Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
61. Amarah Erland


__ADS_3

Viola sudah berkali-kali mengganti bajunya, mencari yang menurutnya paling cocok untuk kencan pertama mereka. Entah yang awalnya Viola ragu dan menolak ajakan Erland itu, kini menjadi semangat sendiri. Katakanlah jika Viola ingin sekali tampil secantik mungkin di depan suaminya itu.


Rencananya nanti Erland akan langsung menyusul Viola ke rumah sakit, mengingat Erland yang langsung berangkat dari kantor. Tadi pun Erland sengaja berangkat lebih pagi agar lebih cepat menyelesaikan pelerjaanya.


Viola tersenyum puas melihat penampilannya dalam cermin besar di kamarnya. Tangannya mengusap lembut perutnya yabg berisi jabang bayi itu.


"Sayang, sekarang kamu sudah dua bulan lebih di perut Mama. Sebentar lagi mama mau lihat kamu di tempat Tante Niken. Tapi kali ini Papa juga akan datang untuk bertemu denganmu. Lalu setelah itu kita jalan-jalan sama Papa. Kamu senang kan??"


Wajah Viola terlihat begitu ceria hari ini. Mungkin termasuk hari paling membahagiakan setelah kabar kehamilannya.


Viola merapikan rambutnya sekali lagi sebelum memutuskan untuk keluar dari rumah itu dengan senyum menghiasi bibirnya.


Jadwal periksa Viola sebenarnya masih satu jam lagi. Jalanan kota jakarta yang macet serta Viola yang harus memesan taksi online, membuatnya berangkat lebih awal.


Viola juga sudah mengirimkan jam periksanya pada Erland, agar pria itu bisa segera berangkat dari kantor.


*


*


*


Tumpukan dokumen yang harus ditandatangani Erland belum juga selesai karena Erland tak mau asal dalam membubuhkan tandatangannya. Tentunya dia harus membaca lagi poin demi poin yang ada di dalamnya. Hal itu membuat Erland begitu fokus dan tak sempat membuka ponselnya sekalipun.


"Mas!!"


"Sarah??" Erland terkejut karena istri pertamanya itu tiba-tiba muncul di ruangannya.


"Mas kamu lupa ya??" Sarah mendekati suaminya dengan wajahnya yang di tekuk.


"Lupa kenapa??" Sungguh Erland tidak tau apa yang di maksud Sarah.


Pria beristri dua itu terus menatap istrinya yang beberapa hari ini terlalu sibuk dengan restorannya.


"Mas, hari ini kan ulang tahun Mama. Kamu udah janji loh mau datang sama aku. Ini acara penting Mama setelah sekian lama Mama tidak bisa mengundang teman-temannya merayakan ulang tahunnya. Masa kamu bisa lupa" Sarah melipat tangannya di depan dadanya dengan kesal.


Bukannya lupa, tapi Erland sama sekali tidak pernah merasa membuat janji dengan Sara. Entah dirinya yang sudah pikun atau Sarah yang sebenarnya lupa belum menyampaikan pada Erland, hanya Tuhan yang tau.

__ADS_1


"Tapi..."


"Aku nggak terima alasan apapun!! Pokoknya sekarang kamu ikut aku!! Ini udah hampir telat banget. Tamu Mama juga pasti sudah pada datang" Sarah meriah tangan Erland untuk memaksanya segera berdiri dari duduknya.


"Sebentar Sarah aku lihat dulu ada jadwal lain atau tidak setelah ini" Erland meriah ponsel di lacinya. Namun dengan cepat Sarah sudah meraihnya dan menyembunyikannya di balik punggungnya.


"Sudahlah Mas, tadi aku sudah bilang sama sekretaris kamu untuk mengurus semua jadwal kamu hari ini. Kamu nggak mau buat Mama aku kecewa kan?? Kalau sampai kamu benar-benar nggak mau ikut aku sekarang, aku nggak mau pulang ke rumah lagi!!"


Erland rasanya ingin menolak karena ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi dia tidak tau apa itu. Pikirannya sudah buyar karena pekerjaannya yang tak kunjung selesai di tambah kedatangan Sarah yang tiba-tiba memaksa untuk ikut dengannya.


"Ayooo!!" Kesal Sarah karena Erland tak kunjung bangkit dari kursi kebesarannya itu.


Erland akhirnya pasrah dan mengikuti Sarah yang terus saja menyeret tangannya, meski pikiran Erland terus mencari penyebab perasaannya yang mengganjal.


Erland tiba di rumah mertuanya begitu terkejut karena acara ulang tahun yang mertuanya itu adakan benar-benar meriah. Ada sedikit rasa kesal di dalam hati Erland, karena selama ini Erland juga yang selalu mengeluarkan uang untuk menanggung hidup Ibu dari istri pertamanya itu. Bahkan keluarganya saja tidak pernah mengadakan pesta seperti itu. Bukannya Erland tak ikhlas selama ini mengeluarkan uangnya untuk Rasti, tapi jika hanya di gunakan untuk hal yang tidak terlalu penting, tentu saja Erland sedikit kecewa.


"Ayo masuk Mas!! Kenapa malah bengong??" Sarah mengapit lengan Erland dengan mesra. Ingin menunjukkan lada teman-teman Rasti jika dia berhasil kembali kaya raya berkat suaminya itu.


Saat Erland tiba di dalam sana, mertuanya itu sudah berdandan layaknya anak muda dengan gaunnya yang panjang seperti seorang pengantin. Sungguh tak pantas batin Erland. Bahkan setau Erland Maminya Viola juga tidak pernah berlebihan seperti itu.


"Kenapa Mama kamu berlebihan sekali??" Bisik Erland pada Sarah.


"Mas, aku kan sudah bilang. Ini pertama kalinya Mama merayakan ulang tahunnya setelah kebangkrutan Papa. Jadi wajar dong, ini kan acara penting buatnya" Erland hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar Sarah yang terlihat sangat mendukung aksi mertuanya yang sangat berlebihan itu.


Setelah melihat kedatangan Erland, tiba-tiba acara di mulai begitu saja. Yang lebih mengejutkan lagi Mama mertuanya itu dengan lantang menyebut nama Erland sebagai menantunya, serta beberapa embel-embel yang membuat Erland justru merasa risih.


"Selamat sore semuanya, teman-teman yang saya cintai dan saya hormati. Pertama-tama saya ucapkan terimakasih karena sudah hadir di acara ulang tahun saya kali ini. Tentu saja tahun ini menjadi tahun yang sangat berarti bagi saya. Bisa di bilang tahun kebangkitan saya dari masalah beberapa tahun yang lalu, tentunya kalian sendiri tau tanpa harus saya sebutkan" Rasti menjeda beberapa detik pidatonya itu untuk menatap Erland.


"Tapi tentu semua ini tidak saya raih begitu saja. Ini semua berkat kebaikan hati menantu saya satu-satunya, menantu kebanggaan saya, suami dari anak saya Sarah, yaitu Erland Sebastian. Seorang pengusaha muda pemilik perusahaan Power Green. Sungguh keberuntungan bagi saya memiliki menantu sepertinya" Rasti mengarahkan telapak tangannya itu pada Erland.


Tentu saja semua orang yang ada di ruangan itu memberikan tepuk tangan yang begitu meriah untuk Erland. Begitupun Sarah yang juga tersenyum sumringah kepadanya.


Bukannya senang dan bangga, Erland hanya memberikan senyum tipisnya untuk menghormati tamu-tamu mertuanya itu. Tapi setelah itu Erland lebih memilih pergi dari sana.


"Mas!!" Panggil Sarah.


Wanita itu mengejar Erland yang keluar begitu saja tanpa berkata apapun.

__ADS_1


"Mas tunggu!! Kamu mau kemana sih!!" Sarah berhasil meraih tangan Erland.


Wajah Erland sudah sangat muram. Tidak suka dengan apa yang di lakukan mertuanya itu.


"Kita masuk lagi yuk" Erland langsung melepaskan tangan Sarah dari lengannya.


"Masuk sendiri. Aku tidak mau lagi di sini, aku harus pergi"


"Kamu kenapa sih Mas!! Jangan aneh-aneh deh!!" Ucap Sarah dengan kesal.


"Aneh-aneh kamu bilang?? Mama kamu itu yang aneh!! Benar-benar aneh!! Aku nggak nyangka Mama kamu malah mengadakan pesta seperti ini. Harusnya kamu sebagai anak memberikan pengertian untuknya. Kenapa harus menghambur-hamburkan uang untuk acara seperti ini. Kalian juga pernah berada di titik terendah harusnya kalian bisa lebih bijak mengelola keuangan!!" Amarah Erland benar-benar meledak kali ini.


"Jadi kamu sekarang mulai itung-itungan Mas??" Bukannya paham dengan maksud Erland, Sarah justru ikut tersulut amarah.


"Aku tidak akan segan memberikan uang kepada Mama kamu asal itu benar-benar bermanfaat. Tapi kalau begini kenyataannya, lebih baik aku berhenti memberikan uang kepadanya. Kamu sekarang juga punya usaha sendiri. Jadi sisakan uang dari hasil restoran mu untuk Mama kamu!!"


"Kamu benar-benar berubah ya Mas!!" Sarah tak percaya jika suaminya bisa memutuskan hal seperti itu.


"Bukan aku yang berubah, tapi kalian yang semakin tidak bisa menghargai ku dan keluargaku. Ibuku saja tidak pernah meminta apapun atau membuang uang dariku secara cuma-cuma. Karena dia benar-benar tau perjuangan ku dari nol. Tapi kamu dan Mama kamu menjadikan aku seperti sapi perah. Kalian pikir uang yang aku dapatkan itu akan terus mengalir?? Bisa saja besok tiba-tiba aku bangkrut dan banyak hutang, kamu tidak pernah berkaca dari Papa kamu??"


Sarah mulai ketakutan melihat urat leher Erland yang menonjol saat mengeluarkan semua amarahnya. Apalagi baru kali ini Sarah menghadapi Erland yang semarah itu.


"Bu-bukan begitu maksudku Mas. Nanti akan aku coba untuk membicarakan hal ini dengan Mama. Aku minta maaf karena tidak bisa memberikan pengertian pada Mama"


Tentu saja Sarah mengalah bukan karena mengerti maksud dari Erland tapi dia tidak mau kehilangan sumber penghasilan terbesarnya itu hanya karena ulah Mamanya.


"Kembalikan ponselku!!" Ucap Erland dengan dingin, dia sudah bisa mengendalikan dirinya lagi.


Sarah merogoh tasnya untuk mengambil ponsel dari suaminya itu.


Erland merebut ponselnya dari tangan Sarah dengan tak sabaran. Membukanya dan melihat betapa banyaknya panggilan dari Viola.


"Astaghfirullah"


Erland langsung berlari begitu dia tau apa penyebab perasaannya yang mengganjal itu.


"Mas!! kamu mau mau kemana Mas!!"

__ADS_1


__ADS_2