Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
96. Pilihan


__ADS_3

"Kenapa??" Tanya Beca, karena Viola sedikit kebingungan setelah membaca pesan di ponselnya.


"Bang Erland sudah di rumah. Katanya ada yang ingin dia sampaikan sama gue"


Viola meletakkan ponselnya lagi, tanpa membalas pesan dari Erland.


"Terus, kenapa masih disini??" Beca menatap Viola yang tak lekas bergerak untuk pergi.


Wanita cantik malah asik menikmati makanan di piringnya. Meski wajahnya tenang namun sebenarnya pikirannya berkecamuk dari tadi. Bagaimana jika nyatanya Erland tetap percaya dengan Sarah. Apa pernikahannya benar-benar akan berakhir saat anak mereka lahir. Tapi Viola terlanjur mengatakan dua pilihan itu pada Erland.


"Bentar, beri gue sedikit waktu buat bernafas"


"Apa yang bakalan lo katakan sama Kak Erland setelah ini??"


"Sudah aku katakan, lihat dulu apa jawaban Bang Erland atas pertanyaan ku" Beca tersenyum dan mengangguk.


"Gue selalu ada buat lo Vi. Gue dukung apapun keputusan lo"


"Sekarang antar gue pulang" Tadi Viola meminta waktu sdikit tapi sekarang Viola juga yang meninggalkan Beca lebih dulu.


"Sabar, Ibu hamil memang beda" Beca mengusap dadanya dengan pelan sambil berlalu menyusul Viola.


*


*


*


Viola berjalan pelan memasuki rumahnya. Berhenti sejenak sebelum tangannya bergerak mendorong pintu rumah itu.


GREPP...


Sambutan yang langsung Viola terima adalah sebuah pelukan dari Erland. Pelukan yang begitu erat hingga membuat Viola kesusahan untuk mengambil nafas.


"Kenapa Bang?"


Erland tak kunjung bersuara. Dia masih membenamkan wajahnya pada bahu Viola. Menghirup aroma wanita itu sedalam-dalamnya.


"Ayo duduk dulu Bang, cerita sama aku. Kalau gini terus aku capek" Keluh Viola padahal hanya ingin membuat Erland menjawab pertanyaan Viola.

__ADS_1


Akhirnya Erland mengurai pelukannya dengan berlahan. Baru Viola bisa melihat mata Erland yang berkaca-kaca itu.


Viola menggandeng tangan Erland untuk duduk di sofa ruang tamu. Membawa Erland duduk berdampingan dengannya.


"Apa yang ingin Abang sampaikan kepadaku??"


Erland tak mau melepaskan tangan Viola di genggamannya.


"Abang bingung sayang" Erland menempelkan keningnya pada bahu Viola.


Viola bisa melihat jika suaminya itu sedang kalut saat ini.


"Apa yang membuat Abang bingung seperti ini. Apa karena pilihan yang aku berikan sama Abang??" Taya Viola melirik Erland yang memejamkan matanya.


"Itu salah satunya" Jawab Erland dengan pelan.


"Lalu yang lainnya??"


"Bukan hanya kamu yang memberi pilihan sayang, tapi Sarah juga memberikan Abang dua pilihan" Erland mengangkat kepalanya, memandang wajah cantik yang begitu teduh saat ini.


"Sarah meminta Abang memilih, menceraikan kamu atau dia akan menuntut kamu ke pengadilan atas tuduhan penganiayaan yang membuatnya kehilangan janinnya"


Erland langsung kembali menghambur ke pelukan Viola. Rasanya tak sanggup untuk mengatakan semua itu pada Viola. Tapi Erland tidak ingin salah dalam mengambil keputusan. Dia ingin meminta pendapat dari Viola. Siapa tau Viola punya cara lain untuk menyelesaikan maslaah itu.


"Maafkan Abang sayang. Abang saat ini belum bisa mengambil keputusan. Abang tidak rela menceraikan kamu, tapi Abang juga tidak rela melihat kamu mendekam di dalam penjara" Tangis Erland di pelukan Viola.


"Tidak semudah itu Sarah menuntut ku Bang, dia tidak punya bukti apapun"


"Tapi Sarah mempunyai rekaman cctv saat kamu memegang tangannya lalu dia terjatuh. Juga bukti yang Sarah dapat dari rumah sakit"


Erland pikir bukti itu cukup untuk membuat Viola mendekam di penjara.


"Kalau begitu ceraikan aku!!" Erland menggeleng dalam pelukan Viola. Tangannya semakin mempererat pelukannya.


"Abang tidak mau, Abang tidak sanggup berpisah darimu" Ucap Erland dengan kekeh.


"Kalau begitu, kenapa Abang harus bingung?? Kalau Abang tidak mau menceriakan aku, berarti Abang juga sudah tau jawabannya kan?? Biarkan Sarah melaporkan maslah ini" Erland kembali melepaskan pelukannya pada Viola.


"Sayang, mana mungkin Abang tega melihat kamu mendekam di balik jeruji besi yang dingin itu. Mana mungkin sayang!!" Meski mata Erland berair namun suaranya masih terdengar sangat tegas.

__ADS_1


"Aku tidak takut sama sekali. Aku akan membuktikan kalau aku tidak bersalah. Lagipula jika benar aku bersalah, aku hanya akan berada di penjara selama beberapa tahun saja dan setelah itu kita akan kembali bersama. Berbeda jika kamu memilih menceraikan aku, maka saat itu juga kita tidak akan bersama lagi"


Viola mengusap air mata Erland yang mengalir sampai rahang tegasnya itu.


"Kamu memang tidak takut sayang, tapi bagaimana dengan Abang?? Membayangkannya saja Abang sudah tidak mampu"


Viola mencakup wajah Erland dengan kedua tangannya.


"Sekarang giliran aku yang bertanya. Memang tadi siang aku memberikan waktu sama Abang untuk berpikir sampai besok pagi tentang pilihan yang aku buat. Tapi bolehkan kau menariknya kembali?? Bolehkan aku tau jawabannya sekarang??"


Erland dan Viola sama-sama mengunci tatapan mereka berdua. Entah apa yang mereka berdua cari dari mereka masing-masing, hingga mereka berdua bertahan samapi beberapa saat.


"Aku tanya sama Abang sekali lagi. Apa Abang percaya sama aku?? Apa Abang percaya kalau aku tidak mendorong Sarah sama sekali??" Suara Viola hampir saja hilang karena berusaha menahan tangisnya.


Erland tak langsung bersuara. Dia masih diam menatap Viola, masih menyiapkan kata yang akan dia ucapkan di depan istrinya itu.


"Bang??" Viola mengusap lembut pipi Erland.


"Abang percaya sama kamu sayang. Abang percaya kalau kamu sama sekali tidak mendorong Sarah"


Cup..


Viola menyatukan bibir mereka lebih dulu. Mengunci bibir Erland agar tak bersuara lagi. Baginya jawaban itu sudah cukup membuatnya puas.


Sementara Erland masih terkejut karena Viola yang lebih dulu menciumnya.


Setelah Erland mendapatkan kesadarannya kembali, berlahan matanya mulai tertutup. Tangannya bergerak ke atas menggapai tengkuk Viola. Jika tangannya mulai bergerak, bibirnya pun tak tinggal diam. Erland mulai menggerakkan bibirnya menikmati c*uman mereka.


Tangan Viola juga mulai bergerak mencari kenyamanannya sendiri. Keduanya mengalung indah pada bahu Erland.


Mereka berdua begitu menikmati c*uman mereka yang baru beberapa kali mereka lakukan selama ini. Erland seakan tak mau kehilangan setiap inci dari bibir Viola. Dia benar-benar tak melewatkannya sedikitpun.


Erland tak akan melepaskan tautan mereka jika saja keduanya tak kehabisan nafas.


"Abang mencintai mu sayang" Ucap Erland dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal.


Viola hanya tersenyum menanggapi pernyataan cinta dari Erland itu.


"Abang, sudah saatnya aku membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Tunggu sampai besok, dan lihatlah apa yang akan aku lakukan untuk menyelamatkan pernikahan kita. Aku tidak bodoh sama sekali, selama ini aku hanya berusaha untuk tutup mata dan tidak tau apa-apa. Tapi perempuan itu sudah terlalu jauh bertindak, maka dari itu aku tidak akan diam kali ini. Sudah saatnya dia mempertanggungjawabkan semuanya. Aku tidak peduli tentang Sarah, mau kamu menceraikannya setelah semuanya terungkap, aku juga akan mencoba tidak peduli"

__ADS_1


__ADS_2