Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
108. Tanda tangan


__ADS_3

Tok..Tok..Tok..


Erland dan Viola kembali membuka matanya saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Erland sedikit kesal karena sudah ada yang mengganggu waktu istirahatnya.


"Siapa sih Bang??" Tanya Viola.


"Mana Abang tau"


Dengan malas Erland turun dari ranjang untuk membuka pintunya.


"Mas??"


Viola langsung tau siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya meski orang itu masih tertutup badan Erland.


"Ada apa??" Tanya Erland dengan dingin. Menatap Sarah dengan dingin serta kedua tangannya yang di sembunyikan pada kantung celananya.


Erland melirik amplop besar berwarna coklat yang di bawa oleh Sarah.


"Emmm, boleh bicara sebentar Mas??" Tanya Sarah dengan gugup. Dia tak yakin kalau Erland mau memberinya waktu barang sedikit saja.


Erland menoleh kebelakang dimana istrinya berbaring saat ini. Meminta persetujuan dari Viola atas permintaan Sarah itu.


Viola hanya mengangguk untuk memberikan ijin pada Erland.


"Ke ruang kerjaku saja" Erland melewati Sarah dengan memiringkan tubuhnya, seakan tak sudi untuk bersentuhan dengan Sarah.


Erland berdiri agak berjauhan dari Sarah. Erland yang berdiri menghadap ke jendela, sedangkan Sarah berada di depan meja kerja Erland. Bukan seperti dua orang yang pernah saling mencintai sebelumnya karena aura dingin begitu terasa di ruangan itu.


"Apa yang ingin kamu bicarakan??" Siara Erland yang dulunya terdengar begitu hangat kini sungguh membuat telinga ikut membeku ketika mendengarnya.


"Tentu kamu tau amplop apa yang aku bawa ini kan Mas??" Sarah mengawalinya dengan sebuah pertanyaan yang enggan di jawab oleh Erland.


Meski sedikit kecewa tapi Sarah tetap melanjutkan ucapannya. Tak peduli Erland akan mendengarkannya atau tidak.


"Tapi sebelum itu, bolehkah aku bertanya satu hal sama kamu Mas??"


Sarah berjalan mendekat tepat di belakang punggung Erland.


"Apa??"

__ADS_1


Sarah tak pernah menyangka jika kesalahan yang di buatnya bisa mengubah Erland menjadi pria yang begitu kaku seperti sekarang ini.


"Seandainya aku benar-benar berubah dan menyesali semua perbuatan ku. Aku bertobat, dan menjadi istri yang berbakti sama kamu. Apa kamu mau memberikan kesempatan satu kali lagi kepadaku Mas??" Sarah berusaha menahan suaranya yang bergetar.


"Tidak!!" Jawab Erland dengan tegas meski Sarah harus menunggu beberapa detik untuk jawaban yang sangat mengecewakan itu.


"Kenapa Mas??"


Sarah masih ingin tau apa alasan Erland tidak bisa menerimanya kembali meski hubungannya dengan Radian juga sudah benar-benar berakhir.


"Karena kamu tidak akan pernah berubah. Bukan hanya karena perselingkuhan mu saja. Tapi sifat mu yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginanmu itu tidak akan pernah hilang Sarah!!" Jelas Erland dengan suaranya yang tenang meski pikirannya terus mengingat saat-saat Sarah berpura-pura keguguran di depan Erland.


"Kenapa kamu bisa bilang begitu sedangkan kamu saja belum memberikan ku kesempatan untuk membuktikannya Mas" Sarah tak terima dengan kesimpulan tampa pembuktian dari Erland itu.


Erland terdiam, kali ini dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sarah.


"Apa di dalam hatimu sudah tidak ada cinta sedikitpun untukku Mas??"


"Cinta??" Erland mengulang kata itu dengan sinis.


"Tentu saja masih ada walaupun sangat sedikit sekali. Namun semua itu sudah tertutup awan hitam yang kamu tiupkan sendiri. Jadi aku lebih memilih mengusir awan hitam itu dari hidupku daripada selamanya harus berselimutkan awan gelap akibat ulah istriku sendiri"


Rasanya hati Sarah seperti tergores belati yang sangat tajam. Begitu perih dan sakit karena terasa terbelah menjadi dua.


"Sudah lebih dari satu pertanyaan kurasa" Erland memotong ucapan Sarah yang ia perkirakan akan lebih dari lima puluh kata itu.


"Sebenarnya kamu ingin menandatangani surat itu sekarang atau memohon agar kamu bisa kembali padaku??" Sarkas dari Erland itu langsung membungkam mulut Sarah. Dia benar-benar seperti tak di beri kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya.


"Aku akan menandatanganinya. Kamu jangan khawatir Mas. Keputusanku juga sudah bulat seperti dirimu. Aku banyak bicara saat ini hanya karena aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan dari dalam hatiku saja" Bela Sarah pada dirinya sendiri.


"Lalu apa kamu sudah mendapatkan jawabannya??"


"Sudah meski aku belum terlalu puas. Tapi tak apa, itu sudah membuatku lega saat ini"


Sarah mulai membuka amplop surat itu. Rasanya ingin sekali merobek surat itu di depan Erland. Namun sudah tidak ada cara lain lagi selain menandatangani surat itu.


Sarah dengan tangan bergetar mulai membubuhkan tandatangannya di atas urat terkutuk itu.


Matanya terpejam sejenak setelah dirinya resmi menerima perceraian itu. Meski perceraiannya itu belum di resmikan oleh pengadilan namun dengan tandatangan Sarah yang tersemat di sana, secara tak langsung Sarah sudah bercerai dengan Erland.

__ADS_1


"Aku sudah menandatanganinya Mas" Sarah mencoba setegar mungkin saat mengatakannya.


"Bagus, secepatnya aku akan menyerahkannya ke pengadilan. Kamu tidak usah khawatir tentang harta gono gini. Tentu saja kamu akan mendapatkannya sesuai dengan hak mu. Biar pengacaraku yang mengurus semuanya. Sekarang aku harus ke kamarku. Istriku sudah lama menungguku"


Erland kertas yang sudah di tandatangani oleh Sarah itu kemudian pergi dari raung kerjanya. Dia sama sekali tak peduli dengan raut sedih di wajah Sarah. Apalagi saat Erland terang-terangan menyebut Viola istrinya di depan Sarah yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya.


Erland kembali ke kamarnya dengan surat perceraian masih di tangannya. Suasana hati Erland langsung berubah setelah melihat Viola sudah tertidur dengan lelap.


Sebelum menyusul Viola berbaring, Erland lebih dulu menyimpan surat tadi ke dalam tas kerjanya. Besok pagi Erland akan langsung menyerahkan itu pada pengacaranya. Dia ingin masalah itu cepat selesai. Memberikan sebagian hartanya untuk Sarah juga tak masalah baginya asalkan bisa cepat terbebas dari wanita licik seperti Sarah.


Erland berlahan menaiki ranjangnya di belakang Viola. Seperti biasa, Erland akan langsung memeluk Viola dari belakang. Berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama.


Tak perlu di suruh tangan Erland juga sudah otomatis terletak pada tempatnya. Sebelum ikut memejamkan matanya, Erland sempat mengecup pipi Viola dengan singkat.


CUP...


"Selamat tidur sayangnya Abang" Bisik Erland meski tak yakin Viola bisa mendengarnya.


Erland mulai memejamkan matanya. Menyusul Viola ke alam mimpi. Terharu di dalam mimpi, Erland juga bisa bertemu dengan istrinya itu.


Setengah jam sudah terlalu, tapi Erland tak juga dapat tertidur. Dia hanya terus mencoba memejamkan matanya.


"Kenapa nggak tidur-tidur sih Bang??"


Erland terkejut karena pertanyaan tiba-tiba dari Viola.


"Kamu belum tidur yank??"


"Sudah tapi aku terbangun karena kamu yang sepertinya tak nayaman dengan posisimu saat ini"


Sejak tadi menang Erland terus bergerak meski dengan pelan. Entah itu menarik tangannya dan memeluk Viola kembali, atau membenarkan posisi kepalanya. Yang jelas gerakan itu telah berhasil membuat Viola terbangun.


"Bukan karena Abang tak nyaman sayang. Tapi hati Abang rasanya tak tenang"


"Kenapa??" Viola membuka matanya meski tak mengubah posisinya.


"Sarah sudah menandatangani surat perceraian kami"


"Lalu??"

__ADS_1


"Abang nggak tau kenapa, tapi rasanya hati Abang nggak tenang"


"Abang hanya takut kehilangan kamu dan anak kita" Erland semakin mempererat pelukannya pada Viola.


__ADS_2