Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
81. Ke rumah Ibu


__ADS_3

Melihat reaksi Erland seperti itu membuat rasa lapar Viola hilang seketika. Ia memilih meletakkan bakso yang ia dapat dari Yovi di meja makan. Duduk menatap bungkusan plastik yang masih panas itu sambil merenung.


"Kenapa nasibku seperti ini?? Terjebak pernikahan dengan pria yang aku cintai. Bukan kebahagiaan yang aku dapat melainkan pesakitan yang ku terima"


"Seikhlas apapun bibirku berkata, tapi hatiku selalu menolak. Memang hatiku tidak pernah berbohong kalau dia tidak pernah ingin berbagi. Sampai kapanpun hati ku tidak akan pernah menerima jika pernikahan ini terus berlanjut dengan dua wanita dalamnya"


"Ya Allah, setelah anakku lahir, ku pasrahkan semuanya kepada-Mu. Jika perpisahan menjadi jalan terbaik demi kesembuhan hatiku. Maka aku lebih memilih jalan itu"


Viola berlalu menuju kamarnya. Kembali ke tempat dimana Viola menyembunyikan diri setiap harinya. Selama satu bulan ini dirinya merasa sepi di rumah itu. Tak dapat di pungkiri jika hubungannya dengan Erland yang sedang tidak baik-baik saja itu membuatnya sedikit kesepian. Kuliahnya juga sudah selesai, ingin pergi ke rumah Maminya juga tak ingin membuat orang tuanya tau tentang masalah rumah tangganya.


-


-


Sejak kejadian malam itu, hubungan Viola dan Erland juga semakin renggang. Jika kemarin Erland akan terus membujuk Viola, maka berbeda dengan saat ini. Erland tak menegur Viola sama sekali, dia bahkan tak lagi tidur di depan kamar Viola. Mereka begitu acuh tak acuh satu sama lain.


Tapi berbeda dengan Viola dan Erland, bagi Sarah diamnya mereka adalah kebahagiaan untuknya. Tandanya rencananya mulai berbuah manis. Tinggal menunggu waktu panen saja untuk menikmati hasilnya.


Sarah sekarang tak banyak bicara, tak juga banyak menuntut Erland, karena menurutnya posisinya saat ini masih aman. Tinggal menunggu menaburkan sedikit pupuk saja di saat dirinya merasa terancam maka dia yakin semuanya akan kembali seperti semula.


"Mau nasi goreng atau roti Mas?? Biar aku ambilkan" Sarah dengan telaten mulai melayani Erland seperti dulu.


Mereka hanya berdua duduk di meja makan, dan hal itu sudah terjadi sejak perang dingin itu mulai berlangsung.


"Roti saja" Jawab Erland dengan singkat.


Ceklek..


Suara pintu kamar Viola yang terbuka membuat Erland menajamkan pendengarannya meski dia menahan kepalanya agar tak berpaling menatap Viola.


"Mau kemana kamu Vi, kok udah rapi?? Nggak sarapan dulu??" Tanya Sarah yang melihat Viola justru berjalan keluar.


"Ada urusan, dan aku tidak lapar" Jawab Viola lalu kembali melangkah.


"Kenapa dia Mas?? Aneh sekali, dia bahkan tidak meminta ijin darimu. Seolah-olah kamu tidak penting baginya" Sarah melihat rahang Erland yang terlihat mengeras.


"Tidak tau, aku pergi dulu!!" Erland lalu beranjak membawa rotinya yang baru saja di oles selai coklat kesukaannya.


"Loh Mas!! Mas!!" Teriak Sarah mencoba menahan Erland namun tiba-tiba tertawa keras dengan sendirinya setelah kepergian Erland.


*


*


*


Erland membawa rasa kesalnya hingga sampai di kantor. Niatnya tadi ia ingin mengejar Viola, namun ternyata istrinya itu sudah pergi dengan cepat sampai-sampai tak memberikan waktu bagi Erland untuk mengejarnya.


"Aku harus bagaimana Ya Allah, tunjukkanlah jalan untukku" Erland meraup wajahnya yang putih bersih itu.


Dan sepertinya Allah langsung mendengarkan doanya ketika dering ponselnya berbunyi.

__ADS_1


"Ibu??" Gumamnya.


"Halo Bu, ada apa??" Erland takut terjadi apa-apa pada Ibunya karena pagi-pagi sudah menghubunginya.


"Erland, kamu ini gimana sih?? Istrinya hamil besar kok di biarin datang ke sini sendirian. Kamu nggak takut kalau dia kenapa-napa di jalan??"


"Apa Bu?? Jadi Viola sekarang ada di rumah Ibu??"


"Kenapa kaget begitu?? Jangan bilang kamu tidak tau kalau Viola kesini ingin membahas acara tujuh bulanan anak kalian" Erland bisa mendengar Ibunya menggeram di seberang sana.


"Erland ke sana sekarang!!"


Erland langsung menutup panggilan dari Ibunya. Senyumnya mengembang begitu saja menyertai langkahnya yang lebar keluar dari ruangannya.


"Terimakasih ya Allah, Engkau begitu cepat mengabulkan doaku" Syukurnya dalam hati.


*


*


*


"Assalamualaikum Ibu??" Ucap Erland lantang dari pintu masuk rumahnya.


"Waalaikumsalam, pelan-pelan Er" Jawab Ibunya.


Pandangan Erland langsung tertuju pada Viola yang sedang duduk di meja makan menikmati kue dari toples yang di peluknya.


"Kenapa nggak bilang kalau mau kesini?? Kan tadi Abang bisa antar kamu dulu" Erland mengusap kepala Viola dengan sayang.


"Bilang aja kamu itu nggak perhatian sama Viola jadinya nggak tau apa-apa tentang istri kamu" Ketus Gendis pada anaknya sendiri.


"Bukan begitu Bu, kita..."


"Tadi Vio memang nggak bilang sama Bang Erland kok Bu. Akhir-akhir ini Bang Erland sibuk jadi Vio nggak mau ganggu aja" Potong Viola.


"Anak ini memang dari dulu gila kerja"


"Kan Erland kerja keras buat kita semua Bu" Erland mencoba membela dirinya sendiri.


"Iya, iya Ibu tau. Ibu cuma khawatir sama kesehatan kamu kalau kerjanya nggak tau waktu" Sebagai seorang Ibu tentunya bangga melihat anaknya bisa sesukses Erland, tapi di samping itu dia juga khawatir akan kesehatan anaknya.


"Iya Bu, Erland ngerti maksud Ibu kok" Erland memeluk Ibunya sekilas.


"Ya udah, terus gimana rencana kalian tentang tujuh bulanan itu. Kapan tanggalnya?? Ibu bisa bantu apa??" Pertanyaan Gendis membuat Erland langsung Viola. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya karena maslaah sebesar ini pun Viola enggan berbicara pada Erland.


"Kalau untuk tanggalnya, Vio ingin setelah pernikahan Bang Vino dan Endah saja, biar sudah nggak repot. Terus untuk yang lainnya Viola nggak tau masalah tujuh bulanan itu kaya apa. Makanya Viola minta tolong sama Ibu" Jelas Viola.


"Kalau masalah acaranya biar Ibu saja. Ibu punya kenalan yang sering mengurus acara kaya gitu. Kalau tempatnya di rumah atau di sini saja. Acara sakral seperti ini tidak usah yang mewah-mewah, sederhana saja yang penting doanya" Ucap Gendis yang langsung di setujui oleh Viola dan Erland.


"Nanti biar Erland yang cari EO untuk mengurus rumah selama acara Bu" Gendis mengangguk setuju.

__ADS_1


"Tapi Viola maunya ada pengajian Bu, terus kita ngundang anak yatim gitu"


"Kalau gitu biar siang acaranya terus malam atau sorenya pengajian gitu. Gimana??" Viola mengangguk senang. Erland juga ikut tersenyum setelah satu bulan tak bisa melihat senyum cantik itu.


"Sekarang kalian naik aja dulu. Ibu mau masak buat makan siang kita. Sudah lama kan kalian nggak makan masakan Ibu??"


"Viola bantu Ibu aja ya??" Erland tau kalau Viola mencoba menghindarinya.


"Nggak usah, kamu nanti kelelahan. Er, cepat bawa istrimu masuk!!" Perintah Gendis.


"Iya Bu" Dalam hati Erland sangat berterimakasih pada Ibunya itu. Akhirnya dia punya waktu untuk berduaan dengan Viola.


Viola yang tak ingin mertuanya tau hubungannya dengan Erland sedang renggang hanya mengikuti apa yang mertuanya inginkan.


Erland membukakan pintu agar Viola lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Keduanya masih saja membungkam mulutnya masing-masing. Belum ada yang berniat memulai pembicaraannya masing-masing.


Erland memilih duduk di sofa dengan pandangannya lurus ke depan menatap Viola yang duduk di tepi ranjang.


"Tidak bisa di biarkan!! Ini tidak boleh di biarkan berlarut-larut!!" Tekad Erland dalam hatinya.


"Bismillahirrahmanirrahim" Dengan mengucap doa dalam hatinya Erland mulai mendekati Viola.


Erland menekuk lututnya untuk bersimpuh di depan Viola. Mengangkat wajahnya ke atas untuk mengunci mata Viola.


"Sayang, sudah satu bulan kita saling berdiam diri seperti ini. Abang sudah tidak tahan lagi, Abang menyerah, Abang sangat merindukan kalian" Tangan Erland terulur untuk membelai perut yang kian membesar itu.


"Jika waktu itu Abang meminta kamu untuk percaya sama Abang, kali ini tidak. Abang tidak akan menuntut kamu percaya lagi dengan kata-kata Abang karena memang Abang tidak punya bukti untuk meyakinkan kamu. Tapi.." Erland menunduk menyeka air mata yang sudah merembes di ujung matanya.


"Abang tidak pernah berbohong sama kamu. Malam itu yang Abang ingat hanya mata yang begitu berat lalu berlahan terlelap. Hingga paginya Abang terbangun sudah polos tanpa sehelai benang pun. Abang terus mencoba mengingat tapi ingatan itu tidak pernah ada sedikitpun di otak Abang. Sampai saat ini pun Abang juga belum tau kenapa Abang bisa terbangun dalam keadaan seperti itu. Terserah kamu mau percaya atau tidak yang penting Abang sudah mengatakan yang sejujurnya, Abang tidak akan memaksa"


Viola masih tak bergeming menatap pria yang kini menangis di bawahnya itu.


"Lalu Abang juga minta maaf karena sudah mengacuhkan kamu. Malam itu Abang begitu kecewa sama kamu karena kamu lebih memilih Yovi daripada Abang untuk membelikan kamu makanan. Kalau kamu masih mau marah atau mendiamkan Abang, Abang akan terima. Tapi Abang mohon jangan menghindari Abang. Kamu mungkin bisa tanpa Abang, tapi Abang tidak. Abang tersiksa sayang"


Erland meraih kedua tangan Viola, lalu menggunakannya sebagai bantalan kepalanya di atas pangkuan Viola.


"Biarkan seperti ini sebentar saja, Abang rindu"


Viola merasakan telapak tangannya basah terkena air mata Erland. Meski pria itu menangis dalam diam, Viola kasih bisa melihat punggung pria itu bergetar.


Dug...


Kepala Erland yang menempel pada perut Viola itu terkena gerakan dari dalam perut Viola.


"Kenapa kamu menendang sekuat ini nak?? Apa kamu mendengarkan perkataan Mama untuk memberikan pelajaran sama Papa??" Batin Viola yang merasakan tendangan anaknya begitu kuat.


"Apa itu yank?? Apa dia menendang??" Erland langsung mengangkat kepalanya.


"Sayang, kamu tau kalau ini Papa ya?? Kamu mau main sama Papa??" Erland meletakan tangannya di perut Viola. Berharap bisa merasakannya lagi.


Dug..

__ADS_1


"Yank, lihatlah!! Dia pasti tau kalau Abang Papanya. Ternyata sekarang dia sudah bisa menendang sekuat ini" Erland tersenyum penuh haru.


Tadi saat Erland menangis meminta maaf dan menjelaskan semuanya Viola sama sekali tidak menangis sekalipun karena hanya menganggap semua itu termasuk bualan pria itu saja. Tapi saat Erland begitu bahagia merasakan kehadiran anaknya, Viola tak kuasa menahan air matanya. Dia diam-diam mengusap air matanya yang hampir saja menetes.


__ADS_2