
Hari cepat berlalu hingga kini tiba saatnya Erland kembali menjadi wali untuk adiknya, Edgar yang ingin melamar kekasihnya. Edgar sudah sangat ingin meminang Alisa, tak ingin kehilangan wanita itu lagi hingga Edgar ingin segera mengikatnya ke dalam sebuah pernikahan.
Sebelumnya Edgar sudah menceritakan semuanya kepada Erland tentang siapa Alisa dan siapa walinya sejak Edgar mengetahui perselingkuhan Sarah dan Kakaknya Alisa . Semua itu Edgar lalukan agar Erland tidak terkejut saat datang melamar Alisa nantinya. Itu juga salah satu tujuan Edgar untuk meminta restu Kakaknya. Mengingat Alisa adalah adik dari Radian, duri di rumah tangga Erland dengan Sarah.
Namun siapa sangka jika Erland tak masalah dengan latar belakang Alisa. Baginya, yang ingin menikah dengan Edgar adalah Alisa bukan Kakaknya. Toh Erland melihat jika Alisa gadis yang baik dan juga menyayangi adiknya.
Semua keluarga Edgar sudah tiba di kediaman Alisa. Mereka di sambut oleh Radian selaku wali dari Alisa. Erland bersikap baisa saja saat bertemu dengan Radian, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Terutama dia juga harus menjaga sikapnya, karena itu adalah hari bahagia bagi adiknya, mana mungkin dia tega merusak momen membahagiakan itu.
Acara lamaran yang di selenggarakan hanyalah acara sederhana. Hanya keluarga Edgar saja yang datang, tanpa mengundang siapapun lagi. Juga tidak ada pesta meriah seperti Endah dulu.
Semuanya berjalan lancar, Erland juga sudah meminta Alisa untuk Edgar secara pribadi pada Radian. Erland memang pandai untuk memisahkan masalah pribadinya dengan urusan yang sangat penting di tengah keluarganya.
Erland yang di temani Viola di sebelahnya kini terus menggenggam tangan istrinya. Viola tau jika sebenarnya suaminya itu tidak nyaman berlama-lama di sana. Namun Ayah dari anaknya itu terus berusaha bersikap tenang dan sesekali mengulas senyumnya.
"Abang angkat telepon dulu ya??" Erland menunjukkan ponselnya yang sedang menerima panggilan kepada Viola.
"Iya, jangan jauh-jauh!!" Erland hanya mengangguk dan meminta ijin untuk keluar sebentar.
Erland sedikit menjauh dari pintu rumah Alisa. Sekretarisnya di kantor yang sedang menghubunginya saat ini.
Sekretarisnya itu hanya memberitahukan hasil meeting tadi sore yang di wakili olehnya. Karena sebelumnya itu adalah tugas Edgar.
"Ya sudah, lanjutkan saja seperti yang kau katakan tadi"
"Baik Pak"
"Saya tutup sekarang"
__ADS_1
Pip...
Erland kembali memasukkan ponselnya pada saku celananya.
"Pak Erland, bisa bicara sebentar??" Erland mengurungkan niatnya untuk kembali ke dalam karena Radian ternyata sudah menunggu di belakangnya.
Erland hanya diam namun Radian beranggapan jika Erland menyetujuinya.
"Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih karena Pak Erland sudah mau menerima Alisa menjadi bagian dari keluarga kalian. Mengingat masa lalu saya yang dengan sengaja menjadi duri dalam pernikahan Bapak"
Entah mengapa Erland justru tersenyum kecut mendengarnya.
"Saya bukan pria yang egois dan memikirkan masalah saya sendiri. Kalau memang Alisa adalah kebahagiaan untuk adik saya, tentu saja saya akan menerimanya. Mencoba mengesampingkan perangai buruk Kakaknya" Ucapan Erland berhasil menancap tepat pada Radian.
"Saya minta maaf untuk itu. Saya akui kalau saya memang bersalah. Saya dan Sarah menjalin hubungan yang tak semestinya di belakang anda, saya juga dengan tidak tau malunya ikut menikmati uang milik anda melalui Sarah. Kalau seandainya anda ingin meminta kembali uang-uang itu, akan saya kembalikan meski harus mencicilnya. Tapi saya mohon jangan sampai Alisa tau tentang ini"
Erland kembali tersenyum, kali ini malah hampir mengeluarkan suara.
Radian hanya diam saja meski kata-kata Erland terkesan merendahkannya.
"Oh ya, saya baru tau kalau ternyata anda sudah menikah. Saya kira anda akan kembali dengan Sarah setelah saya menceraikannya. Padahal itu adalah impian kalian dari kalian berdua. Taunya habis manis sepah di buang" Sindir Erland.
"Saya memang sudah tidak ada niatan untuk kembali dengan Sarah. Setelah itu baru saya bertemu dengan istri saya. Saya tidak tau kenapa saya bisa memutuskan menikahinya begitu saja. Dan di saat keputusan itu sudah bulat, saya justru mendapat kabar kalau Sarah sudah resmi bercerai dari anda"
"Jadi anda menyesal karena menikahi istri anda saat ini?" Erland melirik wanita yang ada di balik pintu. Dia tau kalau sejak tadi wanita itu mencuri dengar apa yang Erland dan Yovi bicarakan.
Radian terdiam sekejap, dia bimbang dengan perasaannya sendiri. Meski dia sudah mengirimkan sirat permintaan maafnya pada Sarah, namun rasnya masih tetap berat.
__ADS_1
"Saya tidak tau, tapi saya juga tidak mungkin menunggu Sarah selama masa tahanannya habis. Saga juga tidak mungkin berpisah dengan istri saya karena kami baru saja menikah"
"Malang sekali nasib Sarah, hidupnya sudah hancur kini juga di tinggalkan oleh orang yang dicintainya sampai rela menduakan suaminya. Benar-benar sangat mengenaskan" Radian diam tak berkutik.
Dia merasa jika dia memang laki-laki yang b****ek, karena memang apa yang di katakan Erland itu benar adanya.
"Jangan salah paham dulu. Saya mengatakan ini semua bukan karena saya masih mencintai Sarah. Saya hanya tak habis pikir saja kenapa anda bisa meninggalkan wanita yang dari dulu sudah menghidupi anda"
Lagi-lagi Radian terdiam, Erland tidak tau mengapa pria itu hanya diam meski Erland terus mengatakan hal-hal yang tentu saja menyinggung pria itu.
"Sudahlah lupakan, saya kembali ke dalam dulu" Erland pergi dari hadapan Radian.
Pria itu masih berdiri diam di tempatnya. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.
"Mas!!" Suara Mila mengagetkan Radian.
"Iya kenapa??" Radian melihat istrinya itu dengan tatapan heran karena Mila memasang wajah tak bersahabat ke arahnya.
"Kenapa kamu bilang?? Apa yang tadi kamu bicarakan sama Kakaknya Edgar tadi?? Kamu masih mencintai mantan kamu itu??" Wajah yang galak dan mata yang mendelik keluar telah biasa Radia dapatkan dari Mila. Dia baru melihat sisi lain istrinya itu setelah pernikahan mereka beberapa minggu yang lalu.
Yang awalnya Mila wanita lembut dan penuh perhatian saat mereka saling mengenal, ternyata Mila menunjukkan susu aslinya yang pemarah dan egois setelah menikah.
"Sudahlah Mila, jangan ribut itu dulu. Malu di dengar mereka" Radia memutar bila matanya dengan malas.
"Heh siapa yang ribut?? Aku cuma nanya!! Lagian kamu sendiri yang memulai. Kamu ternyata masih menyimpan rasa untuk mantan kamu itu. Awas aja kalau sampai diam-diam menemuinya!!" Mila melipat tangannya di depan dada. Dia tidak suka jika Radian memikirkan hal lain selain dirinya.
"Stop Mila!! Bisa nggak kamu hargai aku sedikit saja!! Aku muak dengan kelakuan kamu. Aku suami kamu tapi kamu selaku menginjak-injak harga diri ku" Geram Radian dengan suara tertahan.
__ADS_1
"Aku tidak peduli!! Selama kamu belum bisa memenuhi semua keutuhan hidupku, jangan harap aku mau menghormatimu sebagai suami" Mila melengos peri dari hadapan Radian.
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa tertipu dengan kelembutan Mila dulu sebelum menikah. Sekarang ini justru Radian bagaikan seorang budak yang di pelihara oleh istrinya itu.