
"Kamu tenang dulu Bang, belum tentu itu beneran Sarah" Viola melihat wajah Erland yang terus menegang.
"Tapi Abang yakin sekali kalau itu Sarah yank!!"
Tadi saat Erland berusaha mengejar Sarah, Erland tidak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya jadi mereka berdua kehilangan jejak Sarah.
"Kalau emang iya kenapa?? Kamu cemburu??" Selidik Viola, melihat wajah Erland yang begitu marah itu membuat Viola yakin jika suaminya itu cemburu.
"Abang nggak cemburu yank. Abang marah karena dia sudah berani membohongi Abang. Pergi keluar dengan pria lain dan semesra itu"
"Apa benar aku tidak cemburu??" Batin Erland.
"Ya sudah kalau tidak cemburu, mukanya nggak usah asem gitu kali Bang. Lagian kita juga mau ke restoran dia kan buat buktiin yang kamu lihat tadi beneran dia atau bukan" Viola kesal sendiri melihat rahang Erland yang terus mengeras itu.
Merdeka berdua akhirnya tidak jadi mencari makan di mall, karen Viola mengajak Erland untuk menyambangi Sarah di restorannya. Viola ingin Erland membuktikan sendiri yang dia lihat tadi benar Sarah atau bukan.
Begitu mereka sampai di restoran Erland melihat mobil Sarah masih terparkir di halaman resto. Itu sedikit membantah kalau yang ia lihat tadi benar-benar Sarah. Tapi dia belum puas kalau belum melihat Sarah sendiri di dalam sana.
"Mbak, Sarahnya ada??" Tanya Viola pada salah satu karyawan di sana.
"Maaf dengan siapa ya??"
"Dia suaminya Sarah" Tunjuk Viola pada suaminya sendiri.
"Oh, Bu Sarah sedang pergi bersama Pak Radian Pak. Mungkin sebentar lagi kembali karena sudah sejak tadi"
"Pak Radian itu siapa ya??" Tanya Viola sedikit ingin tau.
"Pak Radian itu pengelola Restoran ini Bu" Viola mengangguk-angguk saja. Dia jadi teringat pria yang selalu di dekat Sarah waktu itu.
Erland langsung menatap Viola seolah mengatakan kalau yang dia lihat memang benar Sarah.
"Kalau gitu boleh kita menunggu di dalam??" Tanya Viola lagi.
"Silahkan Bu, Pak. Mari saya antar" Viola bersama Erland di antar masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya milik Sarah.
"Untuk menunggu Bu Sarah kembali, Ibu dan Bapak mau minum apa??" Tanya karyawati itu.
__ADS_1
"Tidak perlu, kembalilah bekerja" Perintah Erland.
"Baik Pak, saya permisi"
Kini hanya mereka berdua di ruangan yang terletak di paling ujung restoran Sarah itu.
"Benarkan yank, yang Abang lihat tadi itu Sarah" Erland tetap yakin dengan pendiriannya.
"Kalau dia Sarah, ngapain juga dia mesra-mesraan sama laki-laki lain coba?? Dia kan udah bersuami" Bantah Viola lagi.
"Tapi Radian itu siapa sih?? Abang kenal ya??" Erland menggeleng.
"Katanya dia teman lama Sarah. Dia juga yang membantu membuka resto ini dari awal" Jelas Erland kurang yakin.
"Apa dia laki-laki yang pernah aku lihat berdiri di dekat Sarah saat opening waktu itu ya??"
"Iya itu yang namanya Radian. Abang juga baru sekali itu ketemu sama dia" Viola hanya manggut-manggut saja.
"Aku capek banget tau nggak!!" Suara itu membuat Viola dan Erland menoleh ke sumbernya.
Terlihat Sarah yang masuk ke dalam ruangan sambil tertawa senang bersama seorang laki-laki. Tampaknya Sarah juga belum menyadari adanya Viola dan Erland di dalam sana.
Secara refleks Sarah langsung memberi jarak antara dirinya dan laki-laki yang bernama Radian itu.
Melihat penampilan Sarah dan juga baju yang dikenakannya semakin meyakinkan Erland jika yang ia lihat tadi benar-benar Sarah.
"M-mas, kamu di sini??" Sarah tampak gugup ingin mendekati Erland.
"Dari mana kamu??" Erland bergantian menatap Radian yang tampak tak suka dengan kehadiran Erland di sana.
"Ohh, aku sama Radian habis cari interior baru untuk resto Mas" Sarah menampilkan senyumnya semanis mungkin di depan suaminya itu.
"Sebenarnya sedekat apa hubungan kalian?? Apa kalau pergi kemana-mana selalu berdua seperti ini??" Tanya Erland.
"Jelas kami selalu berdua karena kami rekan kerja tapi kami melakukan pekerjaan kami secara profesional. Tidak seperti yang ada di dalam pikiran anda Pak Erland" Jawab Radian dengan cepat sebelum Sarah berhasil mengeluarkan suaranya.
"Memangnya apa yang ada di dalam pikiran saya Pak Radian?? Sepertinya anda tau sekali isi pikiran saya" Balas Erland dengan santai.
__ADS_1
Radian seketika terdiam hingga Sarah memilih bersuara untuk menghentikan Radian yang terlihat ingin meladeni Erland.
"Mas, aku minta maaf karena aku selalu pergi berdua dengan Radian. Lain kali aku akan ajak karyawan yang lain ya??" Rayu Sarah agar Erland kembali tenang.
"Sarah, aku tidka peduli kamu mau pergi berdua dengan dia. Asalkan jaga sikap kamu di luar sana, jangan sampai orang-orang mengenali kamu sebagai istriku. Karena kalau kamu sampai bermesraan dengan dia di luar sana, pasti juga akan berdampak buruk untuk reputasi ku!!" Ucapan Erland itu benar-benar mengejutkan Sarah.
Sudah terlihat gugup dan ketakutan. Seolah-olah Erland sudah tau apa yang dilakukannya di belakang Erland.
"Maksud kamu apa Mas?? Aku nggak ngerti, bermesraan gimana maksudnya??" Sarah mencoba untuk tenang.
"Tadi aku juga ada di mall yang sama dengan mu"
Deg...
Jantung Sarah rasanya ingin melompat dari tempatnya.
"Mas, ak..."
"Sudah Sarah. Aku kesini hanya ingin memastikan jika yang aku lihat tadi benar-benar kamu. Tapi aku sudah mendapatkan jawabannya. Jadi sekarang lebih baik aku pergi. Ayo sayang!!"
Erland memanggil Viola yang sejak tadi hanya diam menjadi penonton. Kali ini Erland dengan bernai memanggil Viola dengan sebutan Sayang di depan Sarah. Setelah sebelumnya masih menghargai Sarah dengan memanggil sayang pada Viola saat mereka hanya berdua saja.
Erland meraih tangan Viola dan berjalan melewati Sarah yang masih terdiam karena ketakutannya.
"Oh ya, ada lagi" Erland kembali menolah ke belakang melihat Radian dan Sarah secara bergantian.
"Ingat Sarah, aku tidak suka kebohongan dan pengkhianatan. Jadi aku harap kamu tau apa yang harus kamu lakukan. Aku tunggu kamu di rumah. Kesempatan masih terbuka lebar untukmu. Tapi kalau kamu tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Aku sudah tidak peduli lagi!!"
Erland lantas menarik Viola untuk keluar dari ruangan Sarah itu.
"Bang" Panggil Viola menghentikan Erland.
"Iya Sayang??"
"Apa maksud kamu ngomong kaya gitu sama Sarah??"
Erland menyandarkan badannya pada pintu mobilnya.
__ADS_1
"Abang rasa harus bersikap tegas pada Sarah yank. Setelah dia membuka restoran ini, dia semakin sesukanya sendiri, jarang pulang, terkadang pulang juga hanya tidur lalu berangkat lagi. Dia seperti lepas kendali dan merasa tak bersuami. Abang tidak akan langsung menghakimi dia, Abang akan beri kesempatan dia untuk berubah dulu. Setiap orang berhak dapat kesempatan ke dua kan??" Viola mengangguki Erland.
Tanpa Viola tahu, Erland punya rencananya tersendiri untuk menghadapi istri pertamanya itu.