Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
116. Kecurigaan Erland


__ADS_3

Erland keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Bajunya juga sudah berganti dengan baju yang bersih dan rapi. Tidak seperti tadi yang kotor dan berantakan.


"Makasih ya Gar"


Edgar datang membawakan baju pesanan Endah untuk Kakaknya. Tadi saat Edgar di kabari oleh Endah tentang keadaan Viola, Edgar tidak bisa langsung datang, karena dia harus mewakili Erland untuk menghadiri rapat di perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik Erland.


"Iya Bang"


"Gimana meetingnya tadi??" Erland kembali duduk di samping Viola.


"Lancar Bang. Mereka juga mau memperpanjang kontrak kerjasamanya"


Menurut Erland memang Edgar sudah bisa di andalkan. Erland juga sudah memikirkan tentang masa depan adiknya itu. Tanpa sepengetahuan Edgar, Erland memiliki saham di sebuah perusahaan yang akan ia serahkan pada Edgar kelak saat dia sudah menikah. Sementara untuk Endah, Erland juga sudah meyiapkan rencananya tersendiri.


"Bagus kalau begitu. Selama Viola belum pulih betul, Abang minta kamu yang menggantikan Abang dulu"


"Aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk Abang"


"Abang percaya sama kamu" Erland percaya jika adiknya itu bukan orang yang serakah. Jadi tidak akan terjadi apapun walau Erland menyerahkan perusahaannya kepada Edgar untuk sementara waktu.


"Abang sudah makan??"


Erland menggeleng, mana sempat dia makan sedangkan kondisi istrinya saja seperti itu. Bahkan rasa lapar itu seperti tidak di kenal oleh Erland saat ini.


"Makan dulu Bang, walau hanya beberapa suap. Setidaknya lambung Abang tetap terisi. Kalau Abang sampai ikut tumbang, siapa yang akan menjaga istri dan anak Abang" Memang benar kata adiknya itu.


"Tapi rasanya Abang tidak mampu untuk menelan makanan Ed"


"Aku tau kalau Abang tidak berselera sama sekali. Tapi Abang harus tetap makan. Atau aku belikan saja, Abang makan disini ya??" Tawar Edgar. Dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Kakaknya itu. Pasti pikirannya sedang sangat kacau saat ini.


"Tidak usah, ayo keluar saja sebentar, kita cari makan. Abang juga mau membicarakan sesuatu sama kamu" Edgar mengangguk lalu berjalan keluar lebih dulu.


"Abang keluar sebentar ya yank. Abang tidak akan lama"


Cup..


Erland mencium kening Viola sebentar sebelum menyusul Edgar keluar.


*

__ADS_1


*


*


"Apa yang ingin Abang bicarakan??"


Mereka akhirnya memesan makanan di kantin Rumah sakit. Itu atas keinginan Erland karena tak mau jauh-jauh dari sana. Ia takut jika nanti ada sesuatu dengan Viola dan dia tidak bisa kembali dengan cepat.


Tadi sebelum keluar, Erland sempat meninggalkan nomor ponselnya pada salah satu perawat agar menghubunginya jika terjadi sesuatu dengan Viola.


"Abang minta kamu mencari orang untuk mengawasi Sarah selama 24 jam"


Sebelum Edgar bertanya apa maksud Erland itu, seorang pelayan sudah mengantarkan pesanan mereka.


"Silahkan pesanannya Pak"


"Makasih Mas" Ucap Edgar.


"Memangnya kenapa dengan Sarah sampai Abang ingin mengawasinya setiap saat?? Bukannya kalian berdua sudah benar-benar selesai mulai hari ini??"


Edgar jadi merasa aneh dengan Kakaknya itu. Curiga jika Erland belum bisa melupakan Sarah meski sudah tau kebusukan Sarah.


Mereka berdua mulai menyantap makanan yang mereka pesan. Meski lidah Erland merakan hambar dan tak berselera pada makanan yang ia makan, tapi dia tetap berusaha menelannya.


"Katakan alasannya Bang!! Masa aku harus jadi penguntit tanpa tau alasannya"


"Aku curiga dia ada hubungannya dengan apa yang di alami Viola saat ini"


Erland menghentikan makannya walau baru memakan beberapa suap saja.


"Maksud Abang??" Erland membuang pikiran buruknya tadi.


"Tadi Viola mengalami pendarahan hebat. Anak Abang bahkan nyaris tidak bisa di selamatkan. Viola juga jadi seperti ini akibat kejadian tadi. Kata Dokter itu akibat Viola mengkonsumsi obat penggugur kandungan. Sedangkan Abang tidak percaya jika Viola meminumnya dengan sengaja. Apalagi Viola seorang dokter dan sangat menyayangi anak kita. Pasti ada sesuatu di balik ini semua" Satu-satunya orang yang Erland curigai hanyalah Sarah.


"Lalu Abang mengira jika semua ini adalah ulah Sarah??" Erland otomatis mengangguk.


"Dia bersikap aneh akhir-akhir ini Gar. Tiba-tiba dia bersikap manis dan menyetujui perceraian ini begitu saja. Padahal awalnya dia menentangnya. Dia berubah baik terhadap Viola, dia selalu menyiapkan makanan untuk aku dan Viola padahal dia tidak pernah memasak sekalipun"


Edgar masih mencoba mencerna penjelasan dari Erland itu.

__ADS_1


"Kalau seperti itu masih belum begitu kuat kecurigaan Abang"


"Ada lagi yang semakin membuat Abang yakin" Edgar kembali berhenti menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Apa??"


"Awal kebohongan Sarah. Dia kehilangan rahimnya karena dengan sengaja mengugurkan kandungannya sendiri, sehingga membuat rahimnya rusak dan harus di angkat. Sedangkan tadi Dokter mengatakan, obat yang masuk ke dalam tubuh Viola itu bisa berakibat fatal. Seperti tadi anak Abang yang hampir saja pergi, kerusakan pada rahim Viola, atau bisa saja Viola yang tidak bisa di selamatkan lagi. Bukankah itu hampir sama dengan apa yang di alami Sarah dulu??"


Edgar mengangguk, kali ini dia setuju dengan pemikiran Erland.


"Jadi menurut Abang, Sarah menggunakan obat yang sama untuk mencelakai Kak Vio begitu??"


"Benar"


Kecurigaan Erland ini memang bukan sesuatu yang asal dan tak berdasar. Apalagi kejadian ini terjadi setelah hubungannya dengan Sarah benar-benar telah usai.


"Baiklah, aku akan mencari orang untuk mengawasi Viola mulai malam ini juga"


"Terus kabari tentang apa yang dia lakukan. Aku tidak mau dia terlanjur pergi jauh apabila benar terbukti dia yang melakukan ini semua. Aku tidak akan melepaskannya, biarpun dia mantan istri ku tapi aku tidak akan segan untuk menjebloskannya ke dalam penjara"


Edgar mengangguk. Dia juga tidak suka dengan wanita yang bisa berbuat keji seperti itu. Apalagi yang berhubungan dengan keluarganya.


"Pulanglah, aku kembali ke dalan dulu. Aku tidak tenang meninggalkan Viola terlalu lama"


"Iya Bang"


*


*


*


Erland kembali masuk ke dalam ruang perawatan Viola. Menatap wanita itu dengan sedikit kecewa karena masih betah memejamkan matanya.


Sebenarnya sejak Erland berjalan kembali dari kantin, dia sangat berharap jika dia membuka pintu ruangan itu, dia akan melihat Viola yang sudah menyambutnya dengan kedua kelopak matanya yang telah terbuka.


Tapi mau bagaimana lagi, Erland hanya bisa terus berdoa demi kesembuhan istrinya. Erland bersumpah akan terus di sisi Viola sampai kapanpun. Bahkan jika Viola tak bisa bangun lagi dan harus menjalani sisa hidupnya dengan berbaring layaknya putri tidur, Erland akan tetap setia kepadanya.


"Abang sudah kembali sayang. Maaf Abang meninggalkan kamu sedikit lama. Abang ada sedikit urusan sama Edgar" Ucap Erland sambil merapikan selimut Viola yang tidak berantakan sama sekali.

__ADS_1


"Iya, nggak papa Bang"


__ADS_2