruntungnya Sarah yang mempunyai suami seperti Erland. Pria sejati yang sejatinya tidak pernah ingin menyakiti hati istri-istrinya. Tapi mungkin karena rasa cinta dan tanggung jawabnya yang besar pada mereka, Erland juga begitu bodoh karena tidak bisa melihat jika ada kabut yang mengelabuhi matanya.


__ADS_2