Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
41. Mulai posesif


__ADS_3

"Ibu, ada yang ingin Edgar kenalkan sama Ibu" Edgar menuntun Gendis menuju ruang tamu.


"Siapa?? Memangnya ada tamu??" Gendis penasaran dengan bujangan satu itu.


Edgar hanya mengumbar senyumnya saja untuk menjawab Ibunya.


"Selamat sore Tante" Sapa seorang gadis cantik pada Gendis.


Gendis masih sedikit bingung sebelum melihat senyum malu-malu dari Edgar dan teman wanitanya itu.


"Selamat sore. Waahhh cantik sekali, siapa ini??" Gendis menyambut uluran tangan gadis itu.


"Namanya Alisa Bu, dia teman spesial Edgar" Jelas Edgar tapi mendapat lirikan tajam dari Gendis.


"Ibu tidak tanya kamu!! Ibu pingin dengar dari calon mantu Ibu sendiri" Gadis yang di sebut Alisa oleh Edgar tadi hanya mampu tersenyum malu, karena tak menyangka jika Gendis akan menyambutnya dengan baik.


"Saya Alisa Bu. Saya temannya Mas Edgar" Ucapnya dengan lembut.


"Jadi cuma teman aja, tadi kata Edgar kamu teman spesialnya?? Jadi yang bener yang mana nih?? Ibu kan bingung??" Candaan Gendis lagi-lagi bisa membuat Alisa tersipu malu.


Meski dengan keadaannya yang belum begitu sehat, Gendis masih mampu menggoda kedua anak muda itu.


"Benar kata Mas Edgar tadi Bu, kami berteman dekat sudah lumayan lama" Jawab gadis lembut itu.


"Ayo duduk dulu, nggak enak ngobrol sambil berdiri"


Gendis menepuk sofa di sebelahnya, meminta Alisa untuk duduk di sana.


"Kalau kalian dekatnya sudah lumayan lama, kenapa kamu baru kenalin Alisa ke Ibu Ed??" Edgar hanya meringis dan menggaruk tengkuknya saja.


"Mungkin Mas Edgar belum yakin sama Alisa Bu. Karena Alisa dari keluarga yang biasa saja dan yatim piatu" Jawab Alisa menunduk sedih.


Memang dari dulu Alisa sudah sangat ingin mengenal Ibu dari kekasihnya itu. Tapi dengan berbagai alasan Edgar selalu mengulur waktunya.


"Benar Ed??" Lirik Gendis tajam.


"Alisa, bukan seperti itu maksudku" Edgar sudah takut dengan tatapan Ibunya.


"Ibu, Edgar tidak memandang Alisa seperti itu. Ibu ingat Bang Erland dulu?? Dia rela menyampingkan urusan cintanya demi bekerja keras untuk membiayai sekolahku dan Kak Endah. Jadi menurut Edgar, sebelum Edgar yakin untuk menikah. Edgar harus membuktikan dulu sama Bang Erland dan Ibu kalau usaha Bang Erland dulu tidak sia-sia. Edgar ingin sukses dulu, berpenghasilan sendiri meski sekarang masih kerja di perusahaan Abang"

__ADS_1


Gendis bangga dengan anak-anaknya. Semuanya mandiri dan pekerja keras. Gendis memaklumi jika Edgar berpikiran seperti itu sebelum membawa Alisa ke hadapannya.


"Maafkan Edgar ya Alisa. Edgar dan kakak-kakaknya memang terbiasa bekerja keras sejak masih sekolah. Itu juga demi kebaikan kalian nanti jika sudah menikah. Anak-anak tante sudah sejak lama di tinggalkan Ayahnya. Jadi tidak benar kalau Edgar sampai malu membawamu kesini hanya karena kamu yatim piatu. Kami bukan keluarga yang seperti itu. Yang penting bagi Ibu hanya menantu yang bisa menyayangi anak-anak Ibu beserta keluarganya, serta berbudi pekerti yang baik. Itu saja sudah cukup"


Alisa merasa terharu dengan kebaikan hati Gendis. Dia bahagia memiliki seorang kekasih yang baik dan juga keluarga yang baik. Alisa juga merasa bersalah karena susah berpikiran buruk pada Edgar.


Sementara pria berusia dua puluh tujuh tahun itu merasa lega karena Gendis membantunya memberi pemahaman pada Alisa.


"Lalu sekarang Alisa tinggal sendirian??"


"Tidak Ibu, Alisa masih punya Kakak laki-laki. Kami dua bersaudara"


"Kalau kamu kerja di mana?? Satu kantor sama Edgar??"


"Bukan Bu, Alisa bekerja sebagai perawat di rumah sakit dekat kantor Mas Edgar Bu" Masih dengan lemah lembut Alisa bertutur kata. Itulah yang membuat hati Edgar luluh setelah banyak gadis yang juga mendekatinya.


"Wahhh enak dong kamu Ed, kalau sakit sudah punya perawat pribadi" Goda Gendis.


Mereka bertiga terus berbincang hingga Gendis menahan Alisa hingga makan malam tiba. Betapa senangnya Alisa karena dirinya di terima dengan baik di keluarga Edgar.


*


*


*


Viola masih diam tak bergeming karena mulutnya yang masih penuh dengan makanan.


"Bukannya kampusnya Viola sama kantor kamu jaraknya lumayan jauh ya Mas??" Sarah ingin protes namun berusaha sehalus mungkin.


"Nggak papa, masih pagi juga" Jawaban Erland membuat Sarah sedikit kesal.


"Mas, nanti aku mau keluar. Mau ketemu teman lama, boleh kan??" Ucap Sarah dengan manja.


"Tentu saja boleh. Hati-hati bawa mobilnya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku" Pesan Erland pada istri pertamanya itu.


"Tapi Mas, aku kan belum gajian. Belakangan ini aku juga cuma dapat sedikit saja buku terjemahan, jadi boleh nggak kalau aku pinjam uang dulu. Tapi nanti aku janji bakalan balikin ke kamu kalau gaji aku udah turun kok" Viola merasa jijik melihat Sarah memperlihatkan wajah memohonnya pada Erland.


"Pinjam?? Memangnya uang bulanan kamu sudah habis?? Kamu nggak ada tabungan sama sekali??" Sarah menunduk dalam.

__ADS_1


"Maaf Mas, aku nggak bilang sama kamu. Kalau sebenarnya semua uang dari kamu sudah habis untuk merenovasi rumah Ibu. Bagian belakang rumah ada yang bocor dan rusak"


"Sarah, aku kan sudah bilang. Kalau ada apa-apa bilang saja, tidak perlu menghabiskan semua uang kamu itu. Sebisa mungkin aku pasti akan membantu mu dan keluargamu. Kamu nggak usah pinjem, nanti aku kirim lagi untuk kamu. Nggak usah sedih" Erland mengusap tangan Sarah dengan lembut.


Viola rasanya ingin sekali tertawa, bisa-bisanya Erland begitu bodoh karena dengan mudahnya diperdaya oleh Sarah.


"Jadi ini yang di maksud Endah waktu itu??" Batin Viola.


"Aku berangkat dulu" Merasa muak berada di atara mereka berdua, pasangan yang cocok karena salah satunya bodoh dan yang lainnya pintar bersandiwara.


"Tunggu Abang Vi!!" Teriak Erland pada Viola yang sudah mulai menjauh.


"Aku berangkat dulu, nanti aku transfer uangnya buat kamu" Erland mengusap pucuk kepala Sarah sekejap sebelum berlari mengejar Viola.


"Masuk Vi!" Perintah Erland tapi Viola terus berjalan di bahu jalan.


Ternyata Viola lebih memilih berjalan kaki daripada menunggu Erland yang sedang berpamitan pada Sarah.


"Viola, ayo naiklah. Abang antar!!" Teriak Erland dari dalam mobil karena Viola sama sekali tak menghiraukannya.


"Masuk sekarang atau Abang akan membawamu pulang dengan paksa dan mengunci mu di rumah!!" Dengan ancaman itu akhirnya Viola memilih masuk ke dalam mobil Erland yang terus mengikutinya dengan pelan.


"Kamu kenapa sih Vi?? Kamu marah sama Abang??" Tanya Erland setelah Viola duduk manis di samping Erland.


Viola menatap Erland dengan tajam, mengingat apa yang membuat Viola sampai kesal seperti itu.


Setelah pertemuan mereka dengan Yovi di restoran dua hari yang lalu. Erland terus saja mengingatkan Viola agar tidak dekat-dekat dengan Yovi.


Kemudian puncaknya adalah tadi malam, saat mereka berdua sudah di dalam kamar. Tiba-tiba Yovi menghubungi Viola. Dan yang membuat Viola marah adalah, Erland merebut ponsel Viola begitu saja. Memutus panggilan dari Yovi dan dengan sengaja menghapus nomor telepon Yovi dari ponselnya setelah memblokirnya terlebih dulu.


"Masih tanya kenapa aku marah??" Sinis Viola.


"Vi, soal semalam Abang minta maaf. Abang kan udah bilang sama kamu, jangan dekat-dekat sama dia. Lagipula dia juga ngapain telepon istri orang malam-malam"


"Ya mana aku tau, belum juga di angkat udah di matiin. Emangnya kenapa sih, kita kan cuma temenan. Kalau mau ngelarang itu harus ada alasannya!!" Balas Viola dengan penuh rasa kesal.


"Pokoknya Abang nggak suka!!"


"Dih..posesif amat" Gerutu Viola.

__ADS_1


__ADS_2