Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
147. Kemesraan


__ADS_3

Hari demi hari berjalan lancar dengan semestinya. Sampai tak terasa jika keluarga kecil Viola sudah di temani malaikat kecil selama tiga bula. Erland junior itu kini semakin menggemaskan dengan badannya yang gembul dan baru belajar tengkurap. Dengan badannya yang besar itu membuat Ezra kesusahan untuk menggerakkan tubuhnya, hingga sering menimbulkan gelak tawa bagi Erland.


"Kenapa ketawa-ketawa sih Bang??"


Viola datang menghampiri suami dan anaknya dengan keadaan yang sudah rapi dan wangi.


"Lihatlah yank, dia nggak bisa tengkurap karena badannya yang besar ini" Erland masih saja menertawakan anaknya yang kini sudah mulai merengek meminta bantuan.


"Apa sayang?? Nggak bisa ya?? Papa nggak bantuin Ezra ya?? Mama aja yang bantuin mau??"" Viola mengulurkan jari telunjuknya agar Ezra meraihnya sendiri sebagai pegangan.


"Makanya punya badan jangan gemoy-gemoy kaya gini dong sayang. Kan papa gemes jadinya" Erland menepuk-nepuk pantat Ezra yang kini sudah berhasil tengkurap karena bantuan Mamanya.


"Ya nggak papa dong Bang, kan masih kecil. Lucu tau!!" Naluri seorang Ibu jika anaknya di sakiti pasti akan langsung keluar seperti Viola saat ini. Doa selalu pasang badan meski Erland hanya bercanda dengan anaknya.


"Iya sekarang nggak papa. Tapi besok kalau besar harus punya badan kaya Papa. Biar semua wanita kelpek-klepek sama kamu. Papa yakin kalau wajah kamu juga bakalan ganteng, nggak jauh beda sama Papa"


Kini Viola yang terbahak-bahak sampai memegangi perutnya yang ikut bergetar karena tawanya.


"Kenapa kamu ketawa yank?? Nggak terima??" Erland melirik Viola.


"Astaga Abang, kurang-kurangin narsisnya. Ingat umur!!"


"Umur nggak menghalangi bagi Abang. Tapi jujur, kamu mengakui nggak kalau Abang ini ganteng??" Erland langsung memasang wajah dingin andalannya di depan Viola.


"Enggak, siapa bilang Abang itu ganteng. Abang itu cuma beruntung karena mendapat kombinasi yang pas aja di wajah Abang"


"Halah ngaku aja kamu!!" Erland menarik tangan Viola hingga wanita itu terduduk di pangkuan Erland.


"A-abang lepas dong. Kan kita mau pergi, nanti telat loh!!" Viola terus menghindari tatapan mata Erland yang sudah membuat pipinya merona.


"Nggak akan Abang lepaskan sebelum kamu mengatakan kalau suami kamu ini pria paling ganteng di Dunia kamu" Tangan Erland mengunci pinggang Viola posesif.


"Cih.. Pemaksaan itu namanya"


"Abang tidak peduli!!" Erland malah menggesekkan hidungnya pada kulit lengan Viola.


"Kalau aku tidak mau???" Viola sengaja mengukur waktu karena melihat Erland yang tidak terima seperti itu justru menggemaskan di mata Viola.


"Kalau gitu, Abang akan mengurung kamu disini seharian ini sampai kamu sendiri mengatakan kalau Abang ganteng!!"


Kali ini sepertinya Erland serius, bisa-bisa Erland sungguhan mengurungnya di dalam kamar. Sementara mereka sudah harus pergi saat ini.


"Iya, iya aku menyerah. Abang memang ganteng, paling ganteng di hidupku tapi nomor dua karena nomor satu itu tetap Ezra" Jawab Viola menunjukkan giginya pada Erland.

__ADS_1


Erland mendengus dengan Viola. "Ya udah deh, nggak papa. Kalau sama anak, Abang nggak mau saingan" Berlahan tangan Erland mulai mengendur dari pinggang Viola.


"Udah deh nggak usah manyun, ayo kita pergi sekarang. Takutnya jalanan macet dan kita jadi telat!!" Viola merapikan bajunya setelah berhasil terlepas dari suaminya.


"Ya udah ayo!!" Erland menggendong Ezra untuk di berikan kepada pengasuhnya.


Siang ini memang Viola akan melakukan grand opening kliniknya. Setelah satu bulan yang lalu mulai mempersiapkannya mulai dari alat-alat canggih yang Viola datangkan sendiri dari Korea. Juga perekrutan karyawan yang akan memperlancar pekerjaannya kelak.


Semua itu juga tidak lepas dari campur tangan Beca. Wanita itu kini benar-benar menepati ucapannya untuk menjalani hidupnya lagi. Meski terkadang masih terlihat gurat kesedihan di matanya, namun Beca selalu menutupinya dengan seulas senyum setelah itu.


Tak menempuh waktu yang lama, hanya sekitar tiga puluh menit Viola dan Erland berkendara menuju kliniknya.


Di sana sudah di tunggu banyak orang-orang yang terlibat dalam pembukaan klinik barunya itu. Mulai dari karyawan yang semuanya berseragam warma merah jambu yang manis, sama seperti seragam klinik Viola di Korea. Juga tamu undangan yang sudah hadir lebih dulu di sana. Tak lupa semua keluarga Viola ikut antusias berada di sana untuk mendukungnya.


Klinik Viola ini menjadi klinik satu-satunya dengan tenaga medis yang berasal dari Korea langsung. Terutama alat-alatnya hang canggih juga membedakan kliniknya dengan klinik-klinik yang lain di kota Jakarta.


Viola membangun klinik itu bukan semata-mata ingin meraup keuntungan yang besar, karena melihat di sini masih jarang sekali klinik yang menjual jasa seperti dirinya.Viola hanya ingin menyalurkan ilmu yang ia dapat selama bertahun-tahun belajar jauh di sana.


Dengan tangan Viola yang setia berada di genggaman Erland, mereka mulai melangkah mendekat ke dalam klinik kecantikan yang cukup besar itu.


Rasa bahagia begitu menyelimuti Viola saat mereka semua menyambut kedatangan Viola dengan meriah.


Viola juga bisa melihat tawa bahagia dari kedua orang tuanya, juga mertua satu-satunya yaitu Gendis. Tak ada yang lebih berharga dari pembukaan kliniknya itu selain kebahagiaan orang-orang yang disayanginya.


"Selamat Viola, kamu memang anak Papi yang hebat" Dito memberikan pelukan hangatnya untuk putri tercintanya. Putri yang pernah membuatnya memohon kepada seseorang untuk pertama kalinya, demi mewujudkan impian terakhir putrinya itu. Namun ternyata takdir berkata lain, dia masih bisa melihat putrinya yang cantik sampai saat ini.


"Semoga Allah selalu mempermudah jalan kamu ya Vi" Doa Via dalam pelukan Viola..


"Aamiin, doa Mami dan Papi pasti akan di dengar Allah"


Viola mengurai pelukannya dengan kedua orang tuanya.


"Selamat Viola. Ibu bangga sama kamu" Tutur kata seseorang yang begitu lembut itu mampu membuat perhatian Viola terlaihkan.


"Terimakasih Ibu"


"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu" Gendis memeluk Viola sekilas.


"Itu sudah lebih dari cukup Bu"


Erland menatap bahagia istri dan Ibunya yang begitu dekat itu. Dulu saat dengan Sarah Ibunya tak sedekat itu. Erland baru sadar kalau ternyata firasat Ibunya yang awalnya tidak merestui hubungannya dengan Sarah itu benar. Seharusnya dari dulu Erland menuruti apa yang gendis katakan.


"Ah sudahlah, yang penting sekarang aku sudah bahagia bersama istriku. Kalau tidak melewati masa itu, aku juga tidak akan tau arti cinta yang sebenarnya" Monolog Erland dalam hati.

__ADS_1


Setelah berbincang dengan Ibu mertuanya, kini Viola mendapatkan pelukan hangat dari Endah. Wanita itu begitu posesif memeluknya meski perutnya yang membuncit sudah membatasi ruang geraknya.


"Selamat Vi, aku yakin klinik kamu ini akan menjadi klinik kecantikan nomor satu di Jakarta"


"Makasih Ndah. Makasih juga udah datang dengan perut segede ini. Kapan lahiran??"


"Masih tiga bulanan lagi, baru enam bulan Vi"


"Sebenarnya Abang udah larang Vi, tapi dianya yang ngeyel. Padahal kata Dokter dia harus banyak istirahat, kemarin dia mengeluh kram pada perutnya" Cerita Vino.


"Tapi sekarang nggak papa kan Ndah?? Harusnya kamu istirahat aja di rumah" Viola menyentuh perut Endah dengan khawatir.


"Udah nggak papa kok Vi, mungkin bang Vino aja yang terlalu khawatir"


"Namanya juga menyangkut istri dan calon anaknya, masa nggak khawatir"


Vino memeluk pinggang Endah dengan posesif. Mereka memang tak sungkan memamerkan kemesraan dai depan banyak orang.


"Bener loh Ndah kata Bang Vino. Kamu harus jaga kesehatan, supaya saat melahirkan nanti lancar dan sehat kamu dan calon ponakan aku"


"Iya, iya. Kalian ini emang Adik dan Kakak yang bawel" Canda Endah yang berhasil membuat Vino gemas dengan mencubit hidung Endah.


"Ya udah, aku ke Beca dulu ya"


Viola melihat Beca yang sedang melamun di kejauhan, dia juga belum bertemu sahabatnya itu sejak tadi.


"Heh, ngelamun aja, lihat apa sih?? Udah nggak sibuk ya?? Sampai udah bisa ngelamun" Tanya Viola sambil mengikuti arah pandang Beca.


"Ngagetin aja!!"


"Salah sendiri ngelamun, hati-hati kesambet!!"


Beca mencebik mendengar sahabatnya yang terkesan menyumpahinya itu.


"Vi, ngelihat Kak Vino sama Endah itu adem banget ya?"


Viola kembali menoleh pada Beca, ia kembali melihat wajah sendu yang beberapa bulan lalu menemani Beca berhari-hari.


"Mungkin kalau Kak Yovi masih ada, aku bisa semesra itu sama dia. Mungkin juga bisa hamil kaya Endah" Beca sedikit iri melihat kebahagiaan Vino dan Endah. Bukan iri yang dengki dengan kebahagiaan orang lain, namun Beca hanya iri karena tak sempat merasakan seperti itu dengan Yovi.


"Hussshhh!! Nggak ngomong gitu!! Aku yakin kok kalau kamu juga bisa merasakan itu setelah menemukan laki-laki yang bisa mencintaimu dengan tulus"


Sejak Beca merencanakan pernikahannya dengan Yovi, Beca lebih banyak berubah, terutama cara bicaranya yang lebih halus terhadap orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


Beca hanya menjawab Viola dengan senyuman tipis penuh kepedihan.


"Tapi aku nggak yakin soal itu Vi"


__ADS_2