
Dengan hatinya yang terus melafalkan doa, Erland memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang operasi. Ruangan yang belum pernah Erland masuki seumur hidupnya. Baginya, ruangan itu sangatlah menakutkan, karena di dalam sana adalah tempat dimana seseorang akan berjuang antara hidup dan mati.
Mereka yang terbaring di dalam sana menggantungkan hidupnya pada orang-orang yang di bekali tangan ajaib oleh Tuhan. Dan kini Erland benar-benar menginjakkan kakinya di dalam ruangan yang terasa begitu dingin itu.
Harapan Erland sekarang ini hanya satu, yaitu tidak terjadi sesuatu yang sangat Erland takutkan pada Viola di ruangan itu.
Tapi saat Erland sampai di dalam sana. Melihat Viola yang berbaring masih di tutupi selembar kain berwarna hijau hingga batas dadanya. Matanya masih terpejam dengan selang oksigen terpasang pada hidungnya sudah membuat lutut Erland lemas.
"Suami Ibu Viola??" Suara dari salah satu orang di dalam sana. Namun Erland belum tau siapa yang bersuara karena mereka semua menutup wajahnya dengan masker.
"Iya, saya"
Kemudian seseorang yang Erland yakini sebagai Dokter karena dia sendiri yang masih memegang benda tajam pada tangannya, memberikan isyarat pada orang di belakang Erland.
"Silahkan Pak"
Seorang perawat mengulurkan seorang bayi mungil pada Erland. Namun bayi itu hanya diam tak mengeluarkan tangisannya yang merdu. Matanya terpejam dan tak bergerak sama sekali.
Erland baru sadar jika perut Viola sudah tidak lagi membesar. Di dalam sana juga tidak ada bayi lain selain yang ada di hadapannya saat ini. Erland mulai menyadari sesuatu.
Tangan Erland bergerak berlahan menerima bayi itu ke dalam gendongannya.
"Apa ini anak saya?? Ta-tapi kenapa dia diam?? Apa dia tidur Dokter?? Apa yang terjadi dengan anak saya??" Padangan Erland sudah kabur tertutup air mata. Dia masih mencoba menepis pikiran negatifnya.
"Kami mohon maaf Pak. Bayi anda baru saja berhenti bernafas"
__ADS_1
"Apa Dok?? Ini tidak mungkin!!" Air mata Erland sudah turun menetes pada tubuh bayi yang hanya berselimutkan kain tipis di tangannya itu.
"Tolong selamatkan anak saya Dokter. Lakukan apapun untuk mengembalikannya. Saya mohon bantu saya" Erland menangis memohon pada Dokter yang menatapnya dengan iba.
Seorang perawat membantu Erland mengubah posisi menggendong bayi mungilnya itu.
"Maaf Pak, bisa buka beberapa kancing kemeja anda" Ucap perawat itu.
Tanpa pikir panjang Erland melakukan sesuai perintah meski dia belum tau apa yang akan di lakukan mereka kepadanya. Mungkin saja itu berhubungan dengan keselamatan anaknya.
"Saya memanggil Bapak ke dalam sini untuk membantu saya. Takdir memang di tangan Tuhan, namun keajaiban Tuhan mana ada yang tau. Tolong buat putra anda kembali lagi ke sini. Ajak dia berbicara jika anda dan Ibunya menunggunya kembali"
Ucap Dokter itu setelah perawat tadi membuat posisi bayinya menempel dengan sempurna di dada Erland.
Erland sekarang tau jika bayi yang ada dalam dekapannya itu adalah seorang putra berkat ucapan Dokter tadi.
Meski dengan badannya yang bergetar karena tangisannya yang tak bersuara. Erland mulai membisikkan sesuatu pada bayi yang masih terasa hangat itu.
"Jagoan Papa, akhirnya Papa bisa melihat kamu. Papa sudah menantikan kamu selama sembilan bulan di perut Mama. Papa bahagia sekali akhirnya bisa menggendong kamu seperti ini. Kamu adalah bukti cinta Papa kepada Mama. Kamu adalah harta yang paling berharga bagi Papa dan Mama. Tapi kenapa kamu tidak memberikan hadiah kecil pada Papa dan Mama saat pertama kali kita bertemu??"
Erland mencoba mengendalikan dirinya agar tidak limbung meski badannya sudah terasa sangat lemas.
"Dimana tangisan kamu yang begitu papa nantikan itu?? Kenapa kamu hanya diam saja?? Apa kamu tidak kasihan melihat Mama di sana?? Mama sedang berjuang agar bisa melihat wajah tampan kamu ini" Erland membawa bayinya mendekat pada Viola yang masih memejamkan matanya.
"Lihatlah sayang, Mama masih tertidur karena kelelahan melahirkan kamu. Ayo bangunkan Mama dengan suara tangisan kamu. Menangislah dengan keras, jangan takut membuat Mama marah karena suaramu. Papa pasti akan membelamu. Ayo sayang, lekas bangunkan Mama!!"
__ADS_1
Erland tak kuasa menahan tangisannya karena dia masih belum merasakan pergerakan dari bayi mungilnya itu. Dia terus menatap wajah bayi yang terlelap dengan mulut yang terbuka itu.
Semua yang ada di dalam ruangan itu, Dokter, asisten Dokter maupun perawat tak ada yang bisa menahan air matanya. Mereka semua ikut merasakan kesedihan Erland. Apalagi kata-kata Erland yang dia ucapkan untuk bayinya, sungguh menyayat layaknya pisau bedah yang digunakan Dokter untuk membuat jalan agar bayi itu bisa keluar.
Erland mencium bayinya bertubi-tubi di seluruh wajahnya yang kecil itu. Lalu ia mendekatkannya pada Viola.
"Sayang, bangunlah. Lihat anak kita begitu tampan. Kamu pasti sangat bahagia setelah melihatnya. Maka bukalah matamu, ajak putra kita membuka matanya juga. Kenapa kalian semua tega membiarkan Abang melihat kalian tertidur seperti ini"
Erland mendekatkan wajah anaknya pada Viola. Membuat wajah anaknya berada di antara wajah Viola Dan Erland.
"Ya Allah, apa Engkau hanya mengijinkan hamba untuk melihat anak hamba dengan waktu sesingkat ini?? Apa dosa hamba begitu besar sehingga Engkau ingin mengambilnya secepat ini. Tidakkah Engkau mengasihani Hamba dan istri Hamba yang begitu mendambakannya datang ke dunia ini. Ya Allah, berilah hamba kesempatan untuk merawat dan membesarkannya. Hamba berjanji kepadamu untuk menjadikannya sebagai seorang putra yang soleh dan taat kepada-Mu Ya Allah. Hamba mohon Ya Allah"
Sudah beberapa menit berlalu. Erland akhirnya memantapkan hatinya untuk menerima takdir yang telah digariskan untuknya.
"Jagoan Papa, kalau kamu memang tidak mau tinggal sama Papa dan Mama di sini. Jadilah anak yang soleh di rumah Allah ya sayang. Tapi perlu kamu tau, kalau Papa dan Mama sangat menyayangi kamu. Papa juga masih berharap kalau kamu mau tinggal di sini bersama Papa dan Mama" Wajah Erland semakin basah dengan air mata.
"Meskipun begitu, Papa ikhlas sayang. Pulanglah dengan tenang, kembalilah ke pangkuan Allah. Tunggu Papa dan Mama di sana. Papa pasti akan sangat merindukan kamu" Erland mengecup kening putra kecilnya itu.
Sungguh Erland masih terus mengagumi ciptaan tuhan itu. Darah dagingnya itu begitu tampan dengan kulit putih kemerahan, hidung yang mancung dan juga bentuk bibir yang sangat mirip seperti miliknya. Dengan bibir seperti itu membuatnya semakin terlihat mirip dengan Erland.
Erland menarik anaknya kembali, menegakkan badannya hingga membuat bayinya menjauh dari Ibunya. Mendekapnya dengan begitu erat, mungkin untuk terakhir kalinya.
Untuk sekali lagi, Erland memandang wajah bayinya masih dengan tangisannya yang tak bisa berhenti. Menyimpan wajah bayi itu di dalam memorinya sebanyak mungkin.
Perawat yang tadi menyerahkan bayinya sudah mengulurkan tangannya untuk mengambil bayinya kembali. Tapi Erland dengan sangat jelas melihat pergerakan mulut mungil yang tadi terbuka itu berlahan tertutup dengan sendirinya.
__ADS_1
Lalu sedetik kemudian bibir itu terbuka lebar dan mengeluarkan suara yang begitu merdu seperti yang di nantikan Erland.
"Alhamdulillah Ya Allah" Seru Erland memeluk jagoan kecilnya yang mulai mengeluarkan suara semakin keras.