Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
37. Jin


__ADS_3

Benar saja, Sarah akhirnya menagih janji Erland untuk dua malam berturut-turut tidur bersamanya. Bahkan Sarah tak mengijinkan Erland keluar untuk sekedar mengambil minum jika sudah masuk ke dalam kamar. Alhasil dua hari pula Erland tidak melihat Viola sama sekali. Karena saat sarapan, Kata Bi Tum, Viola sudah pergi pagi-pagi sekali. Sedangkan dua hari ini Erland juga pulang terlambat karena ada sedikit masalah di kantornya.


Ada rasa rindu di hati Erland meski baru dua hari tak melihat wajah Viola. Apalagi Erland sangat merindukan sholat berjamaah dengan Viola.


Dan hari ini adalah hari ke tiga Erland belum juga bertemu Viola sejak pagi tadi. Erland sengaja pulang lebih awal hari ini untuk bosa bertemu Viola. Apalagi malam ini adalah jadwal Erland tidur di kamar Viola.


Erland berkali-kali meminta maaf kepada Sarah di dalam hatinya. Dia merasa mengkhianati Sarah karena begitu bahagia saat tiba gilirannya tidur di kamar Viola.


Dengan pelan Erland membuka kamar Viola, mencari keberadaan wanita yang tiga hari ini selalu mengganggu pikirannya.


Erland melepas jas dan juga dasinya, meletakkannya dengan asal di atas sofa. Menggulung lengan kemejanya hingga batas siku sambil menunggu Viola yang ternyata ada di dalam kamar mandi.


Ceklek..


Viola tetap biasa saja meski melihat Erland yang sudah ada di kamarnya. Duduk bersandar pada sofa dengan matanya yang terus menatapnya.


"Vi, kemarin kamu pergi kemana?? Kok pagi-pagi udah nggak ada, pesan Abang juga nggak kamu balas" Erland mendekati Viola yang sedang menyisir rambut panjangnya.


"Ada urusan di kampus" Jawab Viola dengan dingin.


"Sama Yovi??" Viola melirik Erland.


"Sendiri" Viola berbalik menuju ranjangnya, melewati Erland yanng berdiri di belakangnya.


Erland memejamkan matanya, menikmati harum dari Viola yang begitu memanjakan hidungnya. Wanginya lembut dan menyegarkan, wangi yang membuat Erland terbayang-bayang tiga hari ini.


"Besok kamu pergi lagi??" Erland ikut duduk di ranjang bersama Viola.


"Enggak" Sedari tadi Viola hanya menjawab dengan singkat pertanyaan suaminya.


"Tapi kenapa kamu harus pergi pagi-pagi?? Malamnya juga Abang nggak lihat kamu saat Abang pulang kerja. Kamu menghindar dari Abang??"


Viola bukan menghindar, tapi Viola tidak tau bagaimana harus bersikap. Hatinya belum sepenuhnya pulih, namun dia harus dipaksa oleh keadaan untuk menerima semuanya. Berat rasanya harus bersikap biasa saja di depan orang yang telah menghancurkan hatinya.


"Tidak, aku hanya bingung harus bagaimana" Viola masih menunjukkan wajahnya yang datar.


"Bingung kenapa Vi??"


"Masih ada rasa benci di hatiku. Tapi aku harus menerimamu. Katakan, bagaimana aku harus bersikap??" Kedua mata mereka kembali bertemu. Entah mengapa beberapa detik memandang mata Viola yang menyimpan kepedihan itu begitu sakit menyakitkan bagi Erland.


"Lakukan semau mu. Abang tidak masalah kalau kamu acuh tak acuh sama Abang. Yang penting kamu merasa nyaman dulu. Jangan terlalu di pikirkan sampai membuatmu tertekan. Pelan-pelan saja, Abang akan menunggumu"


Erland mengulurkan tangannya ke depan Viola, meminta tangan Viola untuk menyambutnya.


Viola hanya memandangnya saja, lalu beralih melihat wajah pemilik tangan itu. Erland mengangguk meminta Viola meletakan tangannya di telapak tangan Erland.


Dengan ragu Viola mulai menggerakkan tangannya. Pertama menyentuhkan ujung jarinya pada telapak tangan yang lebar itu. Lalu berlahan kedua telapak tangan itu sudah menempel, hanya menempel saja bukan menggenggam.

__ADS_1


Tapi Erland tidak mau itu, dia langsung mempererat tangannya hingga benar-benar menggenggam tangan Viola.


Viola merasa tangannya seperti tergelitik. Bersentuhan dengan Erland seperti itu membuatnya tak dapat berkutik.


"Sekarang jangan menghindari Abang seperti itu lagi. Kalau kamu harus pergi sebelum bertemu Abang, minimal kamu balas pesan Abang, ya?? Soalnya Abang kangen sama kamu" Erland berbisik pada Viola di akhir kalimatnya.


Viola hanya dapat mengangguk dengan pelan karena badannya terasa kaku.


"Sekarang Abang mau mandi dulu, Abang mandi di atas karena baju Abang ada di kamar atas. Setelah itu kita makan malam ya" Viola hanya dapat mengangguk sekali lagi. Dia sampai tidak bisa berbuat apa-apa karena sikap Elgrand yang begitu manis itu.


Viola tidak akan pernah tau kalau misalnya Erland hanya berpura-pura, karena Viola bisa melihat kesungguhan di mata suaminya itu.


-


-


Makan malam pun berakhir meski tadi di awali dengan Sarah yang terlihat menjadi istri yabg baik seperti biasanya.


"Sarah, malam ini aku tidur di kamar Viola. Kamu sudah tau itu kan??"


Dengan wajahnya yang sengaja di buat semanis mungkin, Sarah mengangguk mengiyakan suaminya.


"Iya Mas, nggak papa kok. Lagipula kamu sudah membuatku lemas dua malam berturut-turut"


Viola langsung melihat ke arah Erland dari yang sebelumnya tak peduli pada mereka berdua.


"Nggak usah malu gitu dong Mas, kan Viola juga sudah paham tentang masalah seperti itu"


Erland memang sudah biasa melakukan hubungan suami istri dengan Sarah bahkan tak terhitung lagi. Tapi untuk dua malam ini, mereka memang tak melakukan apapun.


Erland juga tidak tau kenapa dia takut jika Viola akan marah dan salah paham. Seharusnya hal itu kan wajar karena Sarah juga istrinya. Tapi kenapa Erland justru seperti seorang suami yang takut ketahuan selingkuh oleh istrinya.


"Bi Tum!!" Panggil Viola.


Viola lebih tertarik dengan Bi Tum yang membawa sekeranjang baju bersih yang sudah disetrika daripada mendengarkan ocehan Sarah yang tidak berguna.


"Iya Bu, ada apa??" Bi Tum meletakan keranjang pakaian itu di lantai dekat Viola.


"Bi, baju saya sudah selesai di setrika belum?? Besok ada yang mau saya pakai. Saya belum bawa banyak baju soalnya" Viola melihat ke keranjang yang di bawa Bi Tum tadi.


"Baju Ibu?? Bukanya Ibu sudah dua hari ini nggak ada baju kotor ya?? Soalnya saya nggak merasa mencuci baju Ibu dua hari ini" Bi Tum bingung sembari mengingat-ingat semua pekerjaannya.


"Hah?? Nggak mungkin dong Bi. Jelas-jelas saya yang antar sendiri baju saya ke tempat cucian. Masa nggak ada sih??"


Viola melihat satu persatu baju yang sudah rapi di dalam keranjang tadi.


Sementara Sarah masih terdiam tak peduli dengan apa yang Viola lakukan.

__ADS_1


"Bi Tum benar-benar nggak nyuci baju Viola??"


"Tidak Pak. Saya jelas ingat kok. Saya juga selalu pisahkan baju Bu Sarah dan baju Bu Viola biar nggak tertukar. Tapi dua hari ini tidak ada baju Bu Viola sama sekali" Jujur Bi Tum.


"Kamu nggak lupa taruh bajunya di mana kan Vi??"


"Ya enggaklah. Masa baju kotor aku simpan lagi"


Viola langsung pergi ke belakang tempat di mana dia biasa meletakkan baju kotornya setelah tak menemukan satupun bajunya di keranjang itu.


Erland mengikuti Viola, mencoba membantu istrinya mencari bajunya yang entak kemana. Mereka berdua mengobrak abrik mesin cuci dan juga tempat sekitarnya.


"Gimana Vi??" Tanya Erland pada Viola yang baru saja mencari di tempat penjemuran.


"Nggak ada" Jawab Viola lesu.


"Aneh, baru kali ini baju bisa hilang. Apalagi semuanya milik kamu. Apa itu tandanya ada yang nggak bener sama kamu makanya di incar sama jin" Sarah tiba-tiba muncul dengan argumennya sendiri.


"Astaghfirullah Sarah!! Kenapa kamu bisa berpikiran jelek seperti itu" Tegur Erland pada istri pertamanya.


"Ya kali aja, auranya negatif jadinya si sukai banyak jin"


"Sarah, jaga bicara ka..."


"CUKUP!!" Teriak Viola.


"Untuk apa harus berdebat. Rumah ini punya mata di setiap sudutnya. Jadi tinggal putar saja dan kita lihat. Jin apa yang memungut pakaian bekas"


Erland melihat cctv yang berada di atasnya. Benar juga apa kata Viola, kenapa dia baru ingat hal itu.


Mereka semua menunggu Erland di depan televisi. Sementara Erland mulai memutar rekaman di saat Viola membawa baju-baju kotornya ke luar kamar, lalu Viola yang meletakan bajunya di mesin cuci.


Kemudian Erland melompatinya beberapa jam di saat Bi Tum di tempat itu memisahkan baju-baju milik Sarah dan Erland.


"Nah di situ saya sudah tidak menemukan baju Bu Viola lagi Pak" Jelas Bi Tum.


"Oke kita mundur dari sini kalau begitu"


Viola terus melihat rekaman itu tanpa mau terlewat sekalipun. Sementara Sarah masih acuh tak acuh dan memilih melihat ponselnya.


"Tunggu!!" Ucap Viola karena melihat seseorang keluar dari tempat untuk mencuci baju.


"Mundur lagi beberapa menit dari situ"


Erland menurutinya, dan setelah itu Erland langsung melihat ke arah Sarah yang sejak tadi hanya diam.


"Nah jelas kan sekarang. Ternyata memang benar-benar ada jin di rumah ini. Tapi jinnya bodoh banget bisa ketangkep cctv" Sarkas Viola.

__ADS_1


"Sarah, jelaskan apa maksud kamu melakukan ini!!"


__ADS_2