Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
153. Kehilangan


__ADS_3

Seisi ruangan itu menjadi panik seketika, termasuk Vino yang tadinya sempat terpaku melihat keadaan istrinya.


Dokter yang tadi sudah pergi kini kembali memakai sarung tangannya lagi. Dia di bantu perawat-perawat yang jumlahnya semakin banyak mulai menangani Endah yang sudah mengeluarkan begitu banyak darah.


"Sayang, Abang mohon bertahanlah!" Bisik Vino pada Endah yanng tak sadarkan diri.


Vino menangis melihat keadaan Endah, di tambah lagi kepanikan dari tenaga medis di ruangan itu. Mereka yang sudah sering menangani hal seperti itu saja terlihat begitu panik, apalagi Vino yang hanya orang awam. Tentu saja dia begitu ketakutan.


Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka mencoba menghentikan pendarahan Endah, namun sepertinya tak juga membuahkan hasil. Suntikan demi suntikan juga sudah Endah terima, namun hasilnya tak terlihat sama sekali.


Vino melirik banyaknya cairan berwarna merah itu bahkan sampai menetes di lantai saking banyaknya. Rasanya sudah mau pingsan melihatnya.


"Maaf Pak, permisi sebentar" Vino segera mundur ke belakang karena perawat itu ingin memasangkan alat kejut jantung pada dada Endah.


"Apa lagi ini Ya Allah" Vino semakin ketakutan karena mereka memasangkan alat seperti itu.


Bunyi EKG yang mengukur detak jantung Endah semakin berbunyi nyaring di telinga Vino.


"Satu.. Dua.. Tiga..!!" Dokter tadi menempelkan alatnya pada dada Endah hingga tubuh Endah sedikit tertarik ke atas.


"Ayo kembali!!"


"Sekali lagi!! Satu.. Dua.. Tiga..!!"


Tiiiitttttttt.......


Tubuh Vino langsung lemas, lututnya bahkan sepertu tak ada tulangnya lagi. Tangannya meraih brankar Endah sebagai pegangan.


"Maaf Pak" Ucap Dokter itu dengan penuh penyesalan.


"Ini tidak mungkin kan Dokter??" Vino masih berharap jika kenyataan yang ada di depannya ini hanyalah mimpi belaka.


"Kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Namun karena pendarahan yang di alami pasien sangat banyak dan tidak bisa di hentikan. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa menyelamatkan istri anda"

__ADS_1


Vino berlahan mendekati istrinya yang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan itu. Air mata Vino kembali luruh begitu saja.


"Sayang bangun!! Bangun Ndah!! Kamu jangan bercanda kaya gini!! Ini nggak lucu!!" Vino mencoba tidak mempercayai kenyataan yang di terimanya itu.


"Anak kita baru saja lahir Ndah!! Jadi jangan seperti ini, Abang mohon!!" Vino menjatuhkan wajahnya yang berlinang air mata itu di bahu Endah. Menangis sesenggukan di sana.


Vino benar-benar hancur saat ini. Dia menyaksikan sendiri bagaimana istrinya meregang nyawa di ruang persalinan setelah melahirkan anak pertama mereka.


Kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan langsung berubah menjadi duka yang mendalam. Vino tak sanggup melepaskan Endah. Vino juga tak sanggup jika harus hidup berdua dengan putrinya tanpa ada Endah di antara mereka.


"Kalau kamu pergi seperti ini, bagaimana dengan ku dan anak kita sayang?? Bagaimana hidup kedepannya tanpa kamu?? Kamu tega Ndah!! Kamu jahat sama Abang!!"


Perawat yang masih berada di sana untuk membersihkan Endah sampai tak tega melihat bagaimana Vino menangisi kepergian istrinya.


"Kita bahkan belum memberinya nama, tapi kamu tega meninggalkan bayi sekecil itu untum selamanya Ndah!! Apa kamu tidak menyayangi putrimu sendiri??"


Vino masih terus mencoba menyangkal jiak Endah sudah benar-benar pergi meski otaknya bisa mencerna dengan baik.


Meski tak rela, juga dengan sangat berat akhirnya Vino melepaskan Endah dari genggamannya. Vino semakin hancur kala wajah Endah sudah di tutup kain yang tadinya hanya digunakan untuk menyelimuti tubuh Endah.


Dengan menyeret kakinya yang tak bertulang itu, Vino keluar dari ruangan yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Vino berjanji untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat terlarang di dalam hidupnya.


Setelah Vino berhasil keluar dari ruangan terkutuk itu, dia bisa melihat semua keluarganya sudah menunggu di luar.


Satu orang yang saat ini menjadi harapan Vino untuk menyandarkan tubuhnya yang sudah tak berdaya itu adalah Via.


Seakan mempunyai kekuatan lagi setelah seluruh tubuhnya lemas. Vino berjalan cepat menghampiri Via dan langsung menubruknya dengan sebuah pelukan.


"Mami, Endah Mi" Vino menangis, meraung di pelukan Via.


"Apa yang terjadi dengan Endah, Vin?? Kenapa dia??" Jantung Via sudah berpacu dengan keras melihat reaksi Vino seperti itu saat baru keluar dari ruang berslain.


"Ada apa dengan anak Ibu Nak Vino?? Anak dan cucu Ibu baik-baik saja kan??"

__ADS_1


Semua yang ada di sana lalu terdiam menunggu jawaban dari Vino. Ada Dito, termasuk pasnagan yang baru saja kembali dari bulan madu, Edgar dan juga Beca.


"Endah telah pergi meninggalkan kita semua Bu" Vino kembali terganggu setelah mengeluarkan kalimat menyakitkan itu.


"Apa, Endah?? Anak Ibu?? Ya Allah......" Gendis langsung limbung namun untung saja ada Edgar di sampingnya.


Semuanya tampak tak percaya termasuk Erland yang ikut lemas dan langsung terduduk kembali.


"Bang" Viola mengusap punggung Erland yang begitu terpukul dengan kepergian adiknya.


"Endah yank, adik Abang kesayangan Abang. Dia yang selalu menjadi dewasa demi Abang yang bekerja keras membiayai sekolah mereka. Dia yang selalu mengerti Abang tanpa banyak menuntut. Kini dia justru pergi lebih dulu daripada Abang" Air mata Erland mengalir begitu saja.


Viola tak bisa berkata-kata. Dia juga masih tak percaya dengan semua itu. Dia hanya memeluk suaminya itu, mencoba untuk menenangkannya.


"Istighfar Bu, istighfar" Bisik Edgar yang memeluk Ibunya.


Gendis hanya bisa menangis dengan matanya yang terpejam. Kepalanya bersandar di bahu Edgar, karena rasanya leher Gendis sudah tak mampu lagi menahan berat kepalanya.


"Mi, kenapa Endah tega meninggalkan aku dan juga anak kita Mi. Dia masih sangat kecil, kenapa Endah tidak mau merawatnya Mi" Vino masih terus menangis di pelukan Maminya.


"Istighfar Vin. Kebalikan diri mu!! Papi tau kamu sangat kehilangan Endah. Tapi jangan mengatakan hal seperti itu. Endah pasti sedih mendengarnya"


Semuanya tak mampu menahan tangisnya. Melihat hancurnya Vino, juga membayangkan anak mereka yang masih sekecil itu harus kehilangan Ibunya. Seorang bayi yang tidak pernah di beri kesempatan untuk merasakan kasih sayang dari Ibu yang melahirkannya ke dunia ini.


"Tapi Pi, Vino nggak sanggup hidup tanpa Endah Pi. Apa yang harus Vino katakan kelak saat anak kita menanyakan di mana Mamanya?? Vino nggak kuat Pi"


Hati siapa yang tak ikut miris karena ucapan Vino itu. Bahkan yang bukan siapa-siapa saya pasti akan merasakan nyeri di hatinya kala mendengarnya.


"Vino, kamu harus sabar. Anak kalian masih membutuhkan kamu. Terimalah kepergian Endah ini sebagai takdir hidup kalian. Kita semua milik Allah dan suatu saat pasti akan kembali kepada-Nya, meski kita tidak akan pernah tau kapan waktunya tiba. Mungkin sekarang Endah pergi lebih dulu. Namun kita juga tidak tau kapan kematian itu akan menjemput kita. Disini kita hanya menunggu giliran untuk dipertemukan lagi di sana. Mami tidak memaksa, tapi Mami mohon lapangan hatimu melepas kepergian Endah demi anak kalian"


Tangis Vino sedikit mereda. Dia memang kehilangan, namun dia juga baru saja mendapatkan seorang bayi kecil yang cantik dari Endah.


Mungkin benar apa kata Maminya, jika kematian pasti bisa menjemput kapan saja. Tapi Vino masih bersyukur karena Endah telah meninggalkan satu malaikat kecil sebelum kepergiannya.

__ADS_1


__ADS_2