Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
141. Dipermainkan Takdir


__ADS_3

"Ma-maksud Mami??" Mata Beca sudah berkaca-kaca. Seakan-akan dia menyangkal semua pikiran negatif yang ada di dalam otaknya.


"Beca, kamu yang sabar ya. Pernikahan kamu tidak bisa di lanjutkan karena Yovi sudah meninggal dunia karena kecelakaan saat perjalanan kemari" Kali ini Via baru menjawab dengan gamblang apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa??" Bukan teriakan atau pekikkan terkejut yang keluar dari bibir Beca. Melainkan suara lirih menggambarkan kehancuran.


"Sabar sayang" Via masih memeluk Beca meski calon pengantin wanita itu tidak bereaksi apapun.


Beca masih terdiam membeku dan membisu. Hanya lelehan air mata saya yang mampu mewakili semua perasaannya saat ini.


"Bang, apa ini benar??" Tanya Viola sama tak percayanya dengan Beca.


Erland hanya mengangguk lalu menghampiri istrinya. Kabar itu jelas menjadikan kesedihan bagi mereka ya g ada di sana. Mereka sudah mengenal Yovi begitu lama, mana mungkin mereka tidak merasa terkejut dan kehilangan.


"Nggak mungkin!! Ini nggak mungkin kan Kak??" Beca menatap Vino dengan nanar. Karena laki-laki itulah yang tadi membawa kabar itu pertama kali.


"Aku juga berharap begitu Beca" Sahut Vino yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Enggak!! Pasti Kak Yovi hanya lari dari pernikahan ini. Jadi dia membuat alasan seperti ini untuk menghindari ku. Iya kan Vi?? Kamu tau sendiri kan kalau dia mau menikahi ku bukan karena cinta?? Dia pasti pergi karena hal itu kan??"


Ucapan Beca itu langsung membuat Via dan Vino mengerutkan keningnya. Mereka merasa ada yang Beca sembunyikan tentang pernikahan itu.


"Beca tenanglah" Via merangkul pundak Beca yang masih duduk di depan meja riasnya.


Beca menggeleng keras sambil terus terisak. Rasa sesak menyerang dadanya saat ini.

__ADS_1


"Gimana bisa tenang Vi, Kak Yovi udah pergi. Aku nggak ada siapa-siapa lagi. Dia yang aku harapkan menjadi keluargaku. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Aku merasa benar-benar sendirian di dunia ini Vi" Beca tak kuasa menahan rasa sakit dalam hatinya. Ketakutan dengan kesendiriannya di dunia ini.


"Jangan bicara seperti itu. Kamu masih punya kita semua. Ada Mami dan Papi, anak-anak Mami juga ada untuk kamu. Sekarang kamu tenang dulu, kita tunggu kabar selanjutnya ya. Berdoa saja untuk Yovi" Via mengusap air mata Beca yang telah membuat make upnya berantakan.


Beca kembali tergugu. Kini banyak sekali yang menyerang pikirannya. Termasuk nasibnya setelah ini. Bagaimana jika dia hamil, siapa yang mau bertanggung jawab. Sedangkan dia sendiri tidak mungkin untuk menggugurkan janinnya jika memang dia mengandung benih Yovi.


Beca juga mengingat perubahan Yovi akhir-akhir ini. Pria itu tampak sedang sekali menyambut pernikahan mereka. Semua di persiapkan Yovi dengan sepenuh hati. Bahkan Beca saja tidak seantusias itu.


"Vi, kenapa Kak Yovi tega sama aku Vi?? Katanya dia akan belajar menerima dan mencintaiku. Katanya Kak Yovi akan menjadikan aku wanita terakhirnya. Semua janji itu sudah aku pegang teguh di dalam hatiku. Tapi kenapa sekarang janji itu di bawa pergi begitu saja??"


Viola dan Endah tak kuasa menahan tangisnya mendengar cerita pilu Beca itu.


"Kamu tau Vi, akhir-akhir ini Kak Yovi begitu manis. Dia benar-benar memperlakukan aku layaknya wanita yang sangat dicintainya"


Lagi-lagi kata yang keluar dari Beca itu mempu membuat Vino, Via dan juga Endah bertanya-tanya. Sepertinya ada yang Beca sembunyikan dari mereka. Namun Vino tidak melihat reaksi apapun dari Viola dan Erland.


"Dia perhatian sama aku. Dia selalu melontarkan kata-kata manis. Bahkan dia mengajak aku berfoto saat kita fitting baju pengantin dua hari yang lalu. Katanya itu buat kenang-kenangan. Taunya kenang-kenangan seperti ini yang dia maksud Vi. Mungkin dia sudah mempunyai firasat sebelumnya. Tapi itu semua justru semakin membuat hatiku sakit Vi" Beca kembali terisak dengan menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


"Mungkin kalau dia menolak ku atau tidak mau menikahi ku. Aku tidak akan sesakit ini, tapi kali ini rasanya aku tak bisa menahan rasa sakitnya Vi"


Viola tak bisa mengeluarkan kata apapun. Dia hanya ikut terisak di sisi Beca. Dia tau jika sahabatnya itu belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Baru kali ini dia mendapatkan seseorang yang bersedia menerimanya namun juga langsung membuatnya hancur seperti ini.


"Sekarang dimana Kak Yovi Kak?? Antar aku ke sana!! Aku mau melihat keadaannya Kak"


Beca meminta pada Erland dan Vino untuk membawanya menemui Yovi.

__ADS_1


"Beca, kamu lebih baik tidak usah ke sana dulu. Pikirkan kondisi kamu yang seperti ini. Kami tidak mau sampau terjadi apa-apa denganmu" Ucap Vino.


"Tapi Kak, aku mau melihatnya. Aku mohon, bawa aku ke sana. Aku harus bertemu dengannya, mungkin untuk terkahir kalinya Kak. Aku mohon" Beca mengatupkan tangan di depan dadanya.


"Bang, ayo antar Beca ke Rumah sakit. Dia berhak menemui Kak Yovi" Viola tidak setuju dengan Vino yang melarang Beca untuk menemui Yovi.


Biar bagaimanapun Beca juga harus melihat sendiri bagaimana keadaan Yovi saat ini. Dia adalah wanita yang paling malang saat ini.


"Baiklah"


Akhirnya Vino menyetujui keinginan Beca itu. Tanpa memikirkan penampilannya saat ini, yang lebih mirip peserta festival yang sudah berjalan dari pagi hari di banding seorang pengantin, Beca langsung mengikuti Vino menuju mobilnya.


Erland dan Viola juga mengikuti Vino dan Endah yang membawa Beca. Mereka semua menuju Rumah sakit yang menjadi tempat korban kecelakaan beruntun yang menimpa Yovi tadi.


"Tante!!" Beca melihat Mamanya Yovi yang terduduk dilantai seorang diri.


"Beca, Ya Allah Beca. Yovi ca Yovi" Mama Yovi langsung histeris ketika melihat Beca yang datang masih menggunakan baju pengantinnya.


Wanita paruh baya yang begitu baik menerima Beca itu kini jauh lebih hancur dari Beca. Anak semata wayangnya meninggal tepat di depan matanya.


"Tante, kak Yovi dimana Tan?? Beca mau melihat Kak Yovi Tante. Beca masih tidak percaya kalau Beca belum melihatnya sendiri" Kedua wanita itu saling berpelukan dengan tangis histerisnya masing-masing.


"Kamu yang sabar Beca. Ikhlaskan Yovi" Suara laki-laki yang baru datang dengan bajunya yang terkena noda darah itu membuat Beca terdiam.


"Om, apa ini sungguhan??" Tanya Beca masih dengan harapan tinggi.

__ADS_1


"Ikhlaskan dia supaya lapang jalannya. Dengan tangisan kamu dan Mama seperti ini. Itu hanya akan membuat jalan Yovi terhambat. Papa tidak mau anak kebanggan Papa kehilangan arah saat mencari jalan menuju Allah"


Pria paruh baya itu tampak lebih tegar meski terlihat jelas duka yang begitu mendalam di sorot mata tua itu.


__ADS_2