
Sudah lebih dari tiga puluh menit, seorang pria berdiri di depan sebuah gedung yang menyembunyikan seseorang di dalam sana. Namun keberanian yang dia kumpulkan sejak dari rumah tadi hilang begitu saja kala kakinya menapaki pelataran gedung itu.
Rasa ingin menemui orang itu sudah ia pendam berbulan-bulan ini. Rindu dan rasa bersalah juga selalu menghantuinya. Dia sadar jika dirinya begitu jahat dan tak tau diri kepada orang itu. Namun kini dia sadar karena dia sendiri telah menerima ganjarannya sendiri. Memang hukum tabur tuai masih berlaku di dunia ini, dan dia sedang mengalaminya saat ini.
Dengan memantapkan hatinya, tubuh tinggi itu mulai melangkah. Dia akan merasa sia-sia jika dia pergi begitu saja dari sana, karena untuk sampai ke sana dia harus mencari beribu alasan kepada istrinya. Dia tidak mau membuang kesempatan ini untuk menemui wanita yang mungkin sampai saat ini masih ia cintai.
"Permisi Pak, saya mau mengunjungi tahanan bernama Sarah"
"Maaf, dengan siapa??"
"Saya, Radian"
Ya, orang itu Radian. Dia memberanikan diri untuk menemui mantan kekasihnya itu. Bukan hal mudah bagi Radian untuk menampakkan wajahnya di depan Sarah. Tentu saja ada rasa takut dan malu.
Dia takut jika Sarah akan menolak untu bertemu dengannya, terutama membencinya. Radian juga malu karena nyatanya hidupnya tak bahagia setelah memilih menikah dengan wanita lain..
"Silahkan tunggu di ruang tunggu dulu"
Radian dengan gugup berjalan ke ruangan yang sudah di tunjukkan tadi. Pria itu bahkan berkali-kali menggetarkan jari-jarinya demi mengurangi rasa gugupnya itu.
Tak lama berselang, seorang sipir mengantarkan seseorang ke dalam ruangan itu. Radian langsung berbinar menatap wanita yang begitu dirindukannya itu.
Tapi mata Radian langsung meredup ketika menangkap wajah kusam dan layu itu. Tatapan mata yang biasanya memandangnya dengan berbinar kini berubah kosong seperti tak ada isi di dalamnya.
"Waktunya hanya tiga puluh menit, tidak boleh lebih!!" Ucap Sipir tadi kemudian langsung pergi dari sana.
"Sarah" Panggil Radian dengan lembut karena Sarah sama sekali tak bergeming sejak berada di sana.
"Sarah, bagaimana kabarmu??" Seharusnya Radian tak perlu menanyakan itu karena dia sudah melihat sendiri jika Sarah benar-benar hancur.
Suasana hening sejenak karena Radian tak kunjung mendapatkan sahutan dari Sarah.
"Sarah, aku..."
"Ngapain kamu kesini??" Pertanyaan pertama dari bibir Sarah. Namun Radian begitu kecewa karena Sarah tak mau menatap dirinya sama sekali.
"Maafkan aku Sarah" Hanya itu yang bisa menggambarkan perasaan Radian kepada Sarah saat ini.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf??"
"Aku.."
"Salah yang mana yang harus aku maafkan?? Aku tidak tau" Kali ini Sarah melihat ke arah Radian meski hanya sekilas.
Radia kembali terdiam, dia sekarang benar-benar mati kutu di hadapan Sarah.
"Maafkan aku untuk segalanya Sarah" Ucap Radian setelah dia menghembuskan nafas panjangnya.
"Aku sudah memaafkan mu jadi tidak usah khawatir. Kamu juga tidak perlu repot-repot datang kesini" Sarah masih enggan untuk menatap Radian yang berada di sampingnya.
"Sarah, dengarkan aku dulu..."
"Tidak perlu, sekarang lebih baik kamu pulang. Istrimu pasti sudah menunggu di rumah"
"Sarah!!" Radian menahan tangan Sarah yang sudah ingin beranjak pergi.
"Aku tidak bahagia dengan pernikahanku"
Sarah tiba-tiba tersenyum kecut, dia berpikir kenapa Radian repot-repot mengatakan hal itu kepadanya.
"Aku memang salah Sara. Aku sudah salah karena menafsirkan perasaanku secepat itu. Aku baru sadar kalau aku masih mencintaimu Sarah"
Akhirnya tawa Sarah mengeluarkan suara juga. Bagaimana Radian bisa berkata selucu itu pada Sarah.
"Aku sungguh-sungguh Sarah!! Awalnya aku dekat dengannya karena dia memiliki sifat seperti kamu. Lama-lama aku nyaman dan memberanikan diri untuk menikahinya. Tapi semuanya berubah setelah kami menikah Sarah. Dia tidak seperti yang aku bayangkan, dia kasar, dia selalu menghinaku, dia bahkan sering menginjak-injak harga diriku" Radian berkali-kali menghela nafas kasarnya, mungkin sudah begitu muak dengan pernikahannya itu.
"Lalu apa tujuanmu menceritakan itu semua kepada ku??" Sarah masih begitu dingin dan masih terus mengendalikan dirinya agar tidak mengeluarkan emosinya yang menggebu-gebu.
"Mungkin ini hukuman buatku Sarah. Aku sudah menyakiti kamu dan juga mencurangi suami kamu. Saat ini aku sedang merasakan akibat dari perbuatan ku"
Radian menuntun Sarah untuk duduk kembali ke kursi yang berada di sebelahnya.
"Maafkan aku karena sudah merusak mu Sarah. Aku dulu juga berjanji akan menunggu kamu sampai kamu bercerai dengan suamimu. Tapi saat itu terjadi, aku justru sudah meninggalkan kamu bersama wanita lain. Seharunya aku tetap menunggu kamu sampai kapan pun, sesuai dengan janji kita dulu"
Sarah menahan rasa sesak di dalam dadanya. Biar bagaimanapun Radian adalah sebagian dari hidupnya. Mendengar kata-kata itu keluar dari bibir pria itu, semuanya sangar menyengat di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih bertahan dengan dia kalah sudah tau sifatnya seperti itu??"
"Aku sudah terlanjur menikah. Mengingat dosa-dosa ku kepadamu dan juga mantan suami kamu. Aku tidak berniat mempermainkan pernikahan. Aku selalu berharap dia berubah, tapi nyatanya semakin hari semakin menjadi. Rasanya aku sudah tindak sanggup Sarah" Radian menundukkan kepalanya begitu dalam.
"Apa benar hanya karena hal itu??"
Sarah sangat mengenal dirinya, mana mungkin di bisa menyembunyikan apapun dari Sarah. Dari pertanyaan Sarah itu saja, Radian sudah tau kalau Sarah pasti mencurigai sesuatu darinya.
"Aku terlilit banyak hutang karena di tipu temanku, dan yang membayar semua itu adalah Mila. Makanya sekarang dia begitu semena-mena terhadapku"
Benar saja tebakan Sarah, jika ada alasan lain bagi Radian untuk bertahan di dalam pernikahan saat ini.
"Pantas saja dia seperti itu kepada mu. Mana mau wanita lain secara cuma-cuma memberikan uangnya seperti aku dulu" Kini Sarah mengutuk dirinya yang begitu dibutakan cinta oleh Radian.
"Maaf Sarah" Lagi-lagi kata itu yang Sarah dengar, meski baru dua kali namun begitu memuakkan di telinga Sarah. Karena sekarang kata itu sudah tidak ada artinya lagi.
"Mau bagaimana lagi. Sekarang kita jalani saja takdir kita masing-masing. Aku sudah menerima semua ini sebagai jalan hidupku. Meski aku harus mendekam di sini seumur hidupku pun aku mau. Karena memang di luar sana sudah tidak ada lagi yang mengharapkan aku kembali" Ucap Sarah mengasihani dirinya sendiri.
"Jangan berkata seperti itu Sarah. Ada aku yang masih mengharapkan kamu kembali. Kalau aku sudah bisa membayar semua hutangku pada Mila. Aku akan menceraikannya, aku akan menunggu sampai kamu keluar Sarah. Sepuluh tahun kan?? Itu bukan waktu yang lama untukku"
Sarah tertawa sinis pada Radian. "Jangan sembarangan mengucap janji seperti itu!! Takutnya kamu tidak bisa menepatinya. Sebaiknya selesaikan dulu masalah kamu itu. Aku juga akan menikmati kehidupan baruku di penjara ini"
"Satu lagi, daripada kita sibuk mengobral janji seperti ini. Lebih baik kita jadikan waktu kita sekarang ini sebagai waktu untum berbenah diri. Semoga saja kelak masih di berikan kesempatan menjadi manusia yang lebih baik"
Radian setuju dengan apa yang Sarah katakan kali ini meski dia hanya diam.
"Kalau begitu, aku sudah harus kembali ke dalam. Hati-hati di jalan, dan semoga istri kamu segera berubah agar pernikahan kalian bisa tertahan lama"
Sarah kembali beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari Radian.
"Tunggu Sarah!!"
Sarah berbalik menatap pria yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Bolehkah aku memelukmu??"
Tanpa Radian duga, jika dilihat dari sikap Sarah yang sejak tadi begitu dingin. Sekarang Sarah justru langsung menghambur ke pelukan Radian. Menumpahkan isak tangisnya yang selama ini ia tahan.
__ADS_1
Hati Radian ikut teriris mendengar isakan pilu dari Sarah. Meski wanita dalam pelukannya itu tidak mengatakan apapun, tapi Radian tau kalau apa yang Sarah lalui saat ini begitu berat.