Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
152. Melahirkan


__ADS_3

Kepulangan Viola dan Erland langsung di sambut dengan kabar Endah yang harus di larikan ke Rumah sakit karena mengalami pecah ketuban.


Vino sebagai suami siaga yang selalu menemani Endah kini begitu setia di samping Endah. Perasaan Vino sungguh tak tenang menghadapi Endah yang bahkan terlihat lebih tenang.


"Bang, jangan khawatir gitu dong. Dokternya kan udah bilang kalau nggak perlu khawatir karena sudah di lakukan tindakan dan tinggal menunggu bukaan lengkap saja. Setelah itu kita akan segera bertemu sama anak kita" Endah mengusap wajah Vino dengan lembut.


"Sayang, gimana Abang nggak khawatir?? Kamu bertaruh nyawa untuk melahirkan anak kita. Abang juga pernah melihat perjuangan Viola saat melahirkan seperti apa. Mana bisa Abang tenang-tenang aja??"


Sebenarnya Endah pun merasa takut karena hal ini di luar perkiraannya. Tapi dia tidak mau berpikir terlalu jauh yang bisa berpengaruh terhadap proses persalinannya.


"Ya udah kalau gitu, kita berdoa aja ya Bang. Semoga Allah memberikan aku kekuatan untuk melahirkan anak kita. Semoga Allah juga memberikan kesempatan untuk merawat anak kita hingga tua nanti" Endah masih memberikan senyumnya yang begitu meneduhkan untuk suaminya itu.


"Tentu saja, Abang tak pernah berhenti berdoa untuk keselamatan kalian berdua. Kalian adalah segalanya untuk Abang"


Cup...


Kecupan manis di berikan Vino di kening Endah. Kecupan yang sangat singkat namun syarat akan cinta dan kasih sayang.


"Semangat ya, Abang akan selalu di sini menemani kamu"


Tak berselang lama setelah itu, perut Endah mulai merasakan kontraksi. Dari yang awalnya sesekali menjadi semakin sering dan begitu menekan di pinggang dan perut bagian bawahnya.


Endah meringis menahan sakit yang semakin sering ia rasakan. Tangannya menggenggam erat tangan Vino, menyalurkan semua rasa sakit pada suaminya itu.


Vino berkali-kali mengusap peluh yang membasahi wajah Endah. Dengan terus memanjatkan segala bentuk doa untuk istri dan anaknya.


"Sakit Bang" Lirih Endah mencoba untuk menahan agar tidak mengejan sesuai dengan perintah Dokter.


"Istighfar sayang, Allah pasti akan membantumu" Vino terus mencoba menenangkan Endah.


"Tapi kali ini sakit banget Bang. Kayaknya bukaannya udah lengkap deh" Viola semakin merasakan sakit pada pinggangnya.


"Apa?? Tunggu sebentar, Abang cari Dokter dulu" Vino berlari mencari Dokter jaga yang sejak tadi memeriksa keadaan Endah.


Sementara Endah yang sudah tidak kuat menahannya tiba-tiba mengejan dengan sendirinya. Bukan sengaja namun dorongan dari dalam yang sangat mendesak membuat Endah tidak bisa menahannya.


"Abaaanngggg!!" Teriak Endah dengan kencang karena merasakan sesuatu yang basah mengalir dari bagian bawahnya.


Vino datang kembali bersama Dokter dan perawat, mereka semua langsung menangani Endah setelah melihat apa yang terjadi dengan Endah.

__ADS_1


"Tolong tahan sebentar Bu, jangan mengejan tanpa arahan dari saya" Ucap Dokter itu.


"Tapi saya sudah tidak kuat Dokter" Endah terus mencengkeram tangan Vino.


"Mari ikuti aba-aba dari saya"


Dokter dan perawat tadi mulai sibuk dengan tugasnya masing-masing. Endah juga mulai mengikuti apa yang Dokter katakan.


"Sekali lagi!! Satu..dua..tiga..dorong!!"


"Akkkhhhh....!!" Endah memekik merasakan semua tulangnya seperti terlepas dari badannya.


"Oekk... Oeekkk" Suara indah itu akhirnya terdengar di ruangan itu.


"Alhamdulillah" Semua mengucap syukur setelah bayi kecil berkulit kemerahan itu sudah ada di dalam gendongan Dokter.


"Kamu berhasil sayang, anak kita sudah lahir" Vino menyeka semua keringat di dahi Endah dengan tangannya.


"Anak kita sudah lahir Bang" .


Vino mengangguk dengan haru, kali ini dia benar-benar menangis bahagia. Vino menghujani wajah Endah dengan kecupan-kecupan kecil.


Sesekali Endah memejamkan matanya karena merasa terlalu lelah. Mata itu rasanya ingin sekali terpejam. Namun dia ingin sekali menggendong anaknya untuk pertama kali.


"Selamat Bu, putrinya sehat dan lengkap. Cantik seperti Mamanya"


Bayi kecil yang cantik itu akhirnya diserahkan kepada Ibunya. Endah meraih bayinya ke dalam dekapannya. Salah seorang perawat juga membantu Endah untuk melepaskan kancing bajunya. Ini dilakukan untuk mera ngsang bayi agar mencari sumber asi miliknya sendiri.


Vino dan Endah begitu bahagia sampai air mata terus mengalir dari mata mereka. Kebahagiaan yang tiada terkira untuk keduanya. Hadirnya buah cinta mereka, salah satu bukti cinta mereka.


Seorang bayi kecil yang mewarisi garis besar wajahnya. Jika terus di perhatikan, bayi itu seperti Vino versi perempuan, atau Viola versi kecil.


Endah masih belum bisa berkata-kata. Hanya merasakan bayinya yang terus bergerak di atas dadanya saja membuat kebahagiaan yang begitu membuncah.


Sementara itu Dokter dan perawat masih menyelesaikan tugasnya kepada Endah. Mereka masih terus berusaha mengeluarkan plasentanya.


"Kami bersihkan bayinya dulu ya Ibu"


Rasanya belum puas menggendong bayinya, tapi Endah harus merelakan bayinya di bawa pergi oleh perawat yang akan membersihkan bayinya dari darah yang menempel pada tubuh mungilnya.

__ADS_1


"Nanti kamu bisa menggendongnya lagi sayang" Bisik Vino karena melibat kekecewaan pada mata Endah.


"Maaf Bu, tahan sedikit ya. Kita akan mengeluarkan plasentanya" Ucap Dokter tadi karena plasenta milik Endah tak kunjung keluar. Jadi dengan terpaksa Dokter itu melakukan tindakan yang mungkin menimbulkan rasa sakit pada Endah.


Vino yang tidak tau apa-apa bab persalinan hanaya bisa diam melihat Dokter memasukkan alat ke dalam k*****an Endah.


"Bang!!" Lirih Endah menahan rasa ngeri di dalam perutnya.


"Tahan sebentar ya" Ucap Vino meski merasa takut dengan apa yang di lihat.


Tak berselang lama Dokter tadi menghela nafasnya dengan lega. Plasenta yang bentuknya seperti tindak utuh lagi itu akhirnya bisa juga keluar dari perut Endah.


Bukan hal yang aneh lagi bagi Dokter kandungan menangani hal sepeti hang Endah alami saat ini. Namun tetap saja ada rasa tegang saat menanganinya karena hal itu menyangkut nyawa seseorang.


Setelah Dokter tadi mengeluarkan plasenta itu dan juga telah menjahit di beberapa bagian yang robek akibat Endah yang sebelumnya telah mengejan tanpa arahannya , lalu dia menyerahkan sisanya kepada perawat yang sejak tadi membantunya.


"Sudah selesai, tinggal tugas kalian untuk membersihkannya"


"Baik Dokter"


Sementara Endah merasakan matanya semakin berat. Rasanya susah tidak mampu lagi untuk menahannya. Bahkan dia sudah beberapa kali tidak mendengar dengan jelas suara-suara di sekitarnya.


"Sayang" Panggil Vino.


"Bang, aku ngantuk Bang" Jawab Endah namun dengan matanya yang setengah terpejam.


"Istirahatlah sebentar" Ucap Vino yang tak tak tega melihat Endah begitu kelelahan, karena perawat-perawat tadi belum juga selesai membersihkan Endah.


"Dokter!!" Teriak salah seorang perawat.


Vino juga ikut terkejut, dia belum tau apa yang menyebabkan perawat itu berteriak.


Sementara perawat yang satunya lagi mulai mengecek denyut nadi Endah. Dia juga memasangkan selang oksigen pada Endah.


"Suster, apa yang sebenarnya terjadi??" Tanya Vino dengan panik.


"Ada apa??" Dokter yang tadi sudah pergi kini kembali lagi karena mendengar suara teriakan tadi.


"Pasien mengalami pendarahan Dok!!"

__ADS_1


__ADS_2