
Erland memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah hilang angannya setelah mendengar kabar dari Bi Tum jika Viola saat ini sedang mengeluh kesakitan pada perutnya.
Pikiran Erland hanya satu, dimana Viola mungkin saja akan melahirkan saat ini juga karena sudah mendekati waktu kelahiran bayinya. Jadi Erland berusaha secepat mungkin untuk sampai di rumah.
"BI TUM!!"
Panggil Erland dengan suara lantangnya sejak masih berada di halaman rumahnya.
"BI TUM, DIMANA VIOLA??" Teriak Erland lagi karena belum melihat keberadaan asisten rumah tangganya itu.
"Bapak!!" Bi Tum keluar dari kamar Viola dengan berderai air mata juga suara yang bergetar.
"Mana istri saya Bi?? Bagaimana keadaanya??" Erland sudah ketakutan sendiri saat melihat wajah Bi Tum yang berlinang air mata.
"Di-di dalam Pak"
Erland langsung masuk ke dalam kamar Viola. Mencari keberadaan istrinya yang sampai saat ini belum juga terlihat dari jarak pandangnya.
"Sayang!!"
Erland semakin di buat ketakutan saat melihat Viola yang duduk di lantai dengan kepala bersandar pada ranjangnya. Wajahnya sudah pucat dan lemas serta kedua tangannya yang memegangi perutnya.
"Bang" Lirih Viola.
Erland langsung bersimpuh di sisi Viola. Menyingkirkan sebagian rambut yang telah menutupi separuh wajah Viola.
"Sayang, apa kamu mau melahirkan?? Kita ke rumah sakit sekarang ya??"
"Sakit Bang. Perutku rasanya seperti ingin meledak" Viola mencengkeram lengan Erland dengan kuat, menyalurkan rasa sakit yang saat ini ia rasakan.
"Kamu sabar dulu ya. Kita pergi sekarang"
"Bi Tum!!" panggil Erland.
"Iya Pak??"
"Siapkan semua perlengkapan Viola. Kita pergi sekarang" Pinta Erland pada wanita paruh baya itu.
"Semua sudah saya siapkan dari tadi Pak. Kita bisa berangkat sekarang" Bi Tum meraih sebuah koper yang tadi sidah di siapkan sambil menunggu kedatangan Erland.
Bi Tum juga mengira jika Viola akan melahirkan. Jadi sebisa mungkin dia menjaga Viola yang sedang kesakitan sambil mengemas barang-barang yang akan di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Ayo sayang" Erland bersiap menggendong tubuh Viola. Tangannya juga sudah ia selipkan di belakang betis Viola. Tapi Erland merasakan sesuatu yang basah mengenai tangannya. Dengan cepat Erland menarik tangannya kembali.
"Darah??" Erland sangat terkejut sampai matanya melebar melihat tangannya sudah berlumuran cairan berwarna merah itu.
"BI TUM CEPAT BUKAKAN PINTU MOBILKU!!"
Teriak Erland dengan begitu takutnya. Dia tak tau jika Viola sampai penda rahan sebanyak itu. Dia juga baru kali ini menghadapi situasi kelahiran bayi seperti itu.
Bi Tum berlari lebih dulu setelah Erland melemparkan kunci mobil kepadanya. Bi Tum tidak berpikir majikannya itu tidak sopan atau apapun kepadanya. Bu Tum memahami jika saat ini Erland begitu panik karena kondisi Viola.
Erland menggendong Viola dengan sedikit berlari. Tubuh Viola begitu terasa ringan di tangannya, tak terasa berat sekalipun sampai Erland bisa membawa Viola ke dalam mobilnya dengan cepat.
"Bertahanlah sayang. Abang mohon" Bisik Erland pada Viola yang masih terus berusaha menjaga matanya agar tetap terbuka.
"Tolong jaga Viola Bi" Erland meminta Bi Tum duduk di sebelah Viola, karena dia sendiri yang akan mengendarai mobilnya.
Di saat seperti ini Erland menyesal karena tidak mempekerjakan sopir di rumahnya. Andai ada seorang supir, pasti dia bisa menemani Viola duduk di belakang.
"Baik Pak"
Erland mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Sabar Sayang, sebentar lagi kita sampai" Mendengar Viola kesakitan seperti itu membuat Erland semakin panik.
"Sabar Bu, istighfar. Berdoa dalam hati. Ibu harus kuat demi malaikat kecil Ibu" Ucap Bi Tum sambil mengusap keringat pada dahi Viola.
"Astaghfirullah hal adzim. Ya Allah berikanlah hamba kekuatan. Izinkan hamba melahirkan anak hamba dengan selamat. Izinkanlah hamba membawanya ke dunia ini Ya Allah" Viola hanya mampu berdoa di dalam hatinya. Suara dan tenaganya sudah habis karena rasa sakit pada perutnya yang begitu dahsyatnya. Viola tidak tau jika melahirkan rasanya akan sesakit itu.
Berlahan Viola benar-benar menutup matanya. Dia mulai kehilangan kesadarannya.
"Bu, Bu Vio. Bangun Bu!!" Bi Tum kembali menangisi majikan barunya itu.
"Viola kenapa Bi??"
Tanya Erland masih menatap lurus pada jalanan di depannya.
"Bu Vio tidak sadarkan diri Pak"
Erland semakin menambah kecepatan mobilnya. Dia sudah tak peduli lagi dengan pengendara lain yang akan memakinya setelah ini. Nyawa istri dan anaknya berada di tangannya saat ini.
"Ya Allah, berilah istri hamba kekuatan. Lindungi istri dan anak hamba Ya Allah" Erland terus berbicara di dalam hatinya.
__ADS_1
*
*
*
"DOKTER!! TOLONG ISTRI SAYA DOKTER!!"
Erland menggendong Viola yang sudah berlumuran darah dan tak sadarkan diri itu memasuki UGD.
Seroang perawat jaga yang melihat kedatangan Erland langsung menarik brankar di dekatnya.
"Silahkan baringkan di sini Pak"
Erland di bantu perawat itu mendorong Viola masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Tak peduli dengan tangan dan bajunya yang sudah berubah warna. Erland tetap mengikuti istrinya yang di bawa masuk oleh perawat itu.
"Kenapa bisa penda rahan seperti ini??" Tanya Dokter yang langsung datang memeriksa Viola.
Erland langsung menatap Bi Tum yang juga mengikutinya ke dalam. Meminta Bi Tum untuk menjelaskan kepada Dokter melalui tatapan matanya.
"Saya juga tidak tau Dokter. Tadi Bu Viola tiba-tiba merasa kesakitan pada perutnya. Katanya perutnya seperti di tusuk-tusuk dan ingin meledak. Kemudian seluruh badannya berkeringat dan lemas. Saya tidak tau kalau Bu Viola mengalami pendarahan sampai akhirnya Pak Erland mencoba mengangkat Bu Viola yang sudah lemas di lantai" Jelas Bi Tum.
"Berapa usia kandungannya??" Tanya Dokter itu lagi sambil terus memeriksa keadaan Viola.
Perawat yang tadi menyambut Viola pertama kali juga sedang sibuk memasang oksigen untuk Viola.
"Seharunya kurang dari dua minggu ini sudah waktunya melahirkan Dok"
Dokter tadi mencoba memeriksa perut Viola dengan alat yang Erland tak tau namanya. Yang jelas setelah seorang perawat mengoleskan gel tang sama saat Viola melakukan USG, Erland bisa mendengar suara detak jantung dari alat kecil itu.
"Detak jantung bayinya masih ada namun sudah melemah. Siapkan ruang operasi sekarang juga!!"
"Tekanan darah pasien menurun. Pasien juga kehilangan banyak darah. Lakukan transfusi darah sekarang juga sebelum memulai operasi!!"
"Baik Dokter" Perawat tadi pergi dari ruangan itu.
"Maaf Pak, kami harus mengambil keputusan ini untuk menyelamatkan Ibu dan Bayinya" Ucap Dokter seumuran dengan ayah mertuanya itu.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya Dokter. Saya percayakan mereka berdua kepada Dokter. Mereka berdua adalah harta dan harapan hidup saya, jadi saya mohon selamatkan mereka" Ucap Erland yang kali ini tak bisa menahan air matanya.
"Ya Allah, hamba pasrahkan semua ini kepada-Mu. Namun kalau hamba masih diperbolehkan memohon kepada-Mu, tolong selamatkan istri dan anak hamba. Lindungi istri hamba yang sedang berjuang melahirkan rezeki yang telah Engkau titipkan kepada kami. Amin"
__ADS_1