Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
79. Rencana Sarah


__ADS_3

Saat ini sudah menunjukkan jam delapan malam. Sementara Viola belum juga pulang. Tadi saat Erland melihat Viola bersama Yovi di mall, Erland milih tidak menghampiri mereka. Justru Erland langsung pergi dari sana karena hatinya sudah diliputi rasa cemburu.


Dan disinilah Erland saat ini, di teras rumahnya dengan sengaja untuk menunggu kepulangan Viola.


"Kemana saja mereka, kenapa belum pulang juga?? Viola juga tidak menghubungiku sama sekali" Kesal Erland.


Saat Erland ingin mencoba menghubungi Viola, Erland melihat datangnya mobil dari kejauhan. Mobil yang Erland tau milik Yovi.


Erland masih diam di kursinya. Melihat dengan diam Viola yang keluar dari mobil pria yang masih menjadi temannya itu.


"Makasih ya Kak, jangan lupa anterin Beca sampai rumah loh!!" Ucap Viola dengan senyuman yang manis.


"Cihh, dia bahkan tidak pernah tersenyum seperti itu kepadaku" Cibir Erland dari kejauhan.


"Tenang aja Vi, kalau dia sampai turunin gue di jalan, dia bakalan tau akibatnya" Sahut Beca yang duduk di sebelah Yovi.


"Ya udah kita duluan ya Vi" Ucap Yovi sambil melirik kesal pada Beca.


"Iya Kak, hati-hati"


"Gue balik dulu men!! Gue balikin bini lo dengan selamat tanpa lecet sedikitpun!!" Ucap Yovi sedikit lantang pada Erland yang sejak tadi memang di lihatnya dari jauh.


Yovi tak menghiraukan Erland yang tak membalas ucapannya. Yovi justru langsung menjalankan mobilnya kembali.


Viola yang tak tau keberadaan Erland sangat erkejut karena ternyata suaminya sudah berdiri dengan tatapan tajam ke arahnya.


"Assalamualaikum, Abang udah pulang dari tadi??" Viola meraih tangan Erland untuk mencium punggung tangannya.


"Kenapa baru pulang jam segini??" Erland mati-matian menahan rasa cemburunya agar tidak mengeluarkan suara keras pada Viola.


"Tadi sempat mampir dulu ke mall. Katanya Beca mau cari hadiah pernikahan buat Bang Vino"


Viola memang jujur, Erland tau itu karena Erland melihat sendiri. Tapi yang membuat Erland marah adalah kedekatan Viola dan Yovi. Meski ada Beca juga di sana. Namun tetap saja keduanya begitu dekat.


"Kan masih lama, kenapa harus cari sekarang?"


Viola hanya mengedikkan bahunya saja, lalu berjalan mengikuti Erland masuk ke dalam.


"Yank, kamu tau nggak kalau Yovi itu masih suka sama kamu??"


"Tau" Jawab Viola acuh.


"Kalau gitu harusnya kamu bisa dong jaga jarak dari dia??" Erland ketakutan jika Yovi benar-benar membuktikan omongannya untuk merebut Viola darinya.


Viola mengehentikan langkahnya, menatap punggung Erland dengan tak suka.

__ADS_1


"Harus bagaimana lagi aku menjaga jarak darinya Bang?? Aku tidak berbalas pesan sedikitpun dengannya. Aku tadi pergi juga dengan Beca, tidak hanya berdua. Di dalam mobilnya juga aku duduk di belakang membiarkan Beca yang duduk di samping Kak Yovi. Kita hari ini bertemu karena memang Kak Yovi yang membantu Beca mencari tempat yang akan kita beli" Luapan kekesalan itu di berikan Viola pada suaminya.


"Iya Abang tau yank, tapi Abang nggak bisa menahan rasa cemburu kalau melihat kamu dekat dengan Yovi"


Viola tersenyum kecut dengan gelengan kepalanya yang menandakan dia tidak percaya dengan pikiran Erland itu.


"Lalu bagaimana dengan aku yang setiap hari harus berbagi dengan Sarah?? Ngaco kamu Bang!! Udah aku capek mau tidur. Malam ini kamu di kamar dia kan, jadi biarkan aku istirahat!!" Viola melewati Erland begitu saja. Masuk ke dalam kamarnya langsung dengan suara dari kunci yang di putar dua kali.


Sementara Erland masih terdiam mencerna ucapan Viola. Terlalu egoiskah Erland jika cemburu dengan Yovi sedangkan Erland saja mempunyai istri lain selain Viola. Bagaimana perasaan Viola saat melihatnya bersama dengan Sarah. Erland tidak bisa membayangkan jika dirinya di posisi Viola.


*


*


*


"Mas, aku buatin teh hangat buat kamu" Sudah larut malam tapi Erland tak juga kembali ke kamarnya. Dia justru masih sibuk di dalam ruang kerjanya. Hal itu membuat Sarah berinisiatif untuk membuatkan Erland minuman hangat.


"Iya terimakasih" Erland langsung meneguk minuman yang di bawakan Sarah itu.


"Kenapa nggak istirahat aja Mas. Ini kan sudah malam, kerjanya di lanjut besok aja" Sarah memijat bahu Erland dengan lembut.


"Tinggal sedikit lagi" Padahal pekerjaan itu masih bisa di kerjakan besok oleh Erland. Namun karena pikirannya terus tertuju pada Viola, sementara hari ini adalah jadwal Erland di kamar Sarah, jadi Erland memutuskan untuk menyibukkan diri di rahang kerja. Mengusir rasa bosannya.


"Hooahhh" Erland menutup mulutnya karena menguap. Matanya kini terasa berat padahal tadi tak bisa terpejam sama sekali.


"Iya" Erland mengucek matanya yang sudah begitu berat itu.


Sarah dengan telaten membantu Erland berdiri dan memapahnya menuju kamar mereka. Erland bahkan sudah tak kuat membuka matanya lagi saat belum sampai di dalam kamar.


BRUKKK...


"Huhhh..." Sarah mengatur nafasnya setelah berhasil melemparkan tubuh Erland ke ranjangnya.


Di tatapnya wajah yang sudah terlelap itu dengan senyum miringnya.


"Maafkan aku karena melakukan ini sama kamu Mas. Tapi semua ini ku lakukan karena kamu sama sekali tidak mau menyentuhku.Aku juga melakukan ini untuk menyelamatkan diriku sendiri nantinya. Hanya dengan cara ini juga aku bisa merebut mu kembali dari wanita s*alan itu" Sarah membelai wajah tampan itu.


"Aku sadar kalau kamu itu lebih dari segalanya dari Radian Mas. Kamu tampan, baik, dan juga kaya raya. Tapi entah kenapa aku lebih mencintai pira miskin itu dari pada kamu. Tapi bukan berarti aku tidak mencintai kamu. Aku cinta tapi sedikit, iya hanya sedikit karena yang banyak sudah ku berikan pada Radian"


Sarah bermonolog di depan Erland yang sudah tertidur lelap.


*


*

__ADS_1


*


Erland menggeliat merasakan tangan kirnya yang kebas seperti tertimpa beban yang begitu berat. Berlahan mata yang terpejam sejak semalam itu mulai terbuka.


Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati seseorang tertidur lelap di pelukannya.


"Sarah!!"


Suara Erland yang sedikit keras itu juga berhasil membangunkan Sarah.


"Kenapa sih Mas?? Nggak harus teriak-teriak kali, ini masih pagi, aku masih ngantuk!!" Sarah membalikkan tubuhnya membelakangi Erland.


Melihat punggung Sarah yang polos tanpa tertutup kain itu lantas membuat Erland segera menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?? Apa tadi malam aku melakukannya dengan Sarah?? Tapi mengapa aku tidak ingat apapun??" Batin Erland terus mengingat kejadian semalam. Erland tampak tidak percaya mendapati tubuhnya yang tak tertutup sehelai benangpun di balik selimut itu.


Erland memilih menyegarkan tubuhnya, berharap jika kepalanya tersiram air dingin akan teringat dengan kejadian semalam. Dia masih tidak percaya jika melakukan hubungan yang wajar bagi suami istri itu, karena sekelebat bayangan saja tidak muncul di memori Erland.


Kini Erland sudah kembali tersenyum setelah duduk berdua di meja makan bersama istri keduanya, yaitu Viola. Mereka juga belum menyentuh makanannya karena masih menunggu Sarah yang belum juga turun dari kamarnya.


"Kenapa senyum-senyum begitu??" Viola merasa risih terus di tatap Erland dengan senyuman anehnya itu.


"Ya Abang senang aja karena bisa lihat kamu lagi pagi ini" Erland justru semakin melebar kan senyumnya.


"Dih aneh" Cibir Viola lalu memilih menikmati teh hangatnya.


Cup...


Erland hampir tersedak karena mendapat ciuman di pipinya secara tiba-tiba dari belakang.


"Sarah, apa-apaan kamu!!" Erland menatap Sarah tak suka. Begitupun Viola yang langsung membuang pandangannya ke tempat lain.


"Kamu kenapa sih Mas, nggak usah malu gitu dong di depan Viola. Lagian tadi malam juga kamu minta berkali-kali kan sama aku" Dengan tidak tau malunya Sarah sengaja mengatakan semua itu di depan Viola.


"Sarah!! Jaga bicara kamu ya!! Semalam aku tertidur dan tidak merasa melakukan itu kepadamu!!" Erland terlihat panik dan berkali-kali melihat wajah Viola yang sudah berubah memerah.


"Jangan gitu Mas!! Kita suami istri, jadi wajar dong kita melakukannya. Kamu juga pasti sering kan dengan Viola?? Atau karena dia sedang hamil dan tidak bisa melayani kamu jadi akhirnya kamu melampiaskan semuanya sama aku??"


"DIAM SARAH!!" Bentak Erland membuat Sarah menciut.


Viola yang sudah tak tahan lagi di sana memilih pergi meninggalkan meja makan tanpa sarapannya.


"Dasar pembohong!!" Desis Viola tepat di sisi Erland sebelum ia pergi.


"Viola!! Vi, tunggu Abang sayang!!" Erland berusaha mengejar Viola yang terus berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Sementara senyuman licik sudah terlihat jelas di bibir tipis penuh tipu muslihat milik Sarah.


__ADS_2