Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
60. Ke dua kalinya


__ADS_3

Viola memperhatikan Erland yang sedang melepas jas dan juga kemejanya begitu saja di hadapan Viola. Akhir-akhir ini bahkan Erland memindahkan sebagian bajunya ke kamar Viola. Katanya biar tidak bolak balik ke atas saat gilirannya tidur di kamar Viola.


"Stop!!" Viola menghentikan Erland yang sudah menurunkan resleting celananya.


"Kenapa sayang??" Erland melihat Viola yang sudah menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Di kamar mandi kan bisa Bang!! Kenapa juga harus lepas disini!!"


Erland terkekeh melihat reaksi istrinya yang masih saja malu melihat tubuh polos suaminya. Tapi setelah itu muncul senyuman licik di wajah Erland.


Dengan sengaja Erland tetap melepaskan celana panjangnya dan hanya menyisakan ****** ******** saja. Berlahan Erland mendekati Viola tanpa wanita itu ketahui. Lalu dengan pelan meniup daun telinga Viola.


Reaksi tubuh Viola sama seperti apa yang di bayangkan Erland. Bandan Viola terlihat menegang lalu dengan cepat membuka tangan yang menutupi wajahnya itu.


"Akkhhhh!!! Abang!!" Teriak Viola karena terkejut dengan dada polos Erland yang begitu dekat wajahnya. Gerakan tangannya yang cepat ingin mendorong Erland menjauh justru di tangkap Erland dan membuat Erland terjerembab ke depan menindih Viola di atas ranjangnya.


Tangan Viola yang di gunakan untuk mendorong Erland tadi, sekarang justru mendarat mulus di perut berotot berbentuk kotak-kotak itu.


Selama beberapa detik Viola sempat mengagumi benda berotot yang keras di tangannya. Benda yang pernah menempel tanpa jarak pada tubuhnya.


"Kamu menginginkannya??" Suara itu membangunkan Viola dari lamunannya. Viola mengangkat wajahnya ke atas, menatap wajah sempurna yang masih mengungkung tubuhnya.


"En-enggak!! Cepat minggir aku mau tidur" Viola mengalihkan wajahnya dari Erland. Tak kuat dengan pesona pria itu.


"Aduuhhhh laki siapa ini ganteng banget" Rutuk Viola dalam hati.


"Benarkah??" Bukannya Erland menuruti Viola untuk menjauh, Erland justru mendekatkan wajahnya ke rahang Viola yang sedang menengok ke samping. Menempelkan ujung hidungnya di rahang yang putih mulus itu. Lalu bergerak turun hingga sampai di bawah telinga Viola. Mengge sekkan ujung hidungnya di sana.


Viola mencengkeram ujung bajunya, merasakan sensasi yang membuat bulu kuduknya berdiri semua.


"Tapi kenapa tubuhmu bereaksi lain sayang??" Viola ingin kembali mendorong Erland dari atas tubuhnya. Tapi tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang keras di balik satu-satunya kain di tubuh Erland yang tersisa.


Wajah Viola semakin memerah kemudian kembali menyembunyikan tangannya yang telah ternodai itu.


"Sudah lihat kan yank, punya Abang udah terlanjur bangun. Dia minta ditidurkan sama kamu. Mau ya??" Tangan Erland mulai bergerak aktif dengan mengusap pipi Viola hingga sampai ke tulang selangkanya.

__ADS_1


"Ak-aku.." Viola mencari alasan untuk menolak Erland meski tubuhnya justru mengkhianatinya dengan menikmati sentuhan-sentuhan itu.


"Abang minta hak Abang dari kamu sayang. Tegakah kamu baru memberikan hak itu satu kali??" Kini hidung mereka sudah bertemu.


"Ta-tapi itu memang kesepakatan kita kan?? Aku ha-hanya akan melakukannya satu kali demi memberikan Ibu cucu" Viola dengan susah payah mengeluarkan suaranya.


"Tapi Abang tidak pernah menyetujuinya. Kamu istri Abang itu tandanya kamu milik Abang" Suara parau Erland dan juga tatapannya yang sayu itu membuat Viola paham jika suaminya itu sudah di ujung g*irah.


Erland sudah tidak tahan memendam keinginannya untuk meminta haknya lagi. Viola bagaikan candu baginya, baru sekali mereka melakukannya tapi Erland begitu ketagihan ingin merasakannya lagi. Erland juga tidak tau kenapa bisa begitu tergila-gila dengan semua yang ada pada Viola. Wajah cantiknya, senyumnya, sikap galak dan ketusnya, tubuhnya. Erland bagaikan pemuda yang baru satu kali merasakan kenikmatan duniawi saat bersama Viola.


"I-itu hmmmppp...."


Telat, Viola tak bisa mengeluarkan alasannya lagi karena Erland terlanjur melahap bi bir Viola. Erland membuat Viola tak bisa menolak se ntuhan itu karena Erland melakukannya dengan begitu lembut namun terkesan menuntut.


Tangan Erland yang aktif itu mulai bergerak naik mencari sesuatu di balik kain tipis yang menutupi sebagian tubuh Viola.


Viola kini sudah pasrah, meski otaknya mengatakan untuk menolak namun tubuhnya hanya bisa menerim sentuhan-sentuhan memabukkan itu.


"Sayang, apa ini tidak akan menyakitinya??" Erland mencium perut Viola yang sudah tidak tertutup sehelai benang pun.


Viola hanya menggeleng, tak peduli Erland melihatnya atau tidak.


Viola sudah tidak kuasa lagi menolak, karena nyatanya dia sudah tidak berdaya di bawah pesona Erland yang tak mampu di tolaknya itu.


Keduanya masih mengatur nafasnya setelah satu kali pelepasan. Erland yang memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi meski h*sratnya masih terus mendesak. Dia tidak mau egois dan menyakiti Viola dan janinnya itu.


"Bulan ini bukankah jadwal kamu ke Dokter sayang??" Erland memeluk Viola dari samping.


"Iya, lusa rencananya. Sebelum acara lamaran Bang Vino harus sudah ke Dokter dulu" Jawab Viola dengan memejamkan matanya.


"Abang paginya akan ke kantor dulu karena ada berkas penting yang harus Abang periksa. Lalu siangnya antar kamu periksa, setelah itu Abang nggak akan kembai ke kantor lagi " Erland terus mengecup bahu polos Viola, dan itu membuat pemiliknya merasa kegelian.


"Ngapain?? Kan cuma sebentar" Viola tidak mau kalau Erland sering tidak masuk ke kantor hanya karena maslaah urusan pribadinya.


"Karena habis itu, Abang mau ajak kamu jalan-jalan. Anggap aja kencan pertama kita. Walaupun sudah menjadi suami istri, nggak ada salahnya kan kalau pacarannya nyusul??"

__ADS_1


"Nggak mau, aku sibuk!!" Tolak Viola.


"Ayolah yank, ya??" Rayu Erland.


"Kita lihat aja nanti"


"Pokoknya harus mau" Paksa Erland.


"Cihh.. dasar pemaksa!!" Cibir Viola.


Posisi mereka masih sama, Erland yang tak mau jauh-jauh dari Viola. Memeluk tubuh Viola yang kini menjadi candunya. Bahkan Erland sepertinya sudah melupakan tubuh Sarah yang menggoda itu.


"Bang, kenapa kamu marahin Endah gara-gara waktu itu aku mau jatuh. Kan Endah juga nggak tau"


Erland langsung bangun dengan sikunya sebagai tumpuan.


"Dia ngadu sama kamu??" Sepertinya Erland harus membungkam mulut adiknya itu.


"Enggak, dia cuma minta maaf karena hampir buat aku jatuh. Tapi kan itu bukan kesalahan Endah, ngapain dia minta maaf. Kamu juga, ngapain harus marahin Endah??"


Erland kembali berbaring di sisi Viola, tapi kali ini menyamping menghadap istrinya itu.


"Ya karena Abang khawatir sama kamu yank. Abang takut kamu dan anak kita kenapa-kenapa. Jadi sebisa mungkin Abang juga meminta bantuan mereka untuk ikut menjaga kamu. Biar mereka lebih hati-hati, bukannya Abang marah-marah, tapi cuma kesel aja" Jelas Erland tentang maksudnya menegur Endah itu.


"Beneran?? Bukan hanya mengkhawatirkan anak dalam kandunganku ini??" Viola menatap Erland dengan tenang meski sebenarnya hatinya sangat takut jika jawaban Erland menunjukkan kebenaran atas pertanyaannya itu.


Erland mengusap wajahnya sebentar sebelum matanya mulai menatap Viola begitu dalam.


"Apa kamu benar-benar belum percaya sama sekali dengan Abang??"


Viola menelan ludahnya denhan kasar, dia yang di tatap seperti itu begitu gugup dan tak mampu berkata-kata.


"Apa yang harus Abang lakukan lagi untuk meyakinkan kamu??"


Sebenarnya Viola tidak pernah melihat kepura-puraan dari Erland dalam memperlakukannya. Tapi rasa takut karena pernah di bohongi pria itu selalu menghantui.

__ADS_1


"Aku sedang mencobanya, jadi terus yakinkan aku supaya bayangan kebohongan masa lalu itu berangsur menghilang" Ucap Viola dengan susah payah.


"Pasti, itu pasti akan Abang lakukan demi kamu. Demi anak kita"


__ADS_2