Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
131. Ke rumah Viola


__ADS_3

"Kalian??"


Saat pintu rumah Viola terbuka, dua orang yang termasuk dekat dengan Viola itu sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Hay Vi" Sapa Beca.


"Ngapain malam-malam kaya gini ke sini??"


Beca dan Yovi kompak menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Siapa yank??" Erland datang dari belakang Viola.


"Loh kalian kenapa nggak masuk??" Tanya Erland karena tamunya itu masih berdiri di luar pintu.


"Belum di kasih masuk sama yang punya rumah" Ucap Beca asal.


Kali ini dia dengan leluasa datang ke rumah Viola. Setelah sebelumnya enggan menginjakkan kakinya ke sana karena adanya Sarah.


Viola menggeser tubuhnya memberi jalan Beca dan Yovi agar bisa masuk.


"Kok tumben datang kesini tanpa kasih tau dulu??" Tanya Viola pada Beca.


Mereka berempat duduk saling berhadapan dengan Viola yang duduk di samping Erland.


"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sama kalian" Yovi membuka suaranya.


Viola dan Erland saling berpandangan. Isi dalam kepala mereka sama, mereka merasa aneh dengan kedua orang di depannya itu.


"Tunggu, apa terjadi sesuatu?? Kenapa kalian berdua terlihat aneh??" Selidik Erland pada Yovi.


Yovi menarik tangan Beca ke atas lututnya. Menggenggamnya di depan Viola dan Erland.


"Aku tau ini kabar yang cukup mengejutkan bagi kalian. Kita berdua memutuskan untuk menikah"


Tidak ada sahutan sari pasangan suami istri itu. Mereka hanya bisa bengong masih mencerna apa yang Yovi katakan itu.


"Me ni kah??" Viola sampai terbata-bata.

__ADS_1


Tentu saja Viola terkejut, karena selama ini Beca mengatakan jika hubungannya dengan Yovi hanya sebatas teman. Ditambah lagi Yovi yang masih terus mengatakan jika dia mencintai dirinya. Viola bukan kecewa karena Yovi akhirnya memilih wanita lain. Tapi Viola tak yakin perasaan Yovi bisa berubah secepat itu.


"Iya" Cicit Beca.


"Kenapa??" Tanya Viola yang berhasil menarik perhatian ketiga orang di sana.


"Maksud aku, kenapa mendadak seperti ini. Setau aku kalian tidak menjalin hubungan yang serius. Apa ada yang kalian sembunyikan dari ku??" Viola benar-benar menatap Beca dengan dalam.


Dengan tatapan Viola yang begitu mengintimidasi itu sudah membuat Beca menyerah. Terdengar helaan nafas darinya dengan berat.


"Gue emang nggak pernah bisa sembunyikan apapun dari lo Vi"


Beca mendadak lemas, dia membuka aibnya sendiri di depan sahabatnya. Beca dan Yovi mulai menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Viola dan Erland.


*Br***sek lo Vi!! Gaya lo ngatain gue serakah karena istirnya dua. Lah ini malah lo lebih b*jat dari gue" Cibir Erland.


"Kalau mau kaya gituan, nikahin dulu Vi. Habis itu lo bebas ngelakuin kapan aja, gratis dan nggak bakalan habis. Awww....!!" Erland meringis karena mendapat cubitan dari Viola.


"Apa sih sayang" Keluh Erland merasa kesakitan.


"Kok Abang bisa bilang kaya gitu?? Siapa bilang bisa kapan aja. Selama pernikahan kita aja, Abang baru mendapatkannya sekali" Bisik Beca pada Erland.


"Gue tau kalau gue bre**sek. Makanya gue mau tanggung jawab. Jadi stop ngata-ngatain gue. Harusnya lo seneng karena nggak ada lagi yang mau rebut Viola dari lo" Yovi mencoba memprovokasi Erland.


"Kak, kamu udah mau nikahin Beca loh. Tapi kenapa kamu masih bilang kaya gitu?? Aku tau kalau kamu belum bisa mencintai Beca, tapi setidaknya jaga saja perasaan Beca. Aku berani jamin kok kalau dia wanita yang baik" Ucapan Viila membuat Beca terharu.


Beca yang tak punya siapa-siapa lagi di Dunia ini memilih memberitahu Viola terlebih dahulu. Baginya, Viola adalah keluarga satu-satunya, apalagi daerah mereka berdua sudah benar-benar menyatu.


"Aku hanya bercanda Vi. Sejak aku mengatakan ingin menikahi Beca. Aku sudah berusaha menghilangkan semua perasaanku kepadamu. Tapi untuk perasaanku pada Beca, kita berdua sepakat untuk sama-sama belajar. Jadi aku minta doa dari kalian, terutama dari kamu Viola, karena kamu adalah satu-satunya orang yang selalu bersama Beca selama ini"


Viola tidak bisa berkata apapun. Dia juga tidak mungkin menghalangi Yovi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


"Kalau itu sudah keputusan kalian. Aku bisa apa?? Apalagi kalau nanti Beca sampai hamil. Lebih baik memang lebih cepat kalian menikah. Aku hanya bisa memberikan doa yang terbaik untuk kalian" Ucap Viola dengan pasrah.


"Violaaa" Beca menghambur ke pelukan Viola. Rasanya bisa seharu itu saat pernikahan mereka saja baru rencana. Apalagi saat Beca, benar-benar duduk di samping Yovi sebagai calon penggantinya.


Kedua sahabat itu saling memeluk melampiaskan semua perasaannya. Sedih karena mereka benar-benar akan mengarungi bahtera rumah tangganya masing-masing mulai sekarang. Mereka tidak lagi wanita yang bebas seperti dulu Juga bahagia karena akhirnya Viola bisa melihat sahabatnya dipersunting pria seperti Yovi.

__ADS_1


"Sudah jangan nangis. Belum apa-apa udah nangis. Gimana kalau pas hari pernikahan?? Bisa longsor make up lo" Canda Viola.


Beca melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang tadi menyeruak begitu saja.


"Vi, Besok rencananya Kak Yovi sama kedua orang tuanya akan datang ke rumah Papi. Mereka akan melamar gue secara resmi, karena selama ini mereka yang menjadi orang tua gue. Jadi gue mohon sama lo Vi. Jangan katakan apapun sama Papi dan Mami tentang penyebab pernikahan ini terjadi ya?? Gue malu karena gue udah membuat mereka kecewa"


"Lo tenang aja. Gue nggak bakalan bilang apapun sama mereka"


Sekali lagi Beca memeluk Viola. Dia masih belum percaya dengan apa yang di hadapinya saat ini. Memang dia yang mengajak Yovi menikah, namun tidak tau jika jalannya akan seperti ini.


"Udah malam Vi, aku mau antar Beca pulang dulu" Ucapan Yovi itu menghentikan Beca dan Viola yang sedang asik membagi perasaan.


"Baiklah, kalian hati-hati. Besok aku dan bang Erland akan menunggu kamu dan orang tua kamu rumah Papi" Ucap Viola pada Yovi.


"Aku pasti datang" Ucap Yovi dengan tegas.


"Kalau gitu, aku pulang dulu ya Vi??"


"Hemmm, kalian hati-hati"


Viola dan Erland mengantarkan calon pengantin itu sampai keluar rumah.


Mobil Yovi juga mulai meninggalkan halaman rumah Erland.


"Kenapa??" Yovi melihat Beca yang menghembuskan nafas kasarnya.


"Udah sedikit lega aja"


Tanpa sadar tangan Yovi mengusap kepala Beca dengan lembut yang langsung membuat Beca mematung seketika.


"Besok masih ada satu lagi yang harus kita hadapi. Tapi aku yakin, besok juga akan berjalan lancar seperti yang kita harapkan" Tangan Yovi masih asik bergerak dengan pelan di kepala Beca.


"I-iya" Beca tak bisa menyembunyikan kegugupannya.


"Kalau gitu, jangan minum obat penunda kehamilan lagi ya. Jika memang dia hadir di dalam perutmu, aku juga bahagia menyambutnya. Mungkin cara kita menghadirkan dia ke dunia ini memang salah, tapi dia tidak salah sama sekali. Jadi jangan menolak kehadirannya ya??"


Baru perlakuan manis seperti itu saja sudah membuat Beca senam jantung.

__ADS_1


"Iya Kak"


"Apa Kak Yovi benar-benar serius dengan ucapannya untuk belajar mencintaiku?? Apa ini salah satu usahanya??"


__ADS_2