
Tentu saja dari dalam kamar Viola mendengar apa yang Erland katakan. Tapi Viola tak berniat membukanya sekalipun.
Tubuhnya yang bersandar di belakang pintu itu berlahan luruh ke lantai bersamaan dengan air matanya. Viola membekap bibirnya sendiri agar tak mengeluarkan suara dari tangisannya.
Ternyata melihat wajah Erland membuatnya tak bisa menahan air matanya. Viola sadar betapa bodoh dirinya yang mudah sekali percaya kepada pria itu. Ternyata niatnya untuk mulai mempercayai suaminya itu salah. Baru saja Viola membuka jalan namun sudah kembali terhalang oleh kebohongan lagi.
Ternyata benar jika suasana hati bisa berubah begitu cepat. Tadi pagi baru saja Viola terus mengembangkan senyumnya karena pertama kalinya dia akan berkencan dengan pria yang begitu lama menjadi pemilik hatinya. Namun sore harinya rasa bahagia itu langsung dihempaskan oleh air mata yang kini mengalir di atas pipi mulus itu.
"Kamu sendiri yang memaksa untuk ikut dan mengajakku berkencan, tapi nyatanya semuanya hanya bualan semata" lirih Viola di tengah-tengah tangis pilunya.
FLASHBACK ON
Viola terus mencoba menghubungi suaminya. Sudah lebih dari sepuluh kali Viola menekan tombol hijau itu. Panggilannya tersambung, namun tak ada jawaban sama sekali dari Erland.
"Nyonya Viola!!" Panggil seorang suster di depan pintu ruangan Niken.
"Suster, kalau boleh saya di lewati dulu aja. Saya masih menunggu suami saya"
"Baiklah kalau begitu saya akan memanggil pasien lainnya dulu"
Akhirnya satu demi satu pasien sudah selesai di periksa. Tinggal satu pasien lagi sebelum Viola yang akhirnya menjadi paling terakhir. Viola sudah menyerah menghubungi Erland. Wanita yang sebentar lagi menjadi seorang ibu itu sudah terlanjur kecewa.
Mau tak mau dia memasuki ruangan Niken seorang diri.
"Hay Vi. Sendiri aja??"
"Iya, kayaknya dia nggak datang deh. Nggak tau, ada kerjaan kali" Niken hanya mengangguk, dia memang sudah tau semuanya dari Viola tapi tidak mau bertanya terlalu jauh.
Niken mulai memeriksa Viola dengan alat-alat medisnya.
"Gimana Ken?? Dia sehat kan??"
"Sehat, semuanya bagus, ukurannya juga sesuai dengan umurnya. Yang perlu kamu lakukan hanyalah jangan terlalu banyak pikiran yang akan berakibat pada perkembangannya" Viola mengangguk meski ia tak yakin. Jika tadi saja sebelum masuk ke dalam ruangan itu Viola sudah di buat pusing dengan suaminya.
__ADS_1
"Mualnya parah nggak??" Tanya Niken sembari kembali duduk di kursinya lagi.
"Kalau pagi aja sih, sampai lemes banget. Atau saat mencium bau yang nggak aku suka"
Niken mengangguk paham lalu menulis resepnya untuk Viola.
"Ini ada obat anti mual sama vitamin buat kamu. Dan untuk yang lainnya kamu nggak perlu khawatir. Semuanya sehat baik ibu dan janinnya"
"Makasih ya Ken"
"Sama-sama, hati-hati pulangnya"
Viola hanya mengulas senyumnya saja. Wanita itu berjalan lunglai dengan tasnya yang sudah tak terlampir lagi di pundaknya, justru menggantung di tangannya dan hampir menyentuh lantai.
Kakinya yang lemas membawa Viola hingga keluar rumah sakit. Viola seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya, menatap jalanan dengan pandangan kosong.
Sekali lagi Viola mengambil ponselnya, mencoba sekali lagi untuk menghubungi suaminya. Beberapa detik menunggu panggilan itu tersambung, tapi hasilnya sama. Taka ada jawaban dari Erland.
Tangan Viola yang ingin menutup aplikasi berwarna hijau itu tak sengaja menekan aplikasi media sosialnya. Dan kebetulannya lagi Viola langsung di suguhkan oleh unggahan dari seseorang yang ia kenal. Di dalam video itu tampak seperti sebuah pesta yang cukup meriah. Si pemilik Video itu mengambil gambar ke sekitarnya hingga menangkap seseorang yang dari tadi Viola tunggu.
Berlahan air mata Viola turun membasahi wajahnya. Tak peduli saat ini dia duduk di bangku pinggir jalan. Yang jelas saat ini.hatinya begitu Perih karena lagi-lagi dia berharap pada seseorang yang mempermainkannya.
"Viola, kamu kenapa??"
Viola mengangkat wajahnya karena merasa kenal dengan pemilik suara itu.
"Kak, bisakah kamu membawaku jalan-jalan sebentar??" Pinta Viola dengan matanya yang sudah basah dengan air mata.
FLASHBACK OFF
Hingga akhirnya Viola memutuskan untuk pulang, dengan harapan tak melihat wajah Erland untuk malam ini. Tapi nyatanya saat sampai di depan rumah, Erland juga langsung tiba di sana.
Viola tak peduli lagi kalau Erland marah gara-gara melihatnya di antar oleh Yovi.
__ADS_1
*
*
*
*
Sudah lewat tengah malam Erland masih menunggu Viola di luar kamarnya. Pria itu bersandar di sofa dengan terus menatap pintu kamar Viola. Erland berharap Viola akan keluar untuk mengisi perutnya. Sementara dengan Sarah, Erland sama sekali tak peduli. Mau pulang atau tidka Erland sedang tidak berminta mencari tau tentang dia.
Ia masih terus menyesali kebodohannya itu. Bahkan dia berpikir ingin memeriksakan otaknya ke Dokter karena tak bisa mengingat hal sepenting itu. Mengingat waktu Viola memeriksakan kandungan tanpa memberitahunya, Erland begitu marah saat itu. Tapi kali ini, di saat Viola menunggunya, menghubunginya sampai puluhan kali, tapi Erland justru tak menepati janjinya.
Padahal Erland sangat ingin melihat perkembangan buah hatinya. Melihat keajaiban yang sangat ia tunggu kedatangannya. Tapi waktu yang di berikan itu di sia-siakan begitu saja oleh Erland demi acara yang sama sekali tak berguna itu.
Erland meremas tangannya dengan kuat karena mengingat tingkah laku mertuanya yang suka berfoya-foya itu.
Tapi suara pintu terbuka itu menyadarkan Erland. Ternyata harapannya menunggu Viola di sana tak sia-sia. Viola muncul dari balik itu tak lama setelah pintunya terbuka.
Wajah yang cantik itu kini terlihat sembab dan matanya memerah. Sudah bisa di pastikan jika Viola pasti menangis di dalam sana. Tentu saja itu membuat hati Erland terasa nyeri.
"Sayang?? Kamu mau kemana??" Erland mendekati Viola yang berjalan ke depan.
Viola membisu, tak peduli sama sekali dengan Erland yang berada disampingnya.
Samar-samar Erland mendengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Kini Erland tau tujuan Viola.
"Ini uangnya ya Pak, kembalinya ambil saja. Makasih ya Pak" Viola mengulas senyumnya, meski bukan untuk Erland.
"Kamu lapar sayang??" Erland terus mengikuti Viola hingga ke dapur. Tapi Erland bak berbicara dengan boneka cantik yang bisa bergerak. Tak ada tanggapan dan jawaban apapun.
Viola membuka plastik berisi bakso itu. Viola juga tidak tau kenapa setiap malam dia selalu menginginkan makanan berkuah itu.
"Sayang, Abang mohon ijinkan Abang menjelaskan semuanya sama kamu. Abang tidak mau kamu terus mendiamkan Abang seperti ini" Erland sudah tampak gusar karena dari tadi di acuhkan oleh Viola.
__ADS_1
"Abang minta maaf, sungguh Abang tidak ada niatan untuk melupakan janji Abang untuk mengantar kamu periksa ke Dokter. Abang juga sangat ingin melihat anak kita sayang. Tapi.."
"Tapi karena Sarah mengajak kamu ke pesta, dan sepertinya pergi ke pesta lebih menyenangkan dari pada datang ke rumah sakit begitu kan??"