Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
107.Takut dengan perubahan Sarah


__ADS_3

Viola masih terdiam di kamarnya. Berdiri di depan jendela dengan tangan terlipat di depan dadanya. Pikirannya masih terpaut pada beberapa jam yang lalu sebelum Erland berangkat ke kantor lagi setelah makan siang mereka.


Tadi Sarah terlihat begitu aneh di mata Viola. Perempuan itu tiba-tiba saja menyetujui perceraiannya dengan Erland. Bukan itu saja, Sarah yang berubah lebih lembut dan juga tak menyulut pertengkaran dengan Viola membuatnya semakin terlihat aneh.


Viola tak ingin berpikiran buruk, dia bersyukur jika memang Sarah benar berubah dan menerima perceraiannya. Tapi mengingat Sarah yang selalu berpikiran licik, Viola tak menampik ada rasa khawatir di dalam hatinya.


Bagai udang di balik batu, Viola takut jika perubahan sikap Sarah itu karena merencanakan suatu hal di baliknya. Entah itu berdampak pada Erland atau pada dirinya. Yang jelas Viola ingin tetap waspada pada Sarah. Apalagi dia masih tinggal di sana sampai sidang pertama mereka di lakukan, seperti permintaannya tadi. Itu artinya Viola akan bertemu dengan Sarah sesering mungkin di rumah itu.


Viola segera membuang pikiran negatifnya itu jauh-jauh. Dia memilih keluar untuk memasak makan malam untuk Erland.


Tapi siapa sangka, saat Viola tiba di dapur, dia sudah menemukan Sarah di sana dengan spatula di genggaman tangannya.


"Sedang apa kamu Sarah??" Tegur Viola


"Eh Vi. Aku sedang memasak untuk kalian. Tapi maaf nanti kalau rasanya belum sempurna karena aku masih belajar" Ucap Sarah masih terus mengaduk di dalam pancinya.


Viola tak menjawab, dia semakin di buat kebingungan dengan Sarah kali ini. Baru kali ini Viola melihat Sarah berkutat di dapur hanya untuk memasak makanan untuk mereka semua.


"Oh ya, kamu mau apa Vi?? Kamu lapar?" Tanya Sarah.


"Tidak, aku hanya ingin memasak makan malam untuk Bang Erland" Jawab Viola jujur.


"Viola, kali ini biar aku yang masak. Kamu cukup duduk manis saja di sana atau kamu istirahat aja dulu. Sebentar lagi pasti Mas Erland pulang


Setelah itu baru kita makan malam sama-sama ya??"


Meski tamak tak percaya, Viola hanya mengangguk lalu berjalan kembali ke kamar. Mau menolak juga Sarah sudah menguasai dapur. Jadi mau apa lagi selain Viola mengalah.


Tak lama dari itu, Viola mendengar suara mobil Erland di depan rumah. Dengan semangat Viola keluar dari kamarnya menyambut kepulangan suaminya itu. Tak peduli perutnya yang sudah sangat besar, Viola sedikit berlari menghampiri Erland.


"Pelan-pelan dong sayang!!" Erland langsung menangkap Viola ke dalam pelukannya karena melihat istrinya itu berlari kecil menuju ke arahnya.


"Hehe.. Maaf Bang. Nggak sabar pingin lihat Abang soalnya"


"Kamu kangen sama Abang ya?? Baru di tinggal sebentar aja masa udah kangen" Erland menggesekkan hidung mancungnya pada hidung Viola.

__ADS_1


"Enggak, sok tau Abang ih!!" Elak Viola.


"Mas, Viola. Makan malamnya sudah siap. Ayo makan dulu, aku tunggu di meja makan ya??" Sarah adalah orang yang mengganggu kemesraan Erland dan Viola. Setelah mengatakan itu, Sarah juga langsung pergi dari sana.


"Apa maksudnya yank??" Tanya Erland pada Viola.


"Aku juga masih bingung dengan perubahan sikapnya itu Bang. Sejak tadi di sibuk di dapur katanya dia ingin menyiapkan makan malam buat kita. Aku yang ingin memasak buat kamu saja di suruh istirahat saja olehnya"


"Bukannya dia tidak bisa memasak??"


"Aku juga tidak tau" Viola mengedikan bahunya pada Erland.


Bukan hanya Viola yang di buat bingung, namun kini juga Erland. Mereka merasa ada sesuatu yang sedang di rencanakan oleh Sarah.


"Ayo duduk, aku sudah siapkan semuanya untuk kita makan malam. Maaf kalau penampilan masakan ku nggak menarik sama sekali. Tapi aku jamin rasanya masih bisa di terima lidah kita kok" Sarah masih sibuk menuangkan air minum ke dalam ketiga gelas mereka.


Viola dan Erland masih diam tak bergerak. Mereka berdua tentu saja ragu dengan apa yang Sarah lakukan saat ini.


"Kenapa kalian masih berdiri ayo cepat duduk!! " Ajak Sarah namun masih dengan senyuman ramahnya.


"Aku tau kalau kalian masih tidak percaya denganku. Tapi setidaknya hargai sedikit usahaku ini. Aku hanya ingin berbuah baik kepada kalian sebelum aku benar-benar pergi dari rumah ini. Apa itu salah??" Lanjut Sarah dengan menahan tangis.


"Ayo duduk sayang"


Seulas senyum terbit di bibir Sarah karena akhirnya Viola dan Erland mulai duduk di tempatnya masing-masing.


Sarah merasa senang, karena apa yang dia lakukan itu sedikit di hargai oleh pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu.


"Aku ambilkan ya Mas??" Sarah ingin meraih piring Erland namun segera di cegah oleh tangan pria itu.


"Biar Viola saja" Erland memilih menyerahkan piringnya pada Viola.


Ada rasa kecewa di hati Sarah namun dia bisa menutupi dengan senyumnya.


Meski dengan perut besarnya, Viola tetap telaten mengambilkan makan malam untuk suaminya. Setelah itu, Viola juga mengisi piringnya sendiri dengan nasi dan yang lainnya.

__ADS_1


Meski sedikit ragu dengan rasa masakan Sarah. Namun Viola tetap mengambil beberapa ke dalam piringnya.


"Selamat makan" Ucap Sarah kepada keduanya ketika piring mereka sudah terisi makanan.


Namun keduanya masih bergeming menatap piring mereka masing-masing. Tangan mereka juga tak bergerak untuk meraih sendok dan menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Kenapa??" Tanya Sarah dengan bingung karena Viola dan juga Erland tak menyentuh makanannya sama sekali.


Setelah itu Sarah terkekeh dengan sendirinya. Dia tertawa namun matanya sedikit mengeluarkan air matanya.


"Apa kalian takut aku menaruh racun ke dalam masakan ku ini??" Tebak Sarah yang membuat Viola dan Erland saling bertatapan.


"Hahahaha...." Sarah tertawa terbahak-bahak.


"Ternyata kalian berdua juga punya pikiran sepicik ini ya?? Kalian tega sekali berpikiran seperti ini. Aku susah payan menunjukkan ketulusanku dengan masakan ini meski kalian tau kalau aku tidak bisa memasak. Aku kira dengan begini bisa sedikit merubah pandangan kalian kepadaku. Tapi ternyata tidak"


Sarah menahan tangisnya dengan suaranya yang sudah bergetar.


"Bukan begitu Sarah" Ucap Viola merasa tak enak. Entah itu sandiwara atau tidak tapi Viola merasa telah menyinggung Sarah.


"Bukan begitu bagaimana Viola?? Buktinya sejak tadi saja kalian ragu untuk duduk di sini kalau aku tidak banyak bicara dan memaksa kalian. Aku sadar kalau aku ini terlalu hina di hadapan kalian sehingga tidak bisa mempercayaiku"


Sarah mengambil piringnya lalu mengisinya dengan semua masakan yang sudah di buatnya itu.


Sementara Erland dan Viola hanya memandangnya dengan bingung.


"Lihatlah kalau kalian tidak percaya?!" Sarah mulai memakan makanan yang telah di ambilnya tadi.


Membuktikan kalau di dalam makanannya tidak ada racun atau apapun yang bisa mencelakakan orang lain.


"Sarah, maafkan kami. Aku akan memakannya, terimakasih untuk semua makanan yang sudah kamu masak ini. Sekali lagi maafkan aku" Ucap Viola yang merasa kasihan pada Sarah.


Sedangan Erland masih tetap diam, namun tangannya mengikuti Viola untuk mencicipi hasil masakan Sarah.


Mulut Sarah yang masih mengunyah makanan itu akhirnya menunjukkan senyum lagi.

__ADS_1


__ADS_2