Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
93. Perdebatan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, kandungan Viola juga sudah semakin besar. Badannya yang mudah lelah membuatnya sering berdiam diri di kamar, tak pernah berniat pergi kemana pun. Dia akan pergi jika Beca mengajaknya bertemu membahas klinik mereka saja. Karena sampai sekarang Beca enggan berkunjung ke rumah Viola karena masih adanya Sarah di rumah itu.


Hari ini adalah hari sabtu, dan Erland juga ada di rumah. Sejak pagi pria itu sudah berdiam diri di kamar Viola, padahal gilirannya tidur di kamar Viola masih nanti malam.


"Sayang, kita keluar yuk" Ajak Erland tiba-tiba saat Viola baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kemana Bang??" Sahut Viola dengan suara lembutnya.


Itulah yang disukai Erland akhir-akhir ini. Kehamilan Sarah justru membuat Viola merubah sikapnya kepasa Erland. Yang awalnya Erland mengira Viola akan semakin marah kepadanya, nyatanya semau itu terbantahkan. Kini Viola benar-benar berubah. Perhatian pada Erland, lebih lembut pada suaminya itu. Bahkan tak jarang Viola juga membuatkan makanan kesukaan Erland.


"Satu bulan lagi anak kita kan lahir yank, kita kan belum belanja buat keperluan dia. Kamu kan pernah bilang sama Abang kalau mau beli setelah kandungan kamu sudah besar"


Viola ingat betul jika dia pernah mengatakan itu pada Erland.


"Jadi Abang mau ngajak aku belanja keperluan anak kita??" Viola mendekati Erland yang duduk di sofa kamarnya.


"Iya" Jawab Erland sambil mengangguk.


"Ya udah ayok"


Dengan semangatnya Erland langsung berdiri menunjukkan wajah sumringahnya.


"Ayo sayang, kita belanja baju yang lucu-lucu"


Viola hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.


*


*


*


Lain halnya dengan Sarah, wanita yang sedang hamil muda itu justru sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Memikirkan bagaimana caranya mengakhiri drama yang baru saja ia mulai.


Dia tak ingin menunda lebih lama lagi, dia hanya ingin mendapatkan Erland kembali dengan secepatnya.

__ADS_1


Meski akhir-akhir ini Erland juga telah menepati janjinya untuk memberikan perhatian yang lebih kepadanya, namun Sarah masih saja merasa kurang. Baginya perhatian Erland itu tak ada artinya jika masih harus di bagi dengan madunya itu.


Sarah sudah di tinggalkan Radian, mana mungkin dia juga akan melepaskan Erland. Satu sudah pergi mala dia tidak bisa kehilangan keduanya, maka dari itu Sarah mati-matian mempertahankan pernikahannya dengan Erland. Apapun yang terjadi dia tidak boleh tersingkirkan, jika ada pun menurutnya Viola yang lebih pantas.


"Gue harus cari waktu yang tepat, karena itu bisa membuat rencana gue semakin mulus" Gumam Sarah menatap foto pernikahannya yang terpasang pada dinding kamarnya.


"Gue bukan wanita yang jahat seandainya saja lo nggak masuk dalam hidup gue Viola. Tapi kedatangan lo sudah merusak semuanya. Impian gue dari awal mengenal Erland kini sudah hancur gara-gara lo. Dan untuk mengembalikan semuanya, terpaksa gue harus menyingkirkan lo dari sisi Erland" Sarah menunjukkan seringaian yang sangat menyeramkan di bibirnya.


Mendengar suara mobil yang sangat ia kenali, Sarah langsung berlari keluar. Sudah sejak tadi dia memang menunggu kepulangan Erland yang pergi sejak tadi siang dengan istri keduanya itu.


"Mas!!" Panggil Sarah menuruni tangaa.


Sarah tampak memperhatikan barang-barang yang di bawa Erland dan Viola. Berbagai macam perlengkapan bayi baru lahir sudah di borong oleh mereka berdua.


"Kalian dari tadi siang belanja ini semua??"


"Iya" Jawab Erland dengan singkat.


"Kalau kandungan aku sudah besar, kamu mau temani aku beli kaya gini juga kan Mas??" Sarah meraih lengan Erland dan bergelayut manja padanya.


"Iya Sarah, yang kamu kandung juga anak aku. Jadi akan ku perlakukan mereka dengan sama"


"Oh ya, gimana hasil periksa kandungan kamu kemarin Sarah??" Viola ingin mendengarnya langsung dari Sarah.


"Baik, dia juga sehat. Tapi kata Dokter, Mas Erland harus lebih memperhatikan aku, dan aku juga nggak boleh terlalu lelah karena kasihan dia di dalam sana. Iya kan Mas??" Sarah meminta persetujuan dari Erland.


Sarah sengaja menunjukkan kemesraannya dengan Erland di depan Viola.


"Alhamdulillah kalau begitu, semoga saja di dalam perut kamu itu benar-benar ada isinya ya?? Upsss!!" Viola langsung menutup mulutnya.


"Maksud aku benar-benar sehat" Ralat Viola.


Tatapan mata Sarah langsung menajam ke arah Viola. Dia merasa Viola sengaja melayangkan maksud di setiap kata-katanya itu.


"Jangan asal bicara kamu Viola!!" Geram Sarah.

__ADS_1


"Sudah kalian jangan berdebat, masuk ke kamar kalian masing-masing. Aku angkat telepon dulu" Erland menunjukkan ponselnya yang berdering. Kemudian pergi keluar melalui pintu samping rumahnya.


"Seneng ya karena begitu di perhatikan sama Mas Erland??" Ucap Sarah setelah melihat Erland sibuk dengan orang yang meneleponnya.


"Bilang aja iri" Sahut Viola dengan senyumnya yang mengejek.


"Iri?? Sama sekali tidak, karena sedari awal aku yang sudah jadi pemenangnya. Aku yang pertama mendengar pernyataan cinta darinya. Akulah wanita yang secara sadar di ajaknya untuk menikah. Bukan kamu wanita yang dinikahinya secara paksa"


Kalimat Sarah itu keluar begitu ringan dari bibirnya yang di oles lipstik merah itu. Senjatanya yang ia punya untuk menyerang Viola hanyalah mengungkit hal itu.


"Tentu kamu masih ingat kan kalau Mas Erland begitu menginginkan seorang anak?? Sudah kukatakan berapa kali kalau dia menjemputmu pulang hanya karena menginginkan anak darimu saja" Balasan Sarah kali ini memang sedikit menggores hati Viola, tapi sama sekali tak memancing kemarahannya.


"Oh ya?? Lalu kenapa sikap Bang Erland begitu berbeda pada kita berdua??" Tanya Viola.


"Aku tau kalau dia mencoba adil apalagi sejak kehamilan kamu ini, tapi kamu bisa merasakan perbedaannya kan?? Tulusnya perhatiannya kepadaku dan wajahnya yang muram saat mencoba memberikan perhatian kepadamu??" Dengan mudah Viola bisa membalikkan keadaan. Justru Sarah kini harus menunjukkan wajah merah padamnya pada Viola.


"Dan ini" Viola bergerak maju menyentuh permukaan perut Sarah.


Sarah ingin menepis tangan Viola dengan cepat menahan tangan Sarah dengan tangannya yang satu lagi.


"Anak apa yang kamu kandung ini Sarah??" Viola menyeringai menatap Sarah.


Viola semakin senang melihat ekspresi Sarah yang seperti ingin memakannya.


"Jangan macam-macam Viola. Wanita s*alan!!" Umpatan itu akhirnya terdengar juga di telinga Viola.


"Kamu lebih dari sekedar s*alan Sarah!!" Gertak Viola dengan giginya yang mengerat.


Tangan Sarah sudah melayang untuk menampar pipi Viola. Namun dengan cepat Viola bisa menangkisnya dengan mencengkeram kuat pergelangan Sarah.


"Aku tau semua tentang mu Sarah, semuanya sampai kamu tidak akan berani bernafas lagi kalau sampai aku mengatakannya kepada semua orang!!" Desis Viola.


Sarah memberontak melepaskan tangannya dari genggaman Viola.


"Lepas Viola!!" Sarah masih terus memberontak hingga kakinya tak bisa menjaga keseimbangannya.

__ADS_1


"AAKKKHHH...."


"Sarah!!" Teriak Erland dari kejauhan.


__ADS_2