
"Abang sudah kembali sayang. Maaf Abang meninggalkan kamu sedikit lama. Abang ada sedikit urusan sama Edgar" Ucap Erland sambil merapikan selimut Viola yang tidak berantakan sama sekali.
"Iya, nggak papa Bang" Sahut seseorang yang di ajak bicara oleh Erland.
Erland sempat terhenyak karena suara itu. Suara yang sangat ia kenali. Meski lirih dan sangat pelan namun suara itu hang sangat ia nantikan.
"Sayang, kamus sudah bangun??" Kesadaran Viola membuat Erland seperti orang linglung, jelas Viola sudah bangun tetapi dia masih bertanya pada Viola.
Viola mengangguk dengan senyum tipisnya di bibirnya yang pucat.
"Alhamdulillah Ya Allah"
Erland memeluk dan menciumi wajah Viola bertubi-tubi.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga. Abang panggil Dokter dulu!!" Erland ingin pergi daru sana namun Viola berhasil menahan tangan Erland.
"Tidak usah Bang, aku baik-baik saja"
Erland mengeluarkan air mata bahagianya di bahu Viola. Dia memeluk wanita yang kini menjadi pusat dunianya itu.
"Kenapa Abang menangis??"
"Abang terlalu bahagia sayang. Abang tentu saja tidak sanggup melihat kamu yang terus memejamkan mata seperti tadi. Pikiran Abang terus membayangkan bagaimana hidup Abang kalau tanpa kamu. Bagaimana juga dengan anak kita" Viola langsung mendorong bahu Erland dengan pelan agar menjauh darinya.
"Abang bagaimana dengan anak kita?? Bayiku di mana Bang?? Bagaimana keadaannya?? Dia baik-baik saja kan??"
Erland tersenyum melihat kepanikan Viola yang langsung memberondong pertanyaan kepadanya.
"Anak kita baik-baik saja sayang. Dia masih berada di ruang observasi. Jagoan kita kuat seperti kamu" Erland mengusap lembut pipi Viola.
Untuk saat ini Erland tidak mungkin mengatakan kejadian di ruang operasi tadi. Dia tidak mau membuat Viola syok mendengar keadaan putranya yang hampir saja pergi.
"Jagoan??" Kening Viola berkerut.
"Iya, dia laki-laki. Tampan, dan mirip sekali dengan Abang"
Sudut mata Viola mulai berair. Dia begitu bahagia mendengar keadaan bayinya meski belum melihatnya sendiri.
Anak yang begitu ia nantikan kelahirannya, meski dia tidak bisa menggendong bayinya saat pertana kali lahir ke dunia, meski tak bisa mendengar tangisan pertamanya, Viola tetap sangat bahagia.
__ADS_1
"Kapan dia di bawa kesini Bang. Aku ingin segera melihatnya, aku sudah tidak sabar. Dia pasti tampan sepertimu" Erland malah terkekeh mendengar ucapan Viola itu.
"Kenapa Abang tertawa??"
"Akhirnya kamu mengakui kalau Abang tampan"
Viola langsung mendengus dengan bola matanya yang berputar.
"Abang narsis sekali" Cibir Viola.
Erland mengusap-usap kepala Viola dengan lembut, memandangi seluruh wajahnya dengan begitu dalam.
"Kenapa Abang lihat aku kaya gitu??" Viola masih sesekali memejamkan matanya. Mungkin masih merasakan pusing di kepalanya.
"Abang terlalu bahagia karena bisa melihat mata kamu kembali terbuka, mendengar suara kamu. Abang tak lagi berbicara sendiri tanpa sahutan dari kamu. Semua rasa takut Abang menghilang begitu saja saat ini. Sungguh kebahagiaan Abang ini tidak bisa dijabarkan lagi"
"Benarkah Abang merasakan hal seperti itu??" Vola menatap Erland dengan begitu intens.
"Kamu boleh tidak percaya, tapi Allah saksinya" Erland membawa tangan Viola mendekati wajahnya. Mencium punggung tangan yang putih itu dengan begitu lama.
"Abang lupa belum memberi kabar kalau kamu sudah sadar sama Mami dan Ibu" Erland langsung melepaskan tangan Viola dan mencari keberadaan ponselnya.
"Besok saja Bang!! Sekarang sudah malam, aku tidka mau kalau mereka sampai buru-buru kesini hanya karena ingin melihat keadaanku"
Viola membenarkan apa kata Erland.
"Ya sudah, tapi katakan pada mereka kalau besok saja kesininya. Sekarang sudah malam"
"Abang akan mengirim pesan pada Vino saja. Biar dia yang memberitahu Ibu dan Mami" Viola mengangguk, dia rasa itu yang lebih baik.
Erland meletakkan ponselnya di atas nakas setelah berhasil mengirim pesan pada Vino.
"Sayang, Abang ingin tanya sama kamu. Ini ada hubungannya dengan keadaan kamu tadi"
Viola bingung, memang bagaimana keadaannya tadi, sampai Erland terlihat begitu khawatir pada Viola.
"Apa itu Bang??"
"Apa kamu meminum obat atau tidak sengaja menelan obat yang berbahaya bagi kandungan kamu??"
__ADS_1
"Maksud Abang??"
"Sayang, tadi kamu hampir saja membuat Abang ingin mengakhiri hidup Abang karena keadaan kamu yang sudah tidak sadarkan diri dan mengeluarkan banyak darah. Kamu sudah membuat panik semua orang" Erland menutup wajahnya karena tak sanggup mengingat kejadian tadi.
Viola tak mengira jika keadaannya tadi begitu parah. Kini dia paham kenapa Erland langsung menangis dan menciumnya bertubi-tubi saat ia bangun tadi.
"Yang semakin membuat Abang terkejut itu, hasil pemeriksaan Dokter yang mengatakan kalau kamu tidak meminum obat untuk peluruh kandungan dengan dosis yang sangat tinggi"
Viola sampai melebarkan matanya karena sangat terkejut dengan kabar yang sangat mustahil baginya itu.
"Aku meminum obat seperti itu Bang?? Mana mungkin?? Aku Dokter, tentu saja aku tau jenis obat-obatan. Aku juga tidak akan tega untuk membu nuh darah daging ku sendiri Bang" Bantah Viola dengan tegas.
"Abang juga tidak percaya sayang. Makanya Abang ingin menanyakannya langsung sama kamu. Kalaupun memang benar obat itu masuk ke dalam badan kamu, Abang yakin itu tidak sengaja atau memang karena kamu tidak tau"
Viola mengangguk, karena Viola sendiri yakin kalau dirinya tidak meminumnya. Dia juga tidak mempunyai obat seperti itu di rumah.
"Tapi bagaimana bisa obat itu masuk kedalam badanku Bang?? Aku hampir saja membahayakan nyawa anakku sendiri"
Viola ingat saat dirinya begitu kesakitan. Perutnya bagai di tusuk-tusuk dengan tombak yang tajam. Kini dia tau penyebabnya, itu adalah reaksi dari obat yang katanya dia minum itu.
"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan ini semua sayang??"
Erland mencoba memberi tahu Viola tentang kecurigaannya.
"Efek dari obat itu bisa membuat anak kita tidak terselamatkan dan juga kerusakan pada rahim kamu. Rahim kamu bisa di angkat saat itu juga jika kamu telat mendapatkan pertolongan"
"Apa separah itu Bang??" Viola merasa ketakutan hanya dengan mendengar kemungkinan-kemungkinan itu.
"Hemmm, makanya Abang begitu takut"
"Tapi aku merasa tidak asing dengan hal itu Bang" Viola terlihat memikirkan sesuatu.
"Apa itu sayang??"
"Reaksi obat itu mengingatkan aku pada Sarah. Dia juga kehilangan rahimnya akibat menggugurkan kandungannya kan??"
"Ya benar, Sarah menggunakan obat itu" Ucap Viola lagi membenarkan dugaannya.
"Pikiran kamu sama seperti Abang yank. Apa perubahan sikap Sarah ada hubungannya dengan semua ini?? Dia suka memasak juga akhir-akhir ini kan?? Dia tidak suka memasak dari dulu. Apa dia sengaja memasukkan obat itu ke dalam makanan kamu??" Tebak Erland.
__ADS_1
Viola kembali mengingat kejadian beberapa hari ini.
"Aku ingat Bang!!"