
Viola menggeliat menggerakkan tubuhnya yang rasanya remuk redam setelah menjadi korban Erland semalam. Suaminya itu benar-benar menyiksanya hingga pagi ini Viola sangat kesulitan untuk sekedar bangun dari ranjangnya.
"Shhsshh..." Viola meringis merasakan bagian pangkal pahanya yang terasa perih.
"Kenapa sayang?? Masih sakit ya??" Viola hanya mengangguk menjawab pertanyaan yang menurut Viola konyol itu. Sudah jelas Viola terlihat sangat kesakitan tapi suaminya masih bertanya dengan polosnya.
"Ayo Abang gendong" Dengan mata yang masih sangat berat, Erland turun dari ranjangnya dan berputar ke sisi Viola.
"Maaf ya" Ucap Erland sambil mengangkat tubuh Viola ke dalam gendongannya.
"Abang sih, makanya pelan-pelan dong!! Badan aku rasanya udah remuk tulang-tulangnya" Gerutu Viola saat Erland menggendongnya menuju kamar mandi dengan nuansa yang sengaja di siapkan dengan sangat romantis itu.
"Maaf sayang, habisnya Abang terlalu bersemangat. Mumpung kita lagi bulan madu, nggak ada Ezra yang nangis minta minum pas Abang lagi enak-enaknya"
Viola memukul bahu Erland dengan pelan "Pikiran Abang isinya kaya gitu terus. Mesum banget!!"
Erland menurunkan Viola ke dalam bathub yang berukuran besar hingga muat untuk mereka berdua.
"Bukan mesum yank. Kan kita baru beberapa kali melakukan itu, dan wajar dong karena Abang suami kamu. Lagian kamu itu nik mat banget, bikin Abang nggak mau berhenti" Erland membisikkan kalimat terakhirnya hingga membuat pipi Viola memerah.
"Tapi kan bisa pelan-pelan Bang!! Kalau kaya gini nanti aku nggak bisa jalan-jalan. Sia-sia dong kita jauh-jauh ke sini!!"
"Oke kalau gitu, nanti malam Abang bakalan lebih pelan. Abang janji kalau kita akan main halus" Erland menunjukkan senyuman miring yang membuat Viola merinding sendiri.
"Enggak!! Nggak bisa Bang!! Ini aja masih sakit begini, masa nanti malam mau lagi. Nggak mau ah!!" Viola membuang mukanya ke arah jendela. Melihat langit birunya Swiss yang sedang mengalami musim semi.
Negara yang dipilih oleh Viola dan Erland untuk bulan madu mereka. Negara yang indah dengan pemilihan waktu yang tepat di mana saat ini daun-daun mulai menghijau dan bunga-bunga mulai bermekaran.
Bukan keputusan yang mudah bagi mereka untuk mengambil keputusan berbulan madu ini. Selain pekerjaan mereka, tentu saja Ezra yang menjadi pertimbangan Viola. Dia tidak tega meninggalkan putranya yang saat ini sudah berusia enam bulan. Jika bukan karena Maminya dan juga Gendis yang meyakinkan Viola, kalau Ezra akan baik-baik saja di tangan neneknya. Viola tidak akan sampai di negara nan jauh di mata itu.
"Ayolah yank, namanya juga bulan madu. Ya kita gas terus tiap hari. Kan tujuannya emang itu, siapa tau kita pulang nanti langsung bawa kabar bahagia buat keluarga kita di rumah"
"Anak kita masih kecil Bang, masa udah mau nambah lagi"
"Ya nggak papa dong sayang. Abang kan udah nggak muda lagi. Jadi..."
__ADS_1
"Stop!!" Viola menutup bibir Erland dengan telapak tangannya.
Viola tau kemana arah omongan Erland itu, dan Viola jelas sangat tidak menyukainya. Apalagi dia mengingat cerita Beca beberapa hari sebelum kematian Yovi, dimana Yovi membicarakan tentang usia dan umurnya.
"Kenapa sayang??"
"Ya udah terserah Abang aja. Sekalian aja mumpung Ezra masih kecil, biar repot ya repot sekalian"
"Jadi kamu setuju kalau kita program lagi dekat-dekat ini?" Erland seperti tak percaya mendengar kabar membahagiakan itu.
Viola hanya mengangguk dengan tersipu malu, biar mereka sudah sering melakukan hal-hal layaknya suami istri rada umumnya, namun Viola masih saja malu menjalankan kewajibannya itu.
"Yes!!"
Erland langsung masuk ke dalam bathub yang baru terisi sedikit air, bergabung dengan Viola yang nampaknya sangat nyaman berendam dengan air hangat di pagi hari.
"Eh, eh mau apa Bang?? Jangan sekarang dong!! Ininya masih sakit. Nanti malam atau besok kan bisa, kita masih tiga hari lagi loh di sini"
Viola merasakan tangan Erland melingkar di perutnya. Posisi mereka saat ini yaitu Erland yang duduk di belakang Viola dengan kaki yang di luruskan ke depan mengapit tubuh Viola.
Posisi mereka saat ini sangat in tim karena keduanya yang tak mengenakan sehelai benangpun.
"Dasar mesum!!"Balas Vila.
"Tapi ngomong-ngomong, tadi kamu bilang kalau nggak nanti malam ya besok. Berarti nanti malam boleh minta lagi kan sayang?" Pintar sekali Erland merayu saat ini.
Viola merutuki mulutnya sendiri yang tak sengaja memberikan harapan untuk suaminya. Tapi kalau menolak, Viola akan berdosa dan dilaknat Malaikat sampai subuh.
"Jangan bilang kalau tadi kamu cuma omong kosong doang" Erland memajukan wajahnya hingga bisa menatap wajah Viola dari samping.
"E-enggak kok Bang, nanti malam boleh kok. Tapi pelan-pelan ya??"
Wajah Erland langsung bernanah sumringah lagi. Di mana-mana yang namanya laki-laku tetap sama. Kalau menyangkut hal seperti itu, mereka pasti langsung bersemangat.
*
__ADS_1
*
*
Sementara itu di belahan dunia yang lain. Berbeda benua dengan Viola dan Erland yang sedang menikmati masa-masa membahagiakan mereka karena sedang berbulan madu. Seseorang sedang menikmati hidupnya yang kini berubah begitu besar.
Tas bermerk yang beberapa bulan lalu selalu bertengger di tangannya kini hanya ada kantong plastik yang menemaninya kemana-mana. Baju-baju mahal pun sudah berubah menjadi baju compang-camping dengan bau matahari yang begitu menyengat. Tak ada lagi satupun perhiasan mahal yang mempercantik penampilannya layaknya sosialita seperti dulu.
Jika kemarin dia tinggal mengeluarkan perintah untuk mendatangkan berbagai macam makanan di depannya, kini harus bersusah payah demi mendapatkan sesuap nasi.
Dan itulah yang saat ini dia dapatkan akibat dari keserakahan. Meski begitu banyak yang sempat ia miliki, namun itu semua ia dapat dengan curang. Segala sesuatu yang bisa di dapat dengan mudah, pasti juga akan cepat habis dengan mudah juga.
BYURRR......
Seember air yang di siramkan pemilik warung tepat mengenai tubuhnya yang sedang berjongkok mencuci piring.
"Bisa kerja nggak sih!! Dari tadi nggak selesai-selesai. Kalau nggak niat kerja pergi aja sana!! Kerja bukannya bantuin malah nyusahin!!"
Teriak wanita pemilik warung dengan berkacak pinggang.
"Maaf Bu, jangan pecat saya. Kalau saya di pecat, saya mau makan apa" Ucap wanita itu dengan berlinang air mata.
Dia sendiri tak menyangka jika nasibnya akan benar-benar di titik terendah saat ini. Dulunya dia pernah mengalami yang namanya kebangkrutan, tapi dia tetap bisa makan. Tapi kali ini, untuk sesuap nasi saja dia harus di injak dan di hina seperti itu.
"Saya nggak peduli!! Warung saya nggak butuh wanita tua kaya kamu!! Sana pergi!!"
Wanita yabg begitu galak itu dengan tak berperasaan menarik lengan wanita tadi dengan kasar.
"Pergi sana!! Jangan balik lagi!!"
Teriakan pemilik warung itu begitu keras hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar sana. Dia benci di tatap orang-orang dengan cara seperti itu. Bukan hanya tatapan iba yang ia dapat. Tapi cemoohan dan tatapan meremehkan sudah sering ia dapat akhir-akhir ini.
Wanita itu berjalan menyusuri jalan yang sudah begitu gelap itu. Tidak ada tujuan lagi yang bisa ia datangi. Rumah tak punya, kontrakan juga tak ada. Dia susah di usir dari warung itu, berarti tidak ada lagi tempatnya untuk berlindung dari udara malam hari seperti ini.
Badannya mulai menggigil karena air yang disiramkan tubuhnya tadi. Kakinya memutuskan untuk berhenti di kursi taman yang gelap gulita.
__ADS_1
Air mata berlahan kembali turun mewakili segenap perasaannya. Sedih dan menyesal begitu mendominasi dirinya saat ini.
"Sarah, maafkan Mamamu yang serakah ini. Mama tidak berani menemui kamu setelah apa yang Mama lakukan kepadamu. Biarlah Mama menanggung akibat dari perbuatan Mama ini sendiri. Semoga kamu baik-baik saja di sana"