Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
46. Sarah lagi


__ADS_3

Viola meletakkan dengan asal ponselnya di atas meja. Dirinya merasa kesal karena baru saja membaca pesan dari Elgrand yang mengatakan baru bisa pulang besok karena Sarah yang mendadak mengeluh sakit perut seperti waktu itu.


"Dasar bodoh!! Itu hanya alasan istrimu saja supaya bisa liburan lebih lama!!" Gerutu Viola sambil menatap ponselnya seolah-olah itu adalah Erland.


Liburan yang katanya hanya satu minggu kini sudah menjadi sepuluh hari. Viola tentu saja tau kalau Sarah pasti menggunakan otak liciknya untuk menahan Erland selama mungkin. Tapi yang membuat Viola tambah kesal adalah Erland yang percaya dengan mudahnya oleh akal bulus Sarah.


"Kenapa aku jadi kesal begini?? Bukankah harusnya aku tak peduli??"


Viola meninggalkan ponsel yang baru saja diajaknya bicara. Memilih mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang letih karena menghabiskan berjam-jam di kampus.


Lain halnya dengan Viola yang mencoba tak peduli, Erland justru semakin kalang kabut karena pikirannya terus di penuhi Viola.


Viola yang tak membalas pesannya meski sudah ada keterangan di baca semakin membuat Erland menggila. Bahkan Erland sempat tidak menghiraukan Sarah yang terus mengajaknya bicara, karena pikiran Erland sedang terbang jauh mencari istri ke duanya.


"Mas!! Kamu kenapa sih?? Mikirin istri muda kamu lagi?? Kalau gini terus, apa guanya kita liburan jauh-jauh sampai ke sini!!" Sarah mengeluarkan tanduknya.


"Aku hanya mengkhawatirkannya saja Sarah. Dia tidak membalas satu pesan pun dari ku" Erland masih tetap tenang menghadapi Sarah yang sudah mencak-mencak.


"Itu tandanya dia tidak peduli padamu. Kalau dia peduli pasti sudah berkali-kali menghubungimu dan memintamu cepat pulang. Buktinya tidak kan??" Sarah berusaha meracuni pikiran Erland dengan semua tuduhan yang tidak benar.


"Apa benar yang di katakan Sarah. Viola sama sekali tidak peduli padaku??"


Tapi Erland langsung membuang semua pikiran buruknya itu.


"Wajar dia seperti itu Sarah, karena dia memang belum bisa menerimaku kembali"


Lagi-lagi Erland dengan gamblangnya membela Viola di hadapan Sarah.


"Iya, terus saja di bela. Memang kamu yang bodoh Mas. Sudah tau dia tidan menginginkanmu, tapi masih saja di pertahankan?!" Sarah berdiri di hadapan Erland dengan tangannya yang berkacak pinggang dan wajahnya yang memerah.


Hal itu membuat Erland menyadari sesuatu pada Sarah.


"Kamu nggak sakit kan?? Kamu pura-pura sakit supaya bisa menahan ku di sini??" Tuduh Erland karena melihat Sarah yang tampak sehat dan tak kesakitan seperti tadi.


"A-aku su...."


"Pantas saja kamu menolak untuk pergi ke Dokter, dan dengan mudahnya aku percaya kata-katamu dengan raut wajah kesakitan kamu itu Sarah!!"

__ADS_1


Sarah sudah gelagapan karena aksi pura-puranya di sadari oleh Erland.


"Bukan begitu Mas. Aku sudah lebih baik sekarang" Wajah gugup Sarah tidak mampu menyembunyikan kebohongannya.


Erland tak bersuara tapi pria tampan dan matang itu langsung meraih kopernya dan memasukkan barang-barangnya.


"Kamu mau apa Mas??" Sarah mencegah Erland dengan menahan tangannya.


"Lepas, aku mau pulang sekarang juga. Kalau mau ikut pulang, cepat bereskan barang mu sekarang juga. Kalau mau tinggal dulu juga tak maslah, aku akan pulang sendiri!!"


Daripada melampiaskan kemarahannya pada Sarah saat ini, lebih baik Erland mengemasi barangnya dan segera pulang saat ini juga.


"Tapi Mas, bukannya tiket pesawatnya sudah di batalkan ya??" Bukannya minta maaf, Sarah justru terus berusaha menahan Erland.


"Beli lagi tak maslah, uangku tidak akan habis hanya untuk membeli tiket pesawat"


Ya, karena Erland yang dulu dan sekarang berbeda. Jika dulu bekerja mati-matian untuk mendapatkan biaya sekolah adiknya. Bahkan Erland rela naik sepeda dari rumah ke tempat kerjanya, hanya untuk menghemat uangnya. Kini Erland tidak lagi memusingkan uang yang mengalir ke kantongnya meski masih di bilang CEO dari perusahaan kecil.


"Tapi Mas"


"Aku sudah hampir selesai"


Sarah hanya bisa menurut, beruntung saat ini Erland tidak memarahinya karena kebohongannya itu. Mungkin nanti jika sampai di rumah atau pun harus menghadapi Erland yang akan mendiamkannya selama perjalanan. Tapi itu sudah membuat Sarah sedikit lega.


Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Sarah untuk berkemas karena dia terus saja mendapatkan tatapan tajam dari Erland. Takut jika Erland akan langsung pergi meninggalkannya.


Untuk urusan minta maaf, akan Sarah nanti jika Erland sudah tidak begitu marah padanya.


"Aku sudah selesai Mas"


Tanpa bersuara lagi, Erland langsung menyeret koper miliknya keluar dari hotel yang selama sepuluh hari ini menjadi tempatnya meninggalkan Viola.


Benar saja selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dari 17 jam itu, Erland tetap membisu mendiamkan Sarah. Selama di dalam pesawat Erland terus saja menutup matanya. Dia akan terbangun hanya untuk pergi toilet atau untum minum saja. Selebihnya Sarah yang merasa sebagai orang ading di samping Erland.


Karena tak tahan dengan perlakuan Erland, akhirnya Sarah mencoba meminta maaf pada Erland.


"Mas" Sarah menyentuh tangan Erland yang terlipat di depan dadanya.

__ADS_1


Erland membuka matanya namun hanya melirik sekilas pada Sarah.


"Aku minta maaf" Cicit Sarah.


"Untuk apa??"


"Karena sudah mengulur waktu kepulangan kita" Dengan susah payah Sarah menelan air liurnya.


"Apa alasannya?? Kamu mau bilang cemburu dengan Viola lagi?? Atau mau bilang, ingin menghalangi aku bertemu Viola??" Erland masih menahan suaranya agar tidak meninggikan suaranya.


Erland semakin heran dengan tingkah Sarah akhir-akhir ini yang semakin aneh. Bersikap semaunya dan tidak bisa menahan amarahnya. Bukan lagi Sarah yang lembut dan pekerja keras seperti dulu saat mereka baru saja menjalin hubungan.


"Maaf Mas, aku tidak tau kenapa kalau melihat kamu mulai sibuk menghubungi Viola, hatiku langsung terbakar. Rasa ingin memilikimu seutuhnya semakin memberontak, sehingga akal sehatku tak berfungsi. Aku akui aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri Mas. Aku mohon maafkan aku" Sarah mulai menitikkan butir demi butir air matanya.


"Aku merasa kamu semakin berubah Sarah. Kamu pemarah dan bertindak sesukamu. Sudah berapa kali saja kamu membuat ulah?? Aku selalu memaafkan mu tapi kamu tidak berubah sama sekali"


Sarah hanya terdiam meski hatinya terus saja memprotes suaminya itu. Dia tidak mau di salahkan, baginya sikapnya itu adalah sebagai balasan untuk Viola yang masuk ke dalam rumah tangganya.


"Kali ini aku memaafkan mu lagi, tapi kalau sampai kamu berulah aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan padamu"


"Makasih Mas" Sarah menunjukkan senyum bahagianya karena lagi-lagi dia bisa membuat Erland memaafkannya. Hal itu membuatnya yakin jika Erland teramat mencintainya.


*


*


*


Setelah menempuh perjalanan yang membuat pinggang Erland sakit, akhirnya mereka berdua sampai juga di rumah. Tanpa menghiraukan Sarah di belakangnya, tujuan pertama Erland adalah kamar Viola. Rasanya sudah tak sabar lagi melihat wajah cantik istrinya itu. Serta menghirup dalam-dalam wangi yang begitu memabukkan bagi Erland itu.


Tok..tok..tok..


"Sebentar" Suara lembut itu menyapa Erland dari dalam. Bisa di pastikan jika Viola tidak tau siapa yang mengetuk pintunya. Karena Viola tidak akan pernah mengeluarkan suara lembut itu untuk Erland.


GREEPP...


Belum sempat Viola melihat wajah orang yang mengetuk pintunya. Viola sudah di dorong ke masuk ke dalam kamar dengan sebuah pelukan yang begitu Erat.

__ADS_1


"Abang kangen Vi"


__ADS_2