
Erland memasuki ruangan yang akan menjadi kamar Viola untuk beberapa hari ke depan. Ruangan besar dan paling mahal di rumah sakit itu sengaja di sewa Dito untuk anaknya.
Setelah menunggu lebih dari dua jam pasca operasi, akhirnya Viola di anatar juga ke dalam ruangan itu.
Viola masih terbaring tak berdaya dengan wajahnya yang pucat. Mungkin saat ini Viola juga belum tau jika dia telah melahirkan anaknya. Karena sejak di mulainya operasi hingga saat ini, Viola juga belum sadarkan diri sama sekali.
Semua orang yang ada di sana mendekati Viola satu per satu. Mereka semua membisikkan doa kepada Viol. Harapan mereka tentunya untuk kesadaran Viola.
Hingga yang paling terakhir adalah Erland, suami wanita yang belum selesai berjuang demi kelahiran bayinya. Tentu saja perjuangan Viola belum selesai, karena sampai saat ini Viola belum juga membuka matanya.
Semua terdiam saat Erland sudah duduk di samping Viola. Meski di dalan sana tak ada satu orang pun yang tidak bersedih, namun mereka semua tau jika level kesedihan mereka dengan Erland sangatlah berbeda. Biar bagaimanapun Erland adalah suami Viola. Kesedihannya jelas lebih berlipat ganda. Istri yang belum juga sadar dan juga hampir saja kehilangan anaknya.
"Mami, sebaiknya kita pulang saja. Berikan kesempatan pada Erland bersama Viola" Bisik Vino pada Via.
"Tapi Vio belum sadar Vin" Via menolak ajakan Vino.
"Dokter bilang, Viola belum bisa di pastikan kapan sadarnya Mi. Pikirkan juga kesehatan Mami. Nanti kalau Viola sadar Vino antar Mami kesini lagi"
"Benar kata Vino, Mi. Ayo kita pulang dulu, biar Erland yang menjaga Viola di sini" Ucap Dito.
Ini sudah ke dua kalinya Via melihat putrinya berbaring tak sadarkan diri setelah empat tahun yang lalu. Tentu saja Via masih ingat dengan jelas saat-saat di mana Dokter mengatakan jika Viola sudah tidak ada harapan hidup sama sekali. Tentu saja saat ini Via juga merasakan hal yang sama.
"Baiklah kalau begitu" Dengan terpaksa Via menuruti Vino dan juga suaminya. Meski ada rasa tak rela di dalam hatinya untuk meninggalkan Viola.
"Ayo kita pulang dulu yank" Endah hanya mengangguk mengikuti suaminya.
"Aku ajak Ibu dulu" Vino mengangguk.
"Gue sama yang lainnya pulang dulu. Kasihan Ibu dan Mami kalau mereka masih di sini. Biarkan mereka istirahat di rumah dulu. Nanti kalau ada apa-apa langsung kabari gue" Ucap Vino setelah menepuk pundak Erland karena pria itu tampak melamun dan tak menghiraukan keadaan di sekitarnya.
"Iya, gue titip Ibu sama lo" Vino pun mengangguk atas permintaan Erland itu.
__ADS_1
"Abang, aku sudah menghubungi Edgar untuk membawakan Abang baju ganti. Abang tentu harus sudah bersih saat Viola bangun nanti kan?? Abang tidak mau kan kalau dia syok melihat keadaan Abang seperti ini??" Ucap Endah.
"Iya Ndah. Terimakasih ya, kamu sudah perhatian sama Abang. Jaga Ibu baik-baik agar Ibu tidak kelelahan" Endah mengangguk patuh pada Kakaknya itu.
Mereka berangsur-angsur mulai keluar, Ibu, kedua mertua Erland dan juga Endah adiknya.
Kini di dalam ruangan itu hanya tersisa Yovi dan Beca yang masih duduk di sofa. Namun kelihatannya mereka berdua juga ingin mengikuti jejak Vino untuk pergi dari sana.
"Er, gue.."
"Vi, gue boleh minta tolong sama lo??" Erland lebih dulu memotong omongan Yovi.
"Apa gang bisa gue bantu??" Beca ikut mendekat untuk mendengarkan permintaan Erland kepada Yovi.
Namun Beca tak bisa mendengar apapun karena Erland lebih dulu menyelesaikan ucapannya sebelum Beca sampai di dekat ranjang Vino. Apalagi Erland sengaja berbisik kepada Yovi.
"Gue ngerti, gue akan ke sana sekarang" Ucap Yovi dengan tegas.
"Udah kamu tinggal ikut aku aja. Nggak usah banyak omong!!" Ucap Yovi membuat Beca mendengus.
"Benar Beca, ikut Yovi saja untuk membantunya" Beca semakin kesal dengan Erland.
"Gue pergi dulu!!" Ucap Yovi yang di setujui oleh Erland.
"Ayo mau ikut nggak??" Yovi kembali berbalik ke belakang karena Beca tak kunjung mengikutinya dari belakang.
"Ckk... iya ini jalan!!" Gerutu Beca.
Mereka berdua pun mulai meninggalkan ruangan Viola. Hanya menyisakan seorang pria yang kini menunjukkan wajah sedihnya.
Bagaimana tak sedih, menangis pun tak malu bagi Erland saat ini. Takdir memang sedang mempermainkannya. Disaat Erland baru saja merasakan bahagia karena bisa lepas dari Sarah dan ingin membangun harapan baru bersama Vioda dan anaknya. Kini harus menghadapi ujian seperti ini.
__ADS_1
"Sayang, cepatlah bangun. Anak kita ternyata laki-laki loh. Kamu belum melihatnya kan?? Dia tampan dan begitu menggemaskan" Erland tersenyum dengan pilu, mengingat putranya yang hampir saja pergi sebelum Viola melihatnya.
"Abang senang sekali karena akhirnya Abang punya teman laki-laki di rumah. Abang nggak sabar menunggunya cepat besar, pasti dia akan merecoki Abang untuk menemaninya bermain"
Erland terus menatap wajah Viola yang begitu damai. Wajah cantik itu terlihat begitu damai layaknya putri tidur.
"Sayang" Erland mengangkat tangan Viola lalu menempelkannya pada pipi Erland. Merasakan lembutnya tangan Viola di wajahnya.
"Lekas buka mata kamu. Lihatlah Abang disini!! Abang sendirian, Abang ketakutan melihat kamu tak kunjung membuka mata seperti ini. Jangan biarkan Abang melihat kamu berbaring berhari-hari di sini seperti dulu. Mungkin dulu Abang tak punya perasaan apapun kepadamu selain rasa iba. Tapi kali ini beda sayang"
"Abang sakit, Abang hancur dan terpuruk. Abang butuh kamu dalam hidup Abang. Tidak, sekarang bukan hanya Abang, tapi juga anak kita" Aur mata Erland mulai turun hingga membasahi tangan Viola.
"Apa kamu tega melihat Abang hanya berdua bersama anak kita?? Hemm?? Jawab Abang!!"
Erland terus saja mengoceh meski tak ada sahutan sama sekali dari Viola.
"Kamu bahkan belum pernah membalas pernyataan cinta Abang"
Meski Erland terus mengucapakan kata cinta untuk Viola meski tanpa balasan. Erland tetap sabar, dia tau kalau istrinya butuh waktu.
Tapi melihat Viola akhir-akhir ini begitu perhatian kepadanya. Tak menolak apapun segala sentuhan dari Erland, itu membuat Erland menyimpulkan jika perasaan Viola masih sama seperti dulu. Erland tak memaksa Viola untuk mengatakannya, toh Viola juga tetap berada disisinya. Erland dengan sabar menanti kata cinta itu keluar dengan sendirinya dari bibir Viola. Tapi untuk saat ini Erland begitu ingin mendengarnya langsung dari Viola.
"Apa kamu selama ini hanya pura-pura saja untuk menjaga perasaan Abang?? Sebenarnya cinta kamu untuk Abang sudah benar-benar hilang kan??"
Ucap Erland terdengar putus ada kali ini. Sejak tadi dia tak mendapat respon apapun dari Viola.
"Abang cinta sama kamu Viola. Abang cinta!!"
Erland menggeram mengataka kata cinta itu. Tak seperti biasanya yang begitu lembut. Tersirat emosi yang sangat dalam dari ungkapan perasaan itu.
Namun sedetik kemudian Erland menundukkan wajahnya. Menjadikan tangan Viola sebagai tumpuan untuk kepalanya di atas ranjang itu. Erland mulai terisak, kembali menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
__ADS_1