
Dua bulan berlalu, kini Sarah mulai menuruti apa kata Erland. Dia lebih sering di rumah, pergi ke resto pun hanya sebentar. Belum sampai malam tiba pasti Sarah sudah di rumah.
Hubungan Erland dan Sarah juga kembali membaik. Jadwal tidur Erland juga kembali seperti semula, dan malam ini adalah giliran Erland tidur di kamar Sarah.
Memang Sarah dan Erland kembali dekat, tapi berbeda dengan Viola. Kebaikan bagi orang lain belum tentu baik untuk diri dirinya. Viola merasa kini kembali ada jarak lagi di antara dirinya dan Erland.
Seperti biasa, Viola akan ke dapur saat menjelang dini hari. Perutnya hang semakin membesar membuatnya semakin cepat lapar.
Viola mengusap perutnya yang sudah mengandung janin enam bulan itu. Mencari apapun yang bisa di makan malam-malam begini.
Tapi kekecewaan langsung terbit di wajah Viola. Tadi siang dia lupa untuk mengisi stok kulkasnya dengan makanan.
"Hufffttt nggak ada apa-apa. Mana laper banget" Mata Viola langsung berkaca-kaca. Dia memang merasa lebih sensitif akhir-akhir ini.
Viola berjalan kembali ke kamarnya, namun dia berhenti sejenak di depan tangga. Berharap jika satu-satunya pria yabg tinggal di rumah itu turun menghampirinya.
Namun harapan itu segera di tepis oleh Viola, karena hal itu tak mungkin terjadi. Wanita yang sedang merasa kesepian itu lebih memilih masuk ke dalam kamarnya. Mengambil dompet serta kunci mobilnya.
Daripada tersiksa oleh rasa laparnya, Viola akhirnya memutuskan untuk ke depan mencari sesuatu untuk memenuhi lambungnya yang sedang meronta-ronta itu.
"Nasib-nasib. Gini nih nggak enaknya jadi istri ke dua" Gumam Viola sambil menyalakan mobilnya.
"Perasaan emang nggak enak semua deh" Ralatnya pada kata-katanya sendiri.
Sementara itu Erland yang memang belum bisa tidur langsung melihat ke jendela setelah mendengar suara mobil meninggalkan rumahnya.
"Mau kemana malam-malam begini??"
Tanpa pikir panjang, Erland langsung turun ke bawah ingin mengejar Viola.
Meninggalkan Sarah yang telah terlelap, Erland saat ini benar-benar keluar mencari istri ke duanya itu.
Rasa khawatir lebih mendominasinya saat ini. Bagaimana Erland bisa tenang kala istrinya itu sedang hamil besar dan pergi seorang diri, terlebih lagi tidak meminta ijin kepadanya.
Di dalam mobil Erland juga mencoba menghubungi Viola, namun tak ada jawaban sama sekali.
"Kamu kemana sih yank??" Gumam Erland sambil terus celingukan mencari mobil Viola.
Sampai akhirnya Erland melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali berada di depan sebuah minimarket.
Tapi belum lega rasanya jika Erland belum melihat orang yang membawa mobil itu sampai ke sana.
"Sayang!!" Panggil Erland pada Viola gang sedang asik mengunyah roti di tangannya.
"Ngapain Abang kesini??"
"Justru Abang yang harusnya tanya, kenapa jamu bisa keluar sendirian malam-malam begini??" Tanya Erland dengan sedikit menggeram menahan suaranya agar tidak meninggi.
"Aku lapar, di rumah nggak ada makanan apapun" Jawan Viola acuh. Memang begitu Viola setelah hubungan Sarah dan Erland kembali membaik. Viola kembali ke setelah awalnya yang acuh tak acuh. Jelas itu membuat Erland menjadi pusing.
"Kenapa nggak bilang sama Abang aja, biar Abang yang beli. Kamu nggak perlu keluar sendirian begini" Erland akhirnya memilih duduk di samping istrinya itu.
"Takut ganggu" Viola kembali menjejalkan roti ke dalam mulutnya.
"Abang nggak pernah merasa terganggu sayang" Erland kesal dengan sikap Viola yang tidak ada manis-manisnya kepadanya itu.
"Ya kamu, tapi nanti istrimu marah. Lagian cuma ke depan sini kok. Nggak jauh juga" Viola membuka satu bungkus roti lagi setelah menghabiskan yang lainnya.
__ADS_1
"Kamu juga istri Abang sayang. Mau ke depan ke mana pun tentu saja Abang khawatir. Tapi ngomong-ngomong, setelah Abang sering tidur sama Sarah, kamu kok cuekin Abang terus. Kamu cemburu ya??" Dengan percaya dirinya Erland mengatakan itu pada Viola.
"Dih!!" Viola menatap Erland dengan aneh.
"Ayolah yank, jujur aja. Abang sebenarnya tau kalau kamu cemburu, kamu kesepian kan kalau Abang ngga tidur sama kamu?? Nggak ada yang usap pinggang kamu sampai kamu ketiduran, nggak ada yang peluk kamu, ya kan?? Soalnya Abang juga merasakan hal yang sama"
"Nggak percaya!!" Jawab Viola telak.
Erland mengacak rambut Viola dengan gemas. Istrinya itu selalu berhasil membuat suasana hatinya membaik.
"Kamu mau tau sesuatu nggak??"
"Apa??"
"Setelah dua bulan ini Sarah kembali, Abang belum pernah menyentuhnya. Jadi kamu nggak usah cemburu ya??" Bisik Erland pada Viola.
"Bohong!!" Bantah Viola tanpa pikir panjang.
"Demi apapun!!"
"Aku nggak peduli!! Mau kamu sehari lima kali sama dia juga terserah, dia kan istri kamu juga!!" Ketus Viola, namun tanpa ia sadari, hal itu justru menunjukkan kecemburuannya.
Erland mendekatkan lagi bibirnya pada telinga Viola, seolah-olah takut jika seseorang akan mendengarkan ucapannya.
"Gimana mau sehari lima kali, rudal Abang aja kalau sama dia susah bangunnya"
BURR....
Air mineral yang sedang di minum Viola menyembur seketika.
"Tapi Abang jujur yank. Abang juga nggak tau kenapa saat sama dia yang ada di pikiran Abang itu cuma kamu" Jujur Erland dengan wajah frustasinya.
"Itu namanya kamu nggak bisa adil. Kamu udah dzolim sama dia, karena saat sama dia kamu mikirin perempuan lain"
Sebenarnya ada rasa senang di hati Viola, karena Erland masih memikirkan dirinya meski sedang berama Sarah. Tapi Viola juga tidak percaya seratus persen karena bisa saja itu hanya bualan suaminya belaka.
"Kamu kan bukan perempuan lain yank. Kamu istri Abang. Dulu waktu Abang liburan keluar negeri sama Sarah aja, Abang bayangin wajah kamu baru dia bisa bangun"
"Dasar omes!! Dah ah mending pulang aja!!"
"Tungguin Abang yank!!" Erland mengejar Viola yang sudah mendekati mobilnya.
"Mau apa?? Kan bawa mobil sendiri!!" Tunjuk Viola pada mobil Erland yang terparkir di sebelah mobil Viola.
"Abang lupa" Erland menepuk jidatnya.
"Ya udah kamu jalan duluan, Abang di belakang kamu"
"Dasar tua!!" Gumam Viola melihat Erland yang sudah masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Kedua mobil itu sudah kembali ke tempatnya masing-masing, sedangkan kedua orang itu juga sudah keluar dari mobilnya sendiri-sendiri.
"Kamu kok nggak beli makanan lagi, nanti kalau lapar lagi gimana??" Erland sengaja merangkul bahu Viola saat memasuki rumah.
"Jam segini udah enggak. Udah ah sana masuk ke kamar Sarah. Aku mau tidur lagi!!" Viola mendorong bahu Erland menjauh.
"Nggak mau tidur sama Abang??"
__ADS_1
Viola hanya mencebikkan bibirnya sebagai jawaban.
Tanpa mereka sadari ternyata Sarah sudah menunggu kepulangan mereka berdua sejak tadi.
"Kalian lihat saja nanti. Aku diam bukan berarti aku mengalah. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk merebut semuanya kembali" Kedua tangan Sarah mengepal dengan kuat.
*
*
*
"Akhirnya Abang bisa melihat calon anak kita yank" Erland mengusap perut Viola.
Mereka saat ini sudah di depan ruangan Niken. Bulan lalu Niken pergi keluar kota jadi baru kali ini Erland bisa menemani Viola memeriksakan kandungannya.
"Udah Bang jangan di usap terus, malu di lihat orang banyak" Bisik Viola pada Erland.
"Memangnya kenapa?? Biar semua orang tau kalau ini anak Abang!!" Viola mengerlingkan matanya jengah, sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Erland sudah berkata seperti itu.
"Nyonya Viola!!" Panggil seorang perawat.
"Iya, saya!!" Erland justru merasa gugup mengikuti Viola dari belakang. Pasalnya ini untuk pertama kalinya dia menemani Viola.
"Hai Vi" Sambut Niken.
"Hay, aku nggak sabar mau lihat anakku sudah sebesar apa Ken" Viola sangat antusias di deoan Niken.
"Wah sekarang sama Kak Erland juga ya??" Erland hanya tersenyum canggung karena Niken pasti tau Erland mangkir pada waktu itu.
"Iya Dokter Niken" Jawab Erland dengan sungkan.
"Ya udah yuk, nggak usah lama-lama. Langsung aja kita lihat"
Viola juga sudah siap berbaring di bantu oleh salah satu perawat Niken. Seperti biasa, Niken menempelkan alatnya di atas perut Viola.
"Lihat Vi, anak kamu sudah semakin membesar. Jarinya juga sudah terbentuk, wajahnya semakin jelas"
Kedua tangan Viola dan Erland saling menggenggam. Rasa bahagia menyeruak begitu saja di hati masing-masing. Pipi yang basah itu juga menandakan rasa bersyukur dari Erland atas hadirnya janin yang mungil itu di perut Viola.
Deg..Deg..Deg.. Deg..
"Nah ini suara detak jantungnya. Jangan kaget karena memang lebih cepat dari milik kita. Namun ini normal kok"
Suara itu begitu indah terdengar di telinga Erland dan Viola, hingga bisa membuat mereka semakin deras mengeluarkan air mata.
"Saat ini juga sudah bisa melihat jenis kelaminnya loh. Anak kalian itu.."
"Jangan!!" Ucap Viola dan Erland bersamaan.
"Biar jadi kejutan buat kita aja, yang penting janin dan Ibunya sehat" Jelas Erland yang sempat menghentikan ucapan Niken.
"Ohh gitu, ya udah nggak papa. Untuk si janin sama Viola sehat semua kok Kak. Yang penting Kak Erland harus selalu menjaga Viola, jangan sampai stres, pikirannya harus selalu tenang dan bahagia"
"Pasti, aku pasti akan menjaga Viola" Erland mengecup pucuk kepala Viola dengan lembut.
"Makasih sayang, dia hadiah terindah buat Abang" Bisiknya di telinga Viola.
__ADS_1