Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
70. Sejak kapan jatuh cinta


__ADS_3

"Vi, gue kayaknya butuh penjelasan dari lo deh!!" Endah berkacak pinggang di depan Viola yang sejak tadi terus menghindari kontak mata dengan Endah.


"Hehe.. Gini Ndah, sebaiknya lo duduk dulu!!" Viola menepuk kursi di sebelahnya.


"Nggak usah basa basi!!" Tegas Endah.


Viola hanya meringis mendapati kemarahan sahabatnya itu.


"Maaf Ndah" Tunduk Viola.


Akhirnya Endah mengalah dan duduk di samping Viola karena wanita hamil itu sudah menunjukkan wajah memelasnya.


"Gue cuma mau bantu lo biar bisa bersatu sama Bang Vino, karena ternyata Bang Vino juga suka sama lo. Gue cuma pingin buat kejutan sama lo" Viola tak berani menatap Endah.


"Ya tapi nggak gini juga caranya Vi. Lo kan bisa ngomong baik-baik sama gue. Kalau tau gini kan gue nggak perlu capek-capek nangis berhari-hari" Ucapan Endah itu membuat Viola menoleh.


"Jadi lo nggak marah sama gue??"


"Ya enggak lah, ngapain. Cuma gue kesel aja, jadi nggak bisa cantik paripurna di hari spesial gue karena make up gue yang luntur" Gerutu Endah.


Viola juga tak menyangka jika sahabatnya itu hanya memikirkan penampilannya saat ini. Keduanya saling bertatapan lalau beberapa aat kemudian mereka terbahak-bahak bersamaan.


*


*


*


*


Vino dan Endah masih berada di dalam mobil meski sudah sampai di depan rumah Endah. Memang Vino sengaja mengantar Endah dengan mobilnya sendiri.


"Jadi kenapa Abang merencanakan ini semua??" Pertanyaan yang sedari tadi Endah pendam akhirnya tersampaikan juga.


"Kamu penasaran banget kayaknya" Endah mengangguk.


"Tapi sebelumnya, boleh nggak Abang tau sejak kapan kamu mulai mencintai Abang"


Wajah Endah langsung memerah, dia memnag mencintai Vino, tapi jika Vino langsung bertanya di depannya seperti ini tentu saja membuat Endah gugup.


"Ta-tapi Abang kan sudah tau dari Viola" Endah meremas jari-jarinya dengan kuat.


"Hem, dia juga yang akhirnya menyadarkan Abang untuk segera melamar kamu"


"Viola??" Memang sahabat Endah yang satu itu tidak bisa dipercaya.


"Hemmm, jadi sejak kapan?? Setelah itu baru Abang ceritakan rencana lamaran ini" Tentu saj Vino tak mau rugi sedikitpun.

__ADS_1


"Sejak pertama kali Abang datang ke rumah sama Bang Erland" Endah menunduk malu.


"Astaga sayang, tau gitu Abang udah lamar kamu dari dulu. Seharusnya kita udah punya anak yang lucu-lucu" Vino meraup wajahnya menyesali kebodohannya selama ini.


"Emangnya Abang juga cinta sama aku dari dulu. Terus yang Abang ceritakan di restoran itu siapa??"


"Masa kamu nggak paham juga sayang, ya itu kamu lah. Abang udah suka sama kamu dari dulu, tapi tepatnya Abang lupa. Abang selalu main ke rumah kamu alasannya mau main sama Erland, tapi sebenarnya Abang pingin lihat kamu"


Mereka berdua langsung lemas, ternyata cinta mereka itu sidah bersambut sejak lama. Namun karena tidak ada yang berani mengungkapkan, jadi sampai belasan tahun mereka baru bisa bersama.


"Untung aja Viola bilang sama Abang. Kalau enggak, Abang nggak tau sampai kapan kita akan begini terus. Bisa-bisa Abang nggak nikah karena nungguin kamu" Erland menatap Endah dengan penuh cinta.


"Jadi setelah kita bertemu di restoran waktu itu, kamu sempat marah sama Abang kan karena Abang ingin kamu melupakan laki-laki yang kamu cintai itu. Di sana Abang belum tau kalau Abanglah laki-laki itu. Maksud Abang melakukan itu, karena jika kamu bisa melupakannya, maka Abang yang akan menggantikannya"


"Jadi Abang udah ada niatan buat mengungkapkan perasaan Abang sama aku??" Vino mengangguk.


"Tapi kamu terlanjur marah. Jadi Abang cerita sama Viola. Setelah itu Abang justru di maki-maki sama dia"


FLASHBACK ON


"Bang Vino itu bodoh atau apa sih!! Bisa-bisanya bilang gitu sama Endah!! Sebenarnya Abang itu sadar nggak sih kalau Endah itu suka sama Abang!!" Ucap Viola berapi-api.


"A-apa kamu bilang Vi?? Endah suka sama Abang??" Tentu saja Vino terkejut dengan kenyataan yang di katakan Viola.


"Abang nggak bisa ngerasain??" Vini hanya menggeleng, karena dirinya masih terkejut.


"Terus kenapa kalian ngga bisa jujur sama perasaan kalian masing-masing?? Malah nanti jadi salah paham, kaya sekarang ini. Pasti Endah sekarang patah hati karena ucapan Abang itu!!" Kesal Viola.


Dia tidak peduli jika Vino itu Abangnya. Karena pria yang terkenal berotak encer itu ternyata bodoh dalam hal asmara.


"Terus sekarang Abang harus gimana Vi??" Vino tentu saja tidak mau kehilangan Endah. Firasatnya mengatakan Endah akan menjauh darinya setelah mendengar Vino menyukai seorang wanita.


"Langsung lamar aja, nggak usah pakai lama!! Nggak usah mikir lagi, aku yakin pasti di terima sama Endah"


"Jangan sembarangan kamu Vi. Nanti kalau Endah marah gimana?? Kalau dia nggak mau terima gimana?? Nggak ah, abang nggak mau ambil resiko. Lebih baik Abang dekati Endah aja dulu"


"Ah kelamaan!! Keburu tua" Vino mengusap dadanya mendengar adiknya mengatainya tua. Vino memang susah tiga puluh lima tahun, tapi badan dan wajahnya masih seperti pemuda dua puluh tahunan.


"Aku punya ide Bang" Viola tersenyum penuh arti pada Vino.


"Apa itu??"


FLASHBACK OFF


"Jadi gitu, maafin Abang yang udah bohong sama kamu ya. Tapi nggak sepenuhnya bohong juga sih. Kan Abang nggak bilang mau melamar siapa" Vino mencoba membela diri.


"Ya sama aja, masih ngeles aja!!" Gerutu Endah.

__ADS_1


"Tapi yang penting kan sekarang kamu sudah jadi calon istri Abang. Sebentar lagi kita juga akan menikah, Abang senang sekali. Rasanya hati Abang lega sekali. Ternyata cinta Abang selama ini tidak pernah bertepuk sebelah tangan" Tangan Endah sudah berad di genggaman Vino dari tadi.


"Aku juga Bang, kalau dari kemarin aku menangisi kamu. Tak sanggup melihat kamu meminta wanita lain menjadi istri kamu, tapi sekarang rasanya aku tak bisa berhenti tersenyum"


Dikecupnya punggung tangan Endah yang wangi itu.


"Ayo turun dulu. Abang harus memastikan calon istri Abang masuk ke dalam kamarnya dengan selamat"


Endah hanya bisa tersipu dengan ucapan Vino itu. Mungkin sekarang wajahnya itu sudah memerah seperti kepiting rebus.


*


*


*


*


Setelah acara itu selesai, semua sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Kecuali Sarah yang memilih pergi ke restorannya. Tinggallah Viola dan Erland yang pulang ke rumah mereka hanya berdua.


Viola langsung turun dari mobil begitu tiba di rumah mereka. Tanpa menunggu atau mempedulikan Erland sama sekali.


Erland hanya mampu menghela nafas panjangnya saja, ketika istri cantiknya itu mengacuhkannya. Sejujurnya dari tadi Erland ingin sekali mendekati istrinya itu, duduk berbincang bersama.


"Kenapa buru-buru di lepas??"


Saat tiba dikamar, Erland mendapati Viola yang sedang mencoba melepas sanggulnya.


"Gerah" Jawab Viola singkat.


"Kamu cantik sekali berdandan seperti itu. Abang sedari tadi ingin sekali mengatakan itu, tapi Abang tidak ada kesempatan" Viola seakan tak mendengar apa yang Erland katakan. Dia tetap melepas sanggul pada rambutnya itu.


Erland kembali diam, dia pasrah karena Viola masih belum memaafkannya.


Keheningan terus tejadi di dalam kamar itu. Bahkan cicak saja sepertinya enggan bersuara di antara kedua manusia itu.


Viola tetap acuh tak menganggap keberadaan Erland di sana. Selesai mandi pun Viola langsung berbaring di kasurnya. Meletakkan guling di sisinya, mungkin itu sebagai tanda jika Erland tak boleh melewati batas yang di buat oleh Viola itu.


Erland berdiri dari sofanya, dia yang masih berkemeja batik itu mendekati Viola yang sama sekali belum terlelap.


"Sayang, apa Abang perlu tidur di luar dulu supaya kamu tidak merasa terganggu dengan keberadaan Abang di sini??" Ucap Erland dengan suaranya yang entah seperti apa, yang jelas Viola langsung berasa bersalah karena bersikap acuh tak acuh pada suaminya.


Viola masih memejamkan matanya, masih bimbang harus menjawab pertanyaan Erland dengan apa.


"Baiklah kalau begitu, Abang tidak akan mengganggu kamu dulu sampai kamu mau memaafkan Abang. Tapi kalau kamu butuh sesuatu, Abang selalu siap buat kamu. Selamat tidur istri dan anakku" Viola merasakan usapan lembut pada perutnya sebelum mendengar langkah yang menjauh darinya.


Ingin rasanya Viola menahan kepergian Erland, tapi lidahnya terasa kelu.

__ADS_1


__ADS_2