
Endah memasuki gedung yang sudah di sulap dengan sangat indah di apit oleh Viola dan Beca. Wanita tiga puluh tahun itu tampak cantik dan begitu anggun dengan kebaya putih serta sanggul pengantin yang di penuhi bunga melati. Bibir tipisnya itu terus menyunggingkan senyumnya meski sebenarnya tangan yang bertautan itu begitu gemetar.
Endah berjalan dengan pelan menuju meja yang yang akan mejadi tempat Vino mengucapkan ikrar sucinya. Di sana sudah adan Erland, penghulu dan kedua saksi untuknya. Tak lupa seorang pria tampan dengan busana adatnya hingga di sebut sebagai mempelai laki-laki.
Wajah Endah memanas hingga bibirnya terus tertarik ke samping untuk tersenyum karena tatapan Vino yang terus menjurus kepadanya.
Viola dan Beca akhirnya melepaskan Endah setelah berhasil mengantarnya hingga duduk di samping Vino.
Wajah Endah langsung tertunduk tak berani melirik ke samping. Mengendalikan jantungnya yang terus berdetak kencang saja sudah tak mampu, apalagi harus menatap pria di sampingnya itu.
Acara inti dari pernikahan itu, yaitu ijan kabul akan segera di mulai. Vino juga sudah menjabat tangan Erland dengan begitu yakin, tak tampak keraguan sedikitpun dari mata pria itu.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan Endah Anindita ..... " Ucap Erland dengan tegas dan sangat berwibawa.
Dengan lancar dan satu kali tarikan nafas Vino bisa melafalkan ijab kabulnya setelah Erland sedikit menghentakkan tangannya pada Vino.
Hingga kata "sah" itu terdengar dari kedua saksi di samping kiri dan kanan Endah.
"Alhamdulillah" Ucap semua orang yang ada di sana.
Setitik air mata mulai meluncur di barengi dengan rasa syukur Endah kepada Sang Maha Kuasa. Rasa bahagia begitu menyeruak di dalam dadanya hingga suasana haru begitu terasa di dalam gedung pernikahan itu.
Gendis dan kedua sahabat Endah, serta Via juga tak kuasa menahan air mata mereka. Tentu saja mereka menangis karena turut bahagia dengan pernikahan Endah.
Endah mencium punggung tangan Vino setelah disemaptkannya cincin pernikahan di jari manis Endah.
"Endah, terimakasih karena sudah menjadi istri Abang. Terimakasih sudah mencintai Abang selama ini, Abang bahagia sekali" Bisik Vino pada istrinya.
"Endah juga bahagia akhirnya bisa menikah dengan Abang"
Sementara itu dari kejauhan Edgar dan Alisa menatap Endah dengan bahagia.
"Sayang, aku janji. Setelah masalah ini selesai, aku akan segera menikahi kamu" Bisik Edgar pada wanita yang sudah kembali lagi kepadanya itu.
"Iya Mas, aku akan sabar menunggu kamu menyelesaikan semuanya. Aku justru sangat berterimakasih karena kamu masih mau menerima aku setelah kamu tau kenyataan itu" Ucap Alisa yang tampak cantik dengan rambut sanggulnya.
"Itu bukan salah kamu, jadi apa alasanku untuk tidak mempertahankan kamu" Edgar menggenggam tangan Alisa dan mengusapnya dengan lembut.
__ADS_1
Alisa merasa begitu beruntung karena di cintai oleh Edgar. Pria yang begitu baik, bertanggung jawab, pengertian dan terlebih lagi keluarganya yang juga menerima Alisa dengan begitu baik.
"Tapi aku tetap berterimakasih sama kamu Mas. Karena sejak dulu aku takut menjalin hubungan karena latar belakangku. Tapi dengan mu dan keluargamu, aku di terima dengan dengan begitu terbuka. Aku akan sangat menyesal jika kehilangan kamu Mas" Alisa mengeratkan genggaman tangannya pada Edgar. Mungkin jika mereka tidak sedang di tengah keramaian, ingin sekali Alisa menyandarkan kepalanya pada bahu Edgar yang kokoh itu.
"Tapi nyatanya kamu hampir saja membuang ku kan??" Sindir Edgar pada kekasihnya itu.
"Maaf Mas, itu kan karena terpaksa. Sebenarnya juga aku hancur saat itu" Alisa menundukkan wajahnya dalam.
"Iya sayang, aku ngerti kok. Udah ah jangan sedih gitu. Jangan pikirkan masalah itu lagi, aku juga tidak suka" Edgar merangkul pundak Alisa dan menepuknya dengan pelan.
"Iya Mas" Alisa memberikan senyum terbaiknya yang mampu membuat Edgar tak bisa berpaling darinya.
Setelah rangkain acara telah paripurna. Kini mereka semua berlomba-lomba untuk berdiri di sisi kanan dan kiri kedua mempelai untuk sekedar mengambil foto dengan pasangan yang berbahagia itu. Tak lupa juga ucapan selamat dari mereka semua untuk Endah dan Vino.
Untuk yang pertama tentu saja kedua orang tua Vino dan juga gendis. Kemudian di lanjutkan dengan yang lainnya.
"Foto berdua sama aku yuk Mas!!" Sarah langsung menarik tangan Erland tanpa memberikan kesempatan untuk pria itu menolak.
Sementara Erland terus menatap Viola dari atas pelaminan sana. Meski Viols sama sekali tak mau melihat ke arahnya, tapi Erland tau kalau istrinya itu berusaha menghindari tatapan matanya.
"Mau aja Vi, kita lihat reaksi laki lo kalau lo foto sama laki-laki lain. Kasih sedikit pelajaran nggak papa kan?" Bisik Beca pada Viola.
"Kalian ngomongin apa sih pakai bisik-bisik kaya gitu??" Yovi justru merasa mereka berdua sedang membicarakannya.
"Disini berisik kalau jauh-jauhan nggak kedengaran" Jawab Beca pada Vino dengan mengeraskan suaranya.
"Ayo Vi, mau nggak??" Tanya Yovi lagi.
"Mau kok, nih mau jalan" Beca justru menjawab terlebih dahulu dengan mendorong bahu Viola dengan pelan hingga bergerak maju ke depan.
"Ya udah ayo!!" Yovi mempersilahkan Viola untuk berjalan lebih dulu.
Erland berpapasan dengan Viola saat turun dari panggung langsung menatap Yovi dengan tajam. Tampaknya dia tau apa yang akan di lakukan Yovi dan Viola.
"Gue pinjam istri lo ya?? Lo kan punya dua, sedangkan gue nggak ada sama sekali" Ucap Yovi saat mereka bersebelahan.
"Tunggu!!" Cegah Erland.
__ADS_1
"Gue memang punya dua istri, tapi gue nggak malu sama sekali buat mengakui ke duanya. Jadi gue tetap akan menjadi satu-satunya lali-laki yang berada di sis Viola" Ucap Erland menegaskan pada Yovi.
"Ayo lah bro, ini kan cuma foto" Yovi menepuk lengan Erland.
"Di foto atau bahkan di dalam mimpi saja gue yang akan selalu di samping Viola!!" Tegasnya.
"Ayo yank, kita foto berdua" Erland meraih tangan Viola lalu menuntunnya naik ke pelaminan.
Tak ada penolakan sama sekali dari Viola, bahkan dia masih terkejut karena ucapan Erland pada Erland. Namun dari kejauhan dia bisa melihat Beca tersenyum dengan penuh arti.
"Jadi ini yang dia maksud, pelajaran membuatnya cemburu begitu??" Batin Viola.
*
*
*
Sarah mendekati seseorang yang sedang mengambil makanan di piringnya.
"Masih berani datang kesini ternyata??" Bisik Sarah kepadanya.
"Kenapa nggak berani, aku nggak merasa bersalah" Jawab Alisa acuh.
"Jadi kamu sudah berdamai dengan keadaan kalau ternyata Kakak kamu tidak sebaik yang kamu pikirkan??" Sarah tampak meremehkan Alisa.
"Bukan aku yang berdamai dan menerima keburukan Kakakku Mbak, tapi aku sendiri yang membuat Kak Radian dan Mbak Sarah menyesali perbuatan kalian" Alisa tidak takut menghadapi Sarah sama sekali.
"Maksud kamu??"
"Kalau dilihat dari reaksi Mbak Sarah saat ini sepertinya Mbak Sarah memang belum tau apa-apa" Alisa sengaja menampakkan senyum miringnya.
"Jelaskan apa yang telah terjadi!!"
Alisa hanya mengedikkan bahunya lalu pergi dengan dua piring makanan untuknya dan Edgar.
"Apa yang di maksud anak itu?? Aku aku harus segera menghubungi Radian"
__ADS_1