Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
50. Kebahagiaan Mami dan Ibu


__ADS_3

Setelah dari rumah sakit, Viola membawa Beca ke rumahnya. Untuk sementara ini, selama Beca tinggal di Indonesia, dia akan tinggal di rumah Viola. Tidak mungkin Viola akan membawa Beca ke rumahnya, karena Viola juga masih menghargai Sarah.


"Beca, Tante senang akhirnya kamu kembali lagi kesini. Jadi rumah ini nggak sepi lagi karena nggak ada Viola"


Via begitu bahagia menyambut kedatangan Beca. Wanita tua itu sudah menganggap Beca seperti anaknya sendiri. Apalagi Via tau perjuangan Beca dalam membantu Viola saat di Korea. Tentu saja Via merasa banyak berhutang budi kepada Beca.


"Makasih Tante. Beca di sini juga senang karena bisa dekat dengan Tante. Beca jadi merasa punya Ibu" Ucap Beca dengan haru.


"Kalau begitu anggaplah Tante Ibumu, kalau perlu panggil saja Mami" Via memeluk Beca, mulai sekarang anak perempuannya benar-benar bertambah satu.


"Mami, udah dong sedih-sedihnya. Vio mau kasih kabar gembira buat Mami"


"Kabar gembira?? Apa itu??" Via menatap Beca, mencari jawaban dari sana. Namun Beca hanya tersenyum dengan misterius.


"Kabar gembiranya, Mami sebentar lagi akan jadi Oma. Vio hamil Mi" Viola mengusap perutnya di depan Via.


"Ha-hamil??" Viola mengangguk.


"Alhamdulillah, akhirnya Mami bisa mendengar tangisan bayi lagi" Via memeluk putrinya itu, menangis dengan haru dengan mengusap kepala Viola dengan sayang.


Viola tak bisa menahan air matanya juga. Melihat reaksi Maminya yang begitu bahagia, seolah meyakinkan jika keputusan yang dia ambil adalah benar.


"Mami bahagia sekali Vi, akhirnya kamu bisa menerima pernikahan ini sayang. Mami tak pernah berhenti berdoa buat kamu"


"Iya Mi, semua berkat doa Mami tentunya" Viola mengurai pelukannya.


"Papi di mana Mi??"


"Kalau Papi sudah pergi sejak pagi tadi, katanya ada hal yang harus di urus"


"Kalau Abang??"


"Abang disini" Pria itu muncul dengan setelan formal yang lengkap.


"Bisa gitu ya?? Selalu muncul saat di cari" Cibir Viola.


"Kabar apa yang kamu berikan ke Mami, sampai bibir Mami nggak berhenti senyum itu" Vino merasa ada sesuatu yang membuat Maminya itu bahagia.


"Abang mau tau??" Vini mengangguk.


Lantas Viola mendekstka wajahnya ke telinga Vino. Hingga mata Vino melebar sedetik kemudian.


"Beneran Vi??" Viola mengangguk lalu dengan kuatnya memeluk adik satu-satunya itu.


"Woaaa Abang akan segera punya ponakan yang lucu"


Kebahagiaan begitu terlihat jelas di keluarga itu. Meski hanya Dito yang belum tau, tapi Viola sudah cukup puas melihat reaksi Mami dan Abangnya.

__ADS_1


"Makanya kamu cepetan Nyusul dong Vin. Biar Mama punya banyak cucu dari kalian berdua"


Vino langsung teringat dengan rencananya satu bulan yang lalu.


"Abang yakin dengan keputusan Abang itu??" Tanya Viola.


"Yakin, kamu juga sudah membuat Abang semakin yakin. Tapi Abang minta bantuan kamu ya??"


Via masih bingung dengan apa yang kedua anaknya itu bicarakan.


"Tentu Bang, Viola akan bantu sampai dia akhirnya jadi milik Abang"


"Tunggu, sebenarnya apa yang kalian maksud??" Tanya Via.


"Mami mau Vino segers menikah kan??" Via mengangguk.


"Vino akan segera melamar seseorang untuk jadi istri Vino Mi??"


"Siapa Bang?? Jangan bercanda sama Mami!! Selama ini kamu nggak pernah dekat dengan wanita, mana mungkin tiba-tiba mau menikah"


Memang Vini selama ini tidak pernah membawa seorang wanita ke depan Via. Sampai Via berpikir anak sulungnya itu tidak normal.


"Mami tenang aja, Mami sebentar lagi akan tau kok. Jadi sabar dulu ya, tunggu Abang mempersiapkan semuanya. Mami tinggal duduk manis menyambut calon menantu Mami"


Via hanya geleng-geleng mendengar Vino. Mana ada seorang Ibu yang akan tenang-tenang saja ketika putranya mengatakan ingin melamar seorang wanita.


"Benar apa kata Abang Mi. Vio pastikan kalau calon istri Abang ini wanita baik-baik. Jadi Mami tidak usah khawatir" Via hanya mencebikkan bibirnya karena kedua anaknya memilih merahasiakannya


"Kamu tau Beca??" Beca sempat terkejut karena Via tiba-tiba bertanya kepadanya yang tak tau apa-apa


"Ti-tidak Tante"


Via kembali menatap tajam kedua anaknya yang terus berusaha menyembunyikan senyum jahilnya.


*


*


*


Setelah dari rumah Maminya, Viola tidak langsung pulang. Dia justru mengarahkan mobilnya ke rumah Ibu mertuanya. Kelas sekali tujuannya adalah untuk menyampaikan kabar gembira yang di bawanya. Jika di ingat, Gendis lah yang paling gencar menginginkan cucu daru Viola. Hingga menepati janjinya untuk semangat agar bisa sembuh.


Viola keluar dari mobilnya dengan menenteng sebuah kantung plastik berisi makanan kesukaan Ibu mertuanya dulu. Viola berharap, seiring berjalannya waktu Gendis masih menyukainya.


Tok.. Tok..Tok..


"Assalamualaikum Ibu!!" Ucap Viola sedikit keras.

__ADS_1


"Walaikumsallm" Viola usah mendengar sahutan dari dalam.


"Ibu" Sapa Viola begitu pintu itu sudah terbuka.


"Viola?? Kamu sendirian ke sini??"


"Iya Bu" Jawab Viola setelah mencium tangan Gendis.


"Ayo masuk. Endah dan Edgar belum pada pulang. Ibu hanya di rumah sama Bibi saja"


"Nggak papa Bu, Vio kesini kemang sengaja ingin menemui Ibu"


Viola membawa plastik yang do bawanya tadi ke meja makan.


"Ini Viola beli rendang kesukaan Ibu. Belinya juga masih di tempat yang dulu"


Mata Ibu mertuanya langsung berbinar mendengar kata rendang.


"Waahh terimakasih Vi, Ibu senang sekali. Ibu sudah lama nggak makan rendang dari sana. Rasanya nggak berubah meski sudah puluhan tahun" Gendis membuka bungkusan plastik itu. Mengeluarkan kotak bening dari dalamnya, yang berisi makanan dari daging sapi itu.


"Syukurlah kalau Ibu senang. Tapi Viola bawa sesuatu yang bisa buat Ibu tambah senang. Senaaannngggg sekali" Ucap Viola membuat Gendis begitu penasaran.


"Apa itu Vi??"


"Coba Ibu tebak" Viola masih ingin menggoda Ibu mertuanya.


"Kamu sama Erland mau mengadakan resepsi pernikahan??" Tebak Gendis.


Viola menggeleng kuat. Bahkan Viola baru teringat jika tidak pernah ada resepsi pernikahan untuknya dan Erland. Foto pernikahan saja tidak ada. Jangankan foto pernikahan, mendengar Erland mengucapkan ijab kabul untuknya saja tidak.


"Lalu apa Vi?? Ibu nggak bisa kalau masalah tebak-tebakan begini. Ibu menyerah aja ya" Ucap Gendis putus asa namun begitu penasaran.


Viola terkikik geli lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Gendis.


Gendis menatap selembar foto yang di berikan Viola. Tangannya bahkan sampai gemetar memegangnya.


"Ini??"


"Iya Bu itu punya Viola"


Gendis langsung memeluk Viola. Menangis haru di pelukan menantunya.


"Alhamdulillah, akhirnya Ibu punya cucu. Terimakasih Viola, kamu benar-benar mengabulkan permintaan Ibu"


"Semua ini karena ijin Allah Bu. Viola tidak akan pernah bisa hamil kalau Allah belum percaya sama Viola"


Viola membalas pelukan Gendis. Dia tidak menyangka, kabar kehamilannya di sambut dengan sebahagia ini oleh keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2