Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
99. Terbongkar


__ADS_3

"Jadi, sumpah ku yang waktu itu bukanlah sebuah kutukan yang aku lalukan dari dalam hati. Itu juga bukan kutukan yang aku lakukan untuk membalas dendam. Aku hanya melakukan itu karena memang aku sudah mengenali Sarah sebagai wanita yang sudah tidak bisa mempunyai anak. Itu hanya ungkapan rasa marah ku waktu itu"


Semua yang ada di ruangan itu tampak terkejut, mereka masih diam dengan pikirannya masing-masing.


Terutama Erland yang sudah di bohongi oleh Sarah sejauh itu. Sarah dan dirinya bagaikan pasangan yang benar-benar mendamba seorang momongan. Namun nyatanya semua itu hanyalah bagian dari peran Sarah.


Jika saja Erland tidak menuruti perintah Ibunya untuk menjemput Viola. Mungkin selamanya dia akan terjebak dalam pernikahan penuh kebohongan ini.


"Sarah, kenapa kamu tega berbohong sejauh ini?? Seandainya saja kamu jujur dari awal, aku tidak akan kecewa seperti ini. Aku kecewa bukan karena kamu yang tak bisa punya anak. Tapi karena kebohongan yang kamu lakukan. Dulu aku sangat mencintaimu, jika kamu jujur pun aku tetap akan menerima segala kekurangan mu" Ucap Erland tanpa meninggikan suaranya sama sekali. Dia hanya mengeluarkan suaranya dengan lembut. Namun tersirat dengan jelas emosi di dalamnya.


"Tidak Mas!! Aku tidak yakin kalau kamu akan menerima semua kekuranganku!! Sedangkan Ibu saja selalu mendesak ku agar melakukan ini itu hanya demi mendapatkan cucu" Sarah menatap Ibu mertuanya yang masih berada di sampingnya.


"Sarah, jika Ibu tau keadaan kamu, mana mungkin Ibu memaksa kamu. Yang Ibu tau kamu juga wanita yang bisa hamil seperti yang lainnya. Ibu minta maaf karena selama ini sudah menekan kamu" Gendis tak bisa menahan air matanya. Dia merasa Iba dengan menantunya itu.


"Tidak Bu, Ibu jangan minta maaf. Di sini yang salah itu Sarah. Kita semua telah di tipu olehnya. Dia begitu baik memerankan perannya. Sampai saat ini juga aku belum percaya dengan semua ini"


Erland berkali-kali mengusap wajahnya. Sesekali juga tangannya mengepal dengan kuat sebagai bentuk luapan amarahnya yang tak bisa keluar.


"Mas!! Aku mengaku salah, tapi aku mohon maafkan aku. Aku janji tidak akan menyembunyikan kebohongan dari mu lagi"


Erland langsung menatap Sarah kembali. Dia memang tidak memaki dan meneriaki Sarah sama sekali. Tapi dengan tatapan mata yang tajam dan lurus itu sudah bisa membuat siapapun ketakutan.


"Lalu bagaimana dengan kebohongan yang kamu lakukan pada Viola?? Kamu sampai tega ingin memenjarakan Viola di saat hamil besar seperti ini" Tanya Erland.


"Aku tidak menyangka jika wanita yang aku cintai dengan tulus, aku nikahi sebagai pendamping hidupku bisa berbuat sekeji ini. Berbohong, memfitnah, rasanya sudah tak sanggup untuk menghadapi kamu Sarah" Erland sudah terdengar putus asa dengan kelakuan Sarah.


Sarah semakin tak tenang mendengar kata demi kata yang Erland ucapkan. Dia takut jika Erland tak bisa memaafkan dirinya. Dia sudah kehilangan Radian, tentu saja Sarah akan mati-matian mempertahankan Erland.


"Aku melakukan itu karena aky tidak mau kehilangan kamu Mas. Aku ingin mempertahankan kamu di sisiku tanpa adanya perempuan lain aku..."


"Perempuan lain itu adalah Ibu dari anakku Sarah. Sejak tadi kamu terus mengeluarkan pembelaan demi pembelaan meski jelas dirimu bersalah. Bukannya minta maaf pada Viola, tapi kamu justru semakin memperlihatkan sifat asli kamu" Sergah Erland pada Sarah.

__ADS_1


Sarah langsung tertunduk diam. Mana mau dia meminta maaf pada Viola. Dia masih merasa apa yang dia lakukan itu hanyalah sebagai bentuk pertahanan diri saja.


Sebenarnya ingin sekali Erland membuka semua kelakuan Sarah. Namun di sana masih ada Ibunya dan juga adiknya, jadi Erland masih bisa menahan semuanya.


"Erland, tolong maafkan Sarah. Dia tidak bermaksud membohongi kalian, dia juga sebenarnya tidak berniat menipu kalian dengan kehamilan palsunya. Tapi karena tekanan dari kalian membuat Sarah berbuat nekat seperti ini"


Viola lagi-lagi terkekeh karena pembelaan tak masuk akal dari Ibu kepada anaknya itu. Bagaimana bisa seorang Ibu mendukung perbuatan jahat yang di lakukan anaknya.


"Nyonya, bagaimana anda menyebut Sarah tidak berniat sama sekali sedangkan semua itu sudah di rencanakan dari awal. Termasuk anda yang juga menyembunyikan kenyataan ini" Jawab Viola yang sudah sangat geram dengan dua parasit itu.


"Sayang tenanglah, biar Abang selesaikan semuanya dulu" Erland mengusap punggung Viola dengan lembut.


"Ibu, Endah dan yang lainnya. Aku minta kalian keluar dulu ya. Ajak Viola bersama kalian, aku harus bicara berdua dengan Sarah" Pinta Erland pada semga ua keluarganya.


"Tapi Bang" Viola ingin tau apa yang akan di lakukan Erland kepada Sarah.


"Sayang, percaya sama Abang ya??" Viola mengangguk setelah Erland mengusap kepalanya dengan lembut.


Setelah semuanya keluar, Erland masih belum juga membuka suaranya. Dia juga sangat enggan untuk sekedar menatap Sarah.


"Mas" Panggil Sarah dengan lirih.


"Sarah, sebenarnya aku sudah lelah berpura-pura seperti ini" Panggilan Sarah justru di sambut dengan kalimat yang membuat Sarah menciut. Dia tau apa yang akan di sampaikan Erland sepertinya.


"Maksud kamu Mas??"


Rasanya dunia Sarah akan berakhir saat ini juga. Semuanya rencana dan juga kebohongannya selama ini akhirnya berbalik kepadanya.


"Kamu sebenarnya tau kan kalau aku sudah mengambil alih Restoran kamu??"


Deg...

__ADS_1


Meski Sarah sudah menebak, namun dirinya juga masih belum siap menerima kemarahan dari Erland.


"A-aku.."


"Aku awalnya tidak tau apa-apa dan masa bodoh dengan Restoran itu karena aku menganggap itu hanya sebagai hadiah dari ku untuk istriku. Tapi sejak aku melihatmu dengan teman pria mu itu, aku mulai curiga dengan hubungan kalian. Sebelum bertindak tentu saja aku sudah menyelidiki dulu apa hubungan kalian. Terutama alasan kamu mengubah kepemilikan Restoran itu menjadi miliknya"


"Mas, itu bukan seperti yang kamu pikirkan aku sama dia tidak ada hub..."


"Beruntung notaris yang kalian tunjuk untuk mengurus sertifikat Restoran itu melakukan kesalahan sehingga dengan mudah aku mendapatkannya kembali. Aku tidak akan rela menyerahkan Restoran itu pada seorang pria yang menjadi kekasih Istriku sendiri, karena uang yang aku berikan juga hasil dari kerja kerasku sendiri. Kalaupun uang yang sudah terlanjur habis karena kamu gunakan untuk membiayai hidupnya, itu aku sudah ikhlas"


Sarah turun dari ranjangnya, melepas dengan paksa jarum infus yang terpasang tiada arti di tangannya itu.


"Mas, aku mohon maafkan aku. Aku tau aku salah, tapi tolong berikan aku kesempatan ke dua" Sarah ingin meraih tangan Erland namun pemiliknya sudah lebih dulu menyingkirkannya.


"Sarah, jawab dengan jujur. Apa pria itu yang dulu membuat kamu mengugurkan kandungan kamu hingga berakhir seperti ini sekarang??" Erland kali ini menatap mata Sarah, meminta jawaban sejujur-jujurnya dari wanita itu.


Dulu memang saat malam pertama mereka, Erland tau jika Sarah sudah kehilangan mahkotanya. Namun saat itu Sarah berkilah jika itu karena ia pernah terlibat kecelakaan yang menyebabkan benturan pada bagian bawahnya.


"I-itu, dia.." Kegugupan Sarah sudah membuat Erland yakin dengan jawabannya.


"Aku sudah tau jawabannya" Potong Erland dengan cepat.


"Aku rasa kamu sudah bisa keluar dari sini karena memang tidak ada yang terjadi apa-apa dengan mu kan??" Erland menatap malas pada Sarah.


"Aku juga sudah mempunyai bukti perselingkuhan kamu dengan pria itu. Edgar juga sudah menyerahkan semua yang ia dapatkan dari Alisa. Jadi kamu tinggal menunggu surat perceraian dariku" Erland langsung beranjak pergi setelah mengatakan hal paling di takuti Sarah itu.


"Cerai??" Gumam Sarah.


"Tidak Mas!! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!!" Sarah berusaha menahan Erland.


"Mas!! Aku mohon jangan tinggalkan aku Mas!!" Erland sama sekali tak menghiraukan Sarah, dia masih terus berjalan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2