Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
43. Cemburu


__ADS_3

Erland terus saja diam dengan rahangnya yang mengeras, tatapannya tajam menatap jalanan. Laju kendaraannya yang di pacu dengan kencang akhirnya membuat Viola bersuara.


"Tambah terus kecepatannya, biar kita m*ati sekalian!!" Ucapan Viola yang masih terdengar tenang itu langsung mengehentikan Erland.


"Kenapa sih sebenarnya?? Kenapa segitu nggak sukanya kalau aku dekat sama Kak Yovi?? Kita cuma temenan" Kesal Viola.


Sepertinya ada yang aneh dengan suaminya itu. Atau mungkin kepalanya sudah terbentur batu.


"Vi, dia suka sama kamu"


"Ya emangnya kenapa?? Kita juga nggak ngapa-ngapain"


Mereka berdua mulai berdebat di pinggir jalan. Perdebatan pertama mereka yang sama-sama mengeluarkan urat lehernya.


"Abang tetap nggak suka!!"


"Ya apa alasannya!!"


Suara mereka yang cukup keras di depan wajah masing-masing membuat suasana dia dalam mobil itu menjadi tegang.


"Abang cemburu!! Puas kamu!!" Erland mengalihkan wajah ke depan. Mengatur nafasnya yang memberubu. Menetralkan emosi dalam dirinya, sadar jika telah berbicara dengan nada tinggi pada Viola.


Dia sadar betul saat mengatakan dirinya cemburu. Itu juga bukan karena asal bicara karena kemarahannya saja. Tapi memang Erland benar-benar merasakan ketidaksukaannya jika ada lelaki lain yang mendekati Viola. Apalagi saat melihat Viola bisa tertawa dengan Yovi. Rasanya panas, sesak dan ingin berteriak saat itu juga.


"Apa aku sudah benar-benar mencintainya?? Secepat ini??"


Sementara Viola belum bereaksi apapun selain membeku karena ucapan Erland itu.


"Benarkah dia cemburu?? Sikapnya yang uring-uringan sejak bertemu dengan Kak Yovi itu karena dia cemburu??" Viola memegangi dadanya yang juga berdetak tak wajar.


Mereka berdua saling terdiam selama beberapa saat. Mengendalikan perasaannya masing-masing


"Maafkan Abang Vi. Abang tidak bisa mengontrol emosi Abang" Erland belum berani menetap Viola.


"Seharusnya tidak perlu seperti itu. Aku bukanlah wanita yang mudah tergoda. Walau kita masih mencoba untuk saling menerima. Tapi aku menjaga diriku sendiri sebagai seorang istri. Jadi tidak perlu khawatir tentang itu"


Erland terbuai dengan suara Viola yang begitu lembut. Tidak seperti tadi saat mereka beradu mulut.


Tangan Vioal yang berada di atas pangkuannya di raih Erland dalam genggaman tangannya yang lebar itu.


"Maaf" Ucap Erland dengan penyesalannya.

__ADS_1


"Hemm" Viola mengangguk dua kali.


"Kita pulang sekarang??" Tanya Erland.


"Iya, jalan pelan-pelan saja. Jangan kaya tadi"


"Siap istriku" Erland tersenyum hingga menunjukkan giginya yang rapi.


Meski Viola tak membalasnya, tapi pipinya yang memerah cukup menunjukkan jika dirinya tersipu dengan sebutan yang Erland berikan.


Ketika mereka tiba di rumah, ternyata Sarah sudah menyambut mereka si ruang tamu.


Dengan wajahnya yang pucat dan terus memegangi perutnya, Sarah berjalan dengan sempoyongan menghampiri Erland dan Viola.


"Mas, kamu baru pulang?" Suara Sarah juga terdengar lemah.


"Kamu kenapa Sarah?" Erland begitu khawatir melihat keadaan Sarah. Dia langsung merangkul pundak Sarah dan membawanya duduk kembali di sofa.


"Perutku sakit Mas" Keluh Sarah bersandar pada dada Erland.


"Kamu salah makan?? Atau sedang datang bulan?? Kita ke dokter saja ya?? Atau biar Viola memeriksa mu??"


"Tadi sebelum pulang aku sudah mampir ke Dokter Mas"


"Lagian siapa juga yang mau periksa dia" Gumam Viola dengan pelan.


"Ya udah, ayo aku antar ke kamar" Erland membantu Sarah berdiri. Tak melepaskan tangannya dari pinggang Sarah.


"Mas, bisakah malam ini kamu tidur di kamar kita??"


Viola yang belum jauh dari sana sempat menghentikan langkahnya sebentar.


"Tapi.."


"Aku tau malam ini kamu seharusnya bersama Viola. Tapi aku sedang sakit Mas, apa kamu tidak bisa menemaniku??" Sarah melirik Viola yang berdiri tak jauh darinya.


"Baiklah" Jawaban Erland membuat Sarah merayakan kemenangan di dalam hatinya.


Viola kembali melanjutkan langkahnya dengan senyum kecut terlihat di bibirnya.


-------

__ADS_1


Erland benar-benar merawat Sarah semalaman. Erland juga menuruti keinginan Sarah yang ingin makan malam di kamar dengan di suapi Erland. Melupakan Viola yang seharusnya saat ini tidur dengannya. Makan malam pun di lewatkan Viola sendirian. Jika saat seperti inilah Viola merasakan kesendirian, tidak enaknya ketika harus berbagi dengan orang lain.


Sudah lewat tengah malam Erland terbangun dari tidurnya. Sarah juga tampak lelap dalam mimpinya. Wajahnya sudah tidak pucat lagi, bahkan sejak mereka masuk ke dalam kamar, Sarah juga tidak lagi mengeluh sakit pada perutnya.


Dengan berlahan Erland turun dari ranjangnya, sepelan mungkin agar tak mengusik Sarah sedikitpun.


Erland memilih keluar, turun ke lantai bawah. Berharap dengan penuh jika pintu kamar Viola tidak di kunci dari dalam.


Erland menarik ke bawah handle pintu kamar berwarna putih itu. Memang keberuntungan Erland atau Viola yang sengaja tidak mengunci pintunya. Yang jelas Erland langsung sumringah karena dengan leluasa bisa masuk ke dalam sana.


Viola tidur membelakangi pintu kamarnya, dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas pinggang. Sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Erland di sana.


Tanpa berpikir panjang lagi, Erland langsung ikut masuk ke dalam selimut itu. Mengikis jarak di antara mereka, hingga punggung Viola benar-benar menempel pada dada Erland. Tangannya yang aktif itu juga sudah melingkar dengan manis di pinggang Viola.


Mungkin karena merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Viola mulai bergerak gelisah, hingga tangannya menyentuh pinggangnya yang sudah di peluk oleh tangan misterius.


Bola mata Viola langsung terbuka lebar dan ingin memberontak saat itu juga, tapi suara yang begitu Viola kenali membuatnya mengurungkan niatnya.


"Ini Abang" Bisik Erland tepat di tengkuk Viola.


"Ke-kenapa ada disini?? Bukannya Sarah sedang sakit??" Viola takut Erland bisa mendengar suara jantungnya yang keras itu.


"Dia sudah tidur"


"Kalau dia mencari mu bagaimana??"


"Dia sudah sembuh. Lagipula malam ini memang seharusnya Abang ada di sini" Erland semakin menarik Viola merapat padanya. Tak memberikan celah sedikitpun di antara mereka.


"Ayo tidur lagi, Abang masih nagntuk"


Hembusan nafas Erland yang menerpa tengkuk Viola membuat badan Viola meremang. Apalagi tanpa sengaja bibir Erland mengenai pundak Viola yang tak tertutup baju tidurnya yang tipis. Membuat Viola semakin gelisah.


Badan Viola yang terus bergerak tak tenang, meski pelan namun bisa membuat tonjolan keras di bawah sana.


Belum lagi harum rambut Viola yang menyegarkan, kulitnya yang harum dan lembut membuat Erland semakin menggila.


Viola memejamkan matanya dengan paksa karena bisa merasakan sesuatu yang sudah tak terkendali itu. Viola tentu saja paham akan hal itu. Bahkan sebagai seorang Dokter, Viola tentu saja sudah pernah melihat secara langsung.


"Vi, bolehkah??" Nafas Erland semakin memberubu dengan suaranya yang semakin berat.


"Maaf aku sedang haid, dan masa suburku masih dua belas hari ke depan. Jadi sabar dulu ya" Viola memang tidak berbohong. Dia juga tau jika h*srat seorang pria sangat susah di kendalikan.

__ADS_1


"Tidak papa, Abang akan sabar menunggu kamu. Tapi Abang ke kamar mandi dulu"


Viola membiarkan Erland ke kamar mandi tanpa berusaha mencegahnya. Karena Viola tau apa yang akan Erland lakukan di dalam sana.


__ADS_2