
"Sayang??"
Erland menarik Viola agar berbalik ke arahnya. Seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Jari manis Viola yang biasanya kosong tak terisi apapun kini tersemat sebuah cincin cantik yang masih bisa Erland kenali.
"Sayang, ini??"
Erland meraih tangan Viola. Memastikan jika yang dia lihat itu benar adanya. Viola memakai cincin yang dulu di pakaikan Erland saat menikahinya.
Sudah hampir empat tahun ini cincin itu sengaja tidak di pakai Viola. Erland kira, Viola telah membuangnya. Namun siapa sangka jika Viola memilih menyimpannya.
"Ini cincin pernikahan kita. Dulu aku memutuskan untuk menyimpan cincin agar aku melupakan keberadaannya, bahkan berharap cincin ini menghilang selamanya. Tapi saat ini aku memutuskan untuk memakainya lagi"
Viola kembali melihat cincin itu di jarinya. Begitu cantik dan pas dengan ukurannya yang tidak terlalu besar.
"Apa itu artinya kamu mau menerima Abang lagi di hati kamu sayang?? Apa masih ada cinta di hati kamu untuk Abang??" Erland tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Dengan dipakainya cincin pernikahan itu oleh Viola, Erland sudah sangat berharap banyak dengan cintanya yang akan kembali di sambut oleh Viola.
"Abang, selama ini aku memang selalu mengatakan kalau aku benci Abang. Itu memang benar, aku tak bohong. Aku benci Abang karena telah menipuku, menyakiti ku, membuatku hancur. Tapi aku semakin benci sama Abang karena aku tidak bisa membu nuh perasaan ini. Aku tidak bisa menampik rasa cintaku sama Abang. Aku tidak bisa!!" Viola menangis menutup wajahnya dengan keuda tangannya.
GREPP...
Erland merengkuh Viola dalam dekapannya. Menyalurkan rasa bahagianya pada Viola. Akhirnya dia bisa mendengar kata cinta lagi dari Viola.
"Terimakasih sayang, karena kamu masih menyimpan cinta itu untuk Abang" Erland berkali-kali mengecup pucuk kepala Viola.
"Abang tau kalau Abang sangat terlambat, tapi Abang akan menjadikan kamu sebagai cinta terakhir Abang"
Viola semakin terisak di pelukan Erland. Seandainya kata cinta itu terucap dari bibir Erland sejak bertahun-tahun yang lalu. Pastinya Viola tidak akan melewati ujian yang begitu berat.
"Dulu seharunya Abang menahan kamu di sisi Abang. Kalau Abang tidak suka dengan sifat kamu yang kekanakan, harusnya Abang membimbing kamu. Kita berjuang bersama, bukan malah menyuruhmu pergi. Seandainya saja waktu bisa di putar, Abang pasti akan membuang jauh-jauh pikiran bodoh itu"
"Abang!!"
__ADS_1
Viola sedikit mendongak menatap Erland karena pria itu yang tinggi menjulang.
"Kita tidak bisa melawan takdir yang sudah digariskan Allah Bang. Kalau dulu Abang langsung menerima pernyataan cinta dariku. Kita tidak akan sampai ke titik ini Bang. Kita tidak bisa merasakan yang namanya kekuatan cinta. Aku juga tidak akan tau sebesar apa cinta ku untuk Abang" Tangan lembut Viola menyusuri rahang kokoh milik Erland.
"Sedangkan sekarang, walau sudah lebih dari sepuluh tahun berlalu. Rasa cinta itu tidak pernah pudar Bang, rasanya masih sama saat aku memakai seragam SMA dan dengan berani mengatakan cinta sama Abang, bahkan kini rasanya semakin menggebu-gebu"
"Aku masih mencintai Abang. Aku cinta sama Abang" Ungkap Viola dengan segala kesadarannya.
"Ak..."
CUP....
Viola tak bisa mengeluarkan suaranya karena bibirnya sudah terlanjur disumpal oleh bibir lembut Erland.
"Abang tau, Abang percaya" Balas Erland setelah melepas kecupan singkatnya.
"Beruntungnya Abang masih di beri kesempatan untuk memiliki kamu. Allah memang sudah menuliskan skenario untuk jalan cinta kita sayang. Benar kata kamu, kalau Abang tidak akan bisa merasakan cinta yang begitu dalam kalau kita tidak melewati semua ini"
Kedua benda yang lembut dan basah itu langsung bertemu. Mereka berdua saling memejamkan mata berbagi kelembutan yang mereka ciptakan.
Bibir Erland mulai bergerak memimpin permainan. Ciuman yang lembut namun begitu menuntut. Viola hanya pasrah mengikuti gerakan bibir Erland yang sangat lihai memainkan bibir miliknya. Seluruh rongga mulut Viola juga tak luput dari Erland yang mengabsen di setiap sudutnya.
Erland melepaskan bibir milik Viola setelah melihat istrinya itu hampir kehabisan nafasnya. Erland hanya melepaskannya saja tanpa mau menarik wajahnya menjauh. Mereka masih berebut oksigen di sekitar mereka dengan nafas yang terengah-engah.
"Abang mencintai kamu Viola. Sangat mencintai kamu" Bisik Erland dengan keningnya yang masih menyatu dengan Viola.
Setelah beberapa saat Erland dan Viola benar-benar telah mengontrol perasaan mereka yang begitu meletup-letup itu.
"Ayo keluar, mereka pasti sudah menunggu kita yang terlalu lama di dalan sini"
Erland meraih kedua tangan Viola dan menggenggamnya dengan lembut. Tapi Viola tak melihat satu cincin pin terpasang di jari Erland. Entah cincin pernikahan Erland dengan Sarah atau dengannya.
Erland yang mengikuti arah pandang Viola langsung tau apa maksud dari istrinya itu. Laki-laki yang telah berganti status menjadi suami yang beristri satu itu langsung melepaskan tangan Viola.
__ADS_1
"Sebentar"
Viola tidak mengerti dengan apa yang Erland lalukan. Pria itu berjalan menjauh dari Viola menuju lemarinya. Mengambil sesuatu dari lemari itu, sebuah dompet yang sama seperti dompet sering Erland gunakan gang di simpan di salah satu saku jasnya.
Viola mengernyitkan keningnya merasa tak pernah melihat dompet itu di salam sana.
"Ini"
Erland menyerahkan cincinnya kepada Viola. Cincin pasangan yang mirip dengan punya Viola, hanya saja milik Erland tak memiliki batu kecil di tengahnya. Cincin yang juga baru pertana kali Viola lihat.
Erland juga mengulurkan tangannya pada Viola, dan hal itu semkin membuat Viola bingung.
"Pasangkan cincin itu pada jari Abang, karena dulu hanya Abang yang memasangkan cincin itu di hari pernikahan kita. Sekarang ikat Abang untuk diri kamu sendiri. Buat Abang hanya milik kamu seutuhnya sayang. Jangan biarkan Abang membagi cinta Abang lagi selain kepada anak kita"
Viola berkaca-kaca memandangi cincin di tangannya itu. Kemudian mulai bergerak menyentuh tangan Erland yang terulur kepadanya.
"Benar" Suara Viola bergetar menahan tangisnya.
"Mulai sekarang, Abang hanya milikku seorang. Erland hanya milik Viola seorang. Dari dulu sampai sekarang dan kedepannya tidak ada yang boleh mengambilnya dari sisi Viola. Biarkan orang menyebutku egois, yang jelas aku tidak akan rela menyerahkan seseorang yang dari dulu ku perjuangkan untuk wanita lain. Aku tidak akan pernah rela!!" Meski suaranya terdengar bergetar namun masih sangat jelas di dengar oleh Erland.
Erland terharu namun ingin sekali tertawa dengan Viola yang terlihat menggemaskan saat menyuarakan isi hatinya itu.
"Abang hanya milik kamu sayang" Ucap Erland berusaha menahan tawanya.
Akhirnya cincin itu benar-benar terpasang di jari Erland menggantikan cincin pernikahannya dengan Sarah. Viola juga tidak tau kapan Erland melepas cincin itu yang jelas di jari itu hanya tersisa bekas saja tanpa cincinnya.
"Aku juga berharap setelah ini tidak akan ada lagi wanita yang datang dan menagih janji untuk kamu nikahi seperti aku dulu"
Viola melepaskan tangan Erland dengan asal karena kesal dengan pikirannya sendiri.
"Astaghfirullah sayang, Abang bukan pengobral janji seperti itu. Abang hanya pernah berjanji pada satu wanita, cuma kamu saja tidak ada yang lain"
"Ya mana aku tau, kamu kan pembohong ulung" Ucap Viola lalu pergi keluar meninggalkan Erland yang menepuk jidatnya karena pikiran Viola yang begitu mengada-ada.
__ADS_1