
Saat hari sudah menjelang tengah malam, barulah kedua insan itu terbangun dari tidur lelapnya. Viola yang bergerak lebih dulu, merasakan nyeri pada bagian intinya. Namun dirinya tetap memaksa untuk bangun karena mereka sudah melewatkan sholat magrib mereka.
"Mau kemana??" Suara Erland yang parau itu menghentikan Viola.
"Mau mandi, masih ada waktu untuk sholat isya" Viola mencoba berdiri namun meringis menahan perih di bagian bawahnya.
"Abang gendong ya??" Erland sudah berdiri dengan tubuh polosnya. Viola membuang wajahnya karena berhadapan langsung dengan sesuatu yang telah menghunjamnya. Pipinya memanas serasa terbakar.
"Tidak usah malu, Abang kan suami kamu" Erland langsung mengangkat Viola tanpa ijin dari orangnya.
"Aku bisa jalan sendiri!!" Viola memberontak ingin di turunkan.
"Meski kesakitan begitu??" Terlambat, pada akhirnya Erland sudah mendudukkan Viola di atas closet.
"Kamu mandi dulu, setelah itu kita sholat berjamaah ya" Erland sempat mengusap pipi Viola dengan lembut sebelum meninggalkan Viola di dalam kamar mandi.
*
*
*
Pagi harinya Gendis sudah sampai si rumah Erland. Tujuannya ke sana tentu saja ingin menemui kedua menantunya. Terutama dengan Viola. Dia ingin membuktikan bahwa kesehatannya berangsur membaik karena terus memikirkan Viola yang akan memberikannya cucu.
"Ibu, kok datang nggak bilang-bilang??" Sarah sudah lebih dulu menyambut kedatangan Gendis.
"Ibu cuma mau lihat kalian sebentar aja kok"
Sarah menuntun Gendis masuk ke dalam.
"Ibu??" Viola begitu bahagia melihat Gendis sekarang terlihat lebih sehat dan wajahnya tam pucat lagi.
"Viola, menantu Ibu" Gendis menyambut Viola dengan pelukannya.
Semua itu tak luput dari mata Sarah yang menatap mereka berdua dengan iri. Dari cara Gendis saat bertemu Sarah dan Viola saja sudah berbeda. Tentu siapa saja pasti akan tau, siapa menantu kesayangan Gendis.
"Ibu datang kesini sama siapa??" Tanya Sarah. Gendis duduk di apit kedua menantunya.
"Sama Endah, tapi dia masih di depan"
"Sekarang Ibu terlihat lebih segar, apa ibu sudah lebih baik sekarang?? Masih ada yang sakit??" Kini giliran Viola.
Gendis langsung menggenggam tangan Viola. Menatap menantunya itu dengan berbinar.
"Ibu jadi sehat begini ya karena kamu Viola. Karena kamu yang sudah berjanji ingin memberikan Ibu cucu, jadi semangat Ibu untuk sembuh sangat besar. Terbukti kan sekarang, Ibu lebih segar, tidak ada wajah pucat dan bibir kering lagi"
Sarah semakin merasa terasingkan di sana. Keberadaannya sebagai salah satu menantunya seperti di abaikan. Apalagi senyum cerah Ibu mertuanya yang menginginkan cucu dari Viola, membuat Sarah semakin dengki.
"Viola belum hamil Bu, masih lama mungkin" Celetuk Sarah dengan asal.
"Jangan begitu kamu Sarah, wajar saja kalau Viola belum hamil karena memang baru satu bulan berkumpul dengan suaminya. Sementara kamu?? Terus gimana sekarang ada perkembangan??"
Ucapan Sarah tadi bagaikan boomerang bagi Sarah. Kalimat yang seharusnya menyerang Viola kini justru berbalik membabatnya habis.
"Belum Bu" Ucap Sarah dengan wajahnya yang di tekuk.
"Yaah, harus bagaimana lagi selain menerima kenyataan kalau kamu memang belum bisa hamil. Buktinya, semua hasil pemeriksaa kalian sama-sama bagus. Mungkin Allah masih tidak percaya menitipkanya sama kamu, jadi ya tawakal aja. Ibu juga sudah lelah berharap sama kamu"
__ADS_1
Suara Gendis memang biasa sana, dan tak terkesan sinis ataupun dingin pada Sarah. Namun di setiap katanya bagaikan tombak yang terus menembus hati Sarah.
"Akur banget Ibu sama menantunya" Erland kekuar dari kamar Viola dengan baju rumahannya. Karena memang ini hari libur, jadi Erland baru keluar kamar setelah matahari mulai agak tinggi.
"Erland, Ibu kangen sama kamu"
"Maaf ya Bu, Erland belum bisa jenguk Ibu lagi" Erland mencium tangan Ibunya.
"Nggak papa, Ibu tau kalau kamu sibuk" Gendis memandang wajah Erland yang tampak cerah pagi ini.
"Bukan sibuk Bu, kemari aku dan Mas Erland baru saja pulang dari bulan madu yang ke dua kita Bu. Siapa tau setelah ini kita lekas di berikan momongan" Ucap Sarah tanpa pikir panjang.
"Kalian pergi bulan madu lagi??" Sarah mengangguk.
Viola yang melihat Sarah dengan tanpa ragunya memberi tahu Gendis tentang liburan mereka kemarin.
"Iya Bu, Sarah juga beliin Ibu dan Endah oleh-oleh lho"
Gendis sudah tak menggubris Sarah, tatapannya kini tertuju pada Erland.
"Kamu pergi liburan di saat Viola baru saja kembali beberapa hari Er??" Gendis tampak begitu tak percaya dengan putra sulungnya yang begitu tega meninggalkan Viol demi bersenang-senang dengan Sarah.
"Ibu, Erland bisa jelaskan" Tapi Gendis terlanjur berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu Ibu tunggu kabar bahagia dari kalian, terutama kamu Sarah. Ibu harap bulan depan kamu sudah membawa calon cucu ibu di dalam rahimmu seperti harapan kamu tadi" Sarah menelan ludahnya dengan susah payah.
"I-iya Bu, doakan saja"
"Viola, ibu pulang dulu. Jaga kesehatan kamu juga , jangan sampai kelelahan. Maafkan anak Ibu yang bodohnya tiada tara ini" Gendis melirik Erland dengan tajam, lalu memilih pergi walau belum ada setengah jam Gendis di rumah anaknya itu.
Gendis berjalan di temani oleh Vio serta Erland dam Sarah di belakang mereka.
"Endah!!"
"Ada Abang ternyata??" Viola terkejut Kakaknya sudah muncul di depan rumahnya tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Abang mau antar makanan dari Mami buat kamu" Vino menunjukkan tas yang di bawanya, dan memberikannya pada Viola.
"Pas banget, Vio udah kangen masakan Mami" Viola bisa mencium bau harum masakan di tangannya itu.
"Kalau gitu Ibu pergi dulu. Ibu mau ikut ke toko kue Endah"
"Iya Bu, hati-hati ya"
"Saya antar Tante dan Endah ya?? Kebetulan saya juga ada janji dengan seseorang, dan jalannya satu arah dengan toko Endah" Ucap Vino.
"Nggak usah kok, kita naik taksi aja" Tolak Endah dengan cepat.
"Barengan aja Ndah. Kasian Ibu juga, pasti lebih nyaman kalau di antar Bang Vino" Viola sudah nimbrung begitu saja.
"Kalau nggak ngerepotin, Ibu sangat berterimakasih Nak Vino"
Endah sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia terpojok di antara orang-orang yang mendukung Vino.
"Tentu saja tidak tante, silahkan" Vino langsung membuka pintu mobilnya.
"Ibu pergi dulu ya"
__ADS_1
"Iya Bu, hati-hati. Tetap jaga kesehatan Ibu" Pesan Erland pada prang tua satu-satunya itu.
"Iya" Jawaban singkat tanpa mau melihat ke wajah anaknya yang tampan itu.
Akhirnya mereka bertiga meninggalkan halaman rumah Erland. Vino duduk di depan mengemudikan mobilnya, sementara Endah di belakang bersama Ibunya.
Keheningan jelas sekali tersisa di dalam mobil itu. Tanpa ada suara sama sekali, membuat Gendis sedikit kebingungan.
Beberapa saat yang lalu...
"Ndah??"
Endah yang ingin menyusul ibunya ke dalam rumah Abangnya itu harus terhenti karena panggilan seseorang.
"Iya??" Endah terlihat canggung akibat perselisihan saat terakhir kali merek bertemu.
"Soal yang waktu itu, Abang minta maaf"
Endah memegangi tali sling bagnya dengan erat, menetralisir rasa gugupnya.
"Iya Bang, aku juga minta maaf. Seharusnya aku nggak semudah itu untuk tersinggung" Endah menundukkan kepalanya, tak sanggup untuk melihat wajah seseorang yang sangat di rindukannya itu.
"Aku yang sudah menyinggung mu lebih dulu, oleh sebab itu kamu kesal dengan Abang" Vino berjarak hanya sekitar dua langkah saja dari Endah. Dari jarak sedekat itu, Endah bisa mencium bau harum parfumnya yang mahal.
"Sudahlah Bang, kita lupakan saja hal itu. Aku juga tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati" Endah mencoba tersenyum manis untuk meyakinkan Vino.
"Baiklah kalau begitu"
"Abang mau ketemu Viola atau Bang Erland??" Endah mencoba beralih pada yang lain.
"Viola, ada titipan dari Mami" Vino menunjukkan tas yang di bawanya.
"Oh, ayo masuk kalau begitu"
"Tunggu Ndah!!" Vino menghentikan Endah lagi saat Endah melangkah sedikit menjauh.
"Kenapa Bang??"
"Aku mau menikah"
JEDER.....
Endah seakan mendengar suara petir menyambar di atas kepalanya.
"Sepertinya sudah waktunya aku memberanikan diri untuk meminta wanita yang aku ceritakan itu untuk menjadi istriku. Aku tidak peduli jika lamaran ku nantinya akan di tolak atau tidak, yang penting dia tau jika aku begitu mencintainya"
Endah seakan sudah kehilangan separuh nyawanya bersamaan dengan kilatan petir yang menyambar hatinya.
"Se-selamat kalau begitu Bang. Aku doakan wanita yang kamu cintai itu, menerima cinta Abang" Endah sebisa mungkin menahan suaranya agar tidak bergetar.
"Kalau kamu ba..."
"Maaf Bang, sepetinya aku harus menemui Ibu" Endah berbalik menghindari Erland yang akan melihat jatuhnya air mata Endah.
"Endah!!"
Panggilan sang Ibu membuat Endah buru-buru menyeka air matanya
__ADS_1
"Loh, kalian mau kemana??" Endah membuat suaranya terdengar seceria mungkin saat melihat Ibu, Abang dan kedua Kakak iparnya.