
Mobil Erland akhirnya tiba juga di sebuah pasar yang sudah ramai di saat hari masih gelap itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun akhirnya Erland menginjakkan kakinya lagi di tempat yang namanya pasar itu.
"Kamu tunggu disini ya yank, biar Abang aja yang beli"
"Ikut!!" Viola juga ikut melepas seatbeltnya mengikuti Erland.
Jalanan pasar yang becek membuat Erland menghentikan langkah Viola. Tanpa persetujuan Viola, Erland langsung menggenggam tangan Viola.
"Jalannya becek, biar nggak kepleset" Ucap Erland saat merasakan penolakan dari Viola.
Erland kembali melanjutkan langkahnya setelah Viola hanya diam menerima genggaman tangan dari Erland.
Mereka berdua benar-benar menyusuri pasar pagi itu. Bau yang khas dari pasar tidak membuat keduanya terganggu sekalipun.
"Kamu pernah ke pasar yank??"
"Pernah" Jawab Viola singkat.
"Abang kira anak konglomerat kaya kamu nggak pernah masuk ke pasar" Senyum di bibir Erland tak pernah luntur sejak Viola menawarkan dirinya untuk ikut ke pasar bersama Erland.
"Jangankan ke pasar, jadi tukang sapu jalanan ajan pernah" Gumam Viola namun masih bisa di dengar oleh Erland.
"Maafkan Abang ya, karena Abang kamu jadi hidup menderita. Kamu seharusnya hidup seperti seorang putri. Tapi karena Abang, kamu jadi dipaksa untuk mandiri"
"Nggak masalah. Karena dari situ aku tau kalau cinta tidak akan bisa di dapatkan dengan cara apapun kalau orang yang kita cintai tidak pernah berniat membuka hatinya untuk kita" Kalimat yang sangat menohok bagi Erland.
"Abang..."
"Itu lelenya ayo beli!!" Potong Viola saat melihat pedagang dengan berbagai macam ikan.
"Pak lelenya satu kilo aja ya. Minta tolong di bersihkan sekalian" Ucap Viola dengan ramah.
"Iya Neng, sama apalagi??"
"Cukup Pak"
"Panas panas panas panas awas awas awas awas. Minggir minggir minggir minggir" Ucap seorang kuli yang membawa karung besar di punggungnya.
"Awas!!" Erland menarik pinggang Viola agar merapat kepadanya.
Viola melihat ke sampingnya, ternyata dia hampir saja terkena karung yang di bawa oleh kuli tadi. Di saat seperti ini, jantung Viola sepertinya tidak bisa bekerja sama dengan pemiliknya. Viola masih marah pada Erland, tapi jantungnya justru berdetak kencang dengan tak tau dirinya.
"Sini aja, jangan ke tengah. Nanti kena senggol kuli lagi" Erland menahan Viola agar tetap di sampingnya dengan mempererat tangannya pada pinggang Viola.
Viola tetap diam meski matanya melirik pada pinggangnya yang sudah di peluk oleh Erland.
"Ini sudah Neng"
__ADS_1
"Berapa Pak??"
"Tiga puluh ribu Neng"
Viola mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribuan untuk pedagang itu.
"Kembaliannya di kasih ikan kembung aja ya Pak"
"Siap Neng" Ucap pedagang itu sok asik.
"Sini biar Abang yang bawa!" Erland meraih kantung plastik yang telah di berikan pedagang tadi.
Kini kedua tangan Erland tak ada yang kosong, tangan kirinya memegang plastik berisi lele pesanannya sementara tangan kananya digunakan untuk menggenggam tangan Viola.
*
*
*
*
"Biar Abang aja yang cuci, kamu duduk saja ya yank" Erland meraih plastik berisi lele dari tangan Viola. Padahal dia sudah berdiri di depan wastafel untuk mencucinya sendiri.
Akhirnya Viola lenih memilih untuk membuatkan bumbu, pikirnya agar lebih cepat. Tapi Viola langsung menatap tajam pada Erland, saat pria itu kembali menghentikannya.
BRAKKK...
Viola melempar pisau yang digunakannya untuk mengupas bawang.
"Sebenarnya mau kamu apa sih?? Aku udah mau bantuin kamu supaya kamu bisa cepat makan. Dari tadi kayaknya nggak suka banget kalau aku bantuin!!" Nafas Viola memberubu karena amarahnya lepas begitu saja.
"Sayang, bukannya Abang tidak suka kamu bantuin Abang. Tapi Abang cuma mau buat kamu tidak merasa terganggu dengan Abang. Itu karena Abang tau kalau kamu masih kurang nyaman dengan Abang"
Viola terdiam menatap lurus pada mata suaminya itu.
"Abang lanjutin dulu ya, kalau kamu ngantuk tidur aja nggak papa. Biar Abang selesaikan ini dulu, Abang sudah laper banget" Erland langsung berbalik kembali ke wastafel. Mulai lagi mencuci lelenya sampai benar-benar bersih.
Tapi sepasang tangan yang memeluknya dari belakang mampu membuatnya membeku.
"Sayang ka..."
"Aku nggak tau setelah ini kamu akan membohongi aku lagi atau tidak. Tapi saat ini aku ingin sekali mempercayai kamu" Suara Violan terdengar begitu lirih di telinga Erland.
Erland membasuh tangannya hingga bersih lalu berbalik membalas pelukan Viola.
"Sungguh Abang tersiksa karena kamu mendiamkan Abang berhari-hari sayang. Abang mengaku salah, Abang minta maaf, tapi jangan seperti ini Abang mohon"
__ADS_1
Erland mengecup pucuk kepala Viola berulang kali.
"Sudah ya marahnya?? Abang kangen sama kamu. Abang kangen sholat berjamaah sama kamu" Viola mengangguk dalam pelukan Erlsnd.
"Sekarang, biar Abang lanjutkan dulu. Setelah itu kita makan berdua ya??" Viola kembali mengangguk.
"Tapi biar aku yang buat bumbunya ya??" Ucap Viola.
"Iya sayang. Tapi ikan kembungnya mau di masak sekalian nggak??"
"Nggak usah besok aja" Jawab Viola.
Mereka berdua kini sudah benar-benar kembali berdamai. Bahkan tak jarang mereka saking melempar senyum saat tatapan mereka berdua bertemu.
Keduanya layaknya anak remaja yang baru merasakan cinta. Rasanya begitu menggebu-gebu dan selalu ingin mendapatkan banyak perhatian dari salah satunya.
Ikan lele goreng dengan nasi hangat sudah siap di atas meja. Benar-benar sesuai dengan apa yang Erland inginkan. Mata Erland bahkan sampai berbinar-binar menatapnya.
"Ayo di makan" Ucap Viola karena Erland tak kunjung menyentuh nasinya"
"Sebenarnya ada satu lagi keinginan Abang yank"
"Apa itu??"
"Abang pingin di suapi kamu, tapi pakai tangan kamu langsung. Bukan pakai sendok, boleh nggak??"
Tanpa jawaban, Viola langsung menarik piring berisi nasi hangat ke depannya. Mulai mengambil nasi di piring itu dengan tangannya, lalu mengarahkannya pada Erland.
"Makasih sayang" Ucap Erland sebelum membuka mulutnya untuk menerima suapan Viola.
"Kamu makan juga dong sayang" Tapi Viola menggelang.
"Kenapa??" Erland mengerutkan keningnya.
"Aku nggak suka lele" Jawaban Viola membuat hati Erland menghangat. Wanita di depannya itu tidak suka jenis ikan yang juga tidak di sukai Erland itu, tapi entah kenapa malam ini Erland begitu menginginkannya. Tapi yang membuat Erland begitu tersentuh adalah, Viola tidak suka namun dia mau menemani Erland ke pasar dan membantu Erland untuk memasaknya.
Erland merasa beruntung mendapatkan Viola. Ternyata wanita yang dulu sempat Erland tolak mati-matian, bahkan sampai tega menjauhkan dirinya, kini Erland justru tergila-gila kepadanya.
Memang hanya Tuhan yang tau dan hanya Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati seseorang.
"Viola" Panggil Erland dengan lembut, membuat Viola beralih menatap suaminya itu.
"Abang menyesal telah menjadikan kamu istri kedua Abang"
Deg...
Hati Viola seperti di hantam batu dengan begitu keras.
__ADS_1
"Kenapa??"