Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
53. Baikan


__ADS_3

Erland masuk ke kamar Viola setelah menyelesaikan pekerjaan si ruang kerjanya. Sebenarnya Erland takut jika Viola akan menolak tidur dengannya malam ini karena masalah tadi. Tapi ketika Erland masuk, ternyata Viola sudah tidur membelakanginya.


Dengan pelan Erland ikut masuk ke dalam selimut yang di pakai Viola. Merapatkan tubuhnya pada istrinya itu. Melingkarkan tangannya pada pinggang Viola seperti biasa. Meski Vioa tak pernah membalas memeluknya atau sekedar memegang tangannya, tapi Erland sudah cukup senang karena Viola tak menolaknya.


Erland merasakan Viola sedikit menegang karena sentuhan tangan di pinggangnya.


"Kamu belum tidur??" Bisik Erland. Tapi yang di beri pertanyaan hanya diam tak memberi jawaban.


"Sayang, Abang sungguh minta maaf untuk yang tadi pagi. Abang mengku salah, Abang sebenarnya hanya ingin selalu di butuhkan oleh kamu Sayang. Tapi jujur Abang begitu bahagia mendengar kabar kehamilan kamu. Terimakasih karena kamu sudah mau memberikan Abang keturunan. Sudah mengijinkan sebagian dari Abang tumbuh di rahim kamu"


Panggilan sayang itu kini sudah biasa Viola dengar dari Erland. Tak dapat di pungkiri jika Viola selalu gugup ketika Erland sudah memanggilnya seperti itu. Karena dulu, dulu sekali Viola sangat berharap Erland akan menyebutkan kata itu ketika memanggilnya.


"Apa benar yang di katakan Sarah kalau kamu hanya menginginkan anak ini?? Apa kamu akan membuang setelah anak ini lahir??"


Bukan jawaban dari permintaan maaf Erland yang keluar dari bibir Viola. Justru Viola menghujani Erland dengan pertanyaan yang menurut Erland sangat konyol.


Dengan sekali gerakan, Erland bisa merubah posisi mereka berdua. Viola yang tadinya tidur membelakangi Erland kini hanya bisa berbaring dengan Erland yang telah berhasil mengungkungnya.


"Apa yang kamu tanyakan tadi?? Apa karena dulu Abang pernah mendustakan mu jadi sekarang jamu juga berpikir Abang akan melakukan hal yang sama?? Apa seburuk itu Abang di mata kamu??" Erland mengunci mata Viola dengan matanya yang tajam.


"Abang bukanlah seorang pria yang tega melakukan hal seperti itu pada istri Abang sendiri. Kalau sedari awal niat Abang seperti itu, Abang akan langsung memaksa untuk menghamili kamu tanpa menunggu persetujuan kamu dulu. Abang tidak pernah berniat menceraikan kamu atau membuang kamu seperti yang kamu katakan tadi, bahkan sebelum Abang sadar jika Abang mencintai kamu. Jadi Abang mohon, meski kamu belum percaya sepenuhnya dengan Abang, jangan meracuni pikiran kamu dengan hal-hal buruk yang akan membuat kamu semakin membenci Abang"


Viola tak menemukan keraguan ataupun kebohongan sekalipun dalam diri Erland.


"Jangan pernah dengarkan orang lain, cukup lihat apa yang ada pada diri Abang. Apa selama kita bersama, apa kamu tidak pernah merasakan ketulusan Abang??"


Erland menyatukan keningnya dengan milik Viola. Memejamkan matanya menikmati sensasi yang Erland rasakan saat sedekat itu dengan Viola.


"Selama Abang masih bisa bernafas, Abang tidak akan pernah melepaskan kamu" Suaranya yang berbisik itu begitu lembut menerpa wajah Viola.


Viola bagaikan boneka yang hanya diam mematung tak bisa bersuara apapun. Kemarahan yang sejak tadi di pendam juga bisa ia keluarkan. Kecemasan tentang omongan Sarah pagi tadi juga telah hilang entah kemana.


Viola memang membenci Erland. Begitu benci karena sempat di khianati dengan janji manisnya. Namun Viola tidak pernah mengatakan jika dia telah melupakan semua perasaannya pada lelaki itu. Bagaimana mungkin waktu sepuluh tahun yang Viola gunakan untuk mencintai pria itu bisa hilang begitu saja. Jika ada yang bisa melakukan itu, Viola yakin jika orang itu berbohong untuk menutupi luka di hatinya sendiri.

__ADS_1


Memang cinta itu masih ada, Viola akui itu. Tapi bukan berarti Viola percaya sepenuhnya dengan Erland. Tentu saja rasa ragu pada suaminya itu masih ada.


Jadi tak dapat di pungkiri, jika Erland memperlakukannya begitu manis seperti itu bisa membuat hati Viola bergetar.


"Aku ngantuk mau tidur"


Erland terkekeh pelan lalu menjauhkan wajahnya dari Viola.


"Ayo tidur, Abang juga ngantuk" Erland kembali mengambil posisi favoritnya dengan Viola. Yaitu memeluk wanita itu dari belakang. Bagi Erland mencium rambut dan kulit Viola yang begitu wangi bisa menjadi obat tidur paling mujarab.


*


*


*


Setelah tidurnya yang begitu nyenyak semalam, Erland harus terbangun karen suara Viola yang kembali mual pagi ini.


Erland menghampiri Viola yang membungkuk di wastafel. Merapikan rambut Viola yang tergerai itu menjadi satu genggamannya.


"Sudah?? Abang buatin minum ya??" Viola mengangguk lalu memilih bersandar pada Erland yang berada di sebelahnya. Rasa lemas membuatnya tak peduli jika ia masih kesal pada suaminya itu.


Erland merangkul Viola hingga kembali berbaring di ranjang.


"Mau minum apa??"


"Air putih tapi yang hangat aja" Ucap Viola dengan lemah.


Erland langsung pergi keluar dengan cepat, ternyata menghadapi Ibu hamil muda seperti itu cukup membuatnya panik. Tapi di balik itu semua Erland merasa senang karena bisa merasakan menjadi sosok suami hang siaga untuk istrinya.


"Ayo bangun, minum dulu" Dengan malas Viola terpaksa membuka matanya dan hanya meminum beberapa tegukan saja. Baginya saat ini, air putih pun rasanya tak enak.


"Kok sedikit, tambah lagi ya??" Erland menyodorkan lagi gelasnya.

__ADS_1


"Udah, rasanya nggak enak" Tolak Viola.


"Kamu nggak usah ke kampus dulu ya??"


"Kenapa memangnya??" Tanya Viola.


"Kok kenapa?? Kamu aja lemas kaya gini, gimana mau pergi"


"Ayolah Bang, aku cuma hamil, bukan sakit. Kalau pagi memang akan seperti ini, tapi nanti kalau agak siangan pasti baikan"


"Tapi.."


"Abang, kalau Abang khawatir, cukup antar aku aja. Aku nggak akan bawa mobil sendiri. Gimana??" Viola tau kekhawatiran Erland saat ini. Wajar saja karena Erland juga baru menghadapi situasi ini untuk yang pertama kalinya.


Daripada Erland melarang Viola untuk keluar rumah, lebih baik Viola membuat kesepakatan itu. Tapi memang Viola agak takut jika tiba-tiba lemas seperti kemarin sampai akhirnya tidak mampu mengemudikan mobilnya sendiri.


"Tapi harus Abang yang antar dan jemput kamu ya??" Erland membuat persetujuan.


"Tapi kerjaannya gimana??"


"Itu masalah gampang"


"Mentang-mentang jadi bos!!" Viola hanya bergumam namun mampu membuat Erland terkekeh.


"Kapan jadwal periksa selanjutnya??" Erland tentu saja tak ingin kehilangan momen itu untuk ke dua kalinya.


"Masih bulan depan" Jawab Viola sedikit malas.


"Bulan depan harus sama Abang, nggak boleh pergi sendiri lagi. Abang yang buat jadi Abang harus terlibat jika menyangkut urusan anak kita" Dari ucapannya saja Erland jelas tak mau di bantah.


"Iya-iya, si paling ingin terlibat" Cibir Viola.


"Sekarang kamu istirahat dulu, Abang mau siap-siap ke kantor dulu"

__ADS_1


Viola tau apa yang ingi di lakukan Erland karena laki-laki itu sudah mendekatkan wajahnya pada Viola. Dengan secepat mungkin Viola memalingkan wajahnya namun telat, tangan Erland sudah lebih dulu mencakup pipi Viola sehingga wanita itu mau tak mau menerima kecupan singkat di keningnya.


Erland menyeringai mendapati usaha istrinya untuk menghindar itu gagal.


__ADS_2