
Kebahagiaan bukan hanya di rasakan Yovi dan Beca yang akan melangsungkan pernikahan. Namun kebahagiaan itu juga menyelimuti keluarga kecil Viola.
Saat ini, masalah di dalam keluarganya sudah benar-benar selesai. Cinta yang rumit di antara mereka serta masalah pada Sarah yang sudah benar-benar selesai. Kini mereka berdua hanya sibuk merawat anak mereka yang masih sangat butuh perhatian kedua orang tuanya.
"Siapa sayang??"
Viola kembali duduk di dekat Erland yang sedang memangku jagoan kecilnya.
"Beca Bang, katanya dia sudah dapat surat ijin usaha untuk klinik kita" Jelas Viola gang baru saja mendapat telepon dari Beca.
"Memangnya kapan kamu mulai membuka kliniknya??"
"Belum tau Bang, lagian aku belum tega meninggalkan Ezra. Alat-alat yang aku beli dari Korea juga belum pada datang semua. Jadi masih sekitar dua sampai tiga bulan lagi. Biar Ezra makin pinter dulu ya sayang ya??" Viola menciumi wajah Ezra dengan gemas hingga bayi kecil itu menggeliat tak nyaman di pangkuan Papanya.
"Pelan-pelan dong sayang. Kamu ganggu tidurnya"
"Habisnya gemes Bang" Viola tak tahan melihat pipi Ezra yang semakin hati semakin gembul itu.
"Tapi Bang.." Viola beralih menatap suaminya.
"Kenapa sayang??"
"Abang kasih ijin kan, kalau aku kerja lagi??" Viola takut jika Erland mengubah keputusannya waktu itu.
"Sayang, Abang kan pernah bilang kalau Abang tidak akan menghalangi pekerjaan kamu. Abang justru akan mendukungmu. Asalkan, pekerjaan kamu itu tidak akan menyita waktu kamu untuk Abang dan anak kita. Abang mau, kamu jangan terlalu memforsir pekerjaan kamu. Abang dan Ezra juga butuh perhatian kamu"
Viola memeluk Erland dari samping. Menyandarkan kepalanya pada bahu tegap milik suaminya.
"Mana mungkin aku melupakan tugasku sebagai seorang istri Bang. Karena Abang sudah memberikan aku ijin untuk bekerja lagi, jadi aku juga janji sama Abang untuk tetap menomor satukan kalian dari pada pekerjaanku"
"Abang tenang saja, di klinik nanti juga akan ada Dokter selain aku. Nantinya Beca yang akan mengatur jadwalnya. Aku hanya akan melayani pasien yang sudah membuat janji dengan ku saja. Lagipula pasien yang aku tangani kan tidak urgent, jadi tidak terlalu menyita waktu" Jelas Viola meyakinkan Erland.
Biar bagaimanapun saat ini Viola sudah menikah. Tanggung jawabnya sudah berubah, apalagi hadirnya Ezra di hidupnya. Pekerjaannya memang impiannya dari dulu, namun keluarganya yang paling utama.
Viola juga tidak akan membuang kesempatannya saat ini. Dulu dia berjuang mendapatkan Erland, kemudian setelah Viola berhasil mendapatkannya, tak mungkin Viola kan menyia-nyiakannya begitu saja.
"Abang percaya sama kamu. Tapi.."
"Mana ada percaya ada tapinya sih Bang" Viola memotong ucapan Erland terlebih dahulu.
"Dengar Abang dulu!!" Viola kemudian menurut untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan suaminya.
"Siapa Dokter dari Korea yang akan bekerja di klinik kamu?? Laki-laki atau perempuan".
Viola menghela nafasnya, Viola kira Erland akan menanyakan hal yang penting.
"Memangnya kenapa Bang??" Tanya Viola dengan polos.
Kini Erland yang gantian menghela nafas kasarnya. Kenapa istrinya tidak peka dengan hal-hal seperti itu.
__ADS_1
"Abang tidak mau ada pria lain yang dekat-dekat dengan kamu. Apalagi dia dari Korea, nanti kamu naksir sama dia" Erland mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
"Astaga Abang" Viola menggelengkan kepalanya.
"Kalau aku mau niat naksir cowok Korea, udah dadi dulu Bang. Di sana banyak yang lebih hot, bening-bening wajahnya dan pastinya kaya yang ada di tv itu. Tapi nyatanya aku hanya tergila-gila sama Abang. Aku lebih suka yang lokal, jadi Abang nggak usah cemburu kaya gitu" Viola sengaja mencolek dagu Erland untuk menggodanya.
"Tapi kan cinta bisa datang karena terbiasa sayang" Erland masih tidak terima dengan apa yang Viola katakan.
"Terus apa tadi kamu bilang?? Cowok korea banyak yang lebih dari hot dari Abang?? Lebih tampan dari Abang?? Nggak salah kamu?? Semua karyawan wanita Abang aja selalu bilang kalau Abang ini kaya artis Korea. Bahkan lebih hot dan manly"
"Ohh, jadi Abang seneng di puji-puji sama karyawan wanita di kantor Abang begitu?? Ternyata Abang suka di goda kaya gitu ya??" Kini Viola menatap Erland dengan tangan terlipat di dadanya.
"Bu-bukan begitu sayang. Abang cuma dengar saat mereka bisik-bisik di belakang Abang" Erland gugup sendiri melihat Viola seperti itu.
"Abang suka nguping??"
"Sudah Abang bilang, kalau Abang nggak sengaja dengar. Udah ah!! Kenapa kamu jadi beralih mengintimidasi Abang?? Abang mau tanya, teman kamu itu laki-laki atau perempuan??"
"Abang sayang, dia laki-laki. Dia juniorku di kampus dulu, dan Abang nggak udah khawatir"
"Aku sukanya yang mateng, bukan brondong kaya dia" Bisik Viola membuat Erland tersipu.
"Pokoknya kamu nggak boleh suka sama laki-laki lain selain Abang!! Titik, nggak ada tawar menawar!!" Ucap Erland dengan serius.
"Maaf Bang nggak bisa!!" Bantah Viola.
"Sayang kamu..."
"Bagaimana bisa aku tidak mencintai laki-laki lain Bang, sedangkan laki-laki itu begitu tampan dan menggemaskan seperti ini" Viola kembali mencium Ezra.
Setelah paham dengan apa yang Viola maksud, Erland langsung menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Abang kira kamu mau selingkuh dari Abang" Ucap Erland dengan cengengesan.
"Enak aja!! Emangnya aku apaan, istri tukang selingkuh begitu?? Kalau aku niat juga dari dulu aku cari pria lain selain Abang. Bisa aja aku cari yang lain setelah tiga tahun dianggurin sama Abang" Sewot Viola karena tak suka dengan tuduhan Erland barusan.
"Iya, iya sayang. Abang percaya sama kamu. Cinta kamu sama Abang nggak bisa di ragukan lagi. Bahkan Abang masih belajar dari kamu supaya cinta Abang bisa menyaingi rasa cinta kamu itu" Erland menggesekkan hidungnya pada hidung Viola.
"Aku nggak perlu semua itu Bang, cukup Abang selalu menunjukkan cinta Abang dengan hal-hal kecil yang manis seperti ini saja sudah cukup membuatku percaya kalau Abang memang mencintaiku"
"Tentu saja, Abang akan melakukan apapun untuk menunjukkan cinta Abang sama kamu. Sampai kamu lupa bagaimana caranya melupakan Abang dari dalam hidupmu"
Erland tak juga menjauhkan wajahnya dari wajah Viola. Justru semakin dekat sampai bibirnya terkadang bersentuhan dengan bibir Viola saat berbicara.
Namun tiba-tiba Erland menjauhkan wajahnya dari Viola.
"Nggak, nggak bisa kaya gini. Abang takut tidak bisa mengendalikan diri Abang kalau terus-terusan tanpa jarak seperti ini. Lebih baik abang menidurkan Ezra ke boksnya saja"
Viola tersenyum geli karena tau apa maksud dari suaminya itu. Sebenarnya dia juga kasihan melihat suaminya terus menahan hasratnya itu. Namun mau bagaimana lagi karena Viola juga belum selesai masa nifasnya.
__ADS_1
"Abang!!" Viola mendekati suaminya yang sedang menidurkan bayinya.
"Apa sayang, sudah malam lebih baik kita tidur. Besok adalah hari pernikahan Yovi dan Beca. Jadi jangan sampai telat"
Tapi Viola lebih dulu menahan Erland yang ingin menaiki ranjangnya. Viola mendekap Erland dengan erat dari belakang. Tangannya dengan begitu aktif menelusuri dada Erland dengan ritme yang lambat namun penuh dengan sengatan-sengatan aneh bagi Erland.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?? Jangan memancing Abang!!" Ucap Erland berusaha menahan suaranya agar tetap senormal mungkin.
"Terpancing apa Bang??" Tangan Viola bergerak turun hingga pusar Erland, dan berputar-putar sebentar di sana. Hingga Erland berhasil menghentikan tangan Viola saat tangan kecil itu semakin turun hampir menyentuh sesuatu yang tersembunyi dengan tenang di dalam sana.
"Jangan main-main sayang!!" Geram Erland menahan sesuatu yang mulai bangkit di dalam tubuhnya.
"Lakukan saja apa yang kamu mau Bang. Sebenarnya aku punya cara lain untuk memanjakan adik kecilmu itu" Suara Viola yang berbisik di balik punggung Erland membuat Erland benar-benar mulai gelap mata.
Dengan sekali hentakan, Erland bisa merubah posisi Viola hingga wanita yang mulai berani menggodanya itu terbaring tak berdaya di atas ranjang.
"Cara apa?? Memangnya kamu tau bagaimana caranya??" Sorot mata Erland sudah mulai berubah tak kala melihat leher jenjang Viola berada di bawahnya saat ini.
"Tentu saja, Abang mau coba??" Tantang Viola.
"Kamu mulai nakal sekarang?? Kamu sudah berani menggoda Abang??"
"Tidak ada yang salah jika menggoda suaminya sendiri" Viola tersenyum penuh maksud tersembunyi.
"Lalu apa kamu akan melakukannya dengan ini??".
Cup..
Erland mengecup bibir Viola dengan singkat.
"Kalau Abang mau" Jawab Viola dengan pipi yang merona.
Erland kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Viola. Namun kali ini lebih lama dan bukan hanya sekedar kecupan belaka.
"Tentu saja Abang mau. Dengan ini juga tidak maslaah"
Tanpa basa-basi lagi, Erland benar-benar membuat Viola tak berdaya malam ini. Akhirnya hasrat terpendam Erland selama ini bisa tersalurkan juga meski Viola melakukannya dengan cara lain, namun itu sudah membuat Erland melepaskan sesuatu yang beberapa bulan ini Erland tahan.
"Nggak enak ya??" Erland menanyakan hal yang justru membuat Viola malu.
"Aneh rasanya" Viola meneguk air minumnya lagi hingga tandas.
"Maaf ya" Erland memeluk Viola dari samping.
"Nggak papa Bang. Yang penting Abang senang. Dari pada Abang cari orang lain untuk membantu Abang melepaskan itu, lebih baik sana istrinya walau dengan cara seperti ini"
"Makasih ya sayang. Tapi misalnya Abang belum mendapatkan yang Abang apa yang Abang kamu dari kamu. Abang tidak akan mencari pelampiasan lain di luar sana"
"Iya aku percaya sama Abang"
__ADS_1