Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
122. Sarah


__ADS_3

Layaknya orang yang telah berbuat salah, Sarah merasakan ketakutan sendiri. Apalagi saat ini tidak ada yang bisa membantunya. Rasti dan Ben sudah lepas tangan dengan masalah yang di buat oleh Sarah. Mau membayar orang pun tabungan Sarah sudah habis untuk membayar orang yang mengawasi Viola kemarin. Sementara uang dari perceraiannya dengan Erland juga belum ia dapatkan.


Sarah terus berusaha menghubungi Ben. Dia tidak menyerah menghubungi pengacara yang selalu dia anggap bodoh itu meski sudah jelas dia tak peduli lagi. Hanya dia harapan satu-satunya, dan dia pula yang benar-benar tau semua tentang Sarah.


"Gue nggak bisa diam aja kalau kaya gini!! Gue harus keluar dari sini. Gue harus cari cara lain. Apapun itu asal gue bisa tenang"


Sarah jelas semakin panik karena dia mendapat laporan dari orang suruhannya jika Erland akan membawa kasus itu ke pengadilan.


Sarah mencari tasnya, memasukkan dompetnya yang hanya berisi beberapa lembar uang.


"Sabar Sarah!! Setelah masalah ini selesai, lo bakalan kaya lagi. Lo bakalan bebas menghambur-hamburkan uang tanpa ada yang bisa ngelarang lo!!" Erland bermonolog sendiri.


Memberi semangat pada dirinya sediri jika apa yang terjadi pada dirinya saat ini akan segera berakhir.


Kali ini Sarah berniat menemui orang yang sudah menjadi mata-matanya selama dua hari ini. Mungkin dia juga yang bisa membantunya untuk membuat Erland menarik niatnya melaporkan Sarah.


Sarah hanya membawa tas kecilnya saja, karena setelah ini dia tetap akan kembali lagi ke Rumah Mamanya. Memang tidak ada tujuan lain lagi selain rumah itu bagi Sarah saat ini.


Tanpa mengganti bajunya, juga dengan rambut yang di ikat dengan asal, Sarah berjalan keluar menuju pintu depan.


Ceklek....


"Selamat siang, dengan saudara Sarah??"


Rencana Sarah untuk pergi mencari bantuan sepertinya harus terhenti karena ia kedatangan tamu tak di undang ke rumahnya.


"I-iya, ada apa ya Pak??" Tanya Sarah dengan gugup karena melihat seragam yang di pakai beberapa orang itu. Tentu saja perasaan ketakutan langsung menyerangnya karena dia merasa berbuat salah.


"Saudara Sarah, anda kami tangkap atas tuduhan percobaan pembu nuhan kepada Ibu Viola. Ini surat perintah penangkapannya, silahkan di baca terlebih dahulu agar anda bisa bekerjasama dengan baik untuk ikut kami ke kantor sekarang juga" Sarah terbelalak membaca isi dari selembar kertas yang di bawa orang itu.


"Tunggu Pak!! Ini salah!! Ini fitnah. Saya tidak pernah melakukan hal yang di tuduhkan ini!! Saya akan menuntut balik mereka karena sudah mencoba memfitnah saya!!"


Sarah mundur beberapa langkah ke belakang mencoba menghindar dari polisi-polisi itu.


"Silahkan jelaskan di kantor saja. Sekarang lebih baik anda ikut dengan kami. Jangan sampai kami menyeret anda dengan paksa karena anda tidak bisa bekerja sama dengan petugas!!" Ancam polisi berbadan tinggi dan besar.


"Tapi Pak, saya tidak bersalah sedikitpun. Kenapa harus ikut kalian ke kantor?? Saya tidak mau ikut dengan kalian!!" Sarah terus mencoba menolak. Bahkan dia sudah tidak paham lagi bagaimana hukum untuk orang yang melawan petugas.


"Bawa dia!!"


"Jangan Pak!! Saya nggak salah!!" Sarah masih berusaha menolak namun apa daya, sia hanya seorang wanita yang akan kalah jika di tarik paksa oleh dua orang polisi.


"Anda bisa menghubungi pengacara anda untuk melakukan pembelaan. Tapi saat ini anda harus ikut kami ke kantor terlebih dahulu"

__ADS_1


Akhirnya Sarah menyerah, mau bagaimana lagi. Dia lari juga sudah tidak akan bisa.


"Apa katanya tadi?? Pengacara?? Sudah minggat!!" Gerutu sarah salam hati.


Hidupnya kali ini benar-benar hancur. Dia tidak tau apa yang harus dia perbuat saat ini. Di bawa ke kantor polisi sama saja membatasi ruang geraknya untuk mencari cara agar lolos dari tuduhan itu.


*


*


*


Tiga hari berlalu, kini Viola sudah di ijinkan pulang. Keadaannya sudah membaik, dia juga sudah bisa berjalan pasca operasi meski masih tertatih-tatih.


"Selamat datang di rumah kita sayang"


Erland membuka lebar pintu rumahnya. Mempersilahkan ratu di rumah itu untuk masuk terlebih dahulu.


Viola takjub dengan pemandangan di dalam rumahnya yang begitu berbeda. Rangkaian bunga yang berwarna-warni memenuhi ruang tamunya. Harum yang berasal dari semua bunga itu langsung menyeruak ke dalam hidung Viola.


"Kamu suka nggak??"


Erland sengaja menyuruh Edgar dan Alisa membuat rumahnya tampak indah untuk menyambut kepulangan Viola dan anak mereka pulang dari Rumah sakit.


"Aku yang seharusnya mengucapkan terimakasih. Kamu sudah berjuang demi anak kita. Kata terimakasih tidak akan cukup untuk membalas semua itu" Erland mengecup kening Viola. Kini siapapun yang melihatnya pasti tau betul betapa besarnya cinta Erland untuk Viola.


"Hemmm!!"


Suara seseorang menyadarkan mereka berdua dari momen romantis itu.


"Hehe Maaf, sampai lupa kalau ada kalian" Erland menggaruk pangkal hidungnya karena merasa malu. Dia lupa kalau di belakangnya masih ada Gendis yang menggendong cucunya juga Via, Beca dan Endah.


"Maklum Bu, dunia rasnya milik mereka berdua" Celetuk Endah membuat pipi Viola memerah.


"Apaan sih Ndah. Jangan buat istri Abang malu dong. Lebih baik kita masuk aja dulu" Ucap Erland.


"Dari tadi kek. Malah mesra-mesraan di depan kita" Kini giliran Beca yang menggerutu tak terima dengan keuwuan pasangan itu.


"Dimana kamar Ezra Er??" Tanya Gendis karena ingin menidurkan cucunya supaya lebih nyaman saat tidur.


"Di sebelah kamar Viola Bu. Ayo Erland antar"


Sementara Viola masih bingung karena anak mereka alan di bawa ke kamar yang selama ini kosong tak di tempati.

__ADS_1


Viola mengikuti Erland dan Gendis ke kamar yang telah di tunjukkan Erland.


Lagi-lagi Viola terkejut karen kamar itu sudah berubah. Bahkan seperti kamar baru, bukan lagi kamar kosong yang tidak pernah di tiduri.


"Abang" Panggil Viola.


"Ya sayang??"


"Kapan Abang buat kamar ini??"


Mata Viola masih terus menyusuri sudut kamar itu. Kamar degan nuansa biru, berbagai hiasan dan juga banyaknya mainan menunjukkan pemilik kamar itu adalah seorang anak laki-laki.


"Dua hari yang lalu. Maaf kalau belum lengkap dan masih berantakan karena memang mendadak sekali" Ucap Erland memperlihatkan giginya yang rapi itu.


"Ini sudah bagus sekali Bang. Iya kan Bu??" Viola meminta persetujuan Gendis yang telah berhasil menidurkan Ezra ke kasurnya.


"Iya, untuk kamar bayi yang baru saja lahir. Ini sudah sangat bagus Er.


Erland senang karena Viola begitu menyukai kejutan kecil yang di baut olehnya itu.


"Ayo kita keluar dulu. Biarkan si kecil tidur nyenyak di kamar barunya" Ajak Gendis yang langsung di ikuti pasangan yang berstatus sebagai orang tua baru itu.


"Abang temani mereka dulu ya, aku mau ke kamar sebentar" Ucap Viola.


"Kamu mau apa sayang?? Mau Abang temani??"


Viola menggeleng namun tercipta senyum misterius di bibirnya.


"Ya sudah, Abang tunggu di luar ya?? Jangan lama-lama!!" Viola hanya mengangguk tak melepaskan senyumnya sama sekali.


Sudah lebih dari lima belas menit berlalu tapi Viola belum juga keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Erland sangat khawatir. Dia beranjak dari sofa menyusul Viola ke kamar.


"Sayang, kok lama sih" Ucap Erland langsung memeluk Viola dari belakang.


Istrinya itu sedang berdiri di cermin mematut dirinya sendiri yang tampak sudah berganti baju.


"Aku ganti baju dulu Bang"


Erland menatap pantulan istrinya di cermin. Viola memang cantik dalam kondisi apapun. Walau habis melahirkan tapi badan Viola tak banyak perubahan. Hanya sedikit berisi saja dari sebelumnya.


Emerald terus mengagumi kecantikan istrinya. Matanya terus memperhatikan Viola yang kini sedang menyisir rambutnya. Hingga mata Erland menatap sesuatu di tangan Viola yang membuatnya langsung membalikkan badan Viola menghadap ke arahnya.


"Sayang??"

__ADS_1


__ADS_2