Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
92. Masih mencintainya


__ADS_3

Sarah membawa Erland kembali lagi pada rumah sakit tempatnya dulu melakukan program kehamilan. Rumah sakit yang di rekomendasikan oleh Rasti pada Sarah dan Erland. Berbeda dengan Rumah sakit tempat Viola memeriksakan kandungannya.


"Selamat pagi Bu Sarah, apa kabar??" Sapa ramah seorang dokter pada Sarah.


Erland juga mengenal jelas siapa Dokter itu, karena dia sudah berkali-kali bertemu dengannya. Dokter itu juga yang mengusulkan program bayi tabung kepada Sarah waktu itu.


"Pagi Dokter, kabar saya baik. Sangat baik malah, karena akhirnya saya bisa hamil juga" Sambut Sarah dengan bahagia.


"Syukurlah Bu Sarah, perjuangan kalian akhirnya membuahkan hasil juga"


Sejak tadi Erland menanggapi Dokter itu hanya dengan senyum tipisnya saja.


"Kalau gitu kita langsung lihat janinnya saja ya??"


Sarah dan Erland mengikuti Dokter tadi ke ruang pemeriksaan. Sarah kembali berbaring pada tempat yang sama saat dia melakukan program kehamilan dulu.


"Mari kita lihat, sudah sebesar apa dia" Kata Dokter itu sambil mengotak-atik alat yang akan digunakannya.


Sarah meraih tangan Erland untuk digenggamnya. Meminta dukungan penuh pada suaminya itu.


Meski Erland sudah pernah melihat hal yang sama saat mengantar Viola memeriksakan kandungannya, Erland tetap merasa gugup saat ini.


Dia mulai berpikir bagaimana jika yang di kandung Sarah itu adalah anaknya. Mungkin Erland akan selamanya terikat pada dua pernikahan itu. Kalau itu terjadi maka rencananya untuk menjadikan Viola istri satu-satunya akan musnah.


"Lihat Bu Sarah, Pak Erland. Ini calon anak kalian, masih sangat kecil sekali. Jadi saya minta untuk menjaganya dengan ekstra hati-hati. Ingat kan perjuangan kalian untuk mendapatkannya, jadi jangan sampai kalian menyesal karena tidak bisa menjaganya dengan baik" Ucap Dokter itu sembari memperlihatkan makhluk kecil yang belum terbentuk sempurna itu.


"Pasti Dokter, saya dan suami saya akan menjaganya dengan baik. Iya kan Mas??" Sarah menggerakkan tangan Erland yang ada digenggamnya.


"Iya, tentu saja" Balas Erland dengan mata terus tertuju pada layar monitor yang memperlihatkan calon anak yang katanya darah dagingnya itu.


"Tapi Pak, kandungan Bu Sarah masih sangat lemah, jadi saya ingatkan untuk menjaganya dengan penuh kehati-hatian. Mengingat Bu Sarah dan Pak Erland yang sangat mendambakan kehadirannya, tetu saja Pak Erland tidak ingin kehilangannya kan??"


"Iya Dokter benar" Jawab Erland

__ADS_1


Dia memang belum yakin tentang anak yang di kandung Sarah. Namun hati Erland menghangat setelah melihat makhluk kecil di layar tadi. Mungkin perasaannya pada Sarah sudah berubah, tapi bukan berarti Erland tak berperasaan pada janin kecil itu.


*


*


*


"Viola??"


Yovi tak sengaja melihat wanita hamil yang kesusahan membawa beberapa kantung belanjanya.


"Kak Yovi??"


"Kamu sama siapa kok barangnya banyak gini??" Yovi langsung mengambil alih barang-barang dari tangan Viola.


"Aku sendiri Kak, tadi niatnya cuma mau belanja sedikit tapi lihat barang yang lucu-lucu jadi beli juga deh" Ucap Viola menunjukkan deretan giginya yang rapi.


Viola yang bosan di rumah memutuskan untuk pergi ke supermarket. Membeli beberapa kebutuhan bulanannya yang sudah habis. Tapi karena Viola melihat beberapa barang untuk bayi baru lahir yang menarik perhatiannya, maka Viola tertarik untuk membelinya. Tidak semua hanya beberapa yang menurutnya menarik, karena waktu itu Erland pernah bilang kalau dia ingin menemani Viola berbelanja kebutuhan anak mereka.


"Enggak Kak, ini sudah cukup" Viola terus berjalan berdampingan keluar supermarket. Mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang sangat harmonis dengan senyum dari bibir keduanya.


"Kamu nggak buru-buru kan Vi?? Kita makan dulu yuk??" Ajak Yovi.


Secara kebetulan bertemu dengan Viola itu termasuk keberuntungan baginya. Meski di dalam hatinya masih sangat menyukai Viola, tapi dia tidak mungkin menghubungi Viola secara terang-terangan, bukan karena takut pada Erland namun karena dia masih menghargai Viola.


"Boleh Kak, aku juga haus, pingin cari minum. Kota ke cafe depan saja ya, nggak usah jauh-jauh"


Tentu saja Yovi langsung mengangguk setuju. Kapan lagi dia bisa makan berdua dengan Viola. Apalagi akhir-akhir ini mereka juga jarang bertemu.


"Kamu nggak pernah ketemu Beca Vi??" Tanya Yovi saat mereka sudah tiba di cafe.


"Jarang sih Kak. Beca sibuk mengurus renovasi untuk klinik kita yang sudah mulai di atur Beca tentang tata letaknya. Dia juga sedang mengurus surat ijinnya"

__ADS_1


Viola segera memesan minuman yang begitu menyegarkan tenggorokannya.


"Sekarang kamu sibuk apa Kak??"


"Masih sama, aku belum tertarik untuk ikut ke dalam bisnis Papa. Karena menurut aku itu bukan passion ku, jadi ya masih sibuk ngajar aja" Balas bujang yang terlalu santai itu.


"Yakin mau gitu-gitu aja kak?? Nggak mau cari istri gitu?? Aku kira kamu udah mulai dekat sama Beca"


Sebenarnya Viola senang jika Yovi dan Beca menjalin hubungan. Viola tau jika Yovi adalah laki-laki yang baik, dia merasa Yovi pria yang cocok untuk Beca.


"Kita cuma teman Vi. Nggak lebih dari itu" Jawaban Yovi membuat Viola hanya mengangguk.


Obrolan mereka terhenti sejenak karena pelayan yang datang membawa pesanan mereka berdua.


"Kalau kamu, masih yakin melanjutkan pernikahan kalian??"


Viola terdiam sejenak sambil menatap Yovi. Mencari jawaban dari dalam hatinya. Sebenarnya apa mau hati Viola saat ini.


"Insyaallah Kak" Jawab Viola singkat lalu menyeruput minuman dingin dari gelasnya.


"Kamu masih mencintainya??"


Yovi memandang Viola dengan penuh damba. Biola bukan orang bodoh yang tak bisa membaca maksud dari Yovi termasuk tatapannya itu. Tapi Viola masih sadar diri, dia masih menjadi istri orang, dan yang paling utama, perasaannya pada Yovi tak lebih dari seorang teman.


Sementara itu, pertanyaan Yovi membuat Viola merasa terombang-ambing. Dia mencoba meraba isi hatinya sendiri. Jika Viola mengatakan tidak cinta, itu namanya dia berbohong karena nyatanya Violam tak pernah melupakan Erland sebagai pemilik hatinya sejak dulu. Tapi kalau mengatakan dia cinta, masih sering timbul keraguan di dalam hatinya.


"Aku bingung" Jawan Viola masih membungkam mulutnya.


"Tidak perlu di jawab Vi, aku tau kalau kamu masih bingung dengan perasaan kamu sendiri. Tapi di saat tadi aku bertanya kepadamu, melihat reaksi dan tatapan matamu yang langsung berubah, itu sudah sangat jelas sekali kalau kamu masih mencintainya Vi" Yovi tersenyum tipis, menyamarkan luka yang begitu perih dalam hatinya.


"Apa begitu kentara Kak?"


Yovi kembali memberikan senyumnya sebelum dia mengangguk mengiyakan pertanyaan Viola.

__ADS_1


"Apa selama ini aku yang terlalu munafik?? Mengaku benci tapi tak suka jika dia jauh dariku?? Mengaku ragu tapi nyatanya aku tak dapat menampik perasaanku sama sekali"


__ADS_2